#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 19 # Butik


__ADS_3

Setelah selesai belanja di butik Ivan dan Ririn mampir ke Mall untuk makan siang.


Pelayan datang menghampiri kamu dengan menyedorkan daftar menu kepada Ivan.


"Mau pesan apa?" ucap pelayan dengan ramah


"Bentar ya Mbak saya tanya sama istri saya dulu, Rin, kamu mau makan apa?" ucap Ivan dengan santai.


"Apa saja yang penting bisa dimakan," jawab Ririn menatap Ivan sekilas.


"Dua mie seafood campur dan dua jus jeruk," ujar Ivan kepada pelayan tersebut.


"Cuman itu saja Pak," ucap pelayan itu diiringi dengan senyuman.


"Ia," jawab Ivan dengan dingin.


Tak butuh waktu yang lama, pelayan tersebut datang ke meja kami dengan membawa menu makananyang telah kami pesan.


"Silahkan dinikmati," ujarnya.


"Iya, terimakasih," ucap kami secara serentak.


Sontok semua penghuni yang mampir kemall melihat kearah kami, mungkin karena kami berbicara secara serentak. Sayup-sayup Ririn mendengar bisikan dari meja sebelah,


"Pasangan yang sangat serasi dan cocok."




Ririn merasa lelah karena seharian belanja. Ririn tidak langsung ke kamar dia duduk di ruang tamu depan tv. Sedangkan Ivan sudah duluan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.



Namun, kala Ririn ingin menekan tombol on pada tv bertujuan untuk menyalahkannya tiba\-tiba lampu padam semua ruangan menjadi gelap gulita.



Otak langsung mencerna keadaan dan mulut langsung berteriak kencang.



"Kakak Ivan!" Ririn bergerak panik.



"Rin! kamu nggak apa\-apa Rin," ucap Ivan sedikit berteriak dan berjalan secara hati\-hati kearah Ririn.



Ririn kembali berteriak panik, karena Ririn sangat takut dengan kegelapan.



"Rin, kamu tenang ya?" ucap Ivan, yang suaranya hampir mendekati dengan keberadaan Ririn.



"Kakak Ivan aku takut," ucapku dengan histeris ketakutan.


Ririn memang cewek tomboy tetapi sangat takut dengan kegelapan.



Ririn merasakan ada tangan yang meyentuh bahunya,


"Aaaaaaaa," Ririn kembali berteriak histeris.



"Jangan takut ini aku," ucap Ivan.



Dengan gemetaran Ririn merih tangan yang memegang bahunya, lalu tanpa berpikir panjang Ririn langsung memeluk apapun yang ada di depannya.



"Aku takut," ucap Ririn gemetaran dan mengeratkan pelukannya.



"Udah, nggak usah takut kan ada aku," ujar Ivan membalas pelukan Ririn.



Lima menit beralalu lampu masih belum menyala,


"Rin, aku ambil lilin dulu ke belakang, kamu di sini aja," ucap Ivan melerai pelukan mereka.



"Nggak, aku mau ikut kamu kebelakang," jawab Ririn yang masih gemetaran ketakutan.



"Memangnya kamu nggak takut," ujar Ivan.



"Nggak," jawab Ririn sedikit ragu\-ragu.

__ADS_1



Ririn memegang jemari Ivan dengan kuat, dengan hati\-hati mereka berjalan kearah dapur dan mengambil lilin yang berada di sebuah laci.



Ivan menyalahkan lilinnya. Ririn masih setia menggengam jemari Ivan.


"Ayo kita ke depan," ujar Ivan setelah lilin menyalah.



Tiba\-tiba satu piring berhasil jatuh ke lantai karena kesenggol oleh lengan Ririn.


Brukkk



Ririn terkejut dan kembali memeluk Ivan dari belakang dengan sangat erat hingga membuat Ivan sulit untuk bernapas.



"Rin, pelukannya berlebihan sampai\-sampai aku sulit untuk bernafas," ujar Ivan dengan nafas ngos\-ngosan.



Ririn tidak menghiraukannya dia masih tetap memeluk Ivan.


Ivan meraih jemari Ririn dan menggenggamnya dengan erat.



"Sudah jangan takut lagi." Ivan melangkah dengan menggenggam jemari Ririn dan membawa satu lilin yang berada di tangan kirinya.



Mereka berdua sampai ke kamar, Ivan meletakkan lilin diatas meja sedangkan Ririn masih gemetaran sambil memegang tangan Ivan dengan erat.



"Jangan takut kan sudah terang," ujar Ivan membawa Ririn keranjang.


Walaupun sudah ada lilin tetapi Ririn masih ketakutan.



Ririn membaringkan tubuhnya keranjang dan menarik selimutnya untuk menutupinya hinggan sampai di kepala.



Ivan tahu bahwa Ririn masih ketakutan tanpa berpikir panjang Ivan langsung masuk kedalam selimut dan memeluk Ririn dari belakang.




"Kakak aku takut," jawab Ririn dengan pelan.



Ivan membalikan tubuh Ririn agar menghadapnya, Ririn tidak membantah karena yang Ririn rasakan sekarang hanya ketakutan.



Ivan pun mendekap tubuh istrinya dengan hangat, Ririn memeluk Ivan dengan erat, ia merasakan ada ke hangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya hingga membuat ia tertidur pulas dengan kenyamanan.



Ivan merasa bahwa Ririn sudah tertidur, ia melerai pelukan mereka dengan pelan agar Ririn tidak bangun. Ia beranjak dari tidurnya dan pergi kearah lemari untuk mengambil bajunya.



Sejak dari tadi Ivan tidak memaikai baju yang ia kenakan hanyalah handuk sepinggang karena tadi tidak sempat untuk memakainnya.



Setelah Ivan memakai baju kaos dan celana selututnya ia kembali tidur di ranjang dan masuk kedalam selimut memeluk hangat tubuh Ririn, walaupun sedikit merasa ragu\-ragu.



"Cantik," ujar Ivan memperhatikan setiap inci wajah Ririn saraya tersenyum simpul.



Ririn mempunyai lesung pipi yang dalam serta mempunyai kumis tipis menambah kecantikannya.



Tanpa sengaja Ririn menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ivan hingga membuat mereka sangat dekat dan nafasnya yang teratur dapat dirasakan oleh Ivan.



Ivan merasakan ada sesuatu yang aneh dengan perasaannya saat dekat dengan Ririn, darahnya berdesir kencang bahkan denyut jantungnya tak mau diajak kompromi.



"Perasaan apakah ini? apakah aku mulai mencintaimu atau hanya sekedar rasa iba," gumam Ivan dalam hatinya.



"Kalau memang ini perasaan cinta, apakah kamu juga merasakannya Rin," lanjutnya bertanya\-tanya sendiri.

__ADS_1



"Mana mungkin secepat ini, Aku bisa melupakanmu Rifqa dan menerimamu Ririn," dengan netra yang berkaca\-kaca karena teringat dengan Rifqa.



"Rifqa andai kamu yang berada di sampingku pasti hari\-hariku sangat menyenangkan dan penuh dengan kebahagiaan." Kalimat itu berhasil membuat satu buliran air mata menerobos netra miliknya Ivan.



"Ada apa denganku mengapa aku masih berpikiran seperti itu," guram Ivan yang sadar bahwa takdir itu tidak bisa di tolak ataupun di hindari.



"Ampuni hambamu ini Ya Allah, yang masih memikirkan perempuan lain," lanjut Ivan dan kembali melihat wajah teduh nan cantik milik Ririn.



"Selamat malam Rin, semoga hari\-hari kita kedepan menyenangkan," ucap Ivan mengecup ubun\-ubun milik Ririn sedikit lama.



Ivan membetulkan selimutnya dan memejamkan matanya agar ia bisa tertidur dan menyusul Ririn yang sudah dialam mimpi.



\-\-\-\-\-\-\-



"Aaaaa!" Ririn teriak histeris dan menarik tangannya yang berada di pinggang Ivan.



" kenapa?" tanya Ivan yang terbangun akibat teriakan Ririn.



"Kenapa kamu tidur disini?" ucap Ririn dengan ketus.



"Kan semalam kamu ketakutan jadi aku tak tega melihatmu seperti begitu," jelas Ivan dengan santai dan lembut.



Entah kenapa Ririn tiba\-tiba kembali ambruk dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ivan dan memeluknya erat.


Selang beberapa menit Ririn melepaskan pelukannya dan membetulkan cara duduknya.



"Cieee, tadi malam ada yang mau peluk\-pelukkan," ujar Ivan menggoda Ririn.



"Apaan sih," jawab Ririn yang sibuk membenarkan khimarnya,



"kamu yang duluan melukkan," lanjut Ririn.



"Mana ada, bukannya kamu kan yang mulai duluan," ucap Ivan mendekati wajahnya kearah Ririn, hinggan membuat Ririn gelalapan dan menggaruk kepala yang tak gatal.



"Jangan dekat\-dekat," ujar Ririn sedikit menjauhkan tubuh Ivan yang sangat dekat dengannya.



Ivan kembali mendekatkan wajahnya hingga membuat netra mereka beradu selang beberapa detik.



"Menjauh atau kutabok wajahmu," ujarku dengan nada ganas.



"Ampun, aku nggak bisa lawan," ujar Ivan beranjak dari duduknya.



Mata Ririn sontok kaget karena lagi\-lagi Ivan mencium pipinya, pipi Ririn terasa panas dan ada rasa bahagia yang sedang ia rasakan sekarang.



"Dasar Kebo pless penakut," ujar Ivan berlari meninggalkan Ririn yang sedang senyum\-senyum sendiri.



"Bilang apa kamu," ucap Ririn berlari mengejar Ivan.



"Bilang kalau kamu kebo yang manis tapi," ujar ivan menggantung kalimatnya.



\#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2