#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 8 #isi kotak


__ADS_3

"Yaampun, bagaiman ini apakah aku harus memakai ini atau bagaimana?" Ketus Ririn dengan mengeluarkan satu persatu isi kotak.


"Karena ini janjiku maka aku akan memakainnya." Jawab Ririn dengan tegas, dan akan memenuhi janji yang telah ia ucapkan kemarin malam, mengikuti sepuluh keinginanya dan ini keinginan pertamanya entah apalagi keinginan lainnya.


Dikantor Ivan sibuk didepan layar laptoopnya, jari jemari Ivan sangat lincah mengetik dipapan keyboard. Tiba-tiba Ivan berhenti mengetik, Ivan teringat dengan bayang-bayangan sang kekasih pujaan hati yang telah lama pergi kealam sana.


Rifqa meninggalkan kenangan yang sangat membuat Ivan sulit untuk melupakannya walaupun banyak cara uang ia lakukan, hingga ia mencoba mencintai sang istri tetapi hasilnya nihil, perasaan Ivan tidak bisa berpaling.


Detik-detik kepergian Rifqa.


"Kakak Ivan, kalau seandainnya Ririn pergi apakah," ucap Rifqa dengan pelan tetapi Ivan masih bisa mendengarnya,


"Bicara apa kamu Rif." Ucap Ivan melirik Rifqa.


"Nggak bicara apa-apa Kak." Ucap Rifqa, masih dengan menggunakan nada pelan. Rifqa mempunyai sifat lemah lembut dan perhatian.


"Kakak," Ucap Rifqa melirik wajah tampan Ivan.


"Mmm," balas Ivan sambil membalas lirikan dari Rifqa.


"Cuek amat sih kak." Ucap Rifqa mengalihkan pandangannya dari wajah Ivan.


"Maaf, maaf, Kak nggak sengaja." Jawab Ivan dengan sedikit rasa bersalah.


"Kakak kenapa?" tanya Rifqa dengan sedikit cemas.


"Entah kenapa yah Rif, belakangan ini perasaan kakak nggak enak." Ucap Ivan. Ivan belakangan ini sering merasa cemas dan khawatir hingga membuat perasaannya menjadi sedikit tidak enak.


"Enakin aja Kak." ucap Rifqa.


Ivan dan Rifqa hanya bercerita singkat karena Rifqa tidak mempunyai banyak waktu.


"Kak Aku pergi dulu yah." Ucap Ririn dengan pelan.


"Ia, kamu hati-hati." Jawab Ivan.

__ADS_1


Rumah Rifqa dengan taman sangat dekat, saat Rifqa menyebrang tiba-tiba, Ririn ditabrak oleh sebuah mobil berwarna merha.


"Rifqa,,,,, awas!" Ivan berteriak sekencang mungkin dan berlari menghampiri Rifqa yang telah bermandikan darah.


Mobil yang menabrak Rifqa tidak berhenti, mobil tersebut langsung melaju dengan sekencang mungkin.


"Rifqa!" Teriak Ivan dengan membopong tubuh mungil milik Rifqa. Semua pakaian Ivan penuh dengan darah Rifqa yang keluar dari hidung dan telinga milik sang kekasih.


Beberapa warga mengabari kepada orang tua Rifqa bahwa anaknya kecelakaannya. Iqbal adeknya Rifqa segera menghubungi ambulan untuk membawa Rifqa kerumah sakit dan menyelamatkan Rifqa untuk tetap bertahan tetapi Tuhan berkehendak lain.


Tanpa sadar air mata keluar dari manik milik Ivan karena mengingat kejadian yang sangat pahit. Ivan tersadar dari lamuannya karena seorang karyawan mengetuk pintu untuk masuk. Dengan cepat Ivan menghapus tetesan yang menggantung di netranya.


"Ia silahkan masuk." Ucap Ivan sedit berteriak agar seseorang itu dapat mendengarnya.


"Maaf, Pak." Ucap karyawan tersebut sambil duduk dihadapan meja kerja Ivan.


"Ia ada apa?" Tanya Ivan.


"Begini Pak, Bapak akan pergi miting diluar kota selama seminggu. Apakah Bapak setuju?" tanya Karyawan tersebut, setelah menyerahkan berkas-berkas penting kepada Ivan.


"Dua hari lagi, Pak." Jawab Karyawan tersebut.


Ivan hanya menjawab 'oh' saja.


"Kalau begitu, saya permisi dulu pak." Ucap karyawan tersebut dan beranjak berdiri dari tempat duduknya untuk keluar dari ruangan CEO.


Hari ini sangat melelahkan bagi Ivan karena hari ini semua memori masa lalu Ivan terbayang-bayang, membuat pikirannya kemana-mana.


Ivan langsung masuk kerumah dan menuju kekamar yang berada dilantai atas tanpa menanyakan lagi soal Ririn yang sedang menjalankan janjinya untuk memenuhi keinginanya. Ivan membersihkan dirinya kekamar mandi dan setelah itu Ivan membaringkan dirinya diranjang, karena lelah Ivan tidak sadar bahwa dirinya sedang tidur diatas ranajang.


Ririn masuk kedalam kamarnya, dengan mengenakan pakaian yanh telah diberikan oleh Ivan, memakai baju gamis dan khimar.


Mata Ririn sedikit melotot karena mendapat Ivan yang sedang berbaring diatas ranjang.


"Apa-apaan ini!" Jawab Ririn dengan ketus dan menghampiri Ivan diatas ranjang yang tengah terlelep tidur.

__ADS_1


"Bangun woi,,, bangun!" Ririn sedikit berteriak dan mengguncang sedikit tubuh Ivan.


"Mmmm,,," guram Ivan dengan pelan, dengan nada suara yang begitu nampak bahwa Ivan sangat kelelahan.


Ririn heran karena baru pertama kali ia melihat Ivan merasa kelelahan setelah beberapa bulan menikah.


Tubuh Ivan sedikit mengigil kedinginan.


"Tolong matiin ACnya." Ucap Ivan dengan nada pelan.


"Apa loh nyuruh-nyuruh gue, mang gue budak loh." Jawab Ririn dengan ketus dan meninggalkan Ivan yang sedang kedinginan.


Ririn pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah beberapa menit berada dikamar mandi Ririn keluar dan kembali menghampiri Ivan yang sedang tertidur.


Ririn melihat keadaan Ivan menjadi kasihan karena Ivan mengigil kedinginan, segera Ririn mematikan Ac yang ada dikamar dan membetulkan selimut Ivan.


"Rif,,," guram Ivan pelan,


"Rif,,,,,siapa dia?" Gumam Ririn dalam hatinya.


Entah berapa kali Ivan menyebutkan nama Rif yang artinya Rifqa.


Tubuh Ivan masih mengigil walaupun ia diselimuti dengan selimut yang sangat tebal. Ririn mengambil selimut tebal di lemari dan menyelimuti tubuh Ivan, tubuh Ivan telah diselimuti oleh dua selimut yang sangat tebal, tetapi tubuhnya masih saja mengigil.


Ririn menyentuh dahi Ivan, dahi Ivan terasa sangat panas membuat Ririn menjadi cemas.


"Apakah dia demam." Guram Ririn


"Bi,,,tolong ambilkan kompres dan bawakan kesini." Teriak Ririn yang sedang berada dalam kamar.


Ririn menjadi khawatir dan mengambil minyak kayu putih dilaci dan mengoleskannya ditangan dan kaki Ivan yang terasa sangat dingin, seluruh badan Ivan terasa dingin kecuali dahinya yang terasa sangat panas.


#Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2