(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 6


__ADS_3

Ketika semua orang termasuk perawat dan dokter tengah makan siang, beda lagi dengan Zafri. Sesudah memeriksa Melody tadi, Zafri langsung masuk ke ruangannya dan berkutat dengan beberapa dokumen. Layar komputernya juga tampak menyala yang memperlihatkan deretan teks yang memenuhi layar komputer. Bahkan sampai jam makan siang habis pun Zafri masih duduk di kursi kerjanya.


Tok tok tok


"Masuk!" ujar Zafri tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.


"Permisi, Dr. Zafri. Dr. Ceisya meminta anda untuk menemuinya di ruangannya." ucap seorang perawat perempuan.


"Oke." Zafri lekas menutup dokumennya dan beranjak dari tempat duduknya.


"Kalau begitu saya permisi, Dr. Zafri."


Zafri hanya bergumam sama sambil melihat kepergian perawat tersebut.


Pria itu pun melangkah menuju ruangan mamanya. Dalam benaknya ada apa sang mama memanggilnya. Pasti mendiskusikan tentang pasien, kalau untuk urusan lainnya mana mau sang mama memintanya datang ke ruangannya.


Saat dalam perjalanan menuju ruangan sang mama, Zafri tidak sengaja bertemu dengan Bima. Namun, bukan itu yang menjadi permasalahannya. Ia melihat sahabatnya itu tengah mengobrol bersama seorang wanita yang ia ketahui adalah sahabat Melody.


"Hei, bro." sapa Bima sambil melambaikan tangannya ke arah Zafri.


"Ada apa?" tanya Zafri setelah mendekat.


"Tidak ada. Hanya ingin menyapa." jawab Bima menyengir.


"Membuang waktuku saja." cibik Zafri lalu meninggalkan sahabatnya bersama seorang wanita.


"Ekhem. Itu dokter Zafri."


"Aku tau." balas Liona ketus.


Bima hanya menggaruk kepalanya tidak gatal. Lalu ia menggenggam tangannya sendiri disertai badan yang bergoyang-goyang ke samping. "Kalau begitu, aku bisa pergi sekarang?" tanya Bima sembari memohon.


Kilatan tajam mata Liona langsung menghunus mata Bima. Bima yang ditatap seperti itu langsung gugup. "Kau harus bertanggung jawab." ketus Liona dengan tiba-tiba menarik kerah jas Bima lalu menyeretnya.


"Hei, Nona. Aku tidak menghamilimu, jadi, kenapa aku harus bertanggung jawab?" bela Bima yang hanya pasrah saat tubuhnya diseret oleh Liona. Bahkan ia juga pasrah saat para perawat wanita melihatnya dengan tatapan mengejek menahan tawa. Mereka tau kalau Bima adalah salah satu pria yang suka tebar pesona kepada siapapun asalkan itu wanita.

__ADS_1


"Diam!" cetus Liona. Bima langsung bungkam seketika saat mendengar suara Liona yang menurutnya seram.


"Tok... tok... tok..." Zafri langsung mengetuk pintu ruangan mamanya yang masih tertutup rapat saat ia sudah sampai di sana.


Sahutan suara wanita dari dalam ruangan yang menyuruhnya masuk, Zafri langsung memutar handle pintu.


Zafri melihat seorang wanita berusia kepala lima yang masih awet tengah mengenakan kacamatanya. Wanita itu melambaikan tangannya ke arah Zafri.


"Kenapa memanggilku?" tanya Zafri to the point.


Ceisya hanya terkekeh melihat respon sang putra yang sangat berbeda jika berada di rumah. "Tidak ada, boy. Mama memanggilmu ke sini ingin memberikan ini. Kamu pasti belum makan siang kan?"


Tampak Ceisya mengambil renteng makanan dari dalam lacinya dan menyodorkannya kepada Zafri.


Zafri lekas mengambil duduk di kursi yang berseberangan dengan mamanya. Tangannya langsung terulur mengambil renteng makanan tersebut. "Mama, kenapa bisa tau?" tanya Zafri penasaran.


"Apa sih yang tidak mama ketahui tentang kamu. Semuanya juga mama tau." Zafri mengulum bibirnya menahan senyum. Biarlah ia dikatakan pria manja yang masih bergantung kepada orang tuanya. Intinya Zafri merasa bahagia karena saat ia sudah dewasa, perhatian dan kasih sayang mamanya tidak pernah surut. Itu yang membuatnya semakin sayang kepada sang mama.


"Mama suapin, mau?" tawar Ceisya yang dibalas anggukan pelan oleh Zafri.


"Mama dengar kamu ada pasien baru, wanita?" tanya Ceisya setelah memberikan suapan kepada Zafri.


Zafri menganggukkan kepalanya dengan mulut yang penuh oleh makanan.


"Sakit apa?" tanya Ceisya lagi.


Zafri terdiam sebentar sambil menghabiskan makanannya. "Belum tau, Ma. Zafri masih memeriksa ulang keadannya." jawab Zafri lalu membuka mulutnya kembali saat Ceisya menyodorkan satu suapan lagi.


"Katakan kalah kamu perlu bantuan. Mama siap membantumu."


"Tidak apa-apa, Ma. Mama fokus saja dengan pekerjaan Mama. Oh ya, apa sebaiknya mama berhenti bekerja saja? Biar Zafri dan papa yang bekerja. Mama bisa istirahat di rumah." saran Zafri.


Ceisya yang saat itu akan memberikan satu suapan kepada Zafri langsung berhenti. Dan melihat putranya dengan tatapan tidak percaya. "Hei, boy. Kalau mama di rumah, mama akan kesepian. Lagi pula mama masih sehat, bahkan ada yang umurnya lebih tua dari mama, dia masih bekerja di sini." protes Ceisya jelas menolak.


"Bukan begitu maksud Zafri, Ma. Maksud Zafri itu---"

__ADS_1


"Sudah, sudah. Habiskan makananmu ini." Ceisya langsung menyuapi Zafri dengan suapan terakhirnya. "Mama akan berhenti bekerja kalau papamu sudah memasuki masa pensiunnya." balas Ceisya yang tidak mau kalah.


Zafri langsung menelan makanannya dan mengambil botol aqua yang masih tersegel di meja mamanya. Pria itu membukanya dan langsung meneguknya beberapa kali tegukan. "Sekarang lebih baik, Ma. Tenang saja, urusan yang mama tidak perlu khawatir. Zafri banyak tabungan, lagi pula sekarang kan Zafri sudah memimpin perusahaan Opa." maksud dari perkataan Zafri itu adalah perusahaan kakeknya, yaitu Ayah Faisal. Karena umur yang sudah tidak lagi muda, Ayah Faisal pun langsung memilih pensiun. Awalnya ingin memberikan perusahaannya kepada menantunya, Zafran. Namun, Zafran menolak karena katanya ia tidak mahir dalam urusan bisnis. Dan terpaksa perusahaan Ayah Faisal diberikan kepada pertamanya, yaitu Zafri.


Zafri akan datang ke kantor hanya untuk urusan mendesak saja ataupun meeting penting. Jadi, sekarang ia menjabat sebagai 2 profesi sekaligus. Dokter dan CEO. Awalnya, perusahaan kakeknya adalah perusahaan yang dibilang biasa-biasa saja. Namun, setelah Zafri mengambil alih, perusahaan itu langsung berkembang pesat dalam kurun waktu satu tahun. Zafri mengambil alih perusahaan kakeknya saat ia masih berumur 22 tahun. Tepatnya saat ia lulus S1.


Memang bukan jurusan management atau ekonomi, namun, Zafri mampu memimpin perusahaan tersebut dengan cukup baik. Karena sejak masa sekolah menengah atas, ia banyak belajar bersama kakeknya. Bahkan sering kali Zafri menggantikan kakeknya dalam pertemuan rapat penting para pemimpin saat statusnya masih anak sekolah.


Kedua orang tuanya yaitu Ceisya dan Zafran juga tidak terlalu mempermasalahkan. Mereka berkata itu tidak masalah intinya hal itu tidak mempengaruhi fokus belajar putra mereka.


"Jangan terlalu diforsir, Sayang. Ingat kesehatan kamu." seru Ceisya sambil mengelus kepala Zafri setelah ia mencuci tangannya bersih.


"It's okay. No problem, Ma. Zafri suka itu." balas Zafri mengelus punggung tangan Ceisya.


"Baiklah kalau itu keputusan kamu. Kalau tidak sanggup, bilang kepada mama dan papa. Oke, boy?"


"Oke." jawab Zafri tersenyum.


"Tok... tok... tok..."


Pintu diketuk membuat Zafri dan mamanya langsung menoleh bersamaan.


"Masuk!" sahut Ceisya.


"Maaf, Dr. Ceisya. Saya ingin memberitahu kalau sekarang anda ada operasi." beritahu perawat wanita yang menjabat sebagai asisten Ceisya.


"Baik, Lili. Saya segera datang."


"Baik."


"Sepertinya mama harus pergi. Kamu kembali lah ke ruanganmu." Ceisya berjalan mengambil jasnya di gantungan dan langsung memakainya.


"Pulang bersama, oke?" ucap Ceisya mendekati putranya dan memberikan kecupan singkat di kening Zafri.


Zafri hanya mengangguk kecil dengan senyumannya. Setelah kepergian sang mama, Zafri tampak terdiam di ruangan itu sendirian. Ia melirik meja kerja mamanya yang sedikit berantakan. Zafri merapikannya sebentar lalu setelahnya langsung keluar untuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2