
Di sebuah ruangan yang didominasi berwarna putih polos hanya terdengar suara monitor yang mendeteksi denyut jantung di setiap waktunya. Seorang pasien yang terbaring lemah setelah mendapatkan suntikan obat bius dan beberapa petugas yang akan mengoperasi. Tampaknya dokter yang menangani operasi tersebut adalah dokter bedah lulusan terbaik di Universitas Harvard yaitu Universitas swasta di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.
Dengan mengenakan baju OK (Operatie Kamer), dilengkapi dengan masker beserta alat-alat yang pastinya sudah steril dari bakteri. Lampu operasi menyorot ke arah bagian tubuh pasien yang akan dioperasi.
"Mari kita mulai sekarang," ujar seorang dokter dengan kedua tangan terangkat ke udara, memberitahu kepada tim medis yang bertugas.
Suasana sunyi. Hanya terdengar suara monitor yang berbunyi.
"Pinset." Dengan sigap tim medis bagian perawat langsung mengambil alat tersebut. Semuanya tampak cekatan. Tidak ada namanya acara-acara loading lama atau terbengong.
"Gunting."
"Kasa. Perhatian diseksi!"
"Tekanan darah 127, 87," spontan perawat langsung menjawab.
"Detak jantung 78. Semuanya baik-baik saja."
Operasi yang berjalan sekitar 2 jam-an itu berjalan dengan lancar. Tampaknya dokter yang bertugas benar-benar menguasi ruang operasi dengan segala tindakannya. Setelah membersihkan tangan dan merapikan diri, pria itu berniat untuk kembali ke ruangannya untuk memeriksa beberapa dokumen.
"Dokter." Seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan yang sama dengannya tampak berjalan cepat untuk mengejar ketertinggalannya.
"Ada masalah?" Pria tersebut membalikkan badannya menatap ruang operasi yang tertutup. Sebentar lagi pasien yang baru selesai dioperasi akan dibawa ke ruang pemulihan untuk memantau perkembangan kesehatannya.
Sang perawat menggelengkan kepala seraya menyengir. "Operasinya berhasil. Tidak ada masalah lebih lanjut selain memantau perkembangannya. Dokter mau ke mana?"
"Saya mau kembali ke ruangan untuk memeriksa beberapa dokumen."
"Baiklah. Saya tidak akan menganggu. Kalau begitu saya permisi, Dok," pamit perawat tadi. Sebelum pergi dia sempat menundukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda hormat kepada atasannya.
Pria itu hanya mengangguk kecil, tidak terlalu menanggapi perkataan wanita tadi. Kakinya melangkah menuju ruangannya yang kebetulan berada satu lantai dengan ruang operasi. Sepanjang perjalanan, hampir semua orang menyapanya sopan. Tentu sapaan itu dia balas dengan anggukan kepala, bibirnya melengkung tipis.
"Hahh ... akhirnya!" Helaan napasnya terdengar begitu bobot tubuhnya jatuh di atas kursi kebesarannya. Di atas mejanya terdapat barang-barang penting seperti komputer, laptop, dan beberapa berkas penting.
Matanya terpejam sejenak. Sekitar 5 menit kemudian tubuhnya langsung duduk tegak menghadap meja. Dia meraih sebuah map berisi berkas tentang riwayat penyakit pasiennya. Saat sedang serius seperti itu dia terlihat sangat menawan. Bibirnya tipis membentuk garis horizontal, alis tebal hitam, hidung mancung bak perosotan serta tatapan mata yang tajam.
Karena saking fokusnya terhadap pekerjaan, pria itu bahkan hampir melupakan jam makan siang jika tidak didatangi oleh rekan kerjanya.
"Waktunya makan siang, bro," tegur Bima, rekan kerja yang juga menjabat sebagai sahabatnya.
Zafri, pria yang duduk di kursinya itu hanya berdeham singkat kemudian menutup map berwarna abu-abu. Tubuhnya bangkit berdiri sambil menyambar jas putih kebesaran yang tersampir di bahu kursi lalu memakainya. Kaki panjangnya melangkah lebar menuju pintu di mana Bima menyembulkan sedikit kepalanya.
"Ck ck ck! Kau ini suka sekali bekerja." Bima berdecak pelan menatap Zafri yang berjalan menuju dirinya.
__ADS_1
"Dilarang berkomentar!" balas Zafri ketus. Pria itu mendorong bahu Bima yang menghalangi jalan keluarnya.
Kedua pria itu bergegas menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perut mereka yang sudah meronta-ronta karena kelaparan. Jam makan siang mereka habiskan untuk mengobrol ringan. Setelah jamnya habis mereka pun kembali bekerja seperti hari biasanya.
Sekarang Zafri sudah bersiap-siap untuk berkeliling di bangsal untuk memeriksa pasiennya. Pria itu menyapa ramah pasien sebelum memeriksa kondisinya.
"Kapan saya boleh pulang, Dok?" tanya seorang pria paruh baya yang terbaring di ranjang pasien.
Zafri melingkarkan stetoskop di lehernya. Pria itu tersenyum tipis menatap pasiennya yang terlihat antusias sekali menanyakan kepulangannya. "Bapak sudah boleh pulang setelah kondisinya cukup membaik."
"Saya merasa sudah cukup sehat, Dok. Berkat Dokter, saya jadi semakin bersemangat untuk sembuh," ucap pasiennya.
"Tunggu sebentar lagi, ya, Pak. Sekarang kondisi Bapak masih dalam tahap pemulihan. Jangan terlalu dipaksakan karena itu tidak baik untuk kesehatan."
Pasiennya yang seumuran dengan orang tuanya itu tertunduk lesu. Lagi pula siapa yang tahan bermalam di ruangan serba putih itu dan berubah obat-obatan, kecuali orang yang memiliki penyakit cukup parah yang mengharuskannya untuk selalu berada dalam pantauan tim medis.
"Baiklah, Dok. Saya akan bersabar menunggu."
"Kalau begitu saya pamit undur diri. Selamat istirahat," pamit Zafri melangkah pergi.
Zafri bergegas turun ke lantai dasar untuk memantau kondisi di sana untuk membantu tim medis lainnya. Posisinya sebagai dokter bedah umum membuat Zafri turut andil jika ada pasien gawat darurat di ruang IGD.
"Siang, Dok," sapa petugas rumah sakit yang berpapasan dengannya.
"Siang." Zafri menganggukkan kepalanya.
"Tahan." Zafri memberi peringatan pertama ketika akan membersihkan luka di kaki pasiennya.
"Aarghhh!! Sakit, Dokter!!" pekik laki-laki itu menjerit saat Zafri membalut lukanya menggunakan perban.
Zafri hanya diam tetap fokus. Maklum pasiennya berteriak kesakitan karena perbannya diberi obat yang otomatis menyentuh luka menganga itu.
"Selesai!" Zafri menjauhkan dirinya, menyerahkan pasien yang sudah dia obati kepada perawat.
Waktu terus berjalan, entah sudah berapa pasien darurat yang Zafri tangani. Sekarang kondisinya sudah tidak seramai tadi. Zafri langsung kembali ke ruangannya karena sebentar lagi jam kerjanya sudah habis.
Saat baru memegang handle pintu, tiba-tiba seorang perawat datang tergopoh-gopoh menghampirinya membuat Zafri mengurungkan niat untuk masuk ke dalam.
"Kenapa, Suster?" tanya Zafri dengan alis berkerut.
"Maaf, Dok. Dokter Ilham ada kepentingan di luar, jadi beliau meminta agar Dokter Zafri mengambil alih untuk menangani pasiennya," jawab perawat tersebut ringkas. Raut wajahnya terlihat cemas.
Perawat itu juga memberikan sebuah berkas kepada Zafri yang langsung dibaca oleh pria itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama karena Zafri tidak membacanya keseluruhannya, dia hanya membaca bagian intinya saja.
__ADS_1
"Baiklah. Saya sarankan agar pasien dibawa langsung ke ruangan saya. Saya akan ke dalam untuk menyiapkan keperluannya," titah pria itu bijak.
"Baik, Dok. Permisi." Perempuan yang berprofesi sebagai perawat itu langsung berlari menjauh. Begitu juga dengan Zafri bergegas masuk ke dalam ruangannya. Dia menyiapkan peralatan untuk menangani pasien yang seharusnya itu ditangani oleh Dokter Ilham.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aaaaa sakit, Dok!!! Pelan-pelan dong!"
"Dokter!! Pelan-pelan saya bilang. Sakit tau ...."
"Aaakkhhh udah, Dok. Saya gak mau, mending disuntik bius aja dari pada gini kan sakit."
"Ck! Berisik sekali kamu." Zafri berdecak kesal karena gendang telinganya terasa mau pecah mendengar jeritan dan teriakan pasien yang seharusnya ditangani oleh Dokter Ilham yaitu seniornya.
"Suster, tolong pegang tangannya!"
"Baik, Dok."
"Sakit, Sus. Sakit banget. Kenapa gak disuntik bius aja sih?!" Wanita yang tengah berbaring di brankar ruangan Zafri meringis kesakitan dan mengeluh terus-menerus.
"Maaf, Nona. Sebenarnya Nona tidak perlu disuntik bius karena lukanya tidak terlalu parah." Perawat yang menemani Zafri mencoba untuk menjelaskan agar pasiennya tenang. Namun, bukannya tenang eh malah ngereog.
"Suster, tolong ambil perbannya," pinta Zafri setelah berhasil mencabut serpihan kaca yang menancap di telapak kaki pasiennya. Cukup dalam, membuat prosesnya memakan waktu yang cukup lama.
Perawat tadi melepaskan pegangannya pada tubuh pasiennya lalu berjalan mengambil gulungan perban. Sementara Zafri kini membersihkan darah yang mengalir dari telapak kaki pasiennya.
"Jangan berteriak. Kacanya sudah saya cabut," tukas Zafri mencoba menenangkan wanita yang tengah menangis di hadapannya.
"Benarkah?" Zafri menganggukkan kepala. "Tapi, masih sakit, Dok."
"Tidak apa, itu wajar karena kacanya menancap lumayan dalam. Kalau boleh tau, kenapa ini bisa terjadi?"
Zafri mencoba untuk mengalihkan perhatian pasiennya saat dirinya kembali mengobati luka itu. Memberinya obat lalu melilitkan perban agar bakteri maupun tidak masuk yang bisa berakibat infeksi.
"Kepo banget sih, Dok!" sentak wanita itu membuat Zafri hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Selesai," seru Zafri menjauhkan diri sambil menyimpan beberapa peralatan ke wadah stainless.
Pergerakan Zafri tidak lepas dari pantauan wanita yang sudah terduduk di atas brankar dengan sebelah kakinya terbalut perban putih di bagian telapak kakinya.
"Kamu sudah boleh pergi," ujar Zafri kepada wanita itu tanpa menatapnya.
"What?! Dokter gilaa, ya! Gimana saya mau pergi, kaki saya masih sakit, Dok!"
__ADS_1
Mendengar penuturan wanita itu, Zafri hanya bisa terkekeh pelan. Seolah tersadar, Zafri kembali memasang wajah datarnya.
Bersambung...