
"Nanti aja kita bicarakan," ujar Ivan sambil mengunyah makanannya.
"Yaudah," jawab Ririn dengan ketus, karena ia tau walaupun ia memaksa agar Ivan bicara sekarang tetapi usahanya akan sia-sia.
Setelah selesai sarapan. Ivan berpamitan untuk pergi kerja,
"Aku pergi dulu, ingat kamu jangan kemana-mana," ucap Ivan mengulurkan tangannya dan Ririn menyambutnya serta mencium punggung tangannya Ivan.
"Iya-iya," jawab Ririn.
Setelah itu Ivan mengecup kening Ririn selama beberapa detik setelah itu Ivan berlalu pergi.
Ririn tersenyum bahagia dan perasaannya tidak tenang mengenai hal apa yang akan di bicarakan nanti.
Desi mampir sebentar di depan ruangan Ivan, ia mengintip di balik gorden ternyata ruangan Ivan masih kosong,
"dia masih belum datang."
Ia kembali berjalan menuju ruangannya dengan perasaan bahagia karena mungkin sebentar lagi Ivan akan ada.
Brukkk
Semua berkas dan dokumen berserakan dilantai karena Desi bertabrakan dengan seseorang,
"Maaf," ujar Desi sambil mengumpulkan berkas dan dokumen.
"Biar saya bantu," ucap seseorang tersebut sambil membantu mengumpulkannya.
Setelah selesai mengumpulkan dokumen, Desi berdiri ia langsung melihat seseorang yang berada di hadapannya.
Seketika dia kaget dan tersenyum sendiri,
"Maaf Pak, saya tidak sengaja," ujar Desi sambil menebar pesonanya di hadapan atasannya yang tak lain adalah Ivan.
"Tidak apa\-apa, lain kali kalau jalan hati\-hati," jawab Ivan dengan memasang ekspresi datar tanpa senyuman sedikit pun.
Ivan berlalu pergi menuju ruangannya tiba\-tiba langkahnya berhenti karena dicegah oleh Desi,
"tunggu Pak."
Ivan pun menoleh kebelakang,
"Iya ada apa."
"Untuk menebus rasa bersalah saya kepada Bapak, bolehkah saya mengajak Bapak untuk makan siang di sebuah restorant," ucap Desi dengan pelan dan lemah lembut,
"saya yang akan mentraktir," lanjutnya.
"Tidak perlu, hal itu sangat berlebihan," jawab Ivan dengan sangat dingin.
"Tapi Pak, sebagai tanda minta maaf saya," ujar Desi di iringi dengan senyuman.
"Itukan terjadi karena tidak kesengajaan, jadi tidak ada yang salah dengan kejadian barusan," ujar Ivan tanpa senyuman sedikitpun.
"Kalau Bapak tidak terima tawaran saya ini berarti Bapak tidak memaafkan saya," ujar Desi menundukkan kepala melihat ke lantai.
"Saya sudah memaafkan kamu, jadi menurut saya tawaranmu ini berlebihan sekali," jawabnya dengan datar.
"Saya kurang enak Pak, kalau Bapak tidak menerima tawaran minta maaf saya," ucap Desi berusah mencari alasan agar Ivan dapat menerima tawarannya.
Sejenak Ivan berpikir mengenai tawaran dari Desi apakah ia menerimanya atau tidak.
Ivan merasa tidak ada juga salahnya jika ia menerima tawaran dari desi karena hanya sekedar makan siang saja,
"Iya, tapi kalau saya tidak sibuk."
Desi langsung tersenyum bahagia akhrinya ia dapat juga makan siang dengan sang pujaan hatinya.
"Iya Pak, saya berharap agar Bapak bisa datang," ucapnya dengan bahagia.
Ivan berlalu pergi keruangannya dan Desi juga berjalan menuju ruangan Nita.
Desi masuk ke ruangan Nita tanpa mengetok pintu terlebih dahulu membuat Nita terkejut,
__ADS_1
"Kalau masuk ketok pintu terlebih dahulu."
Desi hanya tersenyum saja dia ingin berbagi
Kebahagiaan bersama sahabatnya.
"Kau kenapa senyum\-senyum sendiri?" ujar Nita bertanya dengan suara melengking.
"Hari ini aku sangat bahagia Nita," ucap Desi sambil menari\-nari mengelilingi tubuh Nita karena saking bahagianya.
"Kau bisa tenang, puyeng kepalaku melihat tingkahmu seperti ini," ujar Nita sambil menghentikan Desi yang sedang menari\-nari bahagia.
"Nita aku sangat bahagia," ujar Desi sambil menyubit pipi milik Nita yang sangat imut.
"Aww." Nita meringis kesakitan dan melepaskan tangan Desi dari pipinya.
"Aku pergi dulu," ucap Desi pergi dari ruangan Nita sambil melambai\-lambaikan tangan dari belakang.
"Aku senang kalau kamu bisa sebahagia ini Desi," ucap Nita sambil melihat Desi yang sudah keluar dari ruangannya.
Desi lansung duduk di kursi empuk miliknya dengan bahagia dan tidak sabar untuk makan siang bersama dengan Ivan.
"Cepatlah berputar wahai jam dan berhentilah berputar di saat aku dan Ivan makan siang," gumam Desi sambil melihat kearah jam kantor yang berada di dinding ruangannya.
Jam makan siang telah tiba Desi sudah duluan menunggu Ivan di sebuah restorant yang dekat dengan perusahaan ia bekerja.
Desi merasa cemas bagaimana kalau Ivan tidak jadi ikut makan siang bersamanya. Sedari tadi ia selalu menatap ke arah pintu masuk menunggu seseorang yang tak kunjung tiba.
Lima belas menit berlalu, Desi masih menunggu Ivan hingga minuman yang sudah ia pesan hampir habis.
Sosok seseorang yang ia tunggu akhirnya datang dan duduk di hadapannya.
"Terimakasih Bapak sudah mau datang," ucap Desi sambil tersenyum bahagia.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Desi kepada Ivan yang sedang asyik memainkan gawainya.
"Apa saja," jawabnya tanpa melirik sedikit pun kearah Desi.
"Pesan yang ini saja mbak," ucap Desi kepada seorang pelayan.
Selama menunggu pesanan mereka berdua hanya diam saja tanpa ada komunikasi. Desi mencoba untuk dekat denga Ivan agar mudah untuk mendapatkan simpati darinya.
"Sebelumnya Bapak CEO di perusahaan mana?" tanya Desi sambil menikmati wajah tampan milik Ivan.
Ivan hanya diam saja tanpa menjawab pernyataan dari Desi yang berada di hadapannya.
Desi merasa di kacangin karena Ivan sedikit pun tidak menanggapi ucapannya, dia memilih diam saja sambil menikmati wajah yang ada di hadapannya.
"Tampan sekali dan sempurna," gumam Desi dalam hati.
Ivan menerima tawaran dari Desi karena merasa iba saja, sebelum ia memilih untuk tawaran dari Desi, ia telah memutuskan tidak akan mengacuhkan Desi.
Ivan fokus dengan gawainya untuk mempersiapkan sesuatu untuk istrinya.
Ivan mulai memesan pakaian muslimah yang cantik untuk Ririn bahkan memepersiapkan makeover untuk istrinya supaya tampil lebih cantik nanti malam.
"Pak," ucap Desi membuyurkan lamuan Ivan.
"Iya kenapa?" tanya Ivan dengan ketus.
"Kenapa makanan Bapak tidak di makan nanti dingin," ujar Desi dengan lemah lembut.
__ADS_1
Ivan kemudian tidak lagi menanggapinya, mereka hanya terdiam saja sambil menikmati makanan mereka masing\-masing.
Setelah selesai makan siang Ivan kemudian kembali lagi di perusahaan tanpa menunggu Desi yang pergi ke kamar mandi sebentar.
Di dalam kamar mandi Desi berharap kalau Ivan masih menunggunya. Ia keluar di lihatnya meja mereka yang tadi telah kosong.
"Apa Ivan sudah duluan pergi," gumam Desi dalam hati,
"It's ok, hal seperti ini tidak terlalu bermasalah buatku, biarin dia cuek dan dingin pasti lama kelamaan akan luluh hatinya," lanjut Desi di iringi dengan senyuman licik dan bergegas untuk kembali bekerja.
Ivan mengirimkan pesan melalui whatsapp untuk Ririn,
[Ririn ku harap kamu dapat menerima paket yang ku kirimkan.]
Terlihat dua centang biru membuat hati Ivan bersorak bahagia dan menunggu balasan dari Ririn,
[Saya sudah menerima paketnya, ini paket buat siapa?]
Itulah balasan dari Ririn disertai dengan foto paket yang di potret oleh Ririn.
[Buat kamu,] disertai dengan emoji love.
[Emojinya,] diirngi dengan emoji marah.
[Ada apa dengan emojinya,] diiringi dengan emoji love yang sangat banyak.
Ivan memutuskan untuk melakukan video call dengan Ririn karena merasa kangen.
Tak butuh waktu lama Ririn menerimany,
"Assalamualaikum," ujar Ivan dengan lemah lembut,
"Waalaikumsalam," jawab Ririn dari sebrang sana,
"Nanti malam kamu pakai baju itu,"
"Nggak mau ah, memangnya kita mau kemana?" tanya Ririn sambil menikmati wajah tampan Ivan karena baru kali ini ia melihat wajah itu dengan sangat dekat.
"Ke sesuatu tempat, pokoknya kamu harus pakai dan nanti malam aku akan menjemputmu," ucap Ivan.
"Jadi nanti sore kamu tidak langsung pulang?" tanya Ririn dengan muka di tekuk.
"Benar sekali, intinya nanti malam aku akan menjemputmu tetapi dengan memakai baju yang ku pilihkan," jelas Ivan dengan lemah lembut meluluhkan hati istrinya agar Ririn mau memakai baju itu.
Terdengar seseorang mengetok pintu dari sebrang sana mungkin make over yang tadi akan datang untuk menghias Ririn.
"Udah dulu aku mau bukain pintu," ucap Ririn dari sebrang sana sambil teriak,
"Tunggu sebentar."
"Iya kalau laki-laki kamu jangan buka pintunya ya," ucap Ivan dengan senyuman centil menggoda Ririn.
"Iya-iya, assalamualaikum," ucapnya sambil mengakhirinya.
"Waalaikumsalam," jawab Ivan membuat senyuman mekar dibibirnya.
Ternyata tanpa di sadari ada seseorang yang sedang mengintip Ivan di balik gorden sejak tadi yang tak lain ialah Desi.
"Dia sedang bicara dengan siapa? kenapa dia tersenyum\-senyum sendiri, apa itu pacarnya," gumamnya dengan geram karena merasa cemburu dengan seseorang yang berkomunikasi dengan Ivan.
"Kamu hanya menjadi milikku Ivan dan tidak dengan yang lain," gumam Desi sambil memutar knop pintu ruangan Ivan.
"Permisi Pak," ucap Desi diiringi senyuman.
Ekspresi wajah Ivan yang tadinya tersenyum bahagia menjadi datar karena ke datangan Desi seorang karyawan kantor.
"Ia silahkan," jawab Ivan sambil membolak balik halaman dokumen yang berada di tangannya.
"Saya kesini cuman mau kasih saran, di saat jam kerja tidak boleh memainkan gawai terlalu lama karena itu dapat memepengaruhi karyawan lainnya untuk tidak spotrif dalam bekerja," ujar Desi panjang lebar karena tidak suka apabila Ivan sering berkomunikasi di depan matanya membuat hatinya terasa perih.
"Begitukah, terimakasih atas sarannya," jawab Ivan menatap Desi sebentar dan kembali membaca dokumen.
"Iya Pak, sama\-sama saya permisi dulu," ujar Desi berjalan keluar dari ruangan Ivan.
"Peraturan yang sangat membangun," gumam Ivan dalam hatinya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ririn membuka pintu di lihatnya seorang perempuan dengan membawa tas,
"Ada apa?" tanya Ririn dengan sopan.
"Apa benar ini alamat apartemennya Siska Raihani," ujarnya denga sopan juga.
"Ia benar sekali, anda siapa kenapa anda bisa tau alamat dan nama saya?" tanya Ririn yang sedang kebingungan.
"Saya seorang make over dari salon bimboy kesini untuk me make over pelanggan atas nama Siska Raihani," ucap wanita itu dengan panjang lebar.
"Apaa!, mungkin anda salah orang saya nggak perna meminta seorang make over untuk kesini," jelas Ririn.
"Tetapi alamat dan namanya benar di sini mbak," ucap pelayan itu masuk ke dalam apartemennya Ririn,
"Saya kesini untuk melaksanakan tugas, mari saya make over mbak, pasti mbak kan Siska Raihani," lanjutnya sambil meletakan tas yang berisi perlatannya ke atas meja.
__ADS_1
#Bersambung