#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 11 #Hari keberangkatan ke luar kota


__ADS_3

Ririn berhasil untuk mengerjai Ivan, wajah yang cemberut membuat ketawa Ririn makin pecah hingga tangan Ivan membekam mulut Ririn, "jangan tertawa seperti ini, kelebihan tau," ucap Ivan dan berlalu pergi kelantai bawah.


"Maaf." Ririn juga mengikuti langkah Ivan untuk turun.


Keduanya saling terdiam ketika mereka sedang makan di dapur.


"Hari ini ya, kalian berangkat?" tanya Ririn.


"Iya, mungkin sebentar lagi," jawab Ivan sambil melanjutkan aktifitasnya.


"Berapa lama kalian disana?" Ririn kembali bertanya,


"Kemungkinan selama seminggu." jawab Ivan melirik wajah Ririn sekilas.


Ririn hanya ber'oh' saja,


"Cuman seminggu kok bukan setahun,"ujar Ivan memandang wajah Ririn yang mulai kusut.


"Benar ini soal pekerjaan atau apa," Ririn mewanti-wanti dia takut kalau Ivan akan meninggalkannya.


"Ia, kalau bukan pekerjaan untuk apa aku pergi keluar kota," jawab Ivan.


Jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan sekarang saatnya Ivan untuk pergi kebandara serta meninggalkan istrinya dirumah.


"Aku pamit dulu jaga dirimu baik-baik jangan lupa dengan janjimu," ujar Ivan mengambil barang-barangnya untuk dimasukin didalam mobil.


"Keinginan keduaku yaitu kamu jaga sikapmu selama aku pergi dan jaga hatimu juga," ucap Ivan mencium kening Ririn untuk beberapa detik dan setelah itu Ririn menyalim tangan suaminya.


Didalam mobil Ivan melambai-lambai tangannya. Pipi Ririn menjadi berwarna pink dan bergumam dihatinya,


"Akanku jalankan keinginanmu sesuai dengan janjiku."


Ririn kembali masuk kerumah dan menutup pintu. Ririn sekarang banyak perubahan mulai dari pakaiannya yang dulu sering memakai celana jeans yang sobek-sobekan sekarang sudah memakai pakaian gamis dan mengenakan khimar walaupun tubuhnya terasa gerah karena belum terbiasa.


Hari ini Ririn pergi kesupermarket untuk membeli keperluannya.

__ADS_1


Ririn bertabrakan dengan seorang perempuan yang berbusana seperti dirinya, "aww."


"Maaf mbak saya tidak sengaja," ucap perempuan yang barusan tabrakan dengan Ririn. Ririn membantu mengumpulkan barang yang berserakan milik mbak tersebut.


"Makasih," ucapnya dengan memeperhatikan wajah Ririn. Sebaliknya Ririn juga memperhatikannya wanita yang sedang berbadan dua hampir mirip dengan temannya semasa sekolah dulu.


"Kamu Siska Raihani kan?" tanya wanita itu dengan ragu-ragu.


"Iya, kok kamu tau," tanya Ririn yang semakin kebingungan.


"Tentu taulah kan, aku temanmu semasa sekolah dulu," jawab wanita itu, Ririn memperthatikan wajah wanita itu dengan teliti hingga terlintas dipikirannya sebuah nama yaitu Widyalaura.


"Kamu pasti Widyalaura kan?" Ririn kembali bertanya. Wanita itu hanya tersenyum, mereka berdua saling berpelukan.


Ririn dan Widya sekarang lagi berada di sebuah Restaurant untuk berbincang-bincang.


"Gimana kabarmu sekarang Rin?" tanya Widya setelah memesan makanan mereka.


"Kabar baik, bahkan terlalu baik," jawab Ririn diiringi dengan senyuman.


"Kamu sekarang banyak berubah Rin, yang dulunya gualak amat sekarang udah jadi lemah lembut dan juga gaya berpakaianmu sudah berubah 180 derajat," ucap Widya panjang lebar karena melihat perubahan seorang cewek tomboy, sahabatnya semasa sekolah.


"Aku suka dengan penampilanmu yang sekarang Rin," ujar Widya memuji Ririn.


"Bagaiman denganmu apakah masih sendiri atau?" Widya menggoda sahabatnya.


"Udah kok," jawab Ririn sambil meminum jus yang telah tersaji.


"Masa, tapi kok aku nggak diundang," ujar Widya dengan ekspresi cemberut.


"Maaf, sebenarnya," Ririn berhenti sebentar untuk melanjutkan kaliamatnya,


"pernikahanku ini berawal dari perjodohan Wid," lanjut Ririn, Widya memperhatikan wajah sahabatnya. Widya hanya ber'oh' saja.


"Nggak usah sedih, lama-lama pasti bahagia kok seperti aku kan dulu aku menikah akibat perjodohan dan sekarang Alhamdulillah," ujar Widya panjang lebar. Widya juga dulu menikah muda disaat kami lulus SMA dia langsung dijodohkan oleh orangtuanya.

__ADS_1


"Ia juga yah," ujar Ririn sambil tersenyum, "ngomong-ngomong kamu sekarang tengah berbadan dua yah," lanjut Ririn bertanya kepada Widya.


"Iya Rin, ini anak kedua kami mas Rahmad," jawab Widya mengelus perutnya yang mulai membuncit.


"Anak kedua, anak pertamamu mana?" Ririn kembali bertanya,


"Lagi sama Abinya ditaman bermain," jawab Widya diringi dengan senyuman, Keluarga yang bahagia.


"Suamimu dimana Rin?" tanya Widya sambil melahap makanan yang berada didepannya.


"Lagi diluar kota Wid," jawab Ririn yang ikutan melahap makanannya.


Widya hanya ber'oh'.


"Apa dia betah hidup denganmu Rin," tanya Widya lagi mengintrogasi tentang sahabatnya ini. "Akupun kurang tau Widya, tetapi yang ku tau dia itu tidak pernah marah padaku walaupun kadang aku buat dia kesal setiap hari," ujar Ririn menjelaskan kepada Widya.


"Wah, kamu sangat beruntung mendapatkan yang seperti begitu Rin," puji Widya. Ririn hanya tersenyum saja.


Setelah selesai berbincang-bincang sebentar merka berdua saling berpamitan karena sjamjnya Widya sudah datang menjemputnya.


"Aku pamit dulu yah Rin, sampai jumpa dilain waktu semoga Allah mempertemukan kita lagi," ujar Widya memeluk tubuh Ririn.


"Amin Ya Allah," jawab Ririn membalas pelukan Widya. Setelah Widya pergi aku juga langsung kembali ke supermarket untuk membeli kebutuhan.


Ririn kembali kerumah, entah kenapa tiba-tiba dia teringat dengan Ivan.


"Apakah sekarang dia sudah sampai apa belum?" gumam Ririn dalam hatinya.


Ririn membuka gawainya dan berharap ada pesan masuk dari Ivan tetapi hasilnya nihil tidak ada satupun pesan masuk.


Sekarang Ririn mulai melaksanakan Sholat lima waktu sekarang waktunya sholat dzuhur, Ririn bergegas pergi kekamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah menyelesaikan sholat Ririn memohon ampun kepada Allah tentang sifat dan sikap serta perilakunya selama ini, hingga air mata berling beriringan dengan doa-doanya.


Ririn merasa bosan dirumah karena biasanya jam segini Ivan sudah ada dirumah dan mereka saling bercanda.

__ADS_1


"Apa aku mencintai Ivan atau tidak," gumam Ririn dalam hatinya yang masih belum paham dengan perasaannya sendiri.


#Bersambung


__ADS_2