#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
part 29 #permintaan maaf


__ADS_3

"Aku nggak percaya."


"Demi Allah. Mas hanya sayang dan mencintaimu seorang saja," jelas Ivan.


Seketika Ririn berlari menuju kamar mandi karena merasa mual-mual. Ivan juga mengikutinya dari belakang,


"Huek huekk."


"Kamu kenapa sayang," tanya Ivan dengan sangat khawatir.


"Nggak kok, cuma mual-mual doang," jawab Ririn sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.


Ivan segera membopong tubuh Ririn dan merebahkannya di ranjang. Ririn memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa pusing yang sedang ia rasakan sekarang.


"Apa kita kerumah sakit saja untuk memeriksa keadaanmu," ucap Ivan sambil memegang tangan Ririn yang terasa dingin.


"Nggak usah, bentar lagi pusingnya juga akan hilang," jawab Ririn dengan cuek.


Ivan menggenggam erat tangan Ririn. Ia takut apabila terjadi sesuatu padanya. Namun, karena Ririn orangnya keras kepala jadi Ivan sedikit ragu untuk memaksa apalagi sekarang mereka lagi dalam masalah yang besar.


Ivan bingung bagaimana caranya supaya Ririn bisa percaya bahwa diantara Dia dan Desu tidak ada hubungan apa-apa. Ivan sangat mencintai dan menyayangi Ririn. Tetapi, bagaimana kalau Ririn tidak percaya dan bersikeras akan meminta pisah darinya. Jangan sampai itu terjadi.


Dengan cepat Ivan mengambil gawainya dan menghubungi nomor Desi. Tak menunggu waktu lama Desi langsung menjawab dan menyapanya dengan suara centil. Ivan mulai mengancam Desi apabila ia mengirim pesan atau apalah, maka Ivan tidak segan-segan akan mengeluarkan Desi dari perusahaan.


***


Desi merasa bahagia karena atasannya menghubunginya. Hatinya menjadi berbunga-bunga dan berharap Ivan sudah mulai menerimanya. Namun, sebaliknya Ivan akan mengancamnya jika ia mengirim pesan maka ia akan di keluarkan dari perusahaan.


Desi menjadi takut karena apabila ia di keluarkan dari pekerjannya maka gimana dengan nasib keluarganya di kampung. Desi anak sulung dan sekaligus tulang punggung keluarga dan memiliki banyak tanggung jawab terhadap adik-adiknya. Tetapi, bagaimana dengan cintanya yang hanya bertepuk sebelah tangan saja. Desi mengambil keputusan, untuk sementara waktu ia tidak akan mengganggu Ivan lagi dan fokus untuk mengejar karirnya. Jika ia sudah sukses maka ia kembali akan memperjuangkan cintanya.


***


Ivan segera menyeka air matanya dari pipinya karena Ririn sudah mulai membuka matanya.


"Bagaimana? Kepala kamu masih pusing," tanya Ivan dengan sangat khawatir.


Ririn hanya menggelengkan kepala dengan muka yang di tekuk.


"Lapar," lirih Ririn dengan suara pelan.


"Mau makan apa?" tanya Ivan dengan lemah lembut.


"Rujak mangga muda pedas," jawab Ririn.


Ivan membulatkan matanya karena baru kali ini Ririn ingin makan yang begituan biasanya kalau Ririn di beliin seperti itu pastinya dia nggak mau makan walaupun rujak yang Ivan beli bukan rujak mangga muda karena rujak mangga muda itu sangat masam rasanya.


Au ah mending di turuti saja dari pada marah dan nangis seperti tadi apalagi membahas soal perselingkuhan, mana ada suami sebaik Ivan ini mengkhianati istri tercintanya.


"Cuman itu saja atau ada lagi?" Ujar Ivan beranjak dari duduknya untuk pergi membeli rujak pesanan sang istri tercinta.


"Iya, tapi jangan lama-lama," jawab Ririn diiringi senyuman di bibirnya.


Ivan merasa bahagia karena bisa melihat senyuman manis dari bidadarinya yang belakangan ini selalu murung saja. Dalam hati Ivan berharap supaya Ririn tidak lagi membahas mengenai tuduhannya yang aneh-aneh saja serta Desi merasa takut dengan ancaman darinya.


Nggak butuh waktu lama Ivan langsung membawa rujak untuk Ririn. Ririn tersenyum bahagia karena keinginannya terpenuhi. Ririn memakan rujak itu dengan sangat lahap sekali.


"Kamu nggak ngilu yank, makan itu," ucap Ivan sambil menunjuk rujak mangga muda.


"Enggak emang kenapa?" tanya Ririn sambil terus menerus melahap rujaknya.

__ADS_1


"Nggak papa sih, Mas lihatnya aja ngilu, kamu yang makan nggak," ucap Ivan.


"Mas mau," tanya Ririn, sedangkan Ivan langsung menggeleng.


"Nggak ah," tolak Ivan.


"Nggak pokoknya Mas harus makan," ucap Ririn memaksa agar Ivan mau memakan rujaknya.


"Tapi kan yank, itu tuh masam banget," ucap Ivan bergidik ngeri melihat rujak mangga muda.


"Kalau Mas nggak mau makan, aku marah sama Mas," ucap Ririn sambil memanyungkan bibirnya serta memalingkan wajahnya.


"Hufft."


Ivan langsung membuang napas kasarnya. Dia tidak mengerti mengapa Ririn seperti anak kecil begini. Sepertinya ada perubahan dengan sikap Ririn sepertinya ini sikap barunya.


"Yaudah deh sini Mas makan," ucap Ivan pasrah.


"Nah gitu kek dari tadi," ujar Ririn tersenyum bahagia.


Ivan langsung menelan salivanya dengan susah payah, ketika ia melihat rujak mangga muda yang akan di masukan Ririn ke dalam mulutnya.


"Ayo Mas, makan aaaaa," ucap Ririn menyodorkan rujaknya.


Ivan langsung membuka mulutnya dan Ririn memasukan rujak kedalam mulut Ivan. Ivan hanya bisa memejamkan mata karena masam.


"Gimana enak nggak?" tanya Ririn dengan senyam senyum bahagia dan Ivan hanya mengangguk saja.


'Gimana mau enak, masam bangat kayak gini," gumam Ivan dalam hatinya.


Saat ini Ririn sangat bahagia. Ia seakan lupa dengan dengan masalah perselingkuhan Ivan.


Setelah selesai memakan rujak. Ririn kembali merasa mual dan berlari ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


"Aku akan menghubungi Dokter untuk memeriksa keadaanmu," ujar Ivan dengan sangat khawatir dan mengambil gawainya.


Wajah cantik milik Ririn mendadak menjadi pucat menambah Ivan menjadi khawatir. Sambil menunggu dokter Ivan terus saja memijat pelipis Ririn dengan linangan air mata, ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


Ririn hanya memejamkan mata karena terasa tak beradaya dan pusing serta merasa mual.


Perlahan Ririn membuka matanya tetapi terasa sangat sulit, remang-remang ia melihat Ivan menangis membuat hati Ririn tersentuh dan semakin percaya bahwa Ivan sangat mencintainya. Namun, di lain sisi Ririn kembali teringat tentang hubungan gelap Ivan dan Desi membuat matanya benar-banar terpejam.


"Kenapa dokter ini lama sekali," ucap Ivan dengan khawatir.


Ting,,,ting


Terdengan bunyi bel berarti dokternya sudah sampai kerumah. Knop pintu kamar terbuka terlihat Bi Ani masuk bersama dengan dokter Haikal teman Ivan semasa sekolah.


"Qal, tolong periksa istri saya," ujar Ivan dengan khawatir.


"Tenang aja bro, gue periksa dulu ya," ujar Haikal menenangkan temannya.


Setelah Haikal selesai memeriksa Ririn. Ivan seakan tak sabar menanyakan bagaimana dengan keadaan istrinya.


"Qal, bagaimana keadaanya?"


"Selamat ya Bro sekarang loh sudah menjadi calon Abi," ujar Haikal menepuk pundak Ivan.


"Apa! Aku nggak salah dengarkan," ujar Ivan dengan bahagia dan mengucapkan rasa syukur.

__ADS_1


"Nggaklah, cieee calon Abi. Gue sarankan loh bawa istri loh kerumah sakit untuk memeriksa kesehatannya," jelas Haikal.


"Tapi keadaanya baik-baik sajakan?" tanya Ivan dengan khawatir.


"Tentunya, gue nggak bisa lama-lama karena masih ada pekerjaan yang belum selesai."


Haikal keluar dari kamar Ivan. Ivan duduk di sisi ranjang sambil memegang erat tangan Ririn bahkan mengelus perut Ririn yang masih datar dengan lembut penuh kasih sayang.


"Jangan nakal-nakal di sana kasihan Umik ya sayang," ujar Ivan dengan senyuman bahagia.


Perlahan mata Ririn terbuka. Ia melihat raut wajah Ivan yang berseri-seri bahagia.


"Ada apa?" tanya Ririn dengan suara lemas.


"Ada kabar gembira sayang," ucap Ivan mengecup kening Ririn.


"Bahagia?"


"Allah telah menitipkan amanah buat kita supaya menjaga buah hati kita," ucap Ivan.


"Maksud Mas aku hamil," ucap Ririn dengan girang bahagia dan berhambur di dekapan Ivan.


"Iya sayang," jawab Ivan yang tak henti-hentinya mencium kedua pipi Ririn. Ririn merasa bahagia sekali karena ada malaikat kecil di dalam rahimnya yang menjadi buah dari cinta mereka.


Mereka juga tak lupa memberikan kabar bahagia ini kepada orangtua mereka. Setelah mendengar kabar bahagia Umik Ivan memutuskan akan tinggal di rumah anaknya untuk selalu menjaga menantu dan calon cucunya tersayang.


Sekarang Ririn sering bermanja-manja dengan Ivan. Mulai dari makan Ririn tidak akan makan sebelum di suapi oleh Ivan serta ingin sekali pergi jalan-jalan ke sana kemari.


Senja menambah suasana taman menjadi indah seperti perasaan mereka saat ini. Ivan dan Ririn duduk di kursi yang telah tersedia sambil menikmati pemandangan. Ririn merengek seperti anak kecil karena ingin memakan es krim. Ivan tidak mengizinkan Ririn untuk memakan es krim karena tidak baik untuk kesehatan Ririn.


"Nak, lihat Abihmu dia sudah tidak sayang lagi sama kita," ujar Ririn mengelus perutnya yang masih belum membuncit.


"Abih bukan nggak sayang sama kalian. Tetapi Abi tidak mau kalian menjadi kenapa-napa," jelas Ivan yang semakin tak tega melihat raut wajah istrinya yang sedang mengadu kepada malaikat kecil mereka.


"Jangan dengarkan Abih nak, itu sama saja tidak suka istrinya bahagia," ujar Ririn memalingkan wajahnya,


"Mau makan es krim, yayayaya," ucap Ririn meminta seperti layaknya anak kecil.


Mau tak mau Ivan harus membelikan es krim buat Ririn dari pada nanti Ririn menangis dan bikin malu saja di lihatin banyak orang. Mereka semua akan berpikir Ivan seorang suami yang kejam.


"Iya, mari kita beli," ucap Ivan beranjak dari duduknya dan memegang tangan Ririn supaya mereka ke tempat penjual es krim.


Ririn tersenyum bahagia dan mengikuti langkah Ivan.


"Enak?" tanya Ivan memperhatikan raut wajah istrinya yang bahagia.


"Enak sekali, terimakasih sayang," jawab Ririn sambil mencium pipi kanan Ivan.


"Sama-sama sayang," ujar Ivan mencubit pelan hidung mancung Ririn.


Semenjak ke hamilan Ririn. Sikap ketus, cuek, dan tomboynya menjadi hilang sekarang sikapnya lemah lembut, suka bermanja-manja dan terlebih suka sekali di perhatiin.


Mereka berdua pulang karena mungkin sebentar lagi akan sholat magrib dan cuacanya gerimis. Sedari tadi Ririn terus saja memandang di luar kaca. Namun, kali ini permintaan Ririn aneh-aneh saja ia ingin turun dari mobil dan ingin main hujan-hujanan. Kali ini Ivan terpaksa tidak bisa menuruti kemauan Ririn yang bisa membuat kesehatan Ririn terganggu.


Sepanjang perjalanan Ririn terus memanyungkan bibirnya karena kemauannya tidak di turuti oleh sang suami. Ivan berusah membujuknya tetapi hasilnya nihil sikap keras kepala Ririn masih juga belum berubah. Mereka sampai ke rumah dan Ririn langsung mengadu kepada Umik mertuanya.


"Kamu kenapa Nak?" tanya Umik Ivan dengan khawatir.


"Mas Ivan jahat Mik, dia tidak mau menuruti keinginanku," jelas Ririn dengan memalingkan wajah dari tatapan Ivan yang sedang menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Ivan nggak boleh begitu Nak," ujar Umik Ivan menasehati anak tunggalnya.


#Bersambung.


__ADS_2