#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 27 #nenek gombel


__ADS_3

"Jangan bicara seperti itu Mas nggak suka," ujar Ivan menenangkan Ririn sambil mengelus rambut lurus milik Ririn.


'Rin, kenapa kamu jadi cengeng,' gumam Ririn dalam hatinya.


Ririn segera menyeka air matanya dan keluar dari dekapan Ivan.


"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Ivan dengan intonasi lembut.


Ririn hanya terdiam saja dan tertunduk.


"Desi siapa!" Teriak Ririn dengan sangat emosi.


"Dia karyawan perusahaan," ucap Ivan sambil menatap dalam-dalam netra Ririn yang merah dan sembab.


"Memangnya di kenapa?" tanya Ivan yang masih belum mengerti keadaan.


Ririn tidak menyahuti ucapan Ivan. Ia langsung beranjak dari duduknya dan tak lupa membawa gawai Ivan keluar dari kamar.


"Kamu mau ke mana?" tanya Ivan sambil mengikuti langkah Ririn.


Ririn tidak menghentikan langkah kakinya hingga ia sampai di kamar tamu. Ririn langsung dan membanting pintu kamar.


"Sayang buka pintunya." Ivan terus mengetok pintu kamar Ririn.


Namun hasilnya nihil Ririn nggak membuka pintu untuknya.


Ivan menunggu Ririn untuk membuka pintunya sampai membuat ia tertidur di kursi.


"Ririn, kamu jangan diam saja, perempuan itu ingin sekali menggali kuburannya," gumam Ririn dengan geram sambil mondar-mandir karena tidak sabar menunggu matahari terbit.


"Aku akan ke kantor Mas Ivan hari ini," gumam Ririn dengan senyuman licik.


Suara adzan subuh berkumandang untuk membangunkan makhluknya melakukan kewajibannya.


"Astagfirullah hal adzim, ternyata sudah subuh." Ivan menepuk jidatnya karena belum melakukan sholat tahajud.


Ivan langsung beranjak dari duduknya menuju kamar untuk melaksanakan sholat subuh dan tak lupa mengetok pintu agar Ririn sholat subuh,


"Sayang bangun buka pintunya."


Ririn mendengar ucapan dari Ivan tetapi ia masih tidak menyahutinya.


Setelah suara Ivan sudah tidak terdengar lagi. Ririn memutar knop pintu untuk keluar dari kamar untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh walaupun tidak berjamaah dengan sang suami.


"Pagi sayang," ujar Ivan dengan manja sambil mencium pipi Ririn dengan berjuta kasih sayang.


Ririn hanya terdiam saja dengan wajah di tekuk sambil mengolesi selai pada rotinya.


Ivan menarik kursinya untuk duduk lebih dekat di samping istrinya.


Setelah Ririn selesai mengolesi rotinya serta ingin menaruhnya di atas meja makan. Ivan langsung menahan pergelangan Ririn dan roti yang berada di tangan Ririn menjadi masuk ke dalam mulut Ivan.


Ririn hanya menatap Ivan dengan tatapan yang tajam setajam silet. Ivan hanya tersenyum sambil mengunyah rotinya.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Ivan dengan sangat hati-hati.


"Apa Mas dan nenek gombel memiliki hubungan?" tanya Ririn dengan intonasi dingin dan ekspresi datar.


"Nenek gombel siapa itu?"


"Karyawan kamu yang sangat g**it itu!" ucap Ririn dengan meninggikan suaranya.


"Maksud kamu Desi," jawab Ivan kebingungan.


"Jangan sebut nama itu!" ucap Ririn beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Ada apa dengan Desi?" tanya Ivan mengikuti langkah Ririn menuju kamar mereka.


"Kamu nggak usah munafik, aku sudah mengetahui semuanya," jelas Ririn diiringi senyuman licik,


"Nenek gombel itu sangat ingin bermain-main denganku," ujar Ririn dengan ketus.


Ivan menghentikan langkahnya. Dia sangat kebingungan dengan sikap Ririn yang kemarin malam menangis dan sekarang mengenai Nenek gombel.


Ririn merencanakan akan pergi ke perusahaan untuk bertemu langsung dengan orang yang bernama Desi.



Malam yang sangat menyenangkan untuk Desi karena malam ini ia telah diantar oleh Ivan karena mereka lembur.



Tanpa Ivan sadari disaat mereka ada di dalam mobil secara diam\-diam Desi mengambil gambarnya berdua dengan Ivan bahkan hampir semua galeri gawainya di penuhi dengan foto\-foto Ivan yang diambil secara diam\-diam.



Desi mengirimkan foto mereka di whatsapp milik Ivan di sertai dengan rayuan manis



"Selamat malam Pak, terimakasih Bapak telah mengantar saya sampai ke rumah. Pak sebenarnya saya memiliki perasaan yang lebih untuk Bapak tetapi kenapa Pak Ivan selalu saja menolaknya \(di sertai dengan emot sedih\).



Saya mengetahui Pak Ivan sudah memiliki istri tetapi dengan senang hati saya mau menjadi madu walaupun hanya menjadi yang kedua.



Ku berikan jiwa dan ragaku semuanya hanya untuk Pak Ivan seorang. Apapun yang akan Bapak inginkan dariku pasti akan aku penuhi.




Desi tertawa terbahak\-bahak di saat ia mengetahui pesannya sudah di baca tetapi masih juga belum di balas,



"Setidaknya dia sudah membaca ungkapan perasaanku."



Pagi yang mencerahkan Desi sangat semangat untuk pergi ke kantor. Ia menunggu di depan pagar berharap agar Ivan lewat dan memberinya tumpangan.



Setengah jam Desi menunggu tetapi Ivan masih belum muncul. Akhrinya ia menyerah dan memesan taxi online untuk menjemputnya.



Di saat ia turun di lihatnya mobil Ivan sudah terparkir berarti hari ini ia terlambat,



"Nggak apa\-apa sekarang nggak bersama yang penting nanti sore bisa pulang bersama."



Ririn segera bergegas keluar rumah tanpa meminta izin terlebih dahulu dari Ivan.


Ririn langsung masuk ke perusahaan dengan tergesa-gesa dan tak sabar untuk melabrak Nenek gombel itu. Tetapi ia di cegah oleh security,

__ADS_1


"Maaf mbak kesini ada keperluan apa?"


"Saya ingin bertemu dengan Desi, dimana ruangannya?" tanya Ririn sambil menatap tajam security yang ada di hadapannya.


"Ada ke perluan apa?" tanya security dengan gugup dan sedikit ketakutan.


"Saya sudah bilang, saya ingin bertemu dengannya karena ada urusan penting," jelas Ririn yang mulai emosi


"Saya harap Ibu tidak membuat keributan di sini."


"Saya ke sini bukan mau ribut Pak, tetapi saya ingin bertemu dengan Desi," ujar Ririn dengan menurunkan intonasi suaranya karena jika ia makin meninggikan maka ia pasti tidak di perbolehkan untuk bertemu dengan Desi. Serta ia mencoba tersenyum agar security itu percaya bahwa ini tidak menyebabkan keributan,


"dimana ruangan Desi?"


Security itu tersenyum dan merasa legah karena ia mengira Ririn ke sini dengan tujuan yang baik namun kenyataannya bukan begitu,


"Di lantai dua, Mbak tinggal cari tulisan Sekertaris," jelas Security dengan sopan.


'Oh, dia Sekertaris,' gumam Ririn dalam hatinya tanpa berpikir panjang ia langsung menuju ruangan itu dan tak sabar ingin langsung bertemu dengan Nenek gombel. Ririn pergi tanpa mengatakan terimakasih karena inilah Ririn yang sebelumnya pergi tanpa permisi dan terimakasih.


Ririn langsung membuka pintu ruangan Desi tanpa mengetok pintu terlebih dahulu. Desi langsung berdiri karena selain Nita tidak boleh ada yang masuk ke ruangannya tanpa mengetok terlebih dahulu,


"Anda siapa main masuk sembarangan ke ruangan saya."


"Mau mengetahui siapa saya," ujar Ririn yang mulai mendekati Desi.


"Anda silahkan keluar jika tidak ada kepentingan," ujar Desi sambil menunjuk pintu keluar.


"Oh, jadi kamu yang bernama Desi, dasar wanita penggoda," ujar Ririn mencengkram dagu milik Desi.


Desi langsung menepis tangan Ririn,


"Maksud anda apa?" tanya Desi dengan terbata-bata.


"Dasar wanita biadap, murahan dan tak punya harga diri," ujar Ririn dengan senyuman licik.


"Anda kurang ngajar sekali," ucap Desi melayangkan tangannya di pipi Ririn tetapi Ririn langsung menahan tangan Desi dan mencengkram kuat pergelangan Desi hingga membuat Desi meringis kesakitan.


"Desi si wanita murahan yang ingin bermain-main api dengan saya," ucap Ririn sambil menguatkan cengkramannya di pergelangan Desi hingga berwarna merah.


"Lepaskan," ucap Desi menarik-narik tangannya.


Ririn sengaja melepaskan cengkramannya dengan hati yang sangat bersorak bahagia akan tetapi ia masih belum puas.


"Desi apakah kamu tidak punya kaca di rumah, lihatlah dirimu sudah cantik tetapi perilakunya sangat menjijikkan." Teriak Ririn di depan wajah Desi.


"Anda ini siapa berani sekali anda dengan saya, apa anda belum tau siapa saya ini?" ujar Desi yang juga ikutan teriak.


"Saya tahu anda Desi sang penggoda suami orang," jelas Ririn sambil menampar sebelah pipi kanan Desi.


"Aww, Anda sudah kelewatan berani sekali kau ini," ujar Desi sambil meringis kesakitan karena mendapat tamparan yang teramat dahsyat dari tangan Ririn .


"Sakit ya," ucap Ririn dengan intonasi mengejek.


Desi langsung menekan telephon perusahaan agar Ririn segera di usir dari sini.


Ririn langsung membanting telephon itu hingga terpecah dan tak bisa di gunakan.


"Kamu ini siapa?" tanya Desi gelalapan ketakutan karena Ririn makin mendekat padanya.


"Saya Ririn istri dari suami yang sedang kamu cintai," ujar Ririn dengan teriak dan melayangkan satu tamparan ke pipi Desi.


Desi langsung terkejut dan wajahnya menjadi pucat karena ketakutan dengan sikap Ririn yang mulai murka.


"Anda tenang dulu saya tidak mencintai suami anda," jelas Desi dengan susah payah.

__ADS_1


"Nggak usah berbohong wanita murahan," teriak Ririn yang mulai tidak bisa mengendalikan emosinya yang sudah terpendam sekian lama dan sekarang muncul kembali.


#Bersambung


__ADS_2