
Ririn dan Ivan melalui hari-hari dengan menyenangkan hingga mereka memutuskan untuk membangun rumah sendiri.
Setelah rumah mereka sudah siap. Mereka akan tinggal di sana.
"Akhirnya kita memiliki rumah dari usaha kita sendiri," ujar Ririn dengan bahagia.
"Iya Umiku sayang." Ivan mengecup kening Ririn dengan berjuta rasa cinta dan kasih sayang.
Hari ini Ivan tidak kerja karena ia dan istrinya sibuk untuk membereskan dan merapikan rumah baru mereka.
Nita masuk ke ruangan Desi dengan membawa sejuta informasi yang menghebohkan. Ia masuk dengan keadaan ngos\-ngosan,
"Desi apa kau tahu."
"Tahu apa Nit," ujar Desi dengan santai sambil menyusun berkas\-berkas penting.
"Mengenai sesuatu yang sangat penting," jelas Nita.
"Mengenai apa, langsung saja," ujar Desi yang masih asyik dengan pekerjaannya.
"Pak Ivan itu sudah mempunyai I\-s\-t\-r\-i." Nita mengucapkannya dengan terbata\-bata pada akhir kalimat.
"Apa! Kamu tidak salah lihat atau dengar?" ujar Desi dengan mata melotot karena terkejut.
"Nggak, Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri Des, mereka masuk ke rumah besar, mungkin itu rumah baru mereka," jelas Nita dengan panjang lebar.
Nita melihat sendiri di saat atasannya Ivan dan istrinya memasuki rumah mewah itu dengan sangat mesra.
"Alamat mereka di mana?" tanya Desi yang mulai emosi.
"Intinya jalan pulang kita searah," ujar Nita dengan singkat.
"Baguslah, masih ada ke sempatan," ucap Desi di iringi senyuman licik.
"Maksud kau apa?" tanya Nita kebingungan mendengar ucapan yang keluar dari mulut Desi.
"Aku masih bisa menjadi istrinya," jelas Desi dengan senyuman licik yang masih menghiasi bibirnya.
"Ya ampun Desi, kamu nggak boleh begitu," ujar Nita dengan terkejut.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, kamu nggak perlu ikut campur ini hidupku jadi kamu nggak berhak untuk atur\-atur hidupku, bila tidak ada keperluan silahkan keluar." Desi sekarang sangat angkuh hingga ia mengusir sahabatnya sendiri.
"Desi kamu harus ingat, laki\-laki yang kamu cintai sudah berkeluarga," ujar Nita memberikan pengertian agar sahabatnya melupakan Pak Ivan.
"Bila tidak keperluan silahkan keluar!" ujar Desi meninggikan suaranya sambil menunjuk pintu keluar.
Tanpa berkata apa\-apa Nita langsung keluar dari ruangan kerja Desi dengan sedikit merasa kesal dan jengkel.
Hari ini Ivan kembali berangkat kerja seperti biasa.
"Aku pamit dulu, jaga dirimu baik-baik. Assalamualaikum," ujar Ivan sambil menegecup kening sang istri.
"Waalaikumsalam hati-hati di jalan, pulangnya jangan ke malaman," ucap Ririn sambil menyalim dan mencium punggung tangan sang suami.
Ririn masuk ke rumah dan menutup kembali pintu. Ririn tidak sendirian di rumah dia di temani oleh Mbok Nani yang usianya setengah baya.
Keluarga mereka sangat harmonis dan penuh kasih sayang. Mereka melalui kebersamaan dengan romantis walaupun mereka telah hidup bersama selama satu tahun. Walaupun masih belum di berikan kepercayaan untuk menjadi orangtua.
Desi sengaja tinggal di sana agar ia bisa numpang di mobil Ivan. Karena Ivan tidak enak hati jadi ia selalu mengizinkan Desi untuk menumpangi mobilnya walaupun nggak setiap hari.
Walaupun Desi sering menggombali Ivan bahkan pernah merayu Ivan di saat mereka lembur dan pulang larut malam. Ivan masih bisa menahan dan menjaga hatinya walaupun terkadang imannya bisa goyang dengan rayuan maut milik Desi.
Desi selalu mengirim pesan kepada Ivan di luar menegenai masalah pekerjaan tetapi Ivan menanggapinya dengan cuek dan apabila bukan mengenai pekerjaan Ivan tidak mau membalasnya.
Ivan pernah nekat untuk mengeluarkan Desi dengan memakai cara yang halus akan tetapi Abahnya selalu marah karena Desi itu salah satu karyawan kepercayaan perusahaan sejak sekian lama.
Ivan tidak punya pilihan apabila ia mengeluarkan Desi dari perusahaan maka perusahaan bisa kacau karena berkat Desi perusahaan ini bisa maju dan perusahaan juga beutang budi dengan jasa Desi.
\-\-\-
Ivan kembali ke rumah larut malam tetapi Ririn masih setia menunggunya.
"Sayang ini sudah malam kenapa kamu masih belum tidur," ucap Ivan sambil melepaskan sepatu dan dasi yang melingkar di lehernya.
"Aku nungguin kamu Mas." Dengan bergelayut manja di lengan suaminya sambil menuju ke meja makan.
"Mas mau mandi atau makan duluan?" tanya Ririn dengan lemah lembut di iringi senyuman di bibirnya.
__ADS_1
"Mandi aja sesudah itu baru makan di suapi oleh istriku tercinta," ujar Ivan sambil mencium kedua pipi istrinya.
Setelah menemani Ivan makan. Mereka langsung tidur tetapi entah kenapa malam ini Ririn tidak bisa tidur sedangkan Suaminya sudah terlelap tidur mungkin karena kecapean kerja seharian.
Tringgggg
Benda pipih milik Ivan berdering di atas meja kerjanya. Ririn langsung beranjak dari tidurnya ia meraih benda pipih berbentuk persegi itu. Terlihat ada pesan masuk dari Desi tanpa berpikir panjang Ririn langsung menggeser layar tanpa pola.
Ririn sudah biasa menggunakan gawai Ivan bahkan hampir setiap hari ia selalu memeriksa gawai milik Ivan mulai dari galerinya yang hanya berisi fotonya dan Ivan, e\-mail Ivan mengenai pekerjaan bahkan whatsapp milik Ivan.
Ririn sama sekali tidak curiga dengan akun whatsapp bernama Desi yang profilnya tidak ada. Dia membaca pesan dari akun itu tetapi semuanya mengenai pekerjaan. Ivan selalu menghapus pesan dari Desi yang bersifat rayuan bahkan gombalan yang penting bukan mengenai pekerjaan.
Buliran benih membanjiri pipi Ririn setelah melihat pesan yang masuk. Ririn terisak dengan hebat bahkan sekarang bahunya naik turun.
Ivan terbangun karena mendengar isakan tangisan seseorang. Ia melihat Ririn tengah duduk di lantai seraya menangis.
Ivan langsung memeluk Ririn tetapi Ririn langsung menepis tangan Ivan.
"Kenapa sayang?" tanya Ivan khawatir dengan keadaan Ririn.
Ririn terdiam menarik nafas dalam\-dalam agar bibirnya bisa mengeluarkan kalimat seraya menatap Ivan dengan tatapan yang mematikan.
"Aku mau kita pisah," ujar Ririn dengan terbata\-bata.
"Maksud kamu apa?" tanya Ivan sambil mendekati tubuh Ririn.
"Jangan mendekat," ujar Ririn menghentikan langkah Ivan.
Ivan tidak menghiraukan Ririn. Ivan memeluk tubuh Ririn dengan kuat membuat wajah cantik milik Ririn tenggelam di bidang dada Ivan.
"Kamu tidak setia, dimana janjimu ternyata semuanya hanya dusta." Teriak Ririn sambil memukul\-mukul badan Ivan.
"Kamu tenang dulu, Mas sama sekali tidak mengerti maksudmu," ujar Ivan mengeratkan pelukannya agar Ririn tidak terlepas.
"Aku ingin kita pisah," ujar Ririn memberontak di dalam dekapan Ivan.
Air matanya masih luruh bagaikan sungai yang tak ada henti\-hentinya
\#Bersambung
__ADS_1