#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 31 #Kecelakaan


__ADS_3

Ririn hanya terdiam. Ivan mengerti keadaan Istrinya sekarang, jadi dia tidak lagi bertanya. Setelah menenangkan Ririn yang telah terlelap tidur Ivan keluar dari kamar menunju ruang tamu. Umiknya sudah menunggu kedatangan putra sematawayangnya ini sedari tadi.


"Gimana keadaan istrimu. Nak?"


"Dia baik-baik aja Mik. Ivan jadi bingung entah mengapa sifat Ririn bisa berubah menjadi seperti begini. Dikit-dikit nangis minta ini itu." Ivan mengeluh kepada Umiknya dan duduk di samping Umiknya.


"Nggak boleh ngomong seperti itu Nak. Apa kamu tidak sayang dengan istrimu?"


"Astagafurullah. Ivan sayang kok sama Ririn."


"Kalau kamu sayang jadi jangan sesekali ngeluh. Yang kamu rasakan tidak ada bandingannya dengan apa yang di rasakan oleh seorang ibu yang mengandung."


"Iya Mik." Ivan tersenyum hangat kepada wanita yang telah melahirkannya di dunia.


Umiknya tersenyum bahagia karena bisa melihat Putranya tersenyum kembali setelah sekian lama senyuman itu pudar. Umiknya bersyukur atas kehadiran Ririn yang bisa membuat Ivan kembali tersenyum bahagia tanpa paksaan darinya lagi. Umik Ivan tahu bahwa sifat Rifqa dan Ririn sangatlah jauh berbeda tetapi seiring berjalannya waktu sifat buruk Ririn mulai membaik.


"Nak. Bagaimana dengan pekerjaanmu apa baik-baik saja?" Umik Ivan merasa khawatir dengan kedaan putranya yang sekarang menjadi CEO pasti akan banyak wanita yang akan tergila-gila dan mengejar anaknya karena banyak uang.


"Alhamdullilah, baik-baik aja kok Mik."


"Di sana yang banyak karyawan laki-laki atau perempuan?"


"Sama-sama banyak Umik. Kenapa Umik tanyakan soal itu?" Ivan merasa heran dengan pertanyaan Umiknya.


"Umik hanya takut Nak. Pasti di luar sana banyak wanita yang akan tergila-gila padamu. Umik harap kamu jangan pernah mengecawakan Umik dan mengkhianati istrimu," ucapnya dengan lesu.


"Umik tenang saja itu semua tidak bakalan terjadi."


***


Desi sangat bahagia sekali dan tak sabar ingin memiliki Ivan pujaan hatinya. Dia mengajak Angga untuk makan siang sambil merayakan suasana hatinya yang sedang bersorak kemenangan. Desi sudah mempunyai mobil dari hasil kerja kerasnya. Dia mengemudi dengan kecepatan tinggi karena tidak sabar ingin berbagi cerita kepada Angga walaupun dalam lubuk hatinya paling dalam ia ingin sekali bercerita kepada Nita.


Selama perjalanan Desi tersenyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi Ririn yang akan berpisah dengan suaminya dan akan menjadi suami Desi.


"Aaaaaaa!"


Desi teriak sekencang mungkin dan menginjak remnya dengan mendadak hingga mobil menjadi hilang kendali. Semua orang berombongan menghampiri mobil yang sedang menabrak pohon. Mereka melihat ada orang di dalam mobil dan mereka hanya terdiam serta takut untuk menolongnya.


Angga menepikan mobilnya di pinggir jalan karena melihat keramaian. Mungkin kecelakaan. Angga turun dari mobilnya sambil memasangkan kacamata hitamnya supaya menambah ke tampanannya. Angga mulai mendekat dan bertanya pada seseorang yang berlari menuju keramaian itu.


"Mbak di sana ada apa?"


"Di sana ada kecelakaan sebuah mobil mewah dan kata mereka masih ada orang di dalamnya." Kemudian Mbak itu berlalu pergi dan berlari tergopah-gopah.


Dug


Hati Angga menjadi tak karuan setelah melihat warna mobil. Merah, itu 'kan mirip sekali dengan mobil Desi. Angga mempercepat langkahnya sambil berusah menembus keramaian. Terlihat jelas seorang wanita berlumuran darah sedang duduk di bangku pengemudi.


"Tolong bantu saya Pak. Dia teman saya," ujar Angga dengan gemetaran dan berusaha menolong Desi yang sudah tak berdaya.

__ADS_1


Angga mengantar Desi ke rumah sakit supaya dapat menyelamatkan Desi wanita yang sangat di cintainya. Angga berjalan bolak balik tak menentu dan merasa khawatir dengan kedaan Desi. Setelah dua jam berlalu akhirnya seorang Dokter yang menangani Desi keluar dari ruangan. Dokter tersebut mengajak Angga untuk berbincang sebentar di ruangannya mengenai keadaan Desi.


"Apakah anda suaminya?" tanya Dokter dengan antusis dan merasa iba.


Angga terpaksa berbohong jika ia tidak berbohong maka dokter tidak akan memberitahu tentang keadaan Desi sekarang. Angga menanggapinya dengan tersenyum. Dokter mulai menceritakan keadaan Desi yang sangat tragis. Desi akan mengalami kelumpuhan selama beberapa bulan bahkan tahun. Angga terkejut setelah mendengar semua penuturan Dokter serta sedikit memberi nasehat agar Angga selalu tabah menghadapi semuanya.


Setelah keluar dari ruangan Dokter. Angga ingin menghubungi Nita yang setahunya sahabat dekat Desi. Nita langsung ke rumah sakit untuk menemui sahabatnya walaupun berbagai luka telah Desi berikan kepada Nita.


"Tidak." Teriak Desi histeris setelah mengetahui bahwa kedua kakinya tidak bisa di gerakkan sama sekali. Angga berusaha menenangkannya. Desi menangis dengan sejadi-jadinya. Nita membuka pintu dan langsung berlari menghampiri sahabatnya yang lagi dalam keadaan perihatin.


"Kamu tenang Des." Nita memeluk sahabatnya dengan erat sambil menguatkan agar Desi tetap sabar.


Desi membalas pelukan dari Nita. Desi memeluk dengan erat sampai membuat nafas Nita menjadi ngos-ngosan.


"Nita kaki aku!"


***


"Pagi sayang." Ivan mengecup kedua pipi istrinya yang baru saja terbangun. Ririn mengucek kedua matanya sambil menguap.


"Jam berapa sekarang sayang?" Ririn bermanja dengan suaminya.


"Jam enam pagi," ucap Ivan sambil mengikat rambut panjang milik istrinya yang sedang berantakan.


"Ya Allah kenapa Mas tidak membangunkan aku sedari tadi," ujar Ririn sambil memanyungkan bibirnya.


"Sayang. Mas sudah beberapa kali membangunkanmu tapi kamu tidak kunjung bangun dan juga Mas merasa kasihan pasti semalam kamu sangat kelelahan." Ivan duduk berhadapan dengan istirnya lalu menundukkan kepalanya tepat di perut Ririn.


"Iya Abihku tertampan kesayangan Umiku," ujar Ririn dengan meniru suara anak kecil yang sedang bermanja. Ivan terkekeh menanggapi sifat istrinya yang sudah mulai menyunggingkan senyuman. Sungguh pemandangan yang sangat indah di pagi hari.


"Mandi dulu atau makan," ujar Ivan sambil melirik meja nakas yang di atasnya ada sebuah mangkok bubur.


"Mandi," jawab Ririn dengan memalas.


"Kok gituh jawabnya. Semangat dong sayang 'kan ini baru pagi-pagi." Ivan langsung membopong tubuh istrinya menuju kamar mandi.


Setelah melakukan ritual mandi. Ririn duduk di depan cermin sambil melihat setiap inci wajahnya yang makin tembem.


"Sayang," ujar Ririn dengan pelan sambil memegang kedua pipinya dan menatap Ivan melalui pantulan cermin yang sedang sibuk menyisir rambut Ririn.


"Iya kenapa sayang?" tanya Ivan dengan lemah lembut.


"Aku gendut ya?"


Ivan langsung menatap Ririn melalui pantulan cermin. Memang Ririn sekarang menjadi sedikit gemuk karena mungkin efek kehamilan.


"Nggak kok Sayang," jawab Ivan dengan berbohong karena ia tak ingin melihat mood istrinya menjadi hancur.


"Bohong. Jujur aja aku nggak marah sayang?" tanya Ririn berusaha memastikan bahwa memang benar tubuhnya berubah.

__ADS_1


"Memang kamu sedikit gemuk tetapi masih cantik," jelas Ivan sambil mencium pipi tembem Ririn.


"Benaran. Jadi kalau aku sudah tak cantik lagi kamu nggak suka?"


"Bukan gituh sayang. Biarpun kamu gemuk atau bagaimana aku akan tetap cinta dan sayang sama kamu."


"Modus. Kamu doain aku gemuk yah." Ririn membuang maka dan sesekali melirik Ivan yang berada di hadapannya.


'Ya Allah salah lagi,' gumam Ivan dalam hatinya.


Ririn tertawa geli melihat ekspresi suaminya.


"Kenapa tertawa apa ada yang aneh?" Ivan bingung karena Ririn tiba-tiba saja tertawa.


"Kamu gemesin deh." Ririn mengacak rambut Ivan yang telah rapi.


Ivan tersenyum menampakan deretan giginya yang putih serta gingsulnya yang menambah aurah ketampanannya makin meningkat.


"Makan sayang. Biar Mas yang suapin," ujar Ivan menyodorkan satu suapan.


Ririn tersenyum dan membuka mulutnya supaya bisa menerima suapan dari suaminya tercinta.


"Aku cinta dan sayang sama kamu Sayang," ujar Ivan berbisik di telinga Ririn.


"Aku juga cinta dan sayang kamu." Ririn mengunyah makanan dalam mulutnya serta mencium pipi suaminya.


Semoga kita bisa menjadi keluarga yang harmonis dan di penuhi kasihsayang serta cinta yang tiada tara.


***


Desi menangis dan terus menangis hingga ia terlelap dalam dekapan Nita. Angga membantu Nita supaya membaringkan Desi agar ia bisa tidur nyenyak.


"Kenapa ini bisa terjadi Angga?" Nita tidak lagi menyebut dengan sebutan Pak Angga selagi berada di luar pekerjaan.


"Aku tidak mengetahuinya. Desi mengajakku untuk makan siang bahkan aku pun heran bukannya kamu mengetahui semuanya dari pada aku?" Angga menatap Desi yang sedang berbaring di atas ranjang dan mengenakan pakaian pasien.


"Dulu ia. Hampir semua aku mengetahuinya tetapi sekarang tidak lagi," jelas Nita sambil menyeka ujung matanya yang mulai mengeluarkan air mata.


"Kenapa?" Angga menoleh menatap wajah Nita dengan penuh pertanyaan.


"Aku dan Desi sudah tidak seakrab dulu semenjak ia jatuh cinta kepada Pak Ivan."


Deg entah kenapa terasa nyerih di lubuk hati Angga setelah mendengar penuturan Nita barusan.


"Angga kamu pasti mengetahui kalau Pak Ivan itu sudah mempunyai istri. Jadi aku takut jika Desi kembali terpuruk seperti masa lalunya."


'Des mengapa kamu tidak pernah peka dengan perasaanku.' Angga membatin dalam hatinya.


"Iya Nit aku mengetahuinya. Kamu juga mengetahui 'kan bahwa aku sangat mencintai Desi." Jelas Angga berusaha menahan buliran air matanya.

__ADS_1


#Bersambung.


__ADS_2