#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 32 #Rencana Angga & Nita


__ADS_3

"Iya Nit aku mengetahuinya. Kamu juga mengetahui 'kan bahwa aku sangat mencintai Desi." Jelas Angga berusaha menahan buliran air matanya.


"Aku tahu itu Ga. Desi memang orangnya seperti itu di bilangin yang baik-baik malahan berburuk sangka." Nita memandang Angga dengan iba.


Hening tercipta keduanya hanya terdiam saja tanpa berkata apapun. Nita dan Angga memulai rencana untuk membuat Desi menjauh dari Ivan dan bisa menerima Angga yang mencintainya dengan tulus. Nita mulai meyarankan Desi untuk tidak kerja lagi karena keadaannnya yang masih belum memungkinkan. Mulanya Desi menolak saran Nitaa ia tidak bisa bernafas legah apabila tidak bertemu dengan Ivan. Nita memberi pengertian kepada Desi dan akhirnya Desi menyetujui untuk tidak lagi kerja serta ikut tinggal di kost lamanya dulu bersama dengan Nita.


Angga sering mengunjungi Desi bahkan Angga mengajak Desi keliling taman sambil mendorong kursi roda. Di taman bukannya dapat kebahagian melainkan suara-suara sumbar yang tidak bermanfaat. Banyak pasangan mata melihat kami dengan tatapan sinis dan sambil berbisik-bisik.


"Apa itu calon istrinya Angga. Sungguh Angga yang malang tidak bisa mencari wanita lain. Wanita lumpuh seperti dia sangat tidak berguna."


Angga langsung menatap sekumpulan emak-emak yang lagi menggosip aib orang di taman. Desi berusaha menahan buliran air matanya agar tidak luruh. Setelah sampai di tempat duduk Desi langsung menangis dengan histeris sambil memukul-mukul kedua kakinya karena tidak bisa menahan sesak di dada.


"Kenapa Aku bisa begini."


Angga berusaha menenangkan Desi yang mulai hilang kendali. Angga langsung meraih tangan Desi dan menggenggamnya dengan erat.


"Bagaimanapun keadaanmu aku akan tetap mencintaimu seperti dulu hingga sekarang."


"Apa kamu masih mencintai wanita lumpuh seperti ku. Angga aku tidak pantas untukmu di luar sana masih banyak wanita yang sempurnah."


"Aku masih mencintaimu Des. Apa kali ini kamu akan menolakku lagi. Kamu masih berharap dengan Ivan membalas cintamu. Sakit Des sungguh sakit apabila cinta hanya bertepuk sebelah tangan."


Desi hanya terdiam saja tanpa mengucapkan apa-apa. Apa benar dia masih berharap dengan cintanya Ivan. Akan 'kah Ivan dapat menerimanya dengan keadaan yang sudah tidak sempurnah lagi bahkan istrinya sudah jauh lebih sempurnah. Hari semakin sore Angga mengantar Desi pulang ke kost Nita. Di perjalanan keduanya hanya terdiam saja.

__ADS_1


***


Kehamilan Ririn sudah mulai mendekati yang namanya kelahiran berbagai persiapan telah di siapkan oleh keluarga Ivan dan tak lupa juga Mama dan Papanya Ririn sudah mulai menginap di rumah putri sematawayang mereka. Kehamilan yang makin tua membuat Ririn menjadi sulit untuk melakukan aktivitas jangankan aktivitas tidurnya 'pun sudah mulai tak nyaman lagi sering kali bahkan tiap malam tidur Ivan selalu terganggu karena di bangunkan oleh Ririn untuk memijat badannya yang terasa pegal-pegal. Ivan menurutinya dan selalu memberi pijatan yang penuh kasih sayang.


Tengah malam Ririn kembali membangunkan Ivan sambil memegangi perutnya dan meringis kesakitan. Ivan gugup dan ketakutan melihat keadaan istrinya. Ia langsung teriak memanggil Umik, Abahnya, dan kedua Mertuanya. Semuanya berhambur masuk ke kamar dan Ivan sudah mebopong istrinya yang meringis kesakitan menuju mobil untuk segera di bawa ke RS. Ivan mulai menyetir mobil dengan gemetaran dan tak henti-hentinya berdoa pertolongan agar istrinya dan anaknya selamat serta memberikan kekuatan kepada istrinya tercinta dalam usaha melahirkan buah hati mereka. Ririn bersandar kepada Mama dan Umik mertuanya. Kedua wanita yang sudah berpengalaman melahirkan ini selalu memberi Ririn cara agar kesakitan yang di rasa dapat meredah.


Tak ada hentinya keluarga besar Ivan dan juga Ririn mengucapkan kata syukur kepada Allah SWT atas anugrah yang luar biasa. Ivan mulai di panggil Abih dan Ririn di panggil Umik oleh jagoan mereka. Bayi mungil dan lucu di beri nama Azka Alif Vandri Wijaya.


"Terimakasih sayang," ujar Ivan mengecup kening Ririn yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.


Ririn tersenyum bahagia mengingat ekspresi suaminya yang menemaninya saat melahirkan. Ivan menggenggam tangan Ririn dengan kuat sambil menangis. Ivan mengazanin anaknya menyambut ke hadirannya di dunia. Sekarang hidup Ivan dan Ririn begitu sempurnah dengan kehadiran bayi laki-laki mereka. Beberapa kerabat mulai datang ke RS untuk bersuka cita menyambut kebahagian yang tiada tara. Teman kantor juga ikut berkunjung untuk melihat Vandri si bayi imut. Mereka bergantian menggendong Vandri dan tak lupa mereka mencium pipi tembem miliknya yang seperti pipi Umiknya sekarang tembem sekali.


Seminggu telah berlalu akhirnya Ririn dan bayi Vandri sudah di izinkan pulang ke rumah. Di RS masih banyak saudara yang masih belum pulang dan merawat Ririn. Mereka pulang ke rumah dengan bahagia, Ririn juga sudah mulai kangen dengan rumah mereka yang seminggu lamanya telah ia tinggalkan. Mobil memasuki halaman rumah ternyata di sini juga masih banyak kerabat dan teman kantornya Ivan.


Satu bulan lamanya setelah melahirkan si jagoan Mama dan Papanya Ririn akan kembali lagi keluar negri untuk pekerjaan yang menumpuk karena saking lamanya mereka di sini selama tiga bulan. Tinggal 'lah Umik dan Ririn yang berada di rumah bersama Vandri sedangkan Suaminya dan Abah mertuanya sudah mulai bekerja seperti biasanya di perusahaan.


Hari-hari Ririn dan Ivan mulai menyenangkan dan semakin romantis karena kehadiran Vandri si bayi lucu.


"Hai jagoan Abah Umik kapan gedenya sayang Abah sudah nggak sabar pengen main bola bersama." Ivan tak henti-hentinya mengajak bicara anaknya walaupun Vandri masih belum bisa menjawab setiap pertayaan Abihnya. Di gendongan Ivan istrinya mencium pipi Vandri.


"Kok cuman Vandri yang di cium abihnya di cium juga dong," ujar Ivan memanyungkan bibirnya.


Ririn langsung mencium pipi suaminya dan Ivan tersenyum bahagia. Mereka sering sekali bangun tengah malam karena di bangunkan oleh Vandri yang menangis ter-oe-oek minta susu, ganti popok atau hal lainnya. Soal Vandri tidak semuanya Ririn yang urus terkadang Ivan juga ikut membantu apabila Ririn sedang sibuk memasak Ivan akan mengganti popok Vandri dan juga memandikannya.

__ADS_1


***


Desi telah memutuskan akan mencoba untuk membuka hatinya untuk Angga. Hancur musnah harapannya ketika ia mendengar bahwa Ririn telah memberi Ivan seorang keturunan. Mana mungkin Ivan meninggalkan wanita yang sudah melahirkan putranya. Desi termenung sambil meneteskan air mata menatap keluar jendela meratapi nasib yang masih tak kunjung bisa berjalan seperti biasa enam bulan telah ia lalui berjalan dengan bantuan kursi roda. Nita selalu merawat Desi dan Angga juga membantu serta menghibur Desi. Biarpun usahanya tak pernah di hargai tetapi Angga tidak pernah putus asa dan juga tidak memaksa Desi untuk bisa menerimanya.


"Angga."


"Iya kenapa Des. Apa kamu perlu sesuatu?" Angga bergegas menghampiri Desi.


"Aku akan mencoba membuka hatiku untukmu tetapi berjanji 'lah kamu tidak akan meninggalkanku." Desi mengungkapkan isi hatinya dengan bersamaan linangan air mata.


"Aku berjanji Des buktinya sampai sekarang aku masih mencintaimu walaupun kamu tak pernah menerimanya. Aku tidak memaksamu untuk menerimaku tetapi izinkan aku untuk menjadi sahabatmu." Angga meraih tangan Desi sambil berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Desi yang sedang duduk di kursi roda.


"Ini bukan pemaksaan tetapi ini dari hatiku ku mohon ajari aku untuk bisa mencintaimu."


"Apa kamu menerimaku." Angga merasa ini hanya mimpi yang mungkin tidak akan menjadi nyata.


Desi menganggukkan kepala sebagai tanda setuju dan Angga hanya menatapnya tanpa bersuara.


"Aku menerima cintamu Angga." Desi tersenyum bahagia sambil memegang kedua pipi Angga.


Angga langsung memeluk Desi karena saking bahagianya. Jawaban yang telah lama ia nanti ternyata usaha tidak akan pernah mengkhianati hasilnya.


"I love you," bisik Angga dan Desi menjawabnya I Like you. Walaupun Desi hanya menyayangi Angga itu 'pun sudah sangat Angga syukuri.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2