#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 33 #Desi mulai Mencintai Angga


__ADS_3

Hari berlalu bulan pun berlalu keluarga Ivan menjadi harmonis dan di penuhi dengan kasih sayang satu sama lain. Umik Ivan sudah pergi seminggu yang lalu karena menemani Abah yang bekerja di perusahaan pusat di kota mereka yang dulu. Vandri sudah menginjak umur setahun sekarang dia sudah mulai bisa berjalan dan berlari walau kadang jatuh. Rumah semakin berantakan membuat Ririn menjadi capek dalam mengurus rumah walaupun di bantu oleh asisten rumah tangga. Tiga tahun telah berlalu Ririn kembali mengingat tentang kotak yang dulu ia dapat di lemari baju Ivan. Ririn mencari kotak hitam itu dan menanyakan hal yang sejak lama ingin ia ketahui serta Ririn sudah membulatkan niatnya untuk menceritakan tentang masa lalunya yang pernah menabrak lari seseorang.


***


Karena abahnya Angga melatih dan mengajari serta memberi semangat untuk Desi supaya bisa berjalan kembali akhirnya berhasil. Perjuangan yang tidak sia-sia.


"Akhirnya aku bisa berjalan," ucap Desi di iringi dengan binar kebahagian di matanya.


"Kamu hebat."


Desi sudah mulai mencintai Angga karena menurutnya Angga memang benar-benar tulus mencintainya. Desi teringat kembali dengan sahabatnya Rifqa yang mengalami kecelakaan sepertinya tetapi untungnya Desi masih bisa selamat dan di beri kesempatan untuk hidup. Desi termenung dengan tatapan kosong. Entah sudah berapa kali Angga memanggilnya dan yang terakhir Angga menepuk pundak Desi,


"Des. Kenapa melamun?"


Desi mulai menceritakan tentang kejadia beberapa tahun silam mengenai sahabatnya yang meninggal. Desi menjelaskan secara detail kepada Angga bahkan belum sempat cerita selesai Desi sudah tidak bisa melanjutkan karena suara isakan tangisnya. Angga mengerti betul tentang yang di alami oleh Desi merasakan kehilangan seorang sahabat sejati.


Angga mengantar Desi ke kost Nita. Setelah itu Angga kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Angga dan Ivan telah akrab sekian lama. Ivan merasa bahagia setelah mendengar bahwa Desi bisa menerima Angga dengan tulus serta kabar bahagia bahwa Desi telah kembali bisa berjalan. Angga menghampiri Ivan yang sedang sibuk dengan komputernya.


"Serius amat Pak," canda Angga sambil duduk di hadapan Ivan.


"Ia demi keluarga di rumah. Kamu dari mana saja?" Menatap Angga dengan tajam.


Angga menceritakan kepada Ivan bahwa dia tadi sedang menemani Desi di taman untuk jalan-jalan. Angga juga berbagi cerita tentang sahabat Desi. Ivan mendengarkan dengan serius cerita Angga sangat mirip dengan kematian Rifqa. Ivan menyeka air matanya karena kembali di ingatkan oleh sok-sok Rifqa yang sudah lama ia lupakan. Untung Angga tidak melihat embun di ujung netranya Ivan kalau ia lihat bisa-bisa masalah menjadi beranak cucu. Ivan sangat ingin menanyakan langsung kepada Desi tentang sahabatnya yang dulu meninggal karena tabrak lari. Tetapi yang membuatnya bingung Ivan lupa menanyakan siapa nama sahabat Desi.


Desi sudah bisa berjalan kembali jadi ia akan berniat untuk meminta maaf kepada Ririn dan sekalian bertemu dengan Vandri si anak lucu dan imut yang setiap hari di ceritakan oleh Angga. Vandri dan Ibunya sering ke kantor. Jika Vandri si bayi imut itu di bawa ke kantor seluruh karyawan akan mengantri untuk mencium, menggendong bahkan mengajak bermain-main.

__ADS_1


***


"Bu. Di luar ada tamu," ujar Bi Mina.


"Siapa?" Sambil menggendong Vandri menuju ruang tamu.


"Kurang tau Bu. Dia seorang wanita yang sumuran dengan ibu," ujar bi Mina.


Ririn hanya ber'oh' saja dan segera berlalu menuju ruang tamu. Ririn merasa terkejut dengan Desi si wanita yang sempat adu mulut dengannya dan sekarang ia sudah bisa berjalan kembali. Ivan pernah menceritakan kalau Desi mengalami kelumpuhan. Desi langsung berdiri dan menghampiri Ririn. Ia langsung mengambil Vandri dari gendongan Ririn sedangkan Ririn hanya bungkam dan tidak menolak. Sejak kecil Vandri tidak pernah memilih siapa yang bisa dan tidak bisa menggendongnya.


Desi kembali duduk sambil membelai rambut Vandri yang sedang duduk di pangkuannya.


"Rin. Aku minta maaf." Desi menatap Ririn dengan tatapan penyesalan karena sikapnya dulu yang sangat kurang ngajar.


Ririn menyuruh Bi Mina untuk mengambil Vandri dari pangkuan Desi. Desi langsung duduk di lantai bersimpuh di kaki Ririn untuk meminta maaf. Untung hati Ririn telah berubah jadi ia merasa tak tega melihat Desi. Lalu ia memeluk Desi. Desi langsung menangis dan meminta maaf beribu-ribu kali banyaknya karena pernah khilaf.


Keduanya saling bercerita seperti layaknya sahabat. Ivan dan Angga berdiri di ambang pintu melihat kedua wanita yang dulunya musuhan menjadi akur kembali. Desi yang meminta Angga untuk menjemputnya supaya bisa menghilangkan rasa yang pernah ada terhadap Ivan. Ternyata perasaan itu masih belum sepenuhnya hilang walaupun setengah relung hati Desi telah di isi oleh Angga.


Mereka berempat saling cerita, bercanda dan tertawa bahagia. Ivan teringat dengan cerita Angga tadi siang. Ingin sekali rasanya Ivan mendengar seperti apakah sok-sok sahabat Desi yang ceritanya mirip dengan kekasih lamanya.


"Desi aku turut bersedih ketika mendengar cerita sahabatmu."


Desi mulai menceritakan kembali mengenai sahabatnya yang kecelakaan akibat tabrak lari.


"Siapa nama sahabtmu?" Ivan semakin penasaran dengan sahabat Desi.

__ADS_1


"Cut Rifqa Muliyani."


Deg jantung Ivan seakan berhenti seketika. Nama itu nama yang sangat ia kenali dan sering di bawakan setiap sujudnya walaupun sudah lama. Desi kembali melanjutkan ceritanya.


Telapak tangan Ririn tiba-tiba bercucuran keringat dingin. Sepertinya cerita Desi sangat mirip dengan korban kecelakaannya. Tabrak lari itulah yang dilakukan oleh Ririn ketika menabrak seorang wanita yang memakai khimar panjang serta cadar menyebrang jalan.


Ririn gugup dan ingin segera pergi dari sini tetapi ia menjadi kepo karna Ivan terus menanyakan soal ini itulah. Apa mungkin Suaminya mengenal Rifqa. Ririn tak bisa mengenali wajah perempuan itu karena cadar. Mata perempuan itu tidak terlihat karena di halangi oleh telapak tangan yang menutupi wajahnya. Ririn kembali memutar memorinya beberapa tahun silam mengingat kejadian mengerikan itu. Desi menunjukkan gawainya kepada Ivan sambil memperlihatkan wanita cantik dan sepertinya memiliki hidung mancung yang tertutup dengan cadar. Baju yang wanita dalam gawai Desi sangat persis dengan baju wanita yang ia tabrak. Desi bercerita bahwa itu foto terakhir Rifqa. Tangan Ivan bergetaran saat melihat wajah Rifqa air mata Ivan menetes. Sesak di dada ia rasakan hingga membuatnya sulit bernafas. Desi, Angga, dan Ririn melihat reaksi Ivan yang tiba-tiba berlalu begituh saja menuju ke kamar. Angga dan Desi berpamit untuk pulang. Desi juga menangis dan Angga berusaha menenangkannya.


Hati Ririn menjadi dag dig dug ketakutan mengenai masalah ini. Siapakah Rifqa itu? Apa pentingnya wanita itu dalam hidupnya Ivan?. Ririn memutar knop pintu di lihatnya Ivan sedang duduk di ranjang sambil memegangi kotak hitam yang sedang ia cari-cari selama beberapa hari belakangan ini.


"Apa itu?" tanya Ririn menghampiri Ivan dan bersikap seolah tidak mengetahui tentang isi kotak hitam itu.


Ivan hanya terdiam dan menatap netra Ririn secara dalam-dalam. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk memberitahu arti kotak ini kepada Ririn.


"Aku minta maaf Rin." Ivan memeluk erat tubuh Ririn yang sedang duduk di sampingnya.


Ririn bingung tetapi Ivan mulai bercerita tentang kotak hitam ini. Buat siapa? Serta menceritakan bahwa Rifqa yang di ceritakan Desi adalah kekasihnya yang telah pergi. Ivan menceritakan sejak awal menikah ia hanya mencintai Rifqa tetapi seiring berjalannya dan di tambah kehadiran buah hati mereka membuat Ivan mencintai Ririn. Ririn hanya bungkam di saat Ivan mengatakan bahwa orang yang menabrak Rifqa adalah orang yang tidak punya hati dan serta orang yang paling di benci oleh Ivan.


Ririn baru mengetahui bahwa korban kecelakaan itu adalah Rifqa kekasih suaminya bahkan hampir tunangannya bukan rasa cemburu yang di rasakan oleh Ririn bahkan marah 'pun tidak. Ririn hanya takut kehilangan Ivan setelah semuanya akan terbongkar bahwa dia 'lah pelaku yang menabrak tunangannya. Ririn bersikap iba padahal dia hanya takut. Ivan menggenggam jemari Ririn. Ia rasakan jemari itu sangat 'lah dingin seperti es.


"Kamu kenapa?"


"A-k-u ... !" Ririn sedikit gugup dan tidak bisa menghilangkan rasa ketakutannya.


#Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2