#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 12 #Bingung akan perasaannya


__ADS_3

Ririn masih bingung dengan perasaannya sendiri yang Ririn tau hanyalah Ririn sering merasa rindu kepada Ivan.


Satu minggu telah berlalu Ivan telah menyelesaikan pekerjaannya sekarang ia akan pulang kerumah untuk bertemu dengan istrinya.


"Assalamualaikum." Ivan mengucapkan salam dan masuk kerumah.


"Waalaikumsalam," ucap Ririn menjawab salam dari Ivan dan menghampiri suaminya.


"Bagaimana dengan pekerjaannya?" tanya Ririn kepada Ivan yang tengah duduk disofa ruang tamu.


"Hasilnya begitu memuaskan." Ivan tersenyum sambil memandang wajah yang ada dihadapannya. Ririn hanya ber'oh' saja, muka Ririn cemberut karena Ivan tidak mempertanyakan bagaimana kabarnya selama ini.


Ririn beranjak dari duduknya pergi menuju kamar dan meninggalkan Ivan sendirian di ruang tamu.


Ivan merasa bingung dengan sikap Ririn yang cuek tetapi Ivan bahagia karena busana Ririn sudah mulai berubah, Ivan yang tengah kebingungan beranjak dari duduknya mengikuti Ririn untuk pergi kekamar.


"Apa ada masalah?" tanya Ivan dengan lembut dan duduk disamping Ririn.


"Nggak." Ririn menjawabnya dengan ketus.


"Terus, kamu marah samaku?" Ivan kembali bertanya.


"Nggak." jawab Ririn membuang muka.


"Kalau ada masalah ceritakan baik-baik," ucap Ivan yang mulai emosi karena merasa lelah diperjalanan dan sampai kerumah dicuekin oleh istri. Ivan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian pengganti dan pergi menuju kamar mandi.


"Dasar suami nggak peka." Gumama Ririn dalam hati setelah Ivan masuk kedalam kamar mandi.


Di dalam kamar, Ririn sedang asyik memainkan gawainya diatas ranjang sedangkan Ivan sedang asyik membaca buku-buku yang sangat tebal. Ririn masih marah kepada Ivan karena sampai saat ini Ivan belum menanyakan kabarnya sedangkan Ivan sudah mulai jenuh dengan sikap Ririn yang sulit dimengerti.

__ADS_1


Kring,


Gawai milik Ivan berdering di dalam laci sebuah pesan WhatsApp masuk. Ivan beranjak dari duduknya untuk mengambil gawainya. Di ponsel Ivan tertera nama Abi, Ayahnya Ivan.


"[Nak, besok pagi kamu harus kerumah Abi karena Umikmu sangat rindu padamu.]" Sebuah pesan WhatsApp yang dikirimkan oleh Abinya Ivan.


"[Ia, Abi besok Ivan akan kerumah.]" Ivan membalas pesan dari Abinya, tertera tanda dua centang berwarna biru yang berati pesannya sudah terbaca.


"[Abi dan Umikmu menunggumu dirumah, jangan lupa bawa istrimu!] balas Abinya Ivan disebrang sana.


"[Ia, Abi.] Ivan kembali membalasnya.


"Besok pagi kita akan pergi kerumahku." Ivan memandang wajah Ririn sekilas untuk memberitahukan bahwa besok mereka akan pergi. Ririn tidak menjawabnya tetapi ia mendengarnya, ia hanya asik dengan gawainya. Hati Ririn sedikit meringis kesakitan karena baru kali ini Ivan berbicara ketus kepadanya. Ivan mulai geram karena Ririn tidak menjawabnya.


"Dasar tuli." Guram Ivan dan membarikan tubuhnya di sofa serta menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Ririn tentu mendengar apa yang diucapkan Ivan barusan dengan mengatainya tuli. Ririn menangis tanpa suara didalam selimutnya.


Ivan terbangun di sepertiga malam untuk melaksanakan Sholat Tahajjud, Ivan beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi sebelum ia masuk kekamar mandi, ia menghampiri Ririn yang telah lelap dalam tidurnya dan memperbaiki selimut Ririn.


"Aku bingung dengan sikapmu Rin, kumohon jangan bersikap cuek kepadaku, jika ada salahku segera beritahu kepadaku, jangan membuatku terus merasakan rasa bersalah." Setelah itu Ivan pergi kekamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Ivan dan Ririn telah selesai beres-beres dan siap berangkat untuk pergi kerumah Ivan. Diperjalanan keduanya hanya terdiam, Ivan fokus menyetir mobil sedangkan Ririn melihat-lihat pemandangan diluar.


Tak lama lagi mereka sampai kerumah Ivan. Ivan membuka pembicaraan.


"Rin," ucap Ivan yang tetap fokus memandang kedepan.


"Mmm." Jawab Ririn yang masih sama memandang keluar.

__ADS_1


Keheningan bagi keduanya kembali tercipta hingga akhirnya mereka sampai ke halaman rumah Ivan.


"Assalamualaikum." Ivan dan Ririn serentak mengucapkan salam dan masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam." Jawab wanita paruh baya dengan mata berbinar-binar bahagia.


Ivan menyalim tangan Umiknya begitu juga dengan Ririn ikut menyalim Umik mertuanya.


"Umik kangen samamu Nak," ucap Umiknya Ivan memeluk putra tunggalnya dan mencium pipi kiri dan kanan Ivan.


"Ivan juga kangen sama Umik." Jawab Ivan membalas pelukan dari Umiknya.


Ririn hanya berdiri saja menyaksikan Umik mertuanya dan suaminya membuatnya geli karena suaminya termasuk anak mami.


Setelah memeluk putranya, Umik Ivan kemudian memeluk Ririn, membuat Ririn sedikit terkejut.


"Selamat datang kerumahmu Nak, semoga kamu betah tinggal disini." Ucap Umiknya Ivan dan mengecup pipi kiri dan kanan Ririn.


Ririn merasa ada kehangatan ketika di peluk oleh seorang Ibu karena selama ini Ririn tak pernah mendapatkan pelukan dari seorang Ibu karena Ibu Ririn sibuk dengan bisnis.


"Iya," jawab Ririn sedikit kaku.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Umiknya Ivan,


"Mari kita makan bersama." ajak Umiknya Ivan.


Ivan dan Ririn hanya mengikuti langkah umiknya menuju meja makan.


"Abi mana Mik?" Tanya Ivan kerena Abinya tidak berada di meja makan.

__ADS_1


"Abi sedang dikantor Nak, ada sedikit kendala disana." Jawab Umiknya Ivan.


#Bersambung


__ADS_2