
"Kenapa lagi Rin, kok mukanya ditekuk gituh?" tanya Ivan sambil menyodorkan satu suapan dari tangannya kemulut Ririn.
Ririn sedikit terkejut karena Ivan menyuapinya sedikit ragu Ririn membuka mulutnya dan mengunyahnya.
Ada rasa senang serta bahagia mendapat perlakuan Ivan saat ini,
'apa aku sedang bermimpi,' gumam Ririn dalam hatinya di iringi dengan senyuman tulus.
"Kenapa senyum-senyum, apa ada yang aneh?" tanya Ivan sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Kalau makan nggak usah bicara nanti keselek baru tahu rasa," ujar Ririn mengelak takut di kira nanti Ririn baper dengan perlakuan Ivan.
"Iya bawel, apa kamu nggak mau makan?" ucap Ivan menatap kedua netra indah milik Ririn.
"Makanlah massa nggak," jawab Ririn sambil menuangkan nasi di piringnya.
Saat Ririn menuangkan lauk dipiringnya Ivan malah mencegahnya, "tunggu."
Tentu saja Ririn juga berhenti dan tidak jadi menuangkan lauk di piringnya, "ada apa?"
"Kita makan satu piring saja," ujar Ivan dengan senyuman yang membuat jantung Ririn hampir copot.
"Maksud kamu, kamu suapin aku gituh," tanya Ririn kebingungan.
Ivan hanya mengangguk saja.
Ivan mengambil piring dari tangannya Ririn.
Ivan menyuapi Ririn dengan senyuman yang menghiasi bibirnya dan sesekali memasukkan makanan ke mulutnya juga.
Setelah selesai makan mereka berdua duduk santai di ruang tamu sambil menonton tv.
"Rin, ada yang mau ku tanyakan?" ujar Ivan mencairkan suasana dan supaya lebih dekat dengan istrinya.
"Mau tanya apa?" jawab Ririn melihat Ivan yang duduk di sebelahnya.
"Kamu pasti ketua gengmu kan?" tanya Ivan dengan pelan karena dia nggak mau pertanyaannya membuat Ririn mengamuk.
"Sudah tau masih nanya," jawab Ririn dengan ketus.
"Owh, terus sekarang gengmu itu bagaimana?" tanya Ivan lagi.
"Yah, begitulah," jawab Ririn dengan raut wajah yang berubah,
"Kalau aku balik kesana aku yang menjadi ketuanya karena aku di sini jadi Mawar yang menggantikannya," jelas Ririn dengan mata yang berkaca-kaca,
"Kamu tau, Aku membuat geng itu dengan susah payah tetapi Ayah dan Mama selalu menghancurkannya dengan berbagai cara." Ririn menyeka sebulir kristal yang lolos dari sudut matanya.
Ririn teringat tentang perjuangannya membuat gengnya tetapi orangtuanya tak pernah sekalipun menghargainya bahkan setiap perbuatan Ririn selalu salah dimata orangtuanya.
Ivan hanya memeperhatikan raut wajahnya Ririn, entah kenapa hatinya ikut merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Ririn sekarang.
"Tujuanmu untuk membuat geng itu apa?"
"Buat hatiku senang dan hidupku tidak kesepian," jawab Ririn pelan.
"Cuman itu saja?"
"Ia memangnya kenapa?" tanya Ririn melihat wajah tampan milik Ivan.
"Nggak bermanfaat gituh," jawab Ivan menaikan alis sebelah kanannya.
"Bilang apa kamu, nggak bermanfaat itu cuman kalian yang hidupnya," ujar Ririn menggantung kalimatnya.
"Hidupnya gimana?" tanya Ivan
"Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Ririn yang mengalihkan pembicaraan dan tidak mau membahas luka lamanya yang telah terpendam dalam-dalam.
Ivan tahu bahwa Ririn tidak suka menceritakan masa lalunya, tetapi Ivan sangat ingin tahu kepada siapa dia harus menanyakan itu. Karena tidak ingin membuat Ririn bersedih terpaksa ia mengikuti pembicaraan Ririn saja.
"Masih belum stabil," jawab Ivan dengan santai.
__ADS_1
Ivan teringat tentang Ririn yang tidak membalas pesannya,
"Rin, kenapa kamu tidak balas pesanku tadi!"
"Mmm," jawab Ririn menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa?"
"Tadi aku keluar sebentar, ke apartemen temanku itu," jawab Ririn dengan pelan.
"Oh, kenapa kalian bisa bertemu?"
"Tadi aku turun kebawah sebentar," jawab Ririn menundukkan kepalanya.
"Oh, temanmu itu cewek apa cowok?"
"Ceweklah, kamu cemburu ya?" tanya Ririn tersenyum sambil mencolek pinggang Ivan.
"Kalau aku cemburu gimana?"
"Biasa aja nggak gimana-gimana gituh," ujar Ririn dengan cuek.
"Massa," ujar Ivan mendekatkan wajahnya kepada Ririn.
Karena Ivan tidak memberinya tumpangan Desi naik taxi saja dengan mukak di tekuk.
"Sombong sekali dia, sekarang kamu bisa cuek dan sombong seperti itu, aku yakin setelah itu kamu yang akan mengemis\-ngemis di depanku untuk menerima cintamu," gumam Desi dalam hatinya diiringi senyuman licik.
Desi meraih benda pipih persegi miliknya yang berada di dalam tas, dia menelusuri tentang Ivan tetapi hasilnya nihil Ivan tidak mempunyai satupun akun di medsos baik facebook IG dan sebagainya.
"Ya Ampun ternyata Ivan ini cowok idaman kali," ujar Desi tersenyum\-senyum sendiri.
Kemungkinan ia pasti memiliki Whatsapp karena seorang CEO masing\-masing memiliki akun Whatsapp mustahil kalau ia tidak memilikinya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan nomor whatsappnya?" gumamnya dalam hati.
"Kau dari mana aja, kenapa jam segini baru pulang," ujar Nita meninggikan suaranya.
"Tadi ada kerja tambahan," jawab Desi berlalu masuk ke dalam kostnya.
"Nit, apakah kamu pernah jatuh cinta?" tanya Desi kepada sahabatnya.
"Astagafirulloh hal azim, kau ini ada\-ada saja," jawab Nita dengan ketus.
"Biasa aja lah Nit, suaramu itu bikin jantung ini hampir copot,"
"Ini mah bukan biasa tetapi sangat luar biasa," jawab Nita yang masih terkejut dengan pertanyaan sahabatnya,
"Memangnya kau suka sama siapa lagi?" tanya Nita mendekatkan tubuhnya di samping Desi,
"Sama Pak Hardi, Angga, dion, bla bla" lanjut Nita menyebutkan satu persatu nama yang ia kenal dekat dengan Nita.
"Bukan satupun tidak ada yang benar," jawab Ririn,
"Terus kalau bukan mereka siapa lagi?" Nita orangnya sangat kepo.
"Seseorang nanti kamu akan tau sendiri," jawab Desi memejamkan matanya kerana sangat lelah hari ini dan berharap ia dapat bertemu dengan ivan di alam mimpi.
"Kasih tau ajalah, nggak usah buat aku kepo begini," ucap Nita karena sangat penasaran dengan orang yang membuat hati Desi luluh kembali.
Desi tidak lagi menjawabnya karena dia sudah sampai ke alam mimpinya.
"Semoga kali ini kamu tidak salah pilih lagi Desi," ujar Nita yang merasa iba dengan sahabatnya ini.
Ivan mengucapkan salam setelah pulang dari mesjid untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah sedangkan Ririn sholat di rumah saja.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Ririn berjalan kearah Ivan dan menyalim tangan suaminya serta mencium telapak tangan.
Ivan berjalan ke dapur, ia melihat meja makan satupun tidak ada makanan di atas.
"Kenapa kamu nggak pesan makanannya?" tanya Ivan kepada Ririn.
"Mulai hari ini kita nggak usah pesan makanan lagi," jawab Ririn dengan santai.
"Terus kita makan apa?" ujar Ivan melihat wajah istrinya yang sangat cantik itu.
"Aku tau kamu bisa masak, jadi aku minta tolong ajari aku gimana caranya," ujar Ririn dengan pelan.
"Oh, dengan senang hati," jawab Ivan berjalan kearah lemari penyimpanan bahan-bahan dapur.
"Kita masak apa?" tanya Ivan dengan semangat.
"Terserah kamu, aku hanya ikut saja," jawab Ririn yang berdiri di samping Ivan.
"Kamu bisa masak nasi goreng?" tanya Ivan dengan lembut. Ririn hanya menggelengkan kepala yang artinya tidak.
"Tidak apa-apa, sekarang biar cepat kita masak itu saja," ujar Ivan dengan berbicara selembut mungkin, karena Ivan memiliki sifat penyayang.
Ririn memang benar tidak tau memasak yang ia tahu hanyalah tinggal makan saja. Di rumah ada pembantu yang selalu memasak bahkan Ririn pun jarang makan dirumah.
Ririn hanya tersenyum saja, ia yakin bahwa ia telah jatuh cinta kepada Ivan buktinya setiap Ivan jauh darinya ia sangat rindu dan ketika Ivan di sampingnya dia sangat bahagia dan nyaman.
Tetapi yang ia takuti yaitu cintanya hanya bertepuk sebelah tangan atau tak terbalas.
Bahkan sampai sekarang ia masih bersikap cuek dan ketus kepada Ivan.
Mengingat semua itu Ririn menjadi tersenyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Ivan melambai-lambaikan tangannya di wajah Ririn.
"Nggak," jawab Ririn gelalapan.
"Kamu kupas kulit bawang saja nanti biar aku yang iris," ujar Ivan meletakan bawang diatas meja.
"Oke bos," jawab Ririn yang mulai mengupas kulit bawang.
"Aww." Ririn meringis kesakitan,
"Ya Allah," ucap Ivan dengan sekejap menghisap jari telunjuk Ririn yang berdarah.
Setelah darah sudah tidak keluar lagi Ivan melap jari Ririn dibajunya. Ririn hanya terdiam menyaksikan ekspresi Ivan yang khawatir dengan keadaannya.
"Kamu di sini dulu, biarku ambilkan kotak p3k," ujar Ivan beranjak dari duduknya mengambil kotak p3k.
"Ya Allah aku sangat bersyukur atas semua ini, akankah semua ini bertahan lama atau hanya angin lalu saja," gumam Ririn dalam hatinya.
Ivan kembali duduk dihadapan Ririn. Ia segera meraih jari Ririn yang terluka dan segera mengobatinya.
"Tadi sudah ku bilang biar aku yang iris," ujar Ivan sambil meletakan plaster di jariku,
"Kamu itu terlalu keras kepala jadi ginikan akibatnya," lanjutnya membuat Ririn meringi kesakitan tetapi berbohong.
"Aww,"
"Masih sakit ya," ujar Ivan penuh perhatian.
"Ia bahkan lebih sakit dari yang tadi,"
"Sudah kamu duduk di sini saja, biar aku saja yang masak," ucap Ivan yang kembali melanjutkan aktivitasnya memasak nasi goreng.
"Ya Allah maafkan hambamu ini yang telah berbohong kepada suami sebaik Ivan," gumam Ririn dalam hati,
"pantaskah aku memiliki sepertinya,"lanjut Ririn dengan meneteskan sebulir air mata.
"Kenapa kamu nangis apa masih sakit?" Ivan menghampiri Ririn yang sedang terduduk dengan mata berkaca-kaca.
#Bersambung
__ADS_1