
Setelah adanya acara konferensi pers yang dibuat oleh Zafri, masalah yang tengah panas-panasnya itu mereda. Tidak banyak awak media yang mencibir, menggunjiing, dan bahkan menceelaa. Dan banyaknya yang mendukung dan berharap agar keduanya segera melangsungkan pernikahan. Tidak jauh dari itu, seseorang yang menjadi dalang dari perbuatan tersebut tampak marah besar. Ia melontarkan barang-barang yang ada di atas mejanya. Sudah tiga hari ini ia tampak memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan Melody.
"Bos, apa setidaknya anda menyerah saja. Ini tidak akan mungkin berhasil." ucap anak buahnya.
Brakkk!!
Suara gebrakan meja membuat seluruh anak buahnya terjanjat kaget.
"Kau mau mati sekarang!!??"
"T- tidak bos." ucapnya terbata karena ketakutan.
"Huhhh!! Mungkin ini satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkannya. Kalian harus membantuku."
"Siap, bos." jawab mereka serentak.
"Siaallll!! Kenapa harus dia yang mendapatkan Melody." otot-otot tangannya tercetak jelas bermunculan di permukaan kulitnya. Kuku-kuku tangannya memutih lantaran mencengkram erat tangan kursi.
"Kita akan gunakan rencana cadangan. Mulailah bergerak besok malam. Terus berkomunikasi, awas jangan sampai ada yang berhianat. Tetap awasi pergerakan mereka."
"Baik, bos."
"Kalian tau kan jika ada yang sampai berhianat denganku?" seringaian di wajahnya jelas terlihat. Membuat semua anak buahnya bergidik ngeri sambil memandang sebuah tali berbentuk bulat yang tergantung di udara. Mereka membayangkan kepala mereka yang berada di sana dan tubuh mereka yang tergeletak di atas tanah penuh lumuran darah.
"K-kami t-idak aka-an berhi-anat b-bos."
"Bagus. Tetaplah setia denganku. Maka, kalian semua akan aman dan selamat."
.
.
.
Situasi di ruang tamu sangat menegangkan. Seorang wanita paruh baya dengan ekspresi kesal dan marah lalu seorang pria yang tampak berdiam diri bak anak buah yang sedang mendengarkan perintah atasannya. Lalu ada wanita muda yang duduk di sofa tanpa menunjukkan ekspresinya.
"Intinya Mama tidak mau tau, kalian harus menikah secepatnya." tekan wanita paruh baya itu mendapat helaan nafas panjang dari putrinya.
Melody menatap malas ibunya. Lalu pandangannya berpindah pada pria yang sebaya dengannya. "Bukannya Mama sudah tau kalau aku sudah dilamar oleh pria lain, bukan Andi!" balas Melody.
"Mama tidak mau tau. Putuskan hubungan kalian secepatnya. Atau--"
__ADS_1
"Atau apa? Mama akan melakukan sesuatu kepadanya?" potong Melody cepat.
"Mama tidak akan mengganggunya jika kau dengannya tidak menjalin hubungan."
Melody terdiam. Seketika pikirannya langsung teringat pada masalah mereka yang sudah mereda. "Maksudnya, Mama yang membuat berita itu?" tanya Melody penasaran.
"Kalau bukan Mama siapa lagi yang akan melakukan cara agar memisahkan kalian berdua. Dia hanya orang asing, menurutlah sekali-sekali dengan Mama."
Melody menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya yang menurutnya sangat di luar batas.
Melody berdiri, bersiap untuk meninggalkan kediaman ibunya.
"Mau kemana kamu?" tanya Ana, ibu Melody.
"Tidak ada alasan lagi bagiku untuk menetap di penjara kejam ini."
"Maksud kamu apa!?" Ana meninggikan suaranya disusul dengan dirinya ikut berdiri.
"Apa lagi memangnya!!?" balas Melody tak kalah meninggikan suaranya. "Apa Mama tidak puas dengan semuanya? Dari dulu aku selalu menuruti apa keinginan Mama. Aku sempat berhenti berkarir di bidangku. Mama melarangku melakukan ini dan itu. Sebenarnya apa yang Mama mau? Mama mau melihatku mati? Iyaa!? Mama senang melihatku menderita? Mama senang melihatku tersenyum palsu di depan publik? Mau Mama itu apa!!!" teriak Melody mengeluarkan uneg-unegnya. Selepas berkata, Melody langsung beranjak pergi. Sedangkan ibunya, Ana sudah berteriak-teriak memanggilnya, namun, Melody tidak menggubris sama sekali panggilan itu.
"MELODY!! MELODY!!! KAMU AKAN MENYESAL!" teriak Ana dengan lantang. Ia menarik nafasnya panjang lalu menghempas tubuhnya ke sofa dengan kasar.
Sedangkan Andi yang berada di ruangan yang sama hanya bisa terdiam menyaksikan pertengkaran ibu dan anak tersebut. Ini bukanlah pertengkaran pertama kali yang ia lihat. Melainkan sudah ribuan kali. Sebenarnya Andi juga cukup kasihan dengan Melody. Namun, apalah daya. Ia tidak cukup kuat untuk melawan Ana.
"Kalian harus menikah apapun yang terjadi. Apa kau mendengarku, Andi?"
Andi memejamkan matanya sejenak. "Iya, Tante." jawabnya.
"Bagus. Tante tidak mau tau, kalian harus menikah secepatnya. Bila perlu, bawa Melody jauh-jauh dari sini."
"Baik, Tante." bagai kerbau dicolok hidungnya, Andi hanya bisa mengatakan kata "iya".
"Ajaklah Melody ke butik untuk fitting baju. Jangan katakan padanya kalau itu persiapan kalian untuk menikah nanti."
"Ah ya, jangan lupakan cincinnya. Pergilah ke toko langganan Tante."
"Iya, Tante."
.
.
__ADS_1
.
Melody berlari menyusuri koridor rumah sakit. Ia tidak perduli lagi dengan penampilannya saat ini. Karena publik sudah tau hubungannya dengan Zafri, wanita itu pun tidak perlu susah payah menutupi wajahnya. Namun, kali ini ia datang dengan mengenakan kacamata hitam untuk menyamarkan matanya yang sudah bengkak lantaran menangis.
"Maaf, Nona. Dr. Zafri masih ada di ruang operasi." beritahu seorang perawat wanita kala Melody menanyakan keberadaan kekasihnya.
"Berapa lama?" tanya Melody.
"Tergantung, Nona. Bisa 1 atau 2 jam lagi."
"Antar aku ke depan ruang operasinya."
"Baik, silahkan ikuti saya, Nona." perawat wanita itu menuntun Melody menuju depan ruang operasi yang mana Zafri yang menangani operasi tersebut.
Melody duduk di kursi tunggu berdekatan dengan keluarga pasien yang dioperasi. Benar saja, 2 jam kemudian operasi baru selesai. Keluarlah orang yang pertama yaitu perawat dan dokter yang membantu.
Pandangan mata Melody tidak lepas dari arah pintu. Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Keluarlah Zafri dengan mengenakan baju operasinya lengkap dengan maskernya, sementara sarung tangan operasinya sudah dilepas.
Zafri yang baru keluar dari ruang operasi dibuat terkejut dengan kedatangan Melody. Ia menoleh ke sampingnya dimana dua perawat berdiri di sana.
"Terus pantau kondisinya. Jika ada hal yang janggal, segera hubungi saya."
"Baik, Dok." jawab keduanya.
Zafri menganggukkan kepalanya. Ia berjalan menuju Melody sembari melepas maskernya.
"Sudah lama?" tanya Zafri sambil menatap wajah Melody. Wanita itu masih mengenakan kacamatanya sehingga Zafri tidak bisa melihat kondisi kedua matanya saat ini.
Melody hanya menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Zafri melihat Melody lekat, awalnya ia tidak curiga saat Melody mengenakan kacamata. Namun, itu semua dipatahkan saat ia melihat ujung hidung wanita itu yang memerah. Zafri memegang kedua bahu Melody dan menuntunnya berjalan menuju ruangannya.
Begitu sampai di ruangannya, Zafri menutup semua tirai yang terbuka lebar sehingga dinding kaca yang transparan itu tidak menampilkan semua yang ada di dalam ruangan Zafri. Zafri juga mengunci ruangannya, takut kalau perawat ataupun pekerja lainnya masuk.
Sampai saat ini Zafri masih mengabaikan Melody. Bukan mengabaikan, lebih tepatnya sekarang ia sedang membersihkan tangannya di wastafel. Setelah membersihkan tangannya, pria itu berjalan menuju rak baju gantung dimana ia menggantung semua pakaian kerjanya.
Dengan santainya Zafri membuka baju operasinya di depan mata Melody. Otot-otot tangan serta perut sixpacknya sempat membuat Melody melongo di balik kacamata hitamnya. Ia yang duduk tepat menghadap Zafri membuatnya melihat semua pergerakan pria itu. Mulai dari melepas baju operasi, lalu disusul mengenakan kemeja putihnya.
Melody meneguk ludahnya kasar saat melihat Zafri yang masih mengenakan celana operasi berwarna hijau, senada dengan bajunya tadi. Wanita itu kembali dibuat melotot dengan pergerakan Zafri yang dengan santainya membuka celana operasinya di depan Melody tanpa rasa malu sedikitpun. Kedua matanya melotot sempurna tanpa kedipan mata sekalipun.
Tiba-tiba kacamata hitamnya melorot. Membuat Melody harus menaikkannya ke atas tanpa mau mengalihkan pandangannya. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa Zafri sudah berpakaian rapi lengkap dengan dasi di kerah bajunya, namun, bedanya pria itu tidak mengenakan jasnya.
Zafri sengaja melakukan itu agar Melody sadar. Sebenarnya dari awal ia tidak berniat berganti celana di depan Melody. Namun, melihat reaksi wanita itu malah membuat Zafri tertarik untuk mengerjainya.
__ADS_1
Pria itu datang langsung menutup kedua mata Melody, ia hanya bisa menyentuh kaca kacamata hitamnya. Melody segera tersadar begitu merasakan gelap di sekitarnya, ya meskipun pandangannya sedari awal sudah gelap karena efek kacamata hitamnya.