#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
part 30 # Masa lalu


__ADS_3

Ivan hanya tersenyum saja pada Umiknya tersayang. Makin lama Ririn makin sering bermanja-manja, minta ini dan itu. Sebagai suami yang baik Ivan selali menuruti semua kemauan istrinya. Ivan sering menemani Ririn ke rumah sakit untuk cek up kandungan.


***


Hari ini Desi tidak lagi menyapa Ivan. Jangankan tersenyum, menatap Ivan dengan tatapan menggoda tidak lagi. Desi sudah membulatkan niatnya tidak lagi mengejar Ivan tetapi Ivan 'lah yang akan mengejarnya. Sekarang penampilan Desi jauh lebih berubah dengan berpakaian sangat minim sekali seperti ke kurangan kain saja. Nita sahabatnya hanya memandangnya dengan tatapan menjijikkan. Nita tidak lagi menegur cara berpakaian Desi yang terlalu berlebihan.


Semua mata para lelaki karyawan maupun atasan hanya tertuju dengan Desi termasuk Angga.


"Des," sapa Angga tanpa sedikitpun mata berkedip melihat penampilan Desi.


"Iya. Ada apa?" Desi tersenyum lebar.


"Hari ini kamu aneh sekali," timpal Angga.


Angga memiliki perasaan kepada Desi tetapi Desi selalu mengabaikan dan menanggapinya sebagai angin lalu. Angga sempat mengutarakan niatnya ingin melamar Desi. Namun, secara terang-terangan Desi langsung menolaknya katanya dia hanya menanggap Angga sebagai seorang sahabat dan tidak lebih. Desi yang dulu wanita berparas cantik dan memiliki budi pekerti yang baik dan sopan kepada semua orang tetapi itu semua sirna ketika sahabatnya yang selalu membimbingnya dan menegurnya jika ia salah pergi untuk selamanya tanpa melihat jasad seorang sahabat terbaiknya.


Desi seorang anak yang terlahir dari keluarga tidak mampu. Jangankan biaya sekolah uang makan sehari-hari pun masih belum bisa tercukupi. Rifqa temannya semasa kecil selalu mendorongnya untuk menjadi lebih baik dan selalu bersyukur terhadap kehidupan. Rifqa selalu membagi bekalnya untuk Desi yang sama sekali tidak membawa bekal dan uang jajan.


Setelah selesai menamatkan diri di bangku Sekolah Dasar. Rifqa melanjutkan sekolahnya di sebuah pesantren karena Desi tidak memiliki biaya untuk masuk ke pesntren. Tetapi persahabatan mereka tetap berjalan ketika Rifqa pulang ke rumah bila libur datang. Keluarga Rifqa sangatlah baik berbeda jauh dengan keluarga Desi yang teramat sangat buruk. Ketika Desi selesai menamatkan diri dari Sekolah Menengah Atas dia memutuskan untuk merantau ke kota lain bertujuan untuk merubah nasib ekonomi mereka. Berbagai derita yang di lalui oleh Desi di kota orang tanpa ada sanak saudara tetapi ia masih tetap bisa bertahan hidup untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter. Cita-cita yang dulu ia idam-idamankan semuanya sirna ketika pergaulan bebas menyelimutinya dan bertambah ketika mendengar kabar duka sahabatnya yang meninggal akibat tabrak lari. Desi sangat dendam kepada pelaku yang telah melakukan hal sekeji itu.


Untungnya Desi di pertemukan dengan orang baik yang yaitu Nita. Nita selalu menegur Desi apabila ia minum minuman keras tiap malam dan pergi untuk menghambur-hamburkan uang. Tetapi, sifatnya sangat jauh berbeda dengan Rifqa yang sangat penyabar. Nita mengajak Desi untuk kerja di perusahaan ia bekerja dan dengan cepat Desi langsung di terima. Atasan mereka tergoda dengan Desi karena paras yang cantik. Desi menjalin hubungan gelap dengan atasannya hingga beberapa tahun sampai akhirnya mereka ketahuan oleh istri atasannya. Dia di permalukan di depan umum tetapi karena telah mati rasa Desi sama sekali tidak memiliki rasa malu.


"Desi!" Suara Angga membuyurkan lamuan Desi yang mengingat perjalanan hidupnya.


Desi berlalu pergi dari hadapan Angga. Ia sekarang hanya fokus untuk mendapatkan hatinya Ivan. Ia benar-benar telah jatuh cinta kepada Ivan. Pikiran Desi terlintas dengan yang namanya Ririn istri dari atasannya atau dengan kata lain menjadi istri tua. Desi mulai mengetik dengan lincah di benda pipih miliknya mencari dan menelusuri akun sosmed yang bernama Ririn.


Tak butuh waktu lama Desi mendapat akun yang ia cari. Desi membuka dan melihat-lihat foto-foto Ririn.

__ADS_1


"Oh. Ternyata dia ketua geng motor," ujar Desi sambil memperhatikan wajah seseorang di samping Ririn.


"Dia pasti memiliki masa lalu yang suram dan pastinya mempunyai banyak kesalahan." Desi tersenyum licik dan berniat untuk menggali masa lalu Ririn sebagai senjata untuk berpisahnya Ririn dan Ivan.


Desi menggeser layar gawainya melihat dan membaca isi dari kronologi akun Ririn. Matanya tertuju pada kolom komentar yang sedikit menarik untuk di baca. Terdapat cekcok yang sedikit membingungkan membahas tentang ustadz, anak pungut dan sedikit kisah masa lalu yang membahas tentang pembunuh. Desi kemudian beralih melihat akun yang sedang bercekcok dengan Ririn tertera nama Leni. Desi melihat profilnya,


"Bukankah dia teman gengnya Ririn?"


Desi memencet ikon yang tertulis 'add'. Dia ingin bertanya-tanya kepada Leni tentang masa lalu Ririn untung karena mereka lagi bermusuhan jadi banyak peluang untuk menggali masa lalunya Ririn. Dua hari berlalu Leni masih belum menerima permintaan pertemanan serta follback Desi di Ig. Pemberitahuan masuk dan sekarang Leni telah menerima pertemanan.


Tanpa menunggu waktu lama Desi langsung memulainya dengan basa basi menanyakan nama, alamat dan sebagainya. Meski jawabannya sangat cuek tetapi Desi masih semangat. Desi meminta nomor WA Leni dan leni juga memberikannya. Seminggu basa basi Desi telah berlalu dan sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan soal masa lalu Ririn.


[Len, apakah kamu kenal orang yang bernama Ririn? ]Desi mengirimkan pesan kepada Leni.


[Yang bernama Ririn sangatlah banyak. Apa nama lengkapnya?]


[Aku kurang tahu. Yang penting namanya Ririn, kalau aku nggak salah dia itu seorang ketua geng motor liar.]


[Tidak apa-apa, cuman ingin tahu aja kronologi hidupnya.]


Tak di sangka ternyata balasan Leni sangatlah berbeda haluan dengan apa yang di inginkan Desi. Leni malah marah kenapa Desi terlalu menyusuri hidupnya Ririn. Walaupun Leni dan Ririn berada dalam masalah sebagai seorang sahabat harus saling menjaga aib kecuali di depan sahabat lainnya.


Desi masih tidak putus asa dia bingung bagaimana caranya Leni menceritakan masa lalu Ririn yang penuh dengan masalah. Bukan Desi namanya jika tidak bisa mendapatkan solusi dalam masalahnya. Karena Leni dan Ririn memiliki dasar masalah dan tugas Desi hanya menambah sedikit saja masalah baru. Desi mulai berpura-pura mengatakan kepada Leni bahwa dia dan Ririn bersahabat. Ririn menceritakan aib semua sahabatnya kepada Desi termasuk Leni. Desi mengarang-ngarang cerita yang tidak jelas dan menyampaikannya kepada Leni. Emosi Leni meledak ketika mempercayai semua ucapan Desi dan pada akhirnya ia ceritakan tentang Ririn yang pernah masuk dalam kasus tabrak lari.


Desi tersenyum puas dengan hal itu dia tetap menggali informasi supaya bisa menjatuhkan Ririn.


***

__ADS_1


Hari berlalu bulan pun ikut berlalu sekarang perut Ririn sudah mulai membuncit. Ririn merasa heran dengan story WA temannya Leni.


(Dasar teman munafik perilakumu bertambah buruk setelah menikah dengan seorang Ustadz bukannya membaik. Ceritakan aku dengan sepuas hatimu dan kau itu telalu keji dan jijik untuk di lihat)


Ririn merasa tersindir dengata kata Ustadz. Kenapa baru sekarang Leni membahas masalah yang sudah berbulan-bulan bahkan hampir setahun lamanya. Bahkan mengatakan munafik dan menceritakannya. Ririn hanya menanggapinya dengan santai karena dari dulu ia tidak pernah menceritakan aib para sahabat seperjuangannya. Pesan masuk dari Leni.


'Tumben. Leni mengirim pesan," gumam Ririn dalam hatinya.


Perlahan Ririn mulai membaca isi pesan dari Leni yang membuatnya menangis karena di fitnah oleh seseorang.


"Selamat pagi istri seorang Ustadz. Saya sangat salut dengan ajaran suamimu yang mengajarimu pandai membicarakan orang. Aku tidak marah jika kamu menceirtakan kenyataan tetapi ini kamu membalikkan fakta dan menuduhku sebagai pembunuh. Kamu yang menabrak seseorang hingga nyawanya tak bisa terselamatkan itu artinya kamu yang membunuhnya buka aku. Aku hanya duduk di sampingmu dan menyaksikan kejadian itu semua tetapi kenapa sekarang kamu memutar balikkan fakta!"


Air mata Ririn menetes dengan deras ketika mengingat kejadian yang teramat pahit itu ketika ia menabrak seseorang. Ririn menangis sejadi-jadinya ia sangat ketakutan bagaimana kalau semua orang tahu bahwa Ririn seorang pembunuh. Biarkan semua orang marah tetapi bagaimana dengan Ivan apa dia masih bisa mencintai dan menerima seorang wanita pembunuh yang masih belum terungkap identitasnya sampai sekarang.


"Ya Allah cobaan apa lagi."


Mendengar isak tangisan. Umik mertuanya segera menghampiri Ririn ke kamar dan melihat menantunya sedang menangis sambil memeluk lutut. Dengan cepat Umik Ivan memeluk Ririn dan bertanya apa ada yang terjadi. Ririn hanya terdiam dan terus menangis. Hal itu membuat Umik mertuanya kebingungan dan dengan cepat Umik memberitahu kepada Ivan mengenai keadaan Ririn sekarang.


"Ada apa sayang?" tanya Ivan sambil memeluk Ririn.


'Maaf Van, aku masih belum sanggup untuk memberitahumu,' gumam Ririn dalam hatinya.


Ririn berhambur dalam pelukan Ivan yang sangat hangat. Mencari ketenangan untuk perasannya yang ketakutan akan ke hilangan Ivan setelah mengetahui masa lalunya yang menyeramkan.


"Sudah jangan menangis lagi. Minum airnya," ucap Ivan dengan lemah lembut sambil memberikan air putih.


Ivan menghapus air mata di pipi Ririn. Ivan tidak menanyakan apa penyebab istrinya menangis sebelum Ririn merasa sudah enakan dan tenang. Ivan memeluk Ririn berusah untuk menenangkan hati istrinya yang sedang tidak enak. Ivan hanya beranggapan mungkin itu hanya bawaan bayi mereka dalam kandungan Ririn.

__ADS_1


"Ada apa. Coba jelaskan?" tanya Ivan dengan penuh perhatian.


#Bersambung


__ADS_2