
Ivan mengendalikan emosinya sekuat tenaga agar dia tidak bersikap kasar kepada istrinya.
Sebenarnya Ivan juga tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Karena ini sudah ketentuan orangtuanya untuk dijodohkan dengan wanita yang tidak dikenalnya.
Ivan salah satu santri yang telah menamatkan pendidikannya di pesantren. Ivan menghabiskan masa remajanya di pesantren. Ivan anak tunggal dari keluarganya.
Selain seorang CEO ivan juga seorang Ustadz. Dia sering berceramah di mesjid.
Setahun lalu dia diminta oleh orangtuanya agar tinggal lagi bersama mereka, karena Ivan orangnya penurut dan berbakti jadi dia mengikuti kemauan orangtuanya.
Ivan sangat sayang kepada umiknya, jadi setiap kali Ririn bersikap kasar kepadanya dia tak pernah marah karena dia selalu mengingat perkataan Umiknya.
"Jangan pernah sakiti perasaan wanita, karena Umik juga wanita, jika kamu menyakitinya maka kamu juga menyakiti umik!" itulah pesan umik Ivan kepada Putra tunggalnya.
_______
Ivan tak tahan lagi dengan sikap Ririn akhirnya Ivan keluar dari kamar.
"Pergi sana!" Ririn mengusir Ivan.
Wajah Ivan mulai merah karena emosi yang makin meluap, seketika Ivan menjadi murka karena tidak bisa mengendalikan emosinya.
Ivan yang tadinya berada dipintu kamar dan sekarang ia tepat berada di depan Ririn.
Ririn merasa ketakutan karena sikap Ivan yang mulai murka.
Satu tamparan milik Ivan mendarat di pipi kanan Ririn. Ririn menangis bukan karena kesakitan tapi menamgis takut karena sikap Ivan.
Seketika Ivan tersadar mendengar isakan tangis Ririn.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya dalam hati.
Ivan mulai mendekat kearah Ririn.
"Maaf Aku tidak sengaja." Ivan memberanikan dirinya memegang pipi Ririn.
"Maafkan Aku Ririn." Ucapnya dengan lembut.
entah berapa kali Ivan meminta maaf, tetapi Ririn masih tetap saja terdiam.
"Ri,,,ri,,n." Ucap Ivan terbata-bata karena takut dengan kelakuannya tadi.
air mata Ririn makin deras. Baru kali ini wanita yang bernama Ririn menangis.
Seketika Ivan memeluk Ririn.
"Maafkan Aku Ririn, tadi Aku tidak sengaja." Membelai lembut Rambut halus milik Ririn.
Ririn masih saja tidak menjawab hingga membuatnya ambruk di pelukan hangat Ivan.
"Ririn!" Ivan segera membawa Ririn keranjang untuk membarikan tubuh Ririn yang sudah tidaj sadarkan diri.
Wajah Ivan seketika menjadi pucat, inilah yang Ivan takuti ketika ia main tangan.
Pernah sekali Ivan bertengkar dengan temannya di pesantren menjadi koma tiga hari di rumah sakit akibat pukulan dari tangannya.
__ADS_1
Ivan bercucuran keringat karena merasa cemas dengan keadaan Ririn.
"Ririn maafkan Aku." Air mata keluar dari netra Ivan.
Ririn masih saja belum sadarkan diri hingga kecemasan Ivan makin bertambah dan terlelap tidur dengan posisi duduk ditepi ranjang.
Sekarang sudah larut malam akhirnya Ririn sadarkan diri.
Ririn merasakan kehangatan yang sedang berada ditangannya. Perlahan Ririn mulai membuka matanya. Dilihatnya Ivan yang terlelap tidur, Ririn juga masih kesal kepada Suaminya karena terlalu kasar padanya.
"Apa Aku terlalu berlebihan?" Gumamnya dalam hati.
Ririn mulai memperhatikan setiap inci wajahnya Ivan.Ivan memang laki-laki yang tampan dengan alis tebal, kumis tipis, bermata elang, dan mempunyai gigi gingsul.
Ririn terkejut ternyata Ivan mulai terbangun dengan buru-buru Ririn memejamkan matanya, berpura-pura tidur.
Ivan terbangun.
"Astaga!" Guramnya.
Ivan melirik jam yang berada di dinding kamar ternyata sekarang pukul setengah tiga, dengan cepat Ivan beranjak dari duduknya sebelum pergi meninggalkan ranjang Ivan mengecek suhu badannya Ririn.
"Maafkan Aku Rin, semalam Aku tidak sengaja." ucap Ivan dengan suara yang sangat lembut lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk sholat tahajjud.
Tentu Ririn mendengar saat Ivan mengucapkan kata maaf.
Ririn membuka netranya setelah Ivan masuk ke kamar mandi.
"Aku tau kalau kamu tidak sengaja, aku saja yang terlalu kurang ngajar kepadamu." Ucapa Ririn karena merasa bersalah.
"Ya Allah, maafkan hambamu ini yang telah kasar." Di ucapkan dengan nada penyesalan.
"Ya Allah ampuni hambamu ini yang telah murka kepada Istri sendiri, Ya Allah aku melakukan itu diluar kendali.
Ya Allah sabarkan hati ini untuk menghadapi ini semua, jika memang ini takdirku maka akan ku terima dengan segenap hati." Setiap doa yang diucapkan Ivan bersamaan dengan air matanya.
"Maafkan Aku Rin." Ucap Ivan.
Ivan kemudian duduk di samping istrinya dan kembali mengenggam tangan Ririn.
"Maafkan Aku Rin, karena sampai detik ini Aku masih belum mencitaimu." Gumam Ivan dalam hatinya.
"Maafkan Aku Van, Aku tidak mencintaimu." Guram Ririn dalam hati.
Akhirnya perlahan Ririn membuka netranya.
"Akhirnya kamu sadar juga." ucap Ivan di iringi senyum.
"Apaan pegang-pegang tangan gue!" Menepiskan tangan Ivan yang menggenggam tangan Ririn.
Ivan menarik nafas yang sangat dalam.
"Kamu mau makan apa?" ucap Ivan
"Aku nggak mau makan!" jawab Ririn dengan ketus.
__ADS_1
Ivan hanya ber'oh' saja.
Kemudian diantara mereka hening sesaat.
"Rin!" ucap Ivan dengan wajah bersalah.
"Mmm!" Jawab Ririn.
"Aku minta maaf, kemarin malam itu Aku," ucap Ivan meminta maaf kepada Ririn.
"aku tidak sengaja." sambung Ivan.
"Iya, sudah ku maafin." Jawab Ririn karena tidak ingin ribut lagi dengan Ivan.
"Benar." tanya Ivan memastikan apa dia di maafin atau nggak.
"Mmm." Jawab Ririn.
"Nggak iklas dong maafinnya, kalau kamu benaran maafin Aku, kamu harus senyum!" Ucap Ivan.
"Apaan sih!" Ketus Ririn dengan mata melotot.
"Maafin Aku Rin, semalam benaran Aku tidak sengaja." Ivan kembali meminta maaf kepada Ririn.
"Iya Aku maafin." Jawab Ririn dengan diiringi senyum yang tulus, karena dia yakin Ivan benar-benar minta maaf, karena sebelum Ririn menjawab dia menatap Netra milik Ivan untuk mençari kebohongan ternyata kebohongan tidak ada.
"Makasih." ucap Ivan dengan senyuman.
Membuat jantung Ririn hampir copot karena senyuman itu.
"Manisnya Kamu." Gumam Ririn dalam hatinya sambil terus menatap Ivan yang lagi tersenyum.
"Maafin Aku juga!" Ucap Ririn menundukan kepalanya.
"Nggak, Aku nggak maafin Kamu!" Jawab Ivan.
"Kok gituh kan nggak adil. Aku maafin kamu, kamu harus maafin Aku dong." ketus Ririn karena maafnya tidak diterima oleh Ivan.
"Aku akan maafin kamu, tapi dengan satu syarat." Ucap Ivan yang mulai menjahili istrinya.
"Syarat!" Ririn mengulang kata itu.
"Ia syarat, kamu taukan apa itu syarat?" Ucap Ivan.
Ririn mulai berkeringat dingin, apa syarat yang dimaksud oleh Ivan apakah dia akan meminta haknya yang masih belum ku berikan.
"Syaratnya a p a?" Tanya Ririn dengan gugup.
"Syaratnya Kamu harus memberi," belum sempat Ivan memberikan syarat Ririn malah memotongnya.
"Aku kekamar mandi dulu!" Ucap Ririn meninggalkan Ivan yang sedang kebingungan. Ririn tidak mau melanjutkannya karena dia merasa sangat gugup dan ditambah dengan jantungnya yang berdebar-debar.
"Apakah dia memikirkan hal-hal yang aneh?" Guram Ivan dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
#Bersambung.
__ADS_1