(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 25


__ADS_3

Zafri meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku begitu keluar dari ruang operasi. Ya, pria itu mendapat panggilan darurat karena salah satu pasiennya tiba-tiba drop yang mengharuskannya segera melakukan tindakan lebih lanjut.


Pria itu langsung menuju ruangannya untuk segera berganti pakaian. Setelah rapi, tiba-tiba ia teringat dengan Melody yang sampai saat ini mungkin masih berada di ruangannya, kecuali kalah wanita itu tau jalan keluarnya. Zafri melirik jam di pergelangan tangannya. Hampir setengah hari ia meninggalkan Melody karena operasi tadi memakan waktu yang cukup lama. Beruntung Zafri bisa menangani operasi itu hingga pasiennya terselamatkan.


Pria itu bergegas keluar dari ruangannya.


"Mau kemana, Zaf?" tanya Bima saat mereka tidak sengaja bertemu di koridor rumah sakit.


"Aku harus segera pergi ke kantor sekarang." jawab Zafri.


"Eh eh eh!" Bima mencegat sahabatnya saat Zafri mau melarikan diri.


"Apa lagi?"


"Itu, Melody ada bersamamu? Sedari tadi aku terus diteror oleh Liona. Dia menanyakan wanita itu."


"Ya. Katakan padanya kalau Melody ada bersamaku. Aku pergi dulu."


Bima menggelengkan kepalanya gemas melihat tingkah Zafri yang tidak seperti biasanya. Bima hanya berdo'a semoga saja Melody adalah wanita yang tepat untuk mengubah kebiasaan buruk Zafri yang selalu memandangi tumpukan kertas.


Sesampainya di kantornya, ternyata suasana sudah sepi. Hanya terdapat beberapa staff kantor saja yang masih mengemasi barang-barang mereka, terutama security yang menjaga.


Zafri lekas berlari menuju ruangannya, ia bahkan mengabaikan sapaan dari beberapa karyawan termasuk security yang bekerja di kantornya.


Sesampainya Zafri di ruangannya, ternyata masih ada Raymond yang berjaga di depan karena kebetulan ruangan Raymond berada tepat di hadapan ruangan Zafri.


"Apa dia sudah pulang?" tanya Zafri sembari mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


Sontak Raymond menggelengkan kepalanya. "Dari tadi saya berjaga di depan, Tuan dan saya juga tidak menemukan tanda-tanda kemunculan Nona Melody." sebenarnya Raymond juga bingung, mau masuk ke dalam, tapi, takut diamuk.


"Siall!!" decak Zafri langsung saja masuk ke ruangannya, meninggalkan Raymond yang tampak terbengong di depan ruangannya.


Dengan hati yang gusar Zafri membuka sebuah pintu rahasia di sana. Pintunya sama ratanya seperti dinding, untuk membukanya hanya perlu menekan tombol kecil di samping pintu itu. Bahkan warnanya semua sama.


Zafri langsung membuka pintu rahasia itu dengan cara didorong begitu mendengar suara yang menandakan bahwa pintunya sudah terbuka.


Tujuan utama Zafri adalah sebuah kamar dimana sebelumnya ia meletakkan Melody di sana.


Zafri mematung menatap Melody yang berdiri di depan sebuah bingkai foto besar. Foto tersebut adalah foto Zafri beserta keluarga besarnya. Zafri memang sengaja menaruh foto tersebut di dalam kamarnya agar ia bisa selalu memandangi orang-orang tersayangnya.


Zafri pikir Melody di dalam sana akan merasa takut karena sendirian. Nyatanya Melody adalah wanita pemberani, wanita itu tidak panik saat ia terbangun dan berada di sebuah ruangan asing apalagi seorang diri.


Pria itu berjalan mendekati Melody lalu berdiri tepat di belakang wanita itu.


"Aku pikir kau akan menangis ketakutan." ucap Zafri pelan yang membuat Melody langsung membalikkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan.


Wanita itu tersenyum geli mendengar perkataan Zafri. "Aku bukan anak kecil lagi yang menangis jika terbangun dalam keadaan seorang diri." balas Melody.


"Aku hanya menduga saja." kilah pria itu.

__ADS_1


Melody hanya tersenyum melihat Zafri yang tidak mau mengakui kesalahannya. "Aku hanya melihat-lihat sekitar. Awalnya aku ingin pergi keluar, tapi, aku tidak tau dimana jalan keluarnya." Melody menyengir mentap pria itu yang tampak tidak berkedip melihatnya.


"Apa kau mau keliling ruangan ini?" tawar Zafri dibalas anggukan cepat oleh Melody.


Melihat itu membuatmu Zafri langsung menarik tangan Melody pelan. Ia membawanya ke ruang ganti dimana banyak pakaiannya berjejeran di sana.


"Ini ruang ganti. Biasa kalau lembur aku sering menginap di sini. Tapi, aku sudah jarang datang ke kantor."


Zafri kembali lagi menarik tangan Melody menuju mini pantry.


"Aku biasanya lebih suka masak sendiri dari pada memesan makanan." tutur Zafri sembari tangannya menyentuh alat-alat perkakas memasak.


Melody mengangguk-anggukkan kepalanya. Wanita itu takjub dengan segala prestasi yang Zafri miliki. Bukan hanya pintar, tapi, Zafri juga kuat. Mungkin itu diwarisi dari sang papa mengingat Zafran adalah seorang anggota polri.


"Mumpung di sini dan hari juga sudah mau malam. Apa kau mau memasak di sini?" tawar Zafri mendapat gelengan spontan dari Melody.


"Aku tidak bisa memasak." cicit Melody pelan. Ia menundukkan kepalanya lantaran malu. Ya, bagaimana tidak mau, ia yang notabene adalah seorang perempuan tidak bisa memasak, berbeda dengan Zafri yang notabene laki-laki.


"Wajar. Waktumu hanya kau habiskan di dunia hiburan. Kalau begitu mulai sekarang kau harus belajar memasak. Belajarlah memasak agar nantinya suamimu senang." ucap Zafri santai lalu berjalan menuju kulkas untuk melihat bahan masakan apa saja yang tersedia.


"Di sini hanya ada sayuran dan beberapa telur. Aku tidak memasukkan bahan-bahan masakan yang tidak higienis." tutur Zafri.


"Aku tidak suka sayur." balas Melody.


"Pantas." lirih Zafri membuat Melody mendelikkan matanya.


"Apa!?" Melody menatap Zafri tajam.


"Aku bukan kurus! Ini namanya body goals. Kau sangat kuno sekali." bela wanita itu. Melody menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menatap Zafri nyalang.


"Hemmmm... aku tidak yakin." Zafri menggerakkan jari telunjuknya di dagunya sambil meneliti sekujur tubuh Melody.


"Dasar cabull!!" pekik Melody menutupi bagian-bagian tubuh tertentunya.


Sontak Zafri berkacak pinggang menatap Melody dengan tatapan tajamnya. "Cabul apanya? Aku hanya melihat, bukan meraba." bela pria itu.


"Tetap saja cabull. Aku tau dari tatapan matamu itu."


"Lagi pula aku tidak berselera dengan yang rata." sambung Zafri membuat dada Melody turun naik karena menahan emosi.


"Kau!!" Melody mendekat sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Zafri. Kedua saling bertatap tajam, lebih tepatnya Melody lah yang tampak sangat murka.


Zafri menatap balik wajah Melody dengan ekspresi tenangnya. Bukankah Zafri hanya berbicara tidak suka dengan yang rata? Bukan berarti dia tidak suka Melody kan?


"Kenapa kau mudah sekali marah?" tanya Zafri.


"Huh! Sudahlah. Aku tidak mau wajahku keriputan." Melody menghela nafas berat lalu memalingkan wajahnya ke samping. Melihat itu malah membuta Zafri tersenyum.


"Marah?" goda Zafri.

__ADS_1


"Tidak!" Melody langsung melengos pergi dari hadapan Zafri.


"Dasar wanita." kekeh Zafri pelan. Karena perutnya sudah keroncongan, akhirnya Zafri lah yang memasak. Tadinya ingin mengajari Melody memasak, namun, wanita itu sudah marah duluan. Zafri tampak memasak dengan tenang, ia tidak terlalu khawatir seandainya Melody kabur. Bukankah tadi wanita itu bilang kalau dia tidak tau jalan keluarnya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama Zafri sudah selesai memasak. Pria itu segera menghidangkan makanannya di atas meja makan sambil menunggu kedatangan Melody.


Tidak lama Melody memunculkan wajahnya juga dengan ekspresi kesal.


"Aku mau pulang." ketus wanita itu tanpa mau menatap Zafri.


"Nanti. Makan dulu." ucap Zafri sambil melambaikan tangannya agar Melody mendekat.


"Tidak makan, tidak akan pulang sama sekali." lanjut pria itu.


Melody mendengus kesal, dengan terpaksa ia berjalan mendekati meja makan lalu duduk di hadapan Zafri.


"Ke sini!" titah Zafri menggerakkan jari telunjuknya.


"Apa lagi?!" sewot Melody merasa emosinya sudah meledak-ledak. Dirinya masih kesal dengan pria itu yang seenaknya saja menghinaa bentuk tubuhnya. Padahal banyak laki-laki di luaran sana yang mengincarnya termasuk si Andi itu yang terobsesi dengan tubuhnya.


"Cepat!" dengan terpaksa Melody bangkit dari duduknya dan mendekati Zafri.


"Aaakkkhhhh!!!"


"Ihhh! Jangan asal tarik!" pekik Melody terkejut saat Zafri tiba-tiba menarik pinggangnya hingga dirinya terjerembab di pangkuan pria itu.


Melody memukuli dada pria itu sebagai bentuk protesnya. Namun, bukannya lepas dari jerat pria itu, kini ia malah merasakan tangan Zafri semakin melingkar erat di pinggangnya.


"Masih marah?" tanya Zafri sensual membuat Melody mengidikkan bahunya ke atas karena nafas Zafri menerpa lehernya. Terasa hangat dan sedikit geli.


"Kamu nanya??!" ketus wanita itu membuat Zafri terkekeh.


"Rambutnya model apa, Mbak?" gurau Zafri.


"Model pedang samurai. Awas lah!" Melody mendorong dada bidang Zafri dan mencoba untuk bangkit. Namun, wanita itu hanya bisa bergerak ke atas sedikit lalu berakhir terjatuh lagi ke dalam pangkuan Zafri karena pria itu menariknya kuat.


"Cabulll!!!" pekik Melody tiba-tiba saat merasakan sebuah tonjolan keras di pantatnya.


"Makan dulu baru boleh pulang." sahut Zafri sambil menahan pusing di kepalanya. Di bawah sana semakin terasa berdenyut karena gerakan yang diberikan oleh Melody saat wanita itu memberontak ingin dilepaskan.


"Iya. Lepas dulu, aku tidak nyaman." adu Melody dibalas gelengan kepala oleh Zafri.


"Diam!" Melody langsung mengatupkan bibirnya rapat saat Zafri sudah mulai bertitah.


Dengan terpaksa Melody harus berada di posisi yang membuatnya tidak nyaman. Keduanya pun mulai menyantap makanan mereka. Melody terus menolak saat Zafri menyodorkan sayur kepadanya. Tapi, namanya Zafri tidak sah kalau tidak memaksa.


.


.

__ADS_1


.


Melody mau jadi dilan cepmek dulu🤣 wkwk sorry kemarin ga up. kita slow update yah 🥰terus pantengin cerita mereka ya🥰


__ADS_2