#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 15 #viona


__ADS_3

Pagi yang menyegarkan dan menyejukkan hati, Ririn menuruni anak tangga satu persatu hingga sampai kebawah. Ririn kembali menyusuri setiap Rumah mertuanya. Ivan seperti biasa pergi kekantor sebelum jam delapan pagi. Tanpa disengaja Ririn bertabrakan dengan seorang anak kecil yang sedang berlari-lari dihalaman belakang rumah mertuanya.


"Aww," ia meringis kesakitan,


"Maaf, saya tidak sengaja," ucapnya menatap kearahku. Aku hanya tersenyum karena melihat ekspresinya yang penuh dengan ketakutan.


"Nama kamu siapa?" ujarku padanya dan aku sedikit menjongkok untuk mensejajarkan tubuhku dengan tubuh mungilnya.


"Nama saya Viona," jawabnya dengan nada suara kecil tetapi Ririn masih bisa mendengarnya.


"Nama yang indah dan cantik seperti orangnya," ujar Ririn padanya Viona hanya tersenyum.


Viona anak kecil yang umurnya berkisaran empat tahun dia mempunyai wajah yang cantik tetapi wajahnya sedikit mirip dengan seseorang yang tidak asing menurut Ririn, tapi seseorang itu siapa. Ririn berusaha mengingat siapa yang seseorang yang mirip dengan anak ini.


"Viona pergi dulu ya kakak, Assalamualaikum," ujarnya yang kembali berlari meninggalkan Ririn.


"Waalaikumsalam," jawabku sambil tersenyum melihat tubuhnya yang berlari tergopah-gopah.


Ririn duduk dikursi yang tersedia ditaman belakang rumah mertuanya Ririn masih bingung dengan anak yang barusan bertabrakan dengannya.


"Siapa anak itu?" Gumamnya dalam hati, karena mana mungkin itu keponakan Ivan sedangkan Ivan anak tunggal dari keluarganya, kalau anak itu bukan keluarganya Ivan kenapa dia bisa ada disini. Rumah Ivan dikelilingi dengan pagar beton dan didepan ada scurity yang mengawasi.


Sambil berpikir mengenai identitas anak itu, Ririn teringat dengan foto yang selalu dilihat oleh Ivan setiap malam, siapakah wanita itu?.


Entah kenapa hati Ririn sangat perih ketika Ivan memandang atau melihat wanita itu, mana mungkin seorang yang mengerti tentang agama melakukan hal seperti itu. Ririn merasa tak terima karena seakan dirinya sedang dipermainkan oleh orangtuanya dan Ivan.


"Mereka kira aku ini boneka," gumam Ririn, Ririn merasa kecewa dengan pilihan orangtuanya yang menjodohkannya dengan lelaki yang mungkin mencintai perempuan yang ada diluar sana.


Ririn merasa bosan berada dirumah Ivan karena Ririn orangnya suka berfoya-foya pergi kesana kemari untuk mencari kesenangan. Ririn telah diabaikan oleh orangtuanya karena sibuk dengan pekerjaannya hingga membentuk perilaku seperti sekarang keras kepala, tidak mau diatur-atur. Ririn dipaksanakan oleh Ayahnya untuk menerima pernikahan ini, mulanya Ririn menolak tetapi ancaman demi ancaman keluar dari lisan Ayahnya mulai dari menyita aset yang dimilikinya sampai dia dikeluarkan sebagai anak dari keluarga Wijaya. Ririn tidak takut dengan ancaman awal dari Ayahnya semua aset yang dimiliki Ririn bukan diambil dari pemberian Ayahnya melainkan dengan hasil yang ia dapat dari balapan motor yang liar.


Dikantor Ivan sibuk sekali mengurus semua pekerjaan yang telah menumpuk walaupun setiap hari dikerjakan, pekerjaan akan mudah diselesaikan jika Ivan mengurusnya diluar kota, perusahaan Ivan sangat banyak cabangnya didalam maupun diluar kota bahkan sampai diluar negri. Ivan telah memutuskan akan tinggal diluar kota dimana disitu ada cabang mereka yang nyaris mau bangkrut serta Ivan diberikan kesempatan apabila ia dapat menstabilkan kembali perusahaan itu maka perusahaan akan menjadi miliknya pribadi, walaupun pada akhirnya semua cabang perusahaan akan menjadi miliknya karena pemilik perusahaan ini adalah Abinya sendiri.


Ivan pulang dengan ekspersi yang lemah, letih dan lesu karena mengurus semua pekerjaan.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucapan salam yang keluar dari lisan Ivan dan segera Ririn menjawab salamnya.


"Waalaikumsalam," jawab Ririn di ruang tamu tanpa sedikitpun melihat kearah Ivan.


Ivan langsung menuju kamar untuk membaringkan tubuhnya yang sangat lemas, sedangkan Ririn masih asyik menonton TV diruang tamu.


Ririn memutar knop pintu dilihatnya Ivan telah membaringkan tubuhnya yang lesu.


"Rin," ucap Ivan yang telah terduduk diatas kasur.


"Mmm," jawab Ririn dengan acuh tak acuh.


"Rin apakah kamu bersedia untuk tinggal bersamaku?" tanya Ivan dengan sangat hati-hati.


"Pertanyaan konyol," jawab Ririn yang sedang asyik memainkan gawainya.


"Aku serius Rin, karena kemungkinan besok kita akan pindah diluar kota." Ujar Ivan kepada Ririn.


"Apaa, pindah," ucap Ririn mengulang perkataan Ivan barusan.


"Nggak, Aku nggak mau pindah," jawab Ririn menatap Ivan dengan tatapan yang begitu seram. Ririn tidak mau pindah karena ia takut, bagaimana kalau Ivan menjual atau mencampakan dirinya disana apa mungkin perempuan diponsel Ivan bertempat tinggal disana. Beribu pertanyaan mengisi hati dan pikiran Ririn mengenai perpindahan diluar kota.


"Kenapa nggak mau, alasannya apa coba?" tanya Ivan karena bingung melihat ekspersi Ririn yang langsung berubah.


"Kalau kamu ingin hidup bersamanya disana maka aku tidak mau terbawa-bawah," ucap Ririn menekan setiap akhir kalimatnya.


"Maksudmu apa Rin?" tanya Ivan kemudian duduk disamping Ririn.


"Alaah kamu nggak usah ngeles, Aku tau kamu ingin pindah karena kamu tak ingin orangtua kita tau dengan kedokmu kan!" ucap Ririn yang wajahnya sedikit memerah karena emosi mulai naik.


"Kedokku, kalau bicara yang jelas saja," ujar Ivan mendesak Ririn dan mencari arti apa perkataan Ririn barusan.


"Udalah, pernikahan ini cuman berlandasan karena keinginan orangtua bukan kah begitu?" Ujar Ririn menatap Ivan walaupun sekarang perasaan Ririn sedang dag dig dug tak menentu,

__ADS_1


"Jadi kita sebagai anak sudah mewujudkan sebagai bakti kepada orangtua dan kuharap sebelum ada luka lebih baik kita akhiri semuanya," ujar Ririn dengan tegas diringi senyuman.


"Kita pindah karena pekerjaanku Rin, jadi kamu nggak usah berpikir aneh-aneh," jawab Ivan yang mulai mengerti satu demi satu perkataan Ririn,


"Aku tau pernikahan ini cuman didasari keinginan orangtua tapi semuanya tidak akan terjadi jika Allah tidak menghendakinya," jawab Ivan untuk memberikan jawaban dari perasaan Ririn yang sekarang,


"aku tau kamu menerima semua ini karena terpaksa mungkin sebelumnya kamu sudah punya pilihan yang lain untuk menjadi teman hidupmu, Aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku ataupun menerimaku sebagai pendamping hidup," ujar Ivan sedikit menarik nafas dalam-dalam,


"tetapi percayalah apa yang kamu pikirkan belum tentu akan terjadi," ujar Ivan diringi senyuman,


"aku tidak mau mengkhiri hubungan secepat ini, kalau memang kita tidak bisa mempertahankannya maka apalah daya kita, tetapi aku percaya kamulah tulang rusukku yang telah hilang," ujar Ivan sambil membawa Ririn dalam dekapannya.


Kalimat terakhir Ivan mampu membuat air mata dari netra Ririn tumpah, Ririn menangis didalam dekapan Ivan, Ririn menyandarkan kepalanya dibidang dada milik Ivan dan ia menumpahkan air matanya.


"Sudah jangan menangis lagi, mari kita mulai bersama-sama dari awal, biarkan cinta tumbuh seiring berjalannya waktu," ujar Ivan mengelus pundak Ririn yang naik turun karena menangis.


Ivan mengetahui dimana arah pembicaraan Ririn, Ririn pasti ingin minta pisah darinya tapi entah mengapa Ivan tidak ingin hal itu terjadi walaupun sampai sekarang ia belum mengetahui apa dia mencintai Ririn atau tidak.


Walaupun kalimat demi kalimat yang diucapkan Ivan sedikit membuat hati Ririn tenang tetapi Ririn masih takut bagaimana jika suatu saat Ivan pergi dan meninggalkan dirinya, Ririn trauma akibat hal yang pernah terjadi dalam keluarganya Ayah Ririn pernah selingkuh dan mencampakan mereka tetapi karena Ibu wanita yang hebat dan pintar Ayah bisa kembali lagi dengan kami, tetapi bagaiman denganku jika itu akan terjadi padaku. Aku sudah tau bahwa dihati Ivan masih ada cinta untuk wanita lain.


"Aku akan mencoba untuk hidup bersamamu tetapi jika tidak ada pilihan lain maka aku akan pergi," gumam Ririn dalam hatinya.


"Ririn yang harus kamu lakukan sekarang yaitu jangan berlebihan mencintainya," ujar Ririn dalam hati menyemangati dirinya sendiri,


"Sudah jangan menangis lagi," ujar Ivan menghapus air mata yang berada dipipi Ririn, Ririn hanya tersenyum.


Ivan menggenggam erat tangan Ririn, "jangan berpikir aneh-aneh tentangku, hilangkan semua pikiran konyolmu itu."


Ririn memanyungkan bibirnya karena mendengar perkataan Ivan barusan.


"Bibirnya nggak usah digituin nanti jadi seperti itu mang kamu mau," ujar Ivan mencoba cara agar Ririn bisa tersenyum.


"Apaa sih," ucap Ririn diiringi dengan senyuman.

__ADS_1


Ririn kaget karena Ivan mencium pipi kanannya dan berlari menuju kamar mandi, "kemasi semua barangmu karena besok pagi kita akan pergi."


#Bersambung


__ADS_2