
Setelah selesai makan bersama dengan Ibu mertua, Ririn bingung mau ngapain pergi kekamar Ririn masih belum tau dimana kamarnya dan Ivan. Ivan telah pergi kekantor karena ada hal yang mendadak, Ririn hanya terdiam saja di depan Tv dengan eksperesi kebingungan
"Nak apa kamu tidak capek?" tanya Umiknya Ivan dengan lembut.
"Nggak Bu." Ririn sedikit merasa gugup dengan Umiknya Ivan.
"Jangan panggil Ibu, kamu bisa panggil dengam sebutan Umik supaya sama dengan Ivan," jelas Umiknya Ivan kepadanya.
"Iya, Mik," jawab Ririn yang masih gugup.
"Beristirahatlah, kamu pasti kecapean dijalan," ucap Umiknya Ivan dengan nada di lembutkan.
"Iya Mik." Jawab Ririn.
Umiknya berlalu pergi meninggalkannya sendiri.
"Umik kebelakang dulu ya Nak," ucap Umiknya Ivan.
Ririn merasa bosan dan badannya sudah mulai pegal-pegal, ingin rasanya berbaring tapi dimana kan ini ruangan TV jadi tidak mungkinlah.
Ririn beranjak dari duduknya dan mulai menelusuri isi rumah yang lumayan besar dan mewah yang tak kalah dengan rumahnya.
Ririn mulai melihat-lihat foto-foto keluarga Ivan yang berada di dinding dan diatas meja.
"Ternyata dia anak tunggal." Guram Ririn,
"Pantas saja dia anak mami." Ririn mencibir bibirnya melirik kefoto yang lainnya.
Disana banyak sekali penghargaan yang diterima oleh Ivan mulai dari juara Hafiz Quran dan lainnya itu didapatkannya sejak kecil.
Setelah melihat-lihat semua foto diruangan ini Ririn merasa seluruh tubuhnya pegal dan harus segera beristrahat. 'Rumah seperti ini pasti ada pembantunya, aku harus bertanya padanya dimana kamarnya Ivan." Gumam Ririn dalam hatinya dan berjalan menuju dapaur.
Di dapur terdapat dua orang wanita, wanita yang satu berumur lima puluan sedangkan wanita yang kedua terlihat sangat muda mungkin seumuran dengan Ririn dan Ivan.
"Ada apa nak?" Tanya wanita paruh baya menghampiriku.
"Saya mau bertanya?" jawab Ririn dengan suara sedikit ditinggikan.
Celi tak terima karena Ririn meninggikan suara kepada ibunya.
"Kalau ngomong sama orangtua harus sopan santun,"ucap Celi membalikan badannya untuk melihat wajah Istri dari anak majikannya.
"Kamu." Ririn menunjuk wajah Celi.
"Owh, ternyata kamu Istrinya tuan muda." Celi memutar bola matanya.
"Udah-udah ndak usah ribut, jaga bicaramu Celi!" Ibunya Celi menegurnya.
"Maaf bu," jawab Celi menundukkan kepalanya.
"Mau tanya apa non muda," ucap Ibunya celi melembutkan suaranya.
"Saya sudah tidak jadi bertanya!" Ririn meninggalkan dapur dengan eksperesi wajah di tekuk karena harus bertemu dengan Celi.
Celi adalah sahabat Ririn semasa sekolah tetapi persahabatan mereka berakhir karena Celi mengkhianati Ririn, sejak saat itu mereka bermusuhan dan sampai sekarang ini.
__ADS_1
"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan wanita bermuka dua itu." Guram Ririn dan terus berjalan untuk mencari kamar Ivan.
Ririn tepat berhadapan di depan sebuah kamar yang berada dilantai dua, Ririn yakin bahwa ini kamarnya Ivan, perlahan Ririn memutar knop pintu hinggan pintunya terbuka. Ririn masuk kedalam kamar dilihatnya diatas meja yang berada didalam kamar terdapat foto-foto Ivan.
"Benarkan ini kamarnya," ucap Ririn merasa bahagia dan lega karena telah menemukan kamar Ivan, tanpa berpikir panjang Ririn membaringkan tubuhnya diranjang hingga terlelap.
"Assalamualikum." Ivan mengucapkan salam dan masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam." Umiknya menjawab salamnya. Ivan menyalim dan mencium pundak tangan Umiknya.
"Ririn mana Mik." tanya Ivan kepada Umiknya sambil melihat kiri kanan.
"Dia lagi beristirahat mungkin dia kecapean." Umiknya menjawab pernyataan dari anaknya.
"Ivan ke kamar dulu ya Mik," ucap Ivan meminta izin untuk pergi kelamarnya.
"Iya Nak," jawab Umiknya, dengan cepat Ivan berjalan menuju kamarnya.
Didalam kamar Ivan melihat Ririn yang telah terlelap dalam tidurnya.
"Rin, bangun ini sudah sore." Ivan membangunkan Ririn.
"Mmmm." Jawab Ririn dengan mata masih terpejam.
"Ayo bangun, jadi cewek kok malas amat." Guram Ivan yang membuat Ririn membuka netranya.
"Bilang apa barusan," tanya Ririn dengan melototkan matanya,
"Nggak bilang apa-apa, sana pergi mandi." Ivan mengelak karena dia tidak mau berdebat lagi dengan Ririn. Dengan cepat Ririn beranjak dari tidurnya dan segera menuju kamar mandi.
"Bagaimana ini apakah aku akan keluar seperi begini," guram Ririn.
Ririn kebingungan, tidak ada cara lain selain meminta bantuan kepada Ivan.
"Kakak Ivan." Teriak Ririn dari dalam kamar mandi.
Ivan yang sedang asyik membaca buku mendadak khawatir karena Ririn berteriak didalam kamar mandi,
"Apa ia terpeleset," ucap Ivan berlari kecil kearah kamar mandi.
"Iya ada apa Rin, apa kamu sudah terpeleset?" Tanya Ivan yang tengah khawatir dengan keadaan Ririn didalam kamar mandi.
"Wooi, loh nyumpahin gue yah." Ririn kembali berteriak dari dalam.
"Ya Allah bukannya nyumpahin, kalau bukan terpeleset terus kamu kenapa?" tanya Ivan kembali.
Beberapa detik keheningan menyapa Ririn merasa malu sedangkan Ivan masih menunggu jawaban dari Ririn.
"Rin, kamu kenapa?" tanya Ivan yang makin bertambah khawatir karena tidak ada sahutan dari dalam.
Ivan mengetok pintu bebrapa kali hingga membuat Ririn terkejut.
"Tolong ambilkan Handukku didalam koper." Ucap Ririn dari dalam.
Mendengar sahutan Ririn dari dalam Ivan sejenak berpikir untuk menjahili istrinya yang keras kepala itu.
__ADS_1
"Nggak mau, emang saya pembantumu," ucap Ivan yang mulai menjahili Ririn.
Mendengar penuturan Iva. Ririn kembali bingung harus bagaimana.
"Tolong lah Kak, kali ini saja ambilkan handuk untukku," ujar Ririn.
"Kenapa bukan kamu aja yang ambil."
Ririn merasa kesal bagaimana bisa ia yang ambil sendiri masa ia keluar tanpa sehelang benang pun yang menutupi tubuhnya.
"Ayolah Kak." Ujar Ririn yang berusaha sabar.
"Nggak mau."
"Kak Aku mohon ambilkan handuknya." Suara Ririn gemetaran karena mulai merasa kedinginan didalam kamar mandi.
Ivan yang mendengar suara gemetaran Ririn dengan cepat bergegas mengambilkan handuk untuknya.
"Ini handuknya."ucap Ivan.
"Mana jangan ngintip yah awas kalau ngintip." Ucap Ririn mengulurkan tangannya dari balik pintu untuk mengambil handuk dari tangan Ivan.
"Tutup matamu rapat-rapat jangan mengintip yah." Ririn menyuruh Ivan agar memjamkan matanya karena ia akan keluar dengan menggunakan handuk selutut.
"Iya-iya," jawab Ivan karena kasihan dengan keadaan Ririn, ia takut kalau Ririn bisa demam kalau lama-lama didalam sana.
Setelah Ririn yakin bahwa Ivan telah memejamkan matanya ia keluar dengan hati-hati munuju koper yang berada diranjang untuk mengambil bajunya dan setelah itu ia kembali masuk kedalam kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya.
"Sudah, kamu sudah bisa membuka matamu." Ucap Ririn yang keluar dari kamar mandi setelah selesai berpakaian.
"Rin," ucap Ivan mendekati Ririn yang sedang menyisir rambutnya.
"Mmm," jawab Ririn ketus karen merasa kesal mengenai hal kemarin malam, karena kabarnya tidak ditanyakan oleh Ivan.
"Kamu masih marah yah sama aku?" tanya Ivan dengan hati-hati.
"Nggak." Jawab Ririn dengan ketus.
"Ketus amat sih sama suami." Ivan memandang wajahnya Ririn yang tertekuk sejak kemarin malam.
Ririn tidak menjawabnya dia hanya terdiam saja dan tetap menyisir rambutnya yang panjangnya sepinggang.
"Rin, ada masalah yah?" Ivan kembali bertanya.
"Nggak." Jawab Ririn singkat tanpa melirik Ivan.
"Terussss, apa aku membuat kesalahan." Ivan kembali bertanya karena tekatnya sudah bulat ingin segera meyelesaikan masalah yang kemarin malam.
"Entah," jawab Ririn dengan cuek,
"Rin kalau aku punya salah bicarakan saja, jangan seperti begini," ucap Ivan dengan sabar.
"Sadar sendirilah." Ririn meninggalkan Ivan dikamar dan pergi kelantai bawah.
"Salahku apa coba, padahal kemarin malam aku belum berbuat apa-apa." Ivan menepuk jidatnya dan berusaha memutar memori yang terjadi kemarin malam.
__ADS_1
#Bersambung