
"Nggak, mataku cuman kelilipan doang."
"Benaran?" tanya Ivan lagi.
"Iya, masa aku bohong," ujar Ririn diiringi dengan senyuman yang manis.
"Okelah, aku lanjut masak dulu," ujar Ivan beranjak dari duduknya melanjutkan aktifitas memasaknya.
Tak butuh waktu lama akhirnya nasi gorong buatan Ivan telah siap untuk disajikan
"Udah siap, mari kita makan."
"Tapi kok cuman satu porsi, buat aku mana?" tanya Ririn kepada Ivan karena Ivan cuman mebawa satu porsi nasi goreng dan air putih.
"Kita makan sepiring saja," ucap Ivan duduk disamping Ririn.
Ririn hanya tersenyum saja.
"Ayo buka mulutnya," ujar Ivan menyuapi Ririn pakai sendok, kemudian di saat Ririn mau menerima suapan dari Ivan. Ivan tidak jadi menyuapinya tetapi suapan itu masuk kedalam mulutnya sendiri sambil terkekeh melihat istrinya yang mulai memanyungkan bibirnya.
"Buka mulutnya, ammm," ujar Ivan menyuapi Ririn seperti layaknya anak kecil yang sedang merajuk.
Ririn menggelengkan kepala dan tidak mau membuka matanya.
"Ayolah sayang buka mulutnya," ujar Ivan dengan manja menyuapi istrinya.
Kata sayang membuat hati Ririn luluh mendengar kata itu. Tetapi Ririn masih merajuk.
"Modus," jawab Ririn dengan ketus.
"Benaran nggak mau makan nih,"
"Ayo makan, nanti makanan kita dingin loh, apa kamu tidak mau makan sepiring denganku," ujar Ivan yang mulai mengelah karena tidak mampu meluluhkan Ririn yang ngambek.
"Bukan itu maksudku," jawab Ririn menggelengkan kepala.
"Terus maksud kamu apa." Sekarang gantian Ivan yang mulai merajuk.
"Nggak ada," jawab Ririn.
"Kalau kamu suka makan sepiring denganku, sekarang buka mulutnya," ujar Ivan kembali menyuapi Ririn. Akhirnya Ririn membuka mulutnya dan menerima suapan dari Ivan.
Makan malam yang menyenangkan bagi Ivan dan Ririn, makan saling meyuapkan.
Ririn masuk ke kamar di lihatnya Ivan tidak lagi mengikutinya dari belakang. Ia menoleh ke belakang ternyata Ivan sedang duduk di sofa. Ririn memutuskan untuk duduk di samping Ivan selama beberapa menit sebelum ia tidur.
"Kenapa balik lagi?" tanya Ivan kaget karena menghampirinya.
"Nggak kenapa-kenapa cuman ingin duduk aja dulu," jawab Ririn dengan santai.
Keduanya saling menonton acara di tv tetapi acara itu membosankan bagi Ririn.
"Nggak seru," ujar Ririn.
"Apanya?" tanya Ivan melihat kearah Ririn,
"Acara di tv ini," jawab Ririn dengan cuek.
"Kamu nggak suka atau kita ganti saja," tanya Ivan sambil mengambil remod diatas meja.
"Terserah, gimana kalau kita nonton film horor," ucap Ririn melihat ke arah Ivan.
"Ihhhh seram tau," jawab Ivan. Mungkin Ivan ketakutan kali.
"Cowok takut nonton film horor," ucap Ririn dengan intonasi mengejek Ivan.
"Bukan takuk tapi nggak suka," jawab Ivan yang terus menetap istrinya yang sedang terkekeh.
__ADS_1
"Benaran, tapi aku suka," ujar Ririn dengan senyuman dan mata berbinar-binar,
"Yaaayyaaa." Ririn merengek seperti anak kecil.
"Iyalah," jawab Ivan beranjak dari duduknya menuju tv untuk mengganti siaran menjadi film horor.
"Mau kemana lagi?" tanya Ivan menoleh ke arah Ririn yang beranjak dari duduknya.
"Aku mau kebelakang untuk mengambil cemilan biar makin asyik."
Mereka menyaksikan film horor bersama ketika ada yang menakutkan Ririn memeluk tubuh Ivan,
"Katanya tadi tidak takut tapi," ucap Ivan karena tangan Ririn yang berada di pinggulnya.
Ririn segera melepaskan pelukannya ia kembali membetulkan cara duduknya,
"Bukan takut tapi serem aja."
Malam semakin larut, Ririn tertidur di pangkuan Ivan,
"Ya ampun Rin, kamu malah tidur di sini," ujar Ivan menatap wajah teduh milik Ririn.
Ivan mebopong tubuhnya Ririn dan membawanya ke kamar supaya Ririn bisa tidur nyenyak di sana.
"Selamat malam Rin," ucap Ivan sambil meyelimuti tubuh Ririn.
Tiba-tiba Ririn menahan pergelangan tangan Ivan. Ivan menoleh ke belakang di lihatnya netra Ririn yang sudah terpejam.
Perlahan Ivan mencoba melepaskan tangan Ririn yang berada di pergelangannya dan akhirnya tangan Ririn berhasil lepas dari pergelangannya.
Ivan kembali ke ruang tamu, ia mematikan tv dan membaringkan tubuhnya di sofa untuk bisa ke alam mimpi.
Pagi yang sangat cerah membuat Desi tambah semangat untuk pergi ke kantor apalagi ia akan bertemu dengan sang pangerannya.
"Selamat pagi sang pangeranku," ujar Desi sambil menyisir rambutnya.
"Desi, kau cepatan dikit nanti kita bisa terlambat!" Nita berteriak dari ambang pintu.
"Iya," jawab Desi bergegas meraih tas dan haighlisnya.
"Kau ini selalu saja membuatku kesal setiap pagi."
Desi memesang haighilsnya dan kembali membetulakan pakaiannya.
"Bagaiman, aku cantik?" tanya Desi sambil menebar pesonanya kepada Nita.
"Sudah berapa kali ku bilang, kau ini sudah cantik sejak lahir, ayo kita pergi nanti kita bisa terlambat," ucap Nita berlalu meninggalkan Desi.
Desi segera mengunci kost mereka, "tunggu aku Nita."
Mereka berdua naik taxi online yang telah di pesan oleh Nita. Mereka sampai ke perusahaan tempat mereka berdua bekerja.
Semua mata tertuju ke arah Desi karena penampilannya hari ini yang cantik.
"Selamat pagi semua," ujar Desi dengan intonasi bahagia.
"Pagi juga," jawab Angga mengulurkan tangannya di hadapan Desi.
Desi langsung menerima tangan Angga dan mereka saling bersalaman dan melempar senyuman.
"Cantik," gumam Angga.
Desi mendengar gumaman Angga dan langsung bahagia karena ia di puji,
"terimakasih," ucapnya berlalu meninggalkan Angga, berjalan kearah ruangannya.
__ADS_1
Desi wanita yang sangat senang dan bahagia ketika di puji oleh banyak lelaki yang berkata ia cantik, mani, imut, dan lainnya.
"Kamu memang cantik sekali Desi," ujar Angga menuju ruangan kerjanya.
Ivan langsung membersihkan dirinya setelah melaksanakan sholat subuh dan memasak sarapan untuknya dan Ririn.
Ivan memutar knop pintu kamar mereka di lihatnya Ririn masih belum juga terbangun, tetapi ia tidak memperdulikan hal itu ia segera ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya yang sudah di setrika oleh istrinya.
"Aaak." Ririn berteriak histeris ketika melihat Ivan telanjang dada dan menutup matanya rapar-rapat dengan tangannya.
"Aaak." Ivan juga ikut teriak karena terkejut dan langsung menoleh ke belakang melihat Ririn yang sedang menutup mukanya dengan telapak tangannya, setelah itu ia kembali bersikap santai aja.
"Sudah siap apa belum?" tanya Ririn yang masih menutup mukanya.
"Belum," jawab Ivan dengan santai.
"Tukar bajunya di kamar mandi saja."
"Nggak mau," ucap Ivan sambil mendekat kearah Ririn,
"Kamu kenapa?" tanya Ivan melepaskan telapak tangan yang menutupi wajahnya Ririn.
"Jangan mendekat atau," ucap Ririn menggantung kalimatnya,
"atau apa?" tanya Ivan.
"Apakah kamu sudah memakai baju?" tanya Ririn dengan hati-hati.
"Belum," jawab Ivan dengan santai.
"Ya Allah ampunilah hambamu ini, gara-gara ciptaanmu yang satu ini membuat mataku tidak suci lagi," ujar Ririn yang mulai terisak karena hampir mau menangis.
Ivan terkekeh pelan mendengar penuturan dari istrinya,
"bilang apa kamu ini, ada-ada saja."
"Kenapa kamu masih di sini cepatan sana pasang bajumu," ujar Ririn.
"Kamu mengintip kan," ujar Ivan yang mulai menjahili istrinya.
"Tidak, aku tidak mengintip," jawab Ririn dengan tegas.
"Sebelum kamu membuka matamu, aku tidak akan pergi dari sini," ujar Ivan yang mulai mengancam istrinya.
"Iya-iya," jawab Ririn setelah beberapa menit.
Perlahan Ririn membuka netranya, di lihatnya Ivan dalam keadaan sudah berpakaian,
"Bukannya dari tadi bilang kek, kalau kamu sudah berpakaian," ucap Ririn dengan ketus sambil mencubit perut Ivan.
"Aww," Ivan meringis kesakitan dengan manja.
"Cuman itu saja sudah bilang aww." Menggunakan intonasi mengejek dan Ririn berlalu pergi.
"Nanti siang sampai malam kamu jangan kemana-mana, tunggu aku di rumah," ujar Ivan yang duduk dihadapan Ririn.
"Memangnya ada apa?" tanya Ririn karena kebingungan.
"Ada yang mau kita bicarakan," jawab Ivan dengan santai sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Deg jantung Ririn terasa berhenti tetapi otaknya memunculkan ratusa pertanyaan,
"apa Ivan mau mengakhiri semua ini?, ia minta izin untuk nikah lagi?, mencampakanku atau dia ingin meminta jatah yang masih belum ku berikan sampai saat ini," gumam Ririn sambil geleng-geleng kepala membayangkan itu semua.
"Kenapa?" tanya Ivan karena melihat Ririn yang menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kalau ada yang mau di bicarakan, biacarakan aja sekarang," ucap Ririn dengan santai walaupun sekarang perasannya sedang tak karuan dan merasa khawatir.
#Bersambung.