
Seperti biasa Ririn masih susah untuk di bangunin, perlahan Ivan menguncang sedikit tubuh Ririn,
"Rin bangun, pasang alaram tapi nggak bangun!"
"Haaaa," Ririn menguap sedemikian mungkin, menahan rasa kantuk yang masih menyelimuti. Perlahan Ririn mencoba untuk membuka netranya dengan mengucek mata dengan tangannya.
Ivan segera menutup mulut Ririn dengan tangan kanannya.
"Apaan sih!" ucap Ririn menyingkirkan tangan Ivan dari mulutnya.
"Kalau kamu menguap maka tutuplah mulutmu sekuatnya," jelas Ivan kepada Ririn.
Ririn memutar bola matanya dengan malas.
"Ada-ada saja," gumam Ririn.
"Jika kita tidak menutup mulut disaat menguap dengan bersuara 'haa' maka tertawalah syaithan dari hal itu," ujar Ivan yang mendengar ocehan Ririn.
"Hmmm, iya-iya," ujar Ririn beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Di dalam kamar mandi Ririn baru sadar bahwa dirinya sedang dalam keadaan berhalangan maka tentunya ia tidak bisa melaksanakan sholat. Ririn keluar dari kamar mandi dengan muka ditekuk.
"Kenapa balik lagi," ujar Ivan yang berada di ambang pintu kamar.
"Aku nggak jadi sholat," jawab Ririn.
"Kenapa?"
"Lagi tanggal merah," jelas Ririn.
Ivan hanya ber'oh' saja karena ia mengerti apa yang dimaksud dengan tanggal merah bagi perempuan. Kemudian dia berlalu pergi dari hadapan Ririn menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Tanpa berpikir panjang Ririn manaiki ranjangnya dan menarik kembali selimutnya untuk pergi ke alam mimpi.
Perlahan Ririn membuka tirai gorden, membiarkan sinarmatahari masuk kedalam kamarnya.
Ririn memutar knop pintu tapi disaat bersamaan Ivan juga memutar knop pintu dari luar. Pintu terbuka tepat di hadapan Ririn terlihat seseorang sedang berdiri di ambang pintu, kedua netra mereka bertemu selang beberapa detik kemudian Ririn mengalihkan pandangannya dengan perasaan yang sama merasa dag dig dug.
"Ternyata sudah bangun," ujar Ivan memecahkan keheningan.
"Sudahlah memang seperti kamu yang selalu bangun kesiangan," ucap Ririn.
"Bukannya kebalik ya, kamu kan yang selalu bangun kesiangan,"
"Mana ada," ucap Ririn membela diri.
"Udah bangun kesiangan dan tidurnya seperti kebo," ujar Ivan dengan suara mengejek.
"Apa kamu bilang aku kebo," ujar Ririn meninggikan suara dan berlari mengejar Ivan yang berlari menuju dapur.
Langkah Ririn berhenti karena melihat makanan diatas meja.
__ADS_1
"Siapa yang masak semua ini?" gumam Ririn dalam hatinya.
"Duduk, kita sarapan dulu," ujar Ivan yang telah duluan duduk dikursi meja makan.
"Apa kamu yang masak semua ini?" tanya Ririn.
"Bukan, ini tadi yang ku pesan di gredfood," jelas Ivan kepada Ririn.
Ririn hanya ber'oh' saja.
"Kirain dia yang masak," guram Ririn dalam hatinya serta berlalu pergi ke kamar mandi untuk mandi.
"Kamu mau kemana?" tanya Ivan, Ririn menghentikan langkahnya.
"Mau mandi," jawab Ririn dengan santai.
"Nggak usah mandi, cuci muka aja,"
"Nggak mau,"
"Nanti makanan kita dingin, setelah sarapan baru kamu mandi," ujar Ivan membujuk Ririn agar dia hanya mencuci mukanya saja.
Ririn berpikir sejenak, dan setelah dipertimbangkan ucapan Ivan ada benarnya pertama dia cucimuka saja serta sarapan dan setelah itu baru dia mandi.
"It's oke," jawab Ririn pergi ke kamar mandi untuk bercuci muka.
Tak perlu waktu yang lama Ririn keluar dan Ivan masih setia menunggunya untuk makan bersama.
"Nungguin kamu," jawab Ivan.
"Modus," ucap Ririn sambil menuangkan nasi dan lauk dipiringnya, begitu juga dengan Ivan menuangkan nasi dan lauk di piringnya sendiri.
Ririn memasukkan makanan kedalam mulutnya tetapi Ivan mencegahnya.
"Kalau makan baca doa atau ucapkan basmalah," ujar Ivan.
"Bismillahirrahmanirrahim," ujar Ririn sebelum memasukkan satu suapan sendok nasi kedalam mulutnya.
Ivan hanya tersenyum saja melihat tingkah laku istrinya yang memakan makanan dengan rakus hingga ia tersedak. Uhuk-uhuk, segera ia meraih gelas dihadapannya.
"Rin, pelan-pelan saja kalau makan," ujar Ivan menegur Ririn yang makannya seperti sangat rakus. Begituhlah sifat Ririn dalam hal makanan ia selalu paling rakus.
"Mmm," jawab Ririn tanpa memperdulikan ucapan Ivan dan kembali menyantap makanannya. Akhirnya Ivan dan Ririn selesai makan dengan perut yang kenyang.
Setelah beristirahat selama beberapa menit Ririn merasa tubuhnya sangat gerah dan ia harus segera mandi untuk menyegarkan badannya.
Setelah selesai Ririn memakai busana muslimah pemberian dari Ivan. Ivan memberikan baju gamis dan khimar panjang kepada Ririn sebanyak lima buah dan Ririn hanya memakai secara bergantian selama seminggu.
Tentunya Ririn hanya memiliki gamis pemberian dari Ivan, sedangkan semua baju Ririn kaos dan celana levis yang sobek-sobekkan.
"Rin, kita pergi belanja yuk!" ucap Ivan.
__ADS_1
"Bukannya kemarin kita sudah belanja?"
"Itukan kemarin, sudah ayo ikut saja," ujar Ivan mengambil kunci mobil di atas meja.
Ririn hanya mengikutinya saja.
_______
Mereka sampai disebuah butik muslimah disana semua hanya ada pakaian seperti gamis, khimar, dan baju-baju koko.
"Kita ngapain kesini?" tanya Ririn.
"Belanja," jawab Ivan dengan santai.
Ririn dan Ivan turun dari mobil secara bersamaan, dan masuk ke dalam butik barengan.
"Silahkan pilih yang kamu suka," ucap Ivan setelah sampai ke dalam.
Ririn bingung harus milih apa karena baru kali ini ia pergi ke butik pakaian muslimah dan memilih gamis.
Ririn hanya terdiam saja.
"Kenapa diam saja," tanya Ivan.
"Aku bingung pilih yang mana?" jawab Ririn.
"Pilih baju yang kamu sukalah," ujar Ivan membantu Ririn untuk memilih-milih baju.
"Aku nggak suka belanja di sini," ujar Ririn dengan pelan.
"Kenapa?" tanya Ivan dengan bingung karena butik yang mereka kunjungi saat ini adalah butik paling ternama dikota ini, kenapa dia tidak suka belanja disini bukannya wanita sangat ingin belanaj di tempat seperti ini.
"Tidak ada satupun baju yang kusukai," jawab Ririn.
" satupun, Terus kamu sukanya apa?" Ivan kembali bertanya dengan suara lembut.
"Aku sukanya baju kaos dan celana levis," jawab Ririn, Ivan menepuk jidatnya,
"Ya ampun Rin, baju seperti yang kamu suka tidak ada ditempat seperti ini,"
"Makannya ku bilang aku nggak suka belanja disini," jelas Ririn.
"Ia kita akan belanja di tempat yang kamu suka tetapi kamu harus beli baju gamis dan khimar terlebih dahulu, biar aku yang pilihkan," ucap Ivan dengan lemah lembut. Ivan tahu kalau Ririn tidak pernah membeli pakaian seperti begini. Ivan membantu Ririn untuk mencari baju yang cocok untuknya beserta dengan khimarnya.
Ivan membeli gamis yang senada bersama dengan khimar berwarna gelap, itulah yang disukai Ririn.
Ivan hampir memborong semua baju dan khimar dibutik ini tetapi Ririn tidak suka.
Ririn merasa sangat bahagia karena baru kali ini dia membeli pakaian bersama dengan seseorang apalagi ia membantu Ririn untuk mememilih mana yang bagus dan cocok untuknya.
#Bersambung.
__ADS_1