
Seperti biasa Ririn tidur diatas ranjang sedangkan Ivan tidur di sofa. Ivan terbangun di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajjud. Ivan beranjak dari tidurnya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Pernikahan Ririn dan Ivan sudah lebih satu bulan sedangkan Ivan tidak pernah membangunkan Ririn untuk sholat tahajjud tetapi setelah seminggu kemarin Ririn sudah mulai melaksanakan Sholat lima waktu.
Setelah selesai sholat tahajjud dan berzikir serta membaca Al-quran. Jarum jam menunjukkan pukul jam empat lewat. Ivan membangunkan Ririn dengan berbisik ditelinga Ririn," Rin bangun, mari kita mengemasi barang-barang."
Ririn masih belum terbangun, Ririn kalau tidur bisa dibilang seperti kebo susah untuk dibangunin Ivan sedikit menguncang tubuh Ririn agar ia bisa bangun,
"Rin, bangun."
Sudah lima belas menit Ivan mencoba membangunkan Ririn tetapi hasilnya nihil Ririn masih belum juga bangun.
"Ririn bangun, kebakaran," ucap Ivan yang menahan ketawanya.
"Apaaaa!" Ririn terbangun dan
Bruuukk
Ririn terjatuh kelantai karena saking terkejutnya dan segera berdiri serta berlari menuju pintu, dia melihat Ivan yang sedang berdiri melihatnya dan melipat tangannya didada,
"kenapa berdiri saja mari lari!" ucap Ririn yang histeris dan gemetaran ketakutan sambil menarik pergelangan Ivan.
Ririn memutar knop pintu seketika tertawa Ivan pecah memenuhi kamar mereka,
"Kenapa tertawa sekarang bukan waktunya tertawa!" ucap Ririn yang masih keadaan gemetaran.
"Memang apa yang terjadi sampai kamu ketakutan begini?" tanya Ivan sambil memegang perutnya yang kesakitan karena ia tertawa besar.
"Kebakaran," ucap Ririn dan melihat sekelilingnya ternyata tidak ada api jangankan api, asap pun tak ada,
"jadi," lanjut Ririn menatap Ivan dengan tatapan mematikan.
Sedangkan Ivan tertawa lepas berjalan menuju ranjang mereka, Ririn tak terima karena dirinya dimainkan oleh Ivan.
"Kamu mengerjai aku ya!" Ririn berjalan menghampiri Ivan yang masih tertawa,
"sudah jangan tertawa lagi," lanjut Ririn membekam mulut Ivan, seketika tertawa Ivan hilang.
Ririn langsung memukul Ivan dengan bantal, Tertawa Ivan kembali muncul karena dia digelitik dan dilempar dengan bantal oleh Ririn. Ririn menggelitik Ivan tanpa henti hingga netra mereka berdua beradu selama beberapa detik, Ririn langsung mengalihkan pandangannya dan berdiri di samping ranjang.
"Rasain loh," ucap Ririn dan memegang bo**ngnya yang sakit karena tadi terjatuh.
"Sakit ya? maaf Aku tadi tidak sengaja, kamu sih kayak kebo susah amat dibangunin," ucap Ivan yang duduk ditepi ranjang sedangkan Ririn berdiri.
"Kamu bilang aku kebo! mana ada kamu bangunin aku," ucap Ririn asal asalan karena memang benar dari dulu dirinya sangat sulit untuk dibangunin bahkan mama dan temannyapun berkata demikian bahwa Ririn tidur seperti kebo.
"Aku udah bangunin kamu bebarapa kali tetapi kamu juga masih belum terbangun, makannya aku bilang kebakaran ternyata berhasil bisa membuatmu terbangun," ucap Ivan dengan tertawa mengejek Ririn,
"dasar cewek kebo," lanjut Ivan menarik tangan Ririn untuk duduk disampingnya.
Ririn mengalihkan pembicaraan dengan melirik jarum jam yang menuju setengah lima dini hari.
__ADS_1
"Kenapa kamu banguni aku jam segini?" tanya Ririn yang terduduk di samping Ivan tanpa jarak sedikitpun, Ivan menarik nafas panjang dan menjelaskan kepada istrinya kalau mereka akan berangkat pagi ini,
"hari ini kita akan berangkat istriku yang kebo, jadi kita harus mengemasi barang-barang."
"Jangan bilang kebo aku nggak suka," ujar Ririn memanyungkan bibirnya,
"Iya-iya aku yang salah nggak akan kusebut kebo lagi," ujar Ivan.
"Itu bilang lagi," ucap Ririn yang makin memanyungkan bibirnya dan membuang muka dengan malas.
"Bilang apa kebo," ujar Ivan mengulang kata tersebut sebenarnya ia tahu Ririn tidak suka dengan ucapan kata kebo.
"Malas debat terus sama kamu," ujar Ririn yang cemberut.
"Iya Aku minta maaf, sudah nggak usah cemberut mulu," ujar Ivan memegang tangan Ririn dan beranjak dari duduk menuju lemari,
"mari kemasi barang-barang."
Ririn dan Ivan mengemasi baju-baju mereka, baju Ririn tidak terlalu banyak di dalam lemari karena sebagian bajunya masih berada di dalam kopernya.
Ririn membantu Ivan untuk memasukkan bajunya di dalam koper. Setelah semuanya selesai Ririn pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri dan sekalian mengamnil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah Ririn selesai mandi, Ivan pamit untuk sholat dimesjid yang dekat dengan rumahnya,
"Aku sholat di mesjid saja."
Kedua orangtua Ivan telah setuju dengan keinginan Ivan untuk pindah keluar kota sedangkan Ririn masih belum memberitahu Papa dan Mamanya yang masih berada diluar negri jadi sulit untuk dihubungi. Sarapan bersama keluarga telah selesai dan sekarang saatnya Ririn dan Ivan pamitan untuk pergi. Barang-barang mereka telah dimasukin pak Mamat supir keluarganya Ivan di dalam bagasi mobil.
"Umik Ivan dan Ririn pamit dulu, doakan Ivan selalu Mik," ujar Ivan.
Umik memeluk erat putranya dengan berling air mata,
"Umik jangan nangis," ujar Ivan membalas pelukan hangat dari Umiknya. Umik Ivan menitipkan pesan kepada putra sematawangnya,
"Jaga istrimu baik-baik jangan pernah buat dia menangis."
"Iya Umikku sayang Ivan janji," ujar Ivan diiringi senyuman, Umiknya kembali menciumnya pipi kanan dan kiri Ivan serta keningnya. Ivan juga seperti itu mencium kedua pipi Umkinya.
"Abah Ivan pamit dulu doakan Ivan selalu," ujar Ivan menyalim tangan Abahnya dan memeluknya.
"Iya Nak, jaga dirimu dan istrimu disana nanti," ucap Abahnya Ivan.
Sekarang giliran Ririn untuk berpamitan, Umik Ivan langsung memeluk erat menantunya sambil berlinagan air mata, seperti Ivan Umiknya juga berpesan kepada Ririn
"Jangan pernah tinggalkan dia walaupun dalam keadaan suka maupun duka."
'Bukan aku yang meninggalkannya Mik tetapi putramu yang akan meninggalkanku nanti," gumam Ririn dalam hatinya.
"Iya Mik, Ririn akan berjanji tidak akan meninggalkannya," ujar Ririn membalas pelukan mertuanya.
'Maafkan Ririn Mik, jika suatu hari Ririn mengingkari janji Ririn sendiri,' Ririn kembali bergumam dalam hatinya.
__ADS_1
Umik mertuanya mencium kedua pipi Ririn serta keningnya dan Ririn juga melakukan hal yang sama serta menyalim Umik mertuanya,
"Ririn pamit dulu Mik."
Kemudian Ririn menyalim tangan abah mertuanya untuk berpamitan,
"Jaga diri kalian disana nanti," ujar Abah mertuanya,
"Ririn pamit dulu ya Bah."
Ivan dan Ririn berjalan menuju mobil dan masuk kedala mobil. Umik Ivan masih menangia melihat putranya kembali pergi meninggalkan dirinya yang kedua kali, pertama disaat dia menuntut ilmu di pesantren dan sekarang yang kedua.
Ririn melambaikan tangan kepada Umiknya didalam mobil dan begitu juga dengan Umiknya melambaikan tangannya. Umik Ivan berada dipelukan Suaminya dan berkata,
"Biarkan mereka bahagia hidup disana, suatu saat putra kita akan kembali lagi."
Disepanjang perjalanan Ivan dan Ririn hanya terdiam saja, Ivan sedari tadi memeperhatikan gerak gerik Ririn yang mungkin merasa gerah di dalam mobil walaupun mobil Ivanada Acnya. Sesekali Ririn mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Ririn merasa gerah karena pakaian yang panjang dan khimar panjang yang ia gunakan. Ivan merasa kasihan dengan keadaan Ririn tetapi bagaimanapun Ririn harus terbiasa dengan berpakaian seperti itu.
Ivan menepikan mobil di depan sebuah gerobak es krim, "kok kita berhenti?" tanya Ririn yang kebingungan.
"Kita beli es krim dulu," ujar Ivan turun dari mobil dan membeli es krim untuknya dan Ririn. Ririn juga ikutan turun supaya agar dirinya tidak terasa gerah lagi. Sambil menunggu Ivan yang sedang menunggu pesanan es krim, maklum pembelinya banyak sekali, Ririn menikmati udara yang sejuk selama beberapa detik.
"Rin, ayo kita duduk di sana," ujar Ivan menunjuk bangku kosong yang telah tersedia.
"Ayo," jawab Ririn dan mereka berjalan menuju bangku yang kosong itu.
"Ini pesananya pak," ujar si penjual es krim.
"Makasih," jawab mereka serentak.
"Silahkan dinikmati," ujar sipenjual dan meninggalkan mereka berdua.
Ivan mengelap keringat di pelipis Ririn,
"pasti kamu merasa gerah sekali berpakaian seperti ini."
Ririn menjadi kaku karena perlakuan Ivan yang membuat perasannya menjadi dag dig dug.
Ririn hanya tersenyum saja.
"Nggak, malahan aku merasa nyaman berpakaian seperti ini," jawab Ririn berbohong walaupun yang sebenarnya dirinya sangat merasa tak nyaman dan gerah sekali.
"Makasih," ujar Ivan sambil terus mengelap keringat Ririn.
"Makasih buat apa," tanya Ririn.
"Makasih karena kamu menuruti keinginanku untuk berpakaian seperti ini," ujar Ivan menatap dalam-dalam netra indah milik Ririn.
"Sesuai dengan janjiku," jawab Ririn, walaupun sekarang perasaannya serasa berbunga-bunga.
__ADS_1
#Bersambung