#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 28 #emosi


__ADS_3

"Nggak usah berbohong wanita murahan," teriak Ririn yang mulai tidak bisa mengendalikan emosinya yang sudah terpendam sekian lama dan sekarang muncul kembali.


Ririn mulai mencekik leher Desi dengan posisi Desi di bawah dan Ririn duduk di atas perutnya.


"Jangan pernah berpikir akan menjadi yang kedua wanita murahan."


Tak ada jawaban dari Desi karena mungkin tertekan cekikan Ririn yang di sertai amarah.


Ririn menonjok muka Desi sekeras mungkin, hingga babak belur dan memar mulai terlihat serta Ririn meludahi wajah Desi.


"Ini hanya awal jika kamu ingin bermain api denganku lagi, akan ku seret kau di depan khalayak ramai biar mereka semua mengetahui bahwa kamu wanita penggoda suami orang. Jika tidak percaya silahkan coba!"


Teriak Ririn di depan wajah Desi sambil merapikan khimar dan gamisnya yang berantakan dan berlalu pergi dari ruangan Desi dengan perasaan bahagia.


Ririn melewati ruangan Ivan tetapi sengaja tidak ingin masuk karena bila ia akan masuk maka perusahaan ini bisa meledak.



Desi sangat ketakutan dengan sikap istri dari seorang yang ia cintai terlalu ganas seperti singa.



Desi melihat wajahnya melalui pantulan cermin terlihat wajah cantik desi menjadi babak belur. Bibir bawahnya mengeluarkan darah segar dan Desi segera mengobatinya sambil meringis kesakitan.



"Aww, kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu. Tunggu saja pembalasanku akan ku rebut suamimu," gumam Desi dalam hati.



Seseorang mengetuk pintu ruangannya. Terlihat Moni salah satu karyawan perusahaan menghampirinya,



"Ibu kenapa? Pak Ivan memanggil Ibu untuk keruangannya sekarang," ucap Moni dengan penuh iba karena melihat kondisi Desi.



"Saya habis di cakar oleh singa gila," jelas Desi sambil mengobati lukanya.



"Singa gila, saya di sini sudah lama dan tak pernah melihat ada binatang di perusahaan ini," ujar Mona dengan polosnya yang tak mengerti arti dari ucapan Desi.



"Singa berwujud manusia. Jika kamu tidak ada keperluan silahkan keluar." Desi menekan setiap kalimatnya.



"Maaf Bu, saya permisi dulu," ujar Mona bergegas keluar dari ruangan Desi.



Tak berseleng lama setelah Mona keluar dari ruangannya, seseorang kembali memasuki ruangannya.

__ADS_1



"Dimana dokumen penting perusahaan?" tanya Ivan dengan intonasi dingin dan ekspresi datar.



"Sebentar Pak, biar saya ambilkan dulu," ujar Desi beranjak dari duduknya menuju lemari penyimpanan dokumen.



Desi berjalan dengan pelan karena perutnya terasa nyeri dan Ivan langsung menghentikan langkahnya.



"Biar saya yang ambil."



"Tadi istri Bapak kesini."



"Kamu jangan mengada\-ngada," ujar Ivan sambil menutup kembali lemari penyimpanan dokumen.



"Saya benaran Pak, dia langsung marah\-marah," ujar Desi dengan manja,




Ivan hanya diam dan berlalu pergi dari ruangan Desi. Desi langsung berlari dan memeluk erat tubuh Ivan dari belakang. Dengan cepat Ivan langsung menepis tangan Desi dengan kasar.



"Pak saya takut dengan istri Bapak."



"Jangan lakukan hal ini lagi, saya tidak suka," ucap Ivan dengan emosi dan berlalu pergi menuju ruang kerjanya.



Ivan mengemudi mobilnya sedikit cepat agar ia bisa sampai kerumah dan bertemu dengan istrinya serta menanyakan apa betul Ririn sudah ke perusahaan hari ini.


"Assalamualaikum."


Tidak sahutan atau jawaban dari dalam. Ivan langsung berjalan menuju kamar berharap Ririn ada di sana.


"Waalaikumsalam," jawab Ririn dalam hatinya yang sedari tadi duduk santai di atas ranjang sambil memainkan gawainya.


Pintu kamar terbuka, terlihat Ivan menyungging senyuman manis miliknya membuat hati wanita menjadi luluh.


"Sayang," ujar Ivan dengan manja dan seperti biasa, ia berbaring di pangkuan Ririn.

__ADS_1


Ririn hanya berdehem saja.


"Apa benar tadi pagi, sayangku ini sudah ke perusahaan?" tanya Ivan dengan pelan ia tak mau kalau itu membuat Ririn menjadi tersinggung.


"Dari mana Mas mengetahuinya pasti dari Nenek gombel itu kan!" ucap Ririn yang sudah menduga pasti Desi akan mengadu tetapi kenapa Ivan tidak marah.


"Iya tapi Mas heran sayang, waktu Mas lihat wajahnya sudah menjadi babak belur," jelas Ivan sambil mengambil gawai yang sedang dimainkan oleh Ririn.


"Bagaimana? Apa Mas suka melihat wajahnya seperti itu," ucap Ririn diiringi senyuman licik.


"Astagfirullah, nggak lah sayang malahan Mas kasihan," ucap Ivan mengambil posisi duduk di samping Ririn.


"Kasihan ya, Aku mah senang melihat wajahnya seperti itu," ujar Ririn dengan perasaan bahagia karena mengingat ekspresi Desi tadi pagi.


"Nggak boleh bilang begitu," ucap Ivan menegur Ririn.


"Mas pasti nggak suka kan lihat selingkuhannya oupsss maksudnya pacarnya menjadi babak belur begitu," ujar Ririn yang mulai berbicara ketus lagi.


"Selingkuh, pacar, maksudmu apa sayang," ujar Ivan yang bingung dengan Ririn yang tiba-tiba menuduhnya selingkuh.


"Kamu kira aku anak kecil yang nggak mengetahui tentang hubungan gelapmu dengan Nenek gombel itu," ujar Ririn sambil menahan sekuat tenaga agar hatinya tidak rapuh di depan Ivan.


"Mas dan Desi tidak memiliki hubungan apa-apa selain pekerjaan," jelas Ivan agar Ririn tidak salah paham dengannya.


"Udalah Mas lebih baik jujur sekarang saja dari pada wanita itu akan mati di tanganku," ujar Ririn dengan emosi.


"Astagfirullah, jadi kamu yang buat kondisi Desi menjadi seperti begitu."


"Kalau ia memangnya kenapa? Mas tidak suka atau tidak terima karena pacar Mas di buat babak belur," ucap Ririn sambil berdiri di tepi ranjang mereka.


"Dia bukan pacar Mas sayang. Mas cuma tidak suka dengan sikapmu yang main hakim sendiri," jelas Ivan berusaha menenangkan Ririn yang mulai emosi.


"Bukan pacar tetapi calon madu benarkan Mas?" ucap Ririn sambil menahan embun yang hampir jatuh dari kelopak netranya,


"jadi Mas suka kalau aku hanya diam saja di saat Mas main di belakangku."


"Demi Allah sayang. Mas tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Desi," ujar Ivan berusaha meyakini bahwa diantara ia dan Desi tidak ada hubungan,


"sampai kapan pun Mas tidak akan mengkhianatimu, Mas hanya mencintai dan menyayangimu seorang saja," jelas Ivan sambil berdiri di hadapan Ririn.


"Mas jangan bawa-bawa nama Allah," ujar Ririn dengan ketus.


"Jika Mas tidak ada hubungan apa-apa dengan Nenek gombel itu, jadi mengapa ia mengirimkan pesan kepada Mas dan mengatakan ingin menjadi yang kedua," ujar Ririn sambil menyeka embun di pipinya dengan kasar.


"Pesan? Kapan ia mengirimkan pesan itu," tanya Ivan sambil mengambil gawainya di dalam tas kerja dan segera membaca pesan yang di maksud oleh istrinya.


"Mas kaget kan karena aku mengetahui chattingan kalian," ujar Ririn sambil menghapus air matanya yang mulai luruh satu persatu dari kelopak matanya.


"Mas akan jelaskan semuanya sayang," ujar Ivan sambil membuang gawainya di atas ranjang.


"Sudah Mas semuanya sudah jelas. Aku sudah tak butuh lagi penjelasan dari Mas," ujar Ririn sambil tersenyum dengan linangan airmata.


"Dengarkan dulu sayang. Desi memang mencintaiku tetapi Mas sama sekali tidak memiliki rasa cinta untuknya," jelas Ivan sambil memeluk Ririn yang terisak air mata.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2