#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 20 #Kantor


__ADS_3

"Bilang kalau kamu kebo yang manis tapi," ujar Ivan menggantung kalimatnya,


"tapi ganas," lanjut Ivan menarik hidup Ririn yang sedikit mancung dengan lembut.


"Sakit tau," Ririn meringis walaupun yang ia rasakan bukan sakit melainkan bahagia. Ia mengelus hidungnya yang berubah menjadi warna merah.


"Ya ampun, sakit yah," ucap Ivan kembali mencubit kedua pipi Ririn.


"Awwww," ringis Ririn sambil menyingkirkan tangan Ivan yang berada di pipinya.


Setelah puas mencubit pipi Ririn, Ivan melingkarkan tangannya di pinggang Ririn. Seketika netra mereka beradu, keduanya saling mengalihkan pandangan.


Dengan cepat Ririn menepiskan tangan Ivan dari pinggangnya,


"Kamu sudah berani peluk-peluk aku!" ucap Ririn dengan kesal.


"Beranilah kan kamu istriku," jawab Ivan kembali meletakkan tangannya di pinggang sang istri,


"Kan semalam aja kamu yang duluan meluk aku," lanjut Ivan dengan terkekeh pelan.


"Mana ada udah jangan di bahas, aku nggak suka," ujar Ririn yang mulai ngambek.


"Iya-iya, aku nggak bahas lagi, mukanya nggak usah ditekuk gitu," ujar Ivan yang kembali terkekeh melihat ekspresi istrinya.


Ririn hanya diam saja, walaupun sekarang dalam jantungnya sangat berdebar kencang.


'Bagaimana kalau Ivan mendengar detak jantungku ini,' guram Ririn dalam hati.


Begitu juga dengan Ivan merasakan hal yang sedang dirasakan oleh Ririn.



Ririn yang sedang duduk santai di depan tv tiba\-tiba mengalihkan pandangnya melihat sosok laki\-laki yang berpakaian rapi menghampirinya.



"Mau kemana?" tanya Ririn dengan cuek.



"Pergi ke kantor," jawab Ivan seraya duduk disamping Ririn,



"kamu nggak takut sendirian disini kan?" tanya Ivan dengan lembut.



"Nggaklah, ngapain juga aku takut," jawab Ririn yang masih cuek,



"Owh, kalau kamu bosan disini kamu bisa ke kantor, ingat jangan kemana\-mana?" ujar Ivan mewanti\-wanti istrinya, pasti Ririn masih belum kenal betul dengan wilayah ini.



"Iya\-iya," jawab Ririn melihat Ivan sekilas yang sedang duduk disampingnya.



Ivan beranjak dari duduknya kemudian mengulurkan tangan. Ririn merasa sedikit canggung untuk menyambut uluran tanganitu dan mencium punggung tangan Ivan.



Ivan mengecup ubun\-ubun milik Ririn, hingga membuat senyuman menghiasi bibir Ririn.



"Ingat kamu jangan kemana\-mana, nanti aku akan kirimkan alamat kantor melalui Whatsapp," ujar Ivan dan meninggalkan Ririn.


__ADS_1


Entah kenapa langkah Ririn sangat ringan dia mengikuti langkah Ivan keluar hingga sampai di pintu.



"Kamu mau kemana?" tanya Ivan menghentikan langkahnya.



Brukkk


Ririn menabrak tubuh Ivan,


"Kalau mau berhenti yah, bilang\-bilang dong," ujar Ririn mengelua kepalanya yang tadi menabrak pundak Ivan.



"Kamu sih berjalan nggak pakai mata," ujar Ivan,


"kamu mau kemana?" lanjut Ririn,



"Aku mau ke depan," jawab Ririn cengar cengir kuda nggak jelas.



"Ngapain ke depan?" tanya Ivan.



"Mmm, anatar kamu sampai kedepan," jawab Ririn sambil mengatur nafasnya.



"Nggak usah sampai sini aja," ucap Ivan dengan suara yang sangat lembut hingga membuat jantung Ririn makin berdebar kencang.



"Kamu hati\-hati dijalan," ujar Ririn dengan pelan.




"Nggak bilang apa\-apa," jawab Ririn,


'Ya ampun ada apa denganku ini, kenapa sih bibir ini ceplas ceplos," gumam Ririn dalam hatinya.



"Benaran, tapi sepertinya tadi kamu bilang sesuatu, bilang apa coba," ujar Ivan mendekatkan telinganya kearah Ririn.



"Bilang kalau sekarang sudah jam delapan," ucap Ririn.



Tanpa mereka sadari ternyata banyak orang yang melihat mereka hingga diantaranya berdehem.



"Ya Allah, aku pergi dulu," ujar Ivan dengan buru\-buru. Begitu juga dengan Ririn segera menutup pintu apartemen dengan cepat.



"Ada apa dengan jantungku ini," ujar Ririn memegang dadanya.



"Apa perlu aku cek kesehatannya di rumah sakit?" Pertanyaan konyol yang muncul dari otak Ririn.

__ADS_1



Ivan menyetir mobil sambil senyum-senyum sendiri. Pagi ini dia sangat bahagia sekali setelah sekian lama baru hari ini ia merasa tersenyum dan tertawa dari dalam hatinya yang terdalam.


"Kenapa hatiku sangat bahagia ketika aku dekat dengan Ririn serta merasa kesepian disaat ia menjauh," guram Ivan yang masih tetap fokus menyetir.


"Apa aku sudah mulai mencintainya," lanjut Ivan.


Dikantor Ivan masih cemas dengan keadaan Ririn di apartemen, bagaimana jika bocah itu keyuluran kesana sini, ia memberanikan diri untuk mengirimkan pesan kepada Ririn.


"Selamat siang Rin, sekarang kamu lagi dimana, kamu ke kantor sekarang," isi pesan dari Ivan disertai dengan alamat kantornya.


Setengah jam Ivan menunggu balasan dari Ririn, jangankan dibalas, dibaca saja masih belum.


"Permisi Pak, setelah jam istrahat akan ada meeting," ujar Desi salah satu kepercayaan di kantor ini.


"Iya," jawab Ivan dengan dingin.


Ivan sengaja bersikap cuek dan dingin kepada wanita, ia takut apabila ia bersikap akrab maka perempuan akan menganggapnya lebih.


Ivan tahu Desi memandangnya dengan tatapan yang aneh diiringi dengan senyuman.


Ivan berdehem agar Desi tidak melakukan hal barusan.


"Maaf pak," ucap Desi gelalapan dan segera keluar dengan cepat.


Ivan kembali membuka gawainya melihat apakah Ririn sudah membalasnya tetapi Ririn masih juga membalasnya.


Ivan tersenyum sendiri karena perbuatannya memeberi nama kontak Ririn dengan nama yang aneh.


[Kebo ganas].


------------


Dari luar tirai Desi mengintip dan memeperhatikan wajah Ivan yang tampan dari balik jendela kaca, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.


"Kamu sedang apa?" tanya Angga sambil melihat Ivan yang sedang mengetik diatas papan keyboard.


"Nggak ngapain-ngapain," jawab Desi dengan santai.


"Terus kenapa kamu ada disini?" tanya Angga.


"Tadi aku melihat ada kotoran dikaca ini, jadi aku bersihin," jawab Desi asal-asalan.


"Kalau mau beralasan cari alasan yang tepat jangan alasan konyol seperti itu," ujar Angga melihat wajah Desi.


"Ini bukan alasan tetapi inilah yang sebenarnya terjadi," jawab Desi. Bukan Desi namanya kalau nggak bisa beralasan seribu banyaknya.


"Terserah kamu, Dia siapa?" tanya Angga sambil menunjuk Ivan dari luar jendela.


"Jangan tunjuk seperti itu, nanti kalau dia tahu dia bisa marah," ujar Desi sedikit menaikan nada suaranya.


"Dia CEO baru disini," jawab Ririn yang sudah tidak lagi memandang ke dalam ruangan Ivan.


"Apaa!" Angga sedikit terkejut.


"Angga!" Desi mulai emosi dengan sifat temannya yang satu ini.


"Heheheh," ujar Angga dengan tertawa.


"Udah aku mau balik dulu keruanganku," ucap Desi berlalu pergi meninggalkan Angga.


"Iya, sampai jumpa nanti di kantin," jawab Angga dengan semangat.


"Nanti siang aku nggak ke kantin karena ada meeting penting," ujar Desi kembali melanjutkan langkahnya.


"Tidak masalah masih ada hari esok," jawab Angga berlalu pergi menuju ruang kerjanya.


Desi duduk dikursinya sambil senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Ivan yang berputar-putar di benaknya.


"Wajah datar saja sudah tampan apalagi kalau dia tersenyum pasti sangat terlalu tampan," guram Desi yang masih tersenyum-senyum,

__ADS_1


"apa mungkin dia pangeran yang ku tunggu-tunggu selama ini," lanjut Desi yang mulai berkhayal tentang dirinya dan Ivan.


#Bersambung


__ADS_2