(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 20


__ADS_3

Tidak terasa hari sudah terlewati dengan banyaknya rintangan yang dijalani. Zafri tampak fokus berkutat di depan layar komputernya. Tiada hari tanpa bekerja. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Entah pria itu kecanduan atau memang menjalani tahap proses memasuki rumah sakit jiwa. Bahkan di malam hari pun pria itu tampak aktif. Akhir-akhir ini Zafri suka sekali mengambil jam sesi malam. Bukan suka, tapi, saat di siang hari Zafri banyak urusan.


Disaat tengah memeriksa sebuah dokumen, tiba-tiba dari arah luar terdengar pintu diketuk. Mendengar itu pun tidak dapat membuat konsentrasi Zafri hancur.


Seorang perawat perempuan masuk ke dalam ruangannya sambil membawa rekam medis pasien lalu menyerahkannya kepada Zafri.


Sebelum benar-benar pergi, perawat perempuan itu berkata. "Dr. Zafri, anda ada pasien darurat." ucap perawat itu membuat Zafri refleks melepaskan dokumen di tangannya.


"Di mana?" tanya Zafri lekas bangkit dari duduknya dan menyambar jas kebesarannya yang terletak di gantungan.


"Pasien sudah dipindahkan ke lantai 7." jawab perawat itu berjalan cepat menyamakan langkahnya di belakang Zafri. Bayangkan saja, pria itu berjalan sangat cepat sehingga perawat itu terlihat kesusahan menyamakan langkah mereka.


"Bukankah itu ditangani oleh Dr. Irwan? Malam ini saya hanya ada satu operasi." tanya Zafri bingung namun tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.


"Dr. Irwan izin pulang karena ada urusan penting." jawab perawat itu.


Akhirnya Zafri paham kenapa sekarang ia mendapatkan pasien darurat. Dan apakah ini benar-benar darurat?


Derap langkah kakinya jelas terdengar karena suasana malam yang semakin sepi. Hanya ada beberapa perawat dan dokter yang berlalu lalang untuk memeriksa pasien tertentu.


"Di sini?" tanya Zafri ketika perawat itu mengarahkannya ke sebuah pintu ruangan VVIP.


"Iya, Dokter. Pasien masih dalam pengaruh obat."


"Obat?" tanya Zafri. Ia pikir pasiennya itu adalah pasien kecelakaan. Zafri baru tersadar, kalau kecelakaan kan langsung masuk ke ruang IGD. Lalu, kenapa pasien ini langsung masuk ke ruang rawat?


Perawat itu menganggukkan kepalanya. Zafri tidak banyak tanya, langsung saja ia buka pintu ruangan itu dan berjalan masuk ke dalamnya diikuti oleh perawat tadi.


Zafri tersentak saat melihat seorang wanita yang duduk di sisi ranjang pasien sambil memenangkan seorang wanita yang terlihat bergerak gelisah di atas ranjang. Bukan itu, bukan itu yang membuat Zafri tersentak! Tapi, wanita itu lah yang membuat Zafri terkejut.


Menyadari bahwa ada seseorang yang masuk, wanita yang tampak menenangkan sahabatnya itu langsung menoleh.


"Tolong cepat, Dok. Kasian Melody tersiksa." ya yang berkata adalah Liona, sahabat dari Melody yang saat ini tampak tersiksa di atas ranjang.


Zafri langsung tersadar saat lengannya digoyang oleh Liona.

__ADS_1


"Dia kenapa?" tanya Zafri sambil menyentuh pergelangan Melody untuk memeriksa denyut nadinya.


"Pria breng*sek itu memberinya obat perang*sang."


Deg


Nafas Zafri tercekat. Kalau sudah begini, pasti akan susah. Terkecuali kalau efek obatnya masih bisa ditangani menggunakan cairan suntik.


Liona berkata dengan nada menunjukkan kemarahan. Zafri bisa merasakan itu saat melihat kilat tajam mata Liona serta wajahnya yang tampak tegang.


"Kamu tenang, saya akan menanganinya. Dan ya, silahkan keluar." usir Zafri dengan nada halus.


"Baik, Dok." jawab Liona lalu dengan cepat keluar dari ruangan itu.


"Suster." panggil Zafri.


"Siap, Dokter." perawat itu yang peka langsung keluar dari ruangan itu untuk mengambil suntik dan obat untuk menangani Melody.


Setelah perawat itu keluar, Zafri langsung bergerak lebih mendekat kepada Melody. Dapat pria itu lihat sekujur wajah Melody memerah diringi dengan desisan kecil dari wanita itu. Seketika Zafri meneguk ludahnya kasar.


"Sshhhh... A-ndi si-alan..." desis wanita itu bergerak gelisah di atas ranjang.


Keringat dingin bercucuran deras di sekujur tubuh Melody. Wanita itu masih belum sadar dengan keberadaan Zafri karena sedari ia tidak fokus dengan sekitarnya lantaran rasa panas di tubuhnya. Melody tidak tahan dan sangat ingin mencari pelepasan. Sungguh! Wanita itu mengum*pati nama Andi karena sudah berani-beraninya memberinya obat perang*sang.


"Aaaarghhhhhhh..." teriak wanita itu menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga tubuhnya hampir saja terjatuh dari atas ranjang. Namun, dengan cepat Zafri menahan wanita itu dan menariknya ke tengah-tengah ranjang.


Merasakan sentuhan di tubuhnya membuat Melody semakin mendesis dan tampak mendes@ah beberapa kali. Wanita itu menepis tangan Zafri yang masih berada di lengannya.


"J-anganhhh sentuhhh a-akuu shhh breengsekkkhhh..." racau Melody tidak sadar.


Zafri yang mendengarnya tanpa sadar tersenyum. Perkataan Melody membuktikan bahwa wanita itu tidak suka kalau Andi menyentuh tubuhnya. Dalam keadaan tidak sadar pun wanita itu menolak.


"Apa dia menyentuhmu?" tanya Zafri. Pria itu tau kalau nanti Melody akan berkata jujur karena efek dari obat sialaann itu.


"Shhhh tidak ahh..." racau Melody. Karena memang, sebelum hal itu terjadi, Melody dengan cepat pergi dari Andi. Beruntungnya Liona bersamanya.

__ADS_1


"Apa kalian benar-benar akan bertunangan?" pertanyaan ini ingin sekali Zafri tanyakan. Karena yang ia dengar begitulah beritanya. Dan bahkan media sosial pun heboh dengan berita menggemparkan itu. Seorang wanita penyanyi papan atas akan bertunangan dengan seorang aktor terkenal.


Melody mengangguk tanpa sadar. Melihat itu hati Zafri seketika nyeri. Ada rasa tidak rela di hatinya.


"Apa kau mencintainya??" tanya Zafri memancing.


"Tentuu tidakhh..." Zafri tersenyum.


Berulang kali mendengar suara tidak asing di telinganya membuat Melody perlahan membuka matanya dan berusaha untuk sadar dari hantaman rasa panas di tubuhnya. Melody merasa panas dan menginginkan kedamaian.


Kini Melody sudah sadar saat melihat paras Zafri yang berdiri di hadapannya. Apalagi ditambah efek cahaya penerangan yang membuatnya semakin jelas melihat wajah Zafri.


"Ini aku." ucap Zafri menatap dalam Melody. Jujur, dalam hatinya mengatakan rindu. Zafri sadar kalau ia merindukan wanita itu. Merindukan senyumannya yang memabukkan. Merindukan suaranya yang merdu. Dan semuanya.


Blapp


Tiba-tiba suasana menjadi gelap. Zafri seketika panik dibuatnya. Lampu di kota itu semuanya padam. Suasana gelap. Ada yang berteriak karena takut kegelapan dan bahkan ada yang terlihat senang dengan matinya lampu.


Zafri terdiam karena merasakan sunyi. Pria itu tidak mendengar suara Melody, namun, ia masih mendengar desi*san kecil dari wanita itu. Zafri mengumpat kenapa perawat tadi tidak kunjung kembali dan membawakan cairan obat untuk membantu Melody.


Srekk


Cup


Tiba-tiba Zafri merasakan tubuhnya tertarik ke bawah disusul dengan sebuah benda kenyal menempel di bibirnya. Hanya sebentar bibir itu menempel lalu kemudian berubah menjadi lum@*tan


Bola mata Zafri membesar. Tidak! Tidak! Ini semua tidak boleh terjadi karena itu akan sangat membahayakan dirinya. Zafri takut Melody kehilangan kendalinya apalagi sekarang wanita itu berada di bawah pengaruh obat perang*sang.


Lekas Zafri menarik paksa dirinya dari jerat kenikmatan. Pria itu tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Namun, bukannya menjauh, Zafri malah semakin tertarik ke bawah. Tengkuknya di tahan dengan dua tangan yang melingkar erat.


.


.

__ADS_1


.


semoga lulus🙏🏼


__ADS_2