
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan." Ucap Ririn dengan sedikit berkeringat dingin.
Seseorang yang terdengar seperti membuka knop pintu. Bibi masuk kekamar Ririn dengan membawakan kompres seperti yang diminta Ririn.
"Ini non," Ucap Bibi menyerahkan kompres ditangan Ririn.
"Makasih ya Bi." Jawab Ririn mengambil kompres ditangan bibi. Dengan talenta Ririn menempelkan kompres di dahi Ivan yang suhunya sangat panas.
Ririn masih setia menunggu suhu badan Ivan turun, tangannya terus mengoles kaki dan tangan Ivan dengan minyak kayu putih.
Entah kenapa perasaan Ririn sedikit perih ia rasakan di dadanya karena melihat keadaan Ivan yang sekarang.
Sudah hampir dua jam Ivan kedinginan dan sekarang badannya mulai bercucuran keringat hingga membuat pakaiannya basah.
"Rif, maafkan aku." Guram Ivan sedikit pelan hingga membuat pendengaran Ririn harus fokus untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari lisan Ivan.
Setelah beberapa menit Ivan berguram akhirnya dia terbangun juga.
"Rin." Ucap Ivan dengan suara parau.
"Mmm." Jawab Ririn mendekatkan tubuhnya di wajah Ivan.
"Tolong bantuin aku, untuk melepaskan selimut-selimut ini." Ucap Ivan meminta tolong agar Ririn memlepaskan selimut yang menyelimuti tubuh Ivan.
"Iya," Ucap Ririn yang segera melepaskan selimut.
"bajumu basah, apakah kamu mau menggantinya atau." ucap Ririn dengan ragu-ragu untuk menawarkan bantuan.
"Tak perlu repot-repot, biarkan saja seperti ini bentar lagi aku mau bersih-bersih kok." Ucap Ivan dengan suara parau.
"Nanti kamu bisa tambah sakit kalau pakaian kamu nggak diganti." Ucap Ririn karena merasa khawatir.
"Aku nggak sakit kok, tapi cuman kecapean." Ucap Ivan kembali membetulkan selimutnya.
"Makannya kalau kerja itu ingat waktu istrahat." Gumam Ririn dengan sedikit memanyungkan bibirnya.
"Bilang apa barusan." Ucap Ivan dengan melirik Ririn dengan tatapan tajam.
Jantung Ririn berdetak dengan cepat hingga membuat dia sulit untuk mengatur nafasnya karena sedikit merasa gugup. Ririn memberanikan dirinya untuk membalas tatapan tajam milik Ivan, tatapan Ririn tak kalah tajamnya dengan tatapan Ivan.
"Nggak bilang apa-apa." Ucap Ririn mengelak.
__ADS_1
"Bohong terus, kamu bisa dapat dosa apabila selalu membohongi suami." Ucap Ivan tanpa memalingkan wajahnya dari manik indah milik Ririn.
"Pakaianmu mau diganti apa tidak." Ucap Ririn mengalihkan pembicaraan karena tidak tau harus mau bilang apa.
"Tidak usah." Jawab Ivan.
"Kamu harus ganti pakaianmu!" Ririn berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian Ivan.
"Tidak usah," ucap Ivan.
"Kamu sudah sakit masih saja keras kepala." Ucap Ririn, kemudian meletakan pakaian Ivan dikasur.
Lalu Ivan meraih bajunya dan berusaha membuka pakaian yang penuh keringat yang menempel ditubuhnya, tetapi hal itu terasa sulit bagi Ivan, karena kondisi tubuhnya yang lemah dia tidak bisa membuka pakaiannya sendiri.
Ririn hanya melihatnya karena merasa ragu untuk menawarkan bantuan lagi, takut kalau Ivan kembali menolak bantuannya.
"Bantu atau tidak." Gumam Ririn dalam hatinya. Hampir sepuluh menit Ivan berusaha tetapi hasilnya nihil, dia tidak bisa melepaskan pakaian yang menempel ditubuhnya.
"Sini aku bantuin." Ucap Ririn membantu Ivan melepaskan bajunya, tapi kali ini Ivan tidak menolaknya karena mau gimana lagi kalau bukan Ririn yang membantunya maka siapa lagi.
Setelah selesai mengganti pakain Ririn, Ivan mengucapkan kalimat terimakasih kepada Ririn.
Ririn beranjak dari duduknya dan mau keluar.
"Kebawah, mau ngambilin sesuatu." Ucap Ririn dan melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar. Ivan hanya menjawab dengan ber'oh' saja.
Setelah punggung Ririn tidak terlihat lagi, Ivan berusaha untuk duduk dan menyandarkan kepalanya ditepi atas ranjang.
"Kenapa, tubuhku menjadi lemas seperti ini." Ucap Ivan menggoyang-goyangkan kaki dan tangannya yang terasa sulit dan berat untuk diangkat.
Setelah beberapa menit keluar dari kamar, Ririn kembali dengan membawa segelas wedang jahe.
"Apa itu?" tanya Ivan dengan menunjuk gelas.
"Wedang jahe, buat kamu." Ucap Ririn mendekat kearah Ivan.
"Buat Aku, nggak mau wedang jahe kan pedas dan pahit sekali." Ucap Ivan sedikit menjauh dari gelas yang dibawakan Ririn.
"Mana ada pedas dan pahit, minum ayo minum." Ucap Ririn memaksa Ivan untuk meminum wedang jahe buatannya.
"Nggak mau, aku nggak minum." Ucap Ivan yang semakin menjauh dan sekarang Ivan berada di sebelah sisi ranjang.
__ADS_1
"Kamu mau cepat sembuh atau nggak." Ucap Ririn dengan nada yang di selembutkan mungkin. Baru kali ini Ririn berbicara dengan nada yang lembut.
"Maulah masa nggak." Jawab Ivan.
"Kalau mau sembuh yah minum ini." Ucap Ririn sedikit mendekatkan wedang jahe di hadapan Ivan.
"Tapi aku nggak mau minum itu." Ucap Ivan menunjuk gelas yang dipegang oleh Ririn.
"Mau sembuh tapi nggak minum obat," ucap Ririn,
"Anak SMP saja sudah ada yang bisa minum yang beginian, eh elo udah gede nggak mau minum." Ucap Ririn, agar Ivan mau meminum wedang jahe.
Karena merasa dibanding-bandingkan Ivan sedikit merasa tak suka, dengan terpaksa Ivan meminumnya.
"Ia, ia aku mau minum." Ucap Ivan meraih gelas ditangan Ririn.
Ririn hanya tersenyum.
Setelah beberapa menit Ivan meminum wedang jahe, wajahnya menjadi merah karena Ivan meminum wedeng jahenya sekaligus tanpa meninggalkan sedikit tetespun.
Ivan berlari kekamar mandi. Ivan muntah-muntah mengeluarkan isi makanannya hari ini.
Ririn merasa bersalah karena telah memaksa Ivan untuk meminum wedang jahe.
Setelah selesai muntah dikamar mandi Ririn membantuh Ivan untuk kembali membaringkan tubuhnya diranjang.
"Maaf." Ucap Ririn setelah membetulkan selimut Ivan.
"Nggak apa-apa kok." Jawab Ivan tersenyum.
Tak lama setelah itu Ivan memejamkan matanya untuk beristrahat.
"Maafkan aku Van, aku bukannya menyembuhkanmu tapi malah menambah penyakitmu." Ucap Ririn berlinang air mata setelah Ivan terlelap tidurnya.
Pagi hari Ivan membuka netranya, badannya terasa mulai membaik. Ivan melihat Ririn yang sedang tidur disofa. Malam ini Ivan tidur diranjang dan Ririn tidur disofa.
Ivan beranjak dari ranjang dan pergi kearah Ririn yang sedang terlelap tidurnya.
"Maaf, karena aku malam ini membuatmu tidur tidak nyenyak ," ucap Ivan membetulkan selimut Ririn.
"Makasih, karena kamu mau membantuku dan membuatkanku wedang jahe." Lanjut Ivan dan mendaratkan satu kecupan dikening Ririn walaupun hanya beberapa detik, namun ini kecupan yang kedua dari Ivan untuk sang istri.
__ADS_1
Ivan berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar menjadi segar.
#Bersambung