#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 21 #Desi


__ADS_3

Nita temannya Desi membuyurkan khayalannya,


"Desi, kau sudah ditunggu-tunggu sedari tadi!"


"Iya-iya," jawab Desi tersenyum-senyum sendiri.


"Kau kenapa senyum-senyum sendiri," ucap Nita dengan suara lantang dan keras karena loga bahasanya.


"Nit, tau nggak hatiku pada saat ini sedang berbunga-bunga," ujar Desi dengan senyuman yang masih belum memudar dari bibirnya serta mengumpulkan dokumen penting untuk meeting siang ini.


"Maksud ko, apa? Ndak ngerti aku," ucap Nita kebingungan dengan sikap teman kantornya dan sekalian sahabatnya.


"Nanti ku jelaskan, sekarang yuk kita pergi keruangannya," ujar Desi menggandeng tangannya Nita.


"Ini nih, yang paling ku benci dari sifat ko, selalu bikin aku penasaran saja," ujar Nita sambil mengikuti langkah Desi.


"Biarin, memang dasarnya kamu aja yang terlalu kepo," jawab Desi.


Mereka berdua telah sampai di depan pintu ruang rampat itu tetapi Desi mencegah Nita agar tidak memutar knop pintu dulu,


"Nit, apa aku sudah rapi?"


"Kau sudah rapi dari dulu bahkan sejak lahir pun," jawab Nita sambil memutar knop pintu tetapi Desi mencegahnya,


"Tunggu dulu, apa aku sudah cantik?"


"Ya Allah hari ini kamu kerasukan apa Desi Amalia, kenapa sikapmu menjengkelkan sekali," ujar Nita serta langsung memutar knop pintu.


Di dalam sana sudah ada CEO dan karyawan menunggu mereka, Desi merasa malu karena baru kali ini ia terlambat.


"Maaf Pak, saya terlambat," ujar Desi yang langsung duduk ditempatnya tepat berhadapan dengan Ivan.


" langsung saja, Saya ucapkan terimakasih banyak atas kerjasama kita selama ini untuk membangun perusahaan ini," ujar Pak Hardi,


Pak Hardi adalah CEO lama di perusahaan ini, tetapi kalau di tanya tentang usianya, dia sudah tidak muda lagi bahkan keriput sudah mulai nampak dari wajahnya.


"Saya sebagai seorang CEO lama ingin memperkenalkan kepada kalian CEO baru di perusahaan kita ini," lanjut Pak Hardi mempersilahkan untuk Ivan memeperkenalkan diri.


"Nama Saya Ivan, saya harap kita semua dapat menjalin kerjasama yang baik untuk kedepannya," ujar Ivan dengan singkat tetapi sangat jelas.


Sedari Desi selalu mencuri-curi pandangan Ivan yang sedang memperkenalkan dirinya.


"Ya Allah, sempurnah sekali ciptaanmu ini," gumam Desi dalam hatinya.


Meetingpun akhirnya sudah selesai dan mereka semua saling berjabat tangan serta mengucapkan kepada Ivan selamat.


Sekarang giliran Desi dan Nita menjabat tangannya Ivan. Desi yang duluan tetapi pada saat desi mengulurkan tangannya dan mengucapkan selamat, Ivan hanya tersenyum saja tanpa membalas uluran tangan Desi,

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf dan terimakasih atas ucapannya."


Nita pun hanya mengucapkan kata selamat tanpa lagi mengulurkan tangannya.


Mereka berdua keluar dari ruangan secara bersamaan dan Nita menertawai sahabatnya,


"Yaampun Desi, baru kali ini ada cowok yang menolak untuk memegang tanganmu yang mulus ini."


Memang bebar banyak lelaki yang tergila-gila dengan Desi yang berparas canti serta sexy, bahkan Pak Hardi CEO lama di perusahaan ini sempat tergila-gila oleh parasnya.


"Ngomong apa kamu nggak jelas amat!" ujar Desi ketus dan mendahulukan Nita yang tertinggal di belakang.


 


Setelah selesai meeting Ivan langsung keruangannya, ruang seorang CEO. Dia mengambil gawai milimnya dari saku dan melihat apakah Ririn sudah membalas pesannya atau masih belum.


Terlihat dua garis centang berwarna biru menandakan bahwa pesan sudah terbaca dan anehnya tidak ada balasan sama sekali.


"Sombong sekali dia, tidak mau membalas pesan dariku," gumam Ivan dalam hatinya.


Sekarang jam pulang kantor, semua karyawan pulang tetapi berbeda dengan wanita yang satu ini dia masih menunggu di parkir, entah siapa yang ia tunggu Ivan pun tak tau.


Ivan masuk kedalam mobilnya tetapi tiba\-tiba seseorang mengetuk kaca mobinya. Kemudian Ivan menurunkan kaca mobilnya dan terlihat sosok wanita yang bernama Desi.


"Maaf, Pak bolehkah saya ikut menumpang di mobil Bapak?" ujar Desi dengan percaya diri kalau ajakannya tidak akan ditolak.


"Ialah Pak, nggak apa\-apa," ujar Desi dengan lesuh serta emosi karena baru pertama ini ajakan untuk barang dengan laki\-laki di tolak mentah\-mentah.


Ivan kembali menaikan kaca mobilnya serta berlalu pergi meninggalkan halaman perusahaannya karena hatinya tak sabar bertemu dengan kebo yang ganas.


"Assalamualaikum." Ivan mengucapkan salam di ambang pintu karena ia sengaja membawa kunci apartemen agar tidak menyusahkan Ririn untuk membuka pintu.


Tidak ada sahutan dari dalam. Ivan langsung masuk menuju dapur serta kamar tetapi sosok yang dicarinya tidak ada,


"Dimana dia? Bikin pusing saja istriku ini."


Ivan kembali keruang tamu dan segera mengambil benda pipih dari sakunya. Mencoba menghubungi nomor Ririn. Gawai Ririn berdering di atas meja karena mungkin ia lupa membawanya atau ia sengaja meninggalkannya.


"Kamu apain ponselku," ujar Ririn mengambil poselnya dari tangan Ivan.


Tentunya Ivan terkejut karena Ririn langsung berdiri disampingnya,


"Astagfiruloh halazim." Dengan ekspresi terkejut.


"Nggak usah gitu kali mukanya seperti lihat hantu saja."


"Kalau masuk kerumah itu usahan ucapkan salam terlebih dahulu," jelas Ivan dengan lembut.

__ADS_1


"Iya\-iya, assalamualaikum," ucap Ririn sambil duduk.


"Waalaikumsalam, sekali lagi ingat sebelum masuk kerumah orang ataupun rumah sendiri terlabih dahulu ucapkan salam," jelas Ivan kembali mengulang ucapannya,


"Dari mana saja kamu?" tanya Ivan yang duduk disampingnya.


"Tau nggak penghuni apartemen sebelah itu," ucap Ririn dan segera dipotong oleh Ivan.


"Nggaklah," potong Ivan dengan santai.


"Aku masih belum selesai bicara kamu malah main motong\-motong sembarangan," ujar Ririn dengan muka cemberut.


"Memangnya penghuni apartemen sebelah siapa?" tanya Ivan dengan lembut.


"Istrinya temanku pada saat SMP dulu," jawab Ririn di iringi dengan senyuman.


"Oh, baru tahu ternyata kamu punya teman juga," ujar Ivan dengan pelan.


"Maksud kamu bilang itu apa!" tanya Ririn sedikit meninggikan suaranya.


"Nggak bermaksud apa\-apa, tetapi salut saja ternyata masih ada orang yang mau berteman denganmu selain aku," ujar Ivan panjang lebar sambil menahan ketawanya karena melihat ekspersi sang istri yang memanyungkan bibirnya.


"Kamu kira aku nggak bisa berteman, jangankan teman, geng aja bisa ku buat," ujar Ririn dengan ketus karena mulai emosi.


"Tambah salut deh gue dengan kamu," ucapnya sambil menepuk tangan,


"Kalau pacar juga gimana?" lanjut Ivan yang makin penasaran dengan masa lalu Ririn.


"Nggak usah di bahas," jawab Ririn yang terlihat tidak suka membahas tentang pacar.


"Jadi dulu kamu nggak punya pacar ya?" tanya Ivan yang mulai menjahili Ririn.


"Punyalah," jawab Ririn dengan ketus.


"Oh, masih pacaran sampai sekarang?" tanya Ivan walaupun ada sedikit rasa perih di hatinya menanyakan tentang kekasih istrinya.


"Sudah ku bilang jangan dibahas aku nggak suka," jawab Ririn dengan ketus lagi,


"dari pada bahas itu mendingan kita makan aja," lanjutnya menarik tangan Ivan menuju dapur.


"Memangnya kamu sudah masak?" tanya Ivan ketika melihat banyak makanan diatas meja.


"Bukan, tetapi ini yang ku pesan," jawab Ririn sedikit ragu\-ragu dan menunduk karena sedikit ada rasa malu akibat tidak bisa memasak.


"Kenapa lagi Rin, kok mukanya ditekuk gituh?" tanya Ivan sambil menyodorkan satu suapan dari tangannya kemulut Ririn.


#Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2