(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 12


__ADS_3

Niat hati membawa Melody menemui kedua orang tuanya karena ingin menjelaskan kesalahpahaman tentang foto itu. Tapi, keduanya malah larut dalam pembicaraan Ceisya maupun Zafran.


Bahkan Zafran dan Melody yang biasa tidak akur kini malah terlihat sangat akrab. Keduanya tidak sungkan untuk tertawa bersama.


"Kamu mau tau gak bagaimana dulu Papanya Zafri kenal sama Mama?" bahkan Ceisya langsung meminta Melody untuk memanggilnya Mama, bukan pakai embel-embel tante atau om untuk Zafran.


Sontak Melody menggelengkan kepalanya. "Memangnya bagaimana, Ma?" tanya balik wanita itu. Setiap kali Melody memanggil Ceisya dengan panggilan mama, saat itu juga Zafri menoleh ke arahnya. Seakan ada rasa aneh yang menjalar di hatinya saat wanita asing memanggilnya ibunda tercinta dengan panggilan yang sama sepertinya.


"Dulu Mama dan Papanya Zafri pas pertama kali bertemu itu di jalan. Waktu itu Mama masih kuliah, itu tuh kalau gak salah di semester 6. Mama kena tilang gara-gara gak pakai helm. Yang bikin Mama kesal waktu itu, masa Papanya Zafri manggil Mama dengan sebutan ibu-ibu." cerita Ceisya mengingat masa-masa mudanya dulu saat pertama kali bertemu dengan Zafran.


Melody yang awalnya senyum-senyum kini langsung tertawa karena mendengar hal lucu yang Ceisya ceritakan.


"Terus, Mama bilang apa?" balas Melody di sela tawanya.


"Pas itu gak tau kenapa Mama langsung refleks bilang Om. Dan kamu tau gak ekspresinya bagaimana?"


"Wajahnya Papanya Zafri itu langsung meram padam karena nahan emosi. Mama gak tau kenapa dia gak bisa marah."


"Wahh! Serius, Ma?" takjub Melody. Ceisya pun mengangguk cepat.


"Iya. Dan yang membuat Mama kagum itu adalah perjuangannya untuk mendapatkan Mama. Dulu Mama itu belum pernah sekali pun berpacaran. Pas dia ungkapin perasaannya, Mama langsung nolak dong."


"Kenapa?" tanya Melody penasaran.


"Karena Mama mau fokus ke pendidikan dulu. Eh taunya belum apa-apa udah dikejar duluan."


"Mama pasti beruntung mendapatkan laki-laki seperti itu." celetuk Melody.


"Iya. Orangnya setia, ya memang tampangnya aja dingin cuek, tapi, di dalamnya romantis kok. Pasti Zafri juga begitu ya?" tebak Ceisya membuat Melody langsung terdiam. Wanita itu langsung melirik Zafri sekilas yang pura-pura tidak mendengarkan obrolan mereka. Padahal sudah beberapa kali Zafri tertangkap basah karena memperhatikannya. Namun, pria itu segera mengalihkan pandangannya ke arah televisi yang menyala.


Melody tidak menjawab, namun hanya tertawa receh saja untuk menghilangkan rasa canggungnya terhadap pertanyaan Ceisya barusan.


Dalam hatinya Melody ingin sekali berkata bahwa pria itu sangatlah mesum. Membayangkannya saja sudah membuat Melody bergidik ngeri. Tapi, sesaat ia langsung terdiam mengingat respon-responnya kepada pria itu. Malahan Melody tidak marah saat ia diperlakukan oleh kemesuman pria itu.


Melody menoleh saat merasa dirinya ditatap oleh seseorang. Seketika ia mendapatkan sebuah ide brilian saat tau bahwa Zafri lah yang memperhatikannya.


Melody menaik turunkan kedua alisnya serta menatap Zafri dengan seringaiannya. Zafri yang melihat itu pun langsung menaruh curiga. Bukannya apa, Zafri hanya waspada takut kalau Melody mengadukan tingkah lakunya.


"Ma." panggil Melody tanpa mengalihkan perhatiannya dari Zafri.


"Kenapa, Sayang?" tanya Ceisya.


"Melody cuma mau bilang..." wanita itu menjeda perkataannya. Sontak Zafri langsung menajamkan matanya ke arah wanita itu.


"Mau bilang apa?" tanya Ceisya bingung.

__ADS_1


"Melody cuma mau bilang kalau Zafri itu..."


"HAA!" pekik Zafri lalu bangkit dan melemparkan remot televisi ke atas meja hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.


Melody dan Ceisya yang mendengar itu langsung terjanjat kaget. Mereka pun bahkan refleks melihat Zafri yang berdiri dengan tampang tidak bersalahnya.


"Astaghfirullah, Sayang. Kamu kenapa?" sentak Ceisya sambil mengusap pelan dadanya.


Pria itu malah menyengir membuat Melody ingin sekali memukul kepala Zafri menggunakan gagang sapu.


"Hehe. Ma, ini sudah larut. Mungkin Melody butuh istirahat. Zafri akan mengantarkannya pulang sekarang." seru pria itu mendapatkan tatapan protes dari sang mama.


Sebelum itu Zafri lekas menjelaskan lagi supaya mamanya tidak curiga. "Besok pagi Melody ada konser. Dan tempatnya lumayan jauh. Makanya dia butuh istirahat dari sekarang. Benar bukan?" Zafri menatap Melody dengan raut penuh kodean berharap Melody mau bekerja sama dengannya.


Ceisya langsung menatap Melody dengan raut pertanyaan sekaligus kasihan. "Papa kamu aja belum nongol lagi. Katanya pergi sebentar, kenapa bisa lama begini." omel Ceisya kepada Zafran yang entah kenapa sampai sekarang belum juga menampakkan barang hidungnya. Sebelumnya Zafri pamit saat tidak lama Melody dam Zafri datang. Katanya ada urusan penting di kantor yang tidak bisa ditinggalkan.


"Tidak apa-apa, Ma. Lain kali aja." potong Zafri.


"Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan." pesan Ceisya. Sekarang wanita paruh baya itu langsung berpindah pada Melody. Ia memegang kedua bahu Melody. "Sering-sering main ke sini. Mama gak ada temennya, apalagi adik Zafri baru aja menikah."


Melody pun langsung menganggukkan kepalanya. "Kapan-kapan Melody mampir ke sini. Kalau begitu Melody pamit ya? Mama jaga kesehatan."


"Kamu juga." balas Ceisya langsung mencium kedua pipi Melody dan berakhir dengan satu kecupan di kening wanita itu. Melody juga langsung mengambil tangan Ceisya dan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati."


"Wa'alaikumsalam."


"Ma, Zafri pamit dulu. Mama tidak apa-apa kan sendirian di rumah?" sahut Zafri pamit kepada sang mama.


"Mama sudah biasa. Sana! Hati-hati. Jaga calon menantu perempuan mama."


Zafri hanya tersenyum kaku saja. Entahlah, sampai sekarang ia sendiri belum tau dan masih bingung sampai saat ini.


•••


"Mama kamu baik." ujar Melody saat mereka sudah keluar dari mobil. Keduanya sudah tiba di depan gedung apartemen tempat di mana Melody tinggal.


"Kenapa? Suka? Mau dapat mertua seperti itu?" cerocos Zafri dengan nadanya.


Melody langsung berdecak dan meninju pelan lengan Zafri. Tingkah mereka barusan seolah-olah seperti sepasang kekasih.


"Aku hanya bertanya. Kenapa kau sensi sekali?" Zafri mengusap-usap pelan lengannya tepat di bagian wanita itu memukulnya.


"Tidak ada. Aku hanya bermimpi kalau suatu saat nanti aku mendapatkan ibu seperti ibumu. Dia baik, penyayang dan tentunya memiliki sifat keibuan yang kental." puji Melody.

__ADS_1


"Memangnya ibumu jahat?" tanya Zafri.


Melody mengangguk dengan ragu dan gerakan kepalanya patah-patah. "Bisa dibilang begitu. Sudahlah, jangan membahasnya sekarang."


Zafri memandang Melody dengan penuh tanda tanya. Jujur, ia penasaran. Untuk menjaga kenyamanan Melody, akhirnya Zafri memilih diam saja. Biarlah waktu berjalan yang nantinya pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya.


"Kau mau mampir?" sesaat Melody langsung merutuki bibirnya yang sangat ember. Bisa-bisanya ia menawarkan pria itu berkunjung ke tempat tinggalnya.


Sontak Zafri langsung tersenyum miring. Pria itu menatap Melody meledek. "Kau menawarkan seorang pria menginap di tempat tinggalmu?" jari telunjuk Zafri mengusap-usap sudut bibirnya sendiri. "Apakah kita akan tidur bersama?"


Blush


Kedua pipi Melody langsung merah merona bak tomat yang sudah matang. "Aku hanya menawarkan mampir. Bukan menginap. Dasar Dokter mesum!" cibir Melody kesal.


"Hei, aku hanya bercanda. Kenapa kau malah malu seperti itu? Mau ya?" goda Zafri menjadi-jadi.


"Tidak!" jawab Melody cepat.


"Hahahahaa..." tawa Zafri langsung lepas. Padahal sekarang mereka berada di tempat umum.


"Syutttt! Diam..." bisik Melody yang cepat tanggap akan situasi di sekitarnya. Bahkan kini wanita itu sudah mendengar suara ramai seakan menuju mereka.


"Ada apa?" tanya Zafri langsung merubah ekspresinya.


"Lari!!!" Melody langsung menarik tangan Zafri dan membawanya berlari masuk ke dalam melewati pintu kaca besar. Melody berlari cepat untuk menghindari dari kejaran fans yang ternyata mereka melihat keberadaan Melody. Bukannya apa, Melody tidak masalah kalau dirinya dikerumuni para fans. Yang ia khawatirkan di sini adalah Zafri. Melody khawatir kalau fansnya akan menyerang Zafri dan membawa wartawan.


"Hei, kenapa berlari?" protes Zafri namun tidak memberontak.


Melody langsung dibuat pusing oleh 2 hal sekaligus. Ia pusing melihat para fansnya yang tidak kunjung berhenti mengejarnya. Dan Melody juga pusing karena mendengar kecerewetan Zafri.


Kedua berlari menuju pintu lift. Namun, Melody dibuat terkejut saat melihat dua orang pria yang membawa kamera yang ia ketahui dua orang itu adalah wartawan yang selalu menggali informasi artis.


Melody dibuat kalang kabut saat dua wartawan itu melihat keberadaannya. Sontak wanita itu langsung merubah arahnya menuju tangga darurat.


Terjadilah aksi kejar-kejaran yang membuat situasi gedung bawah apartemen itu heboh. Inilah yang Melody tidak suka ketika pulang awal di malam hari. Biasanya Melody pulang minimal jam sebelas malam dan situasi gedung apartemen sudah sepi, jadinya orang-orang sudah tidur dan ia bebas.


"Haaaahhhhhhhhh haaaahhhhhhhh hahhhhh..." nnafas Melody ngos-ngosan. Sejenak ia berhenti berlari menaiki anak tangga di tangga darurat itu. Dengan terpaksa Melody harus menggunakan tangga darurat karena dari arah lift mereka sudah diketahui dan bahkan kini ada sebuah suara gemuruh langkah kaki menyerbu lantai darurat. Melody menatap Zafri panik.


"Para fans?" tanya pria itu dibalas anggukan lemah oleh Melody.


"Ke mana dia?"


"Mungkin di atas. Ayo kejar."


"Ayo!"

__ADS_1


"Ayo!"


__ADS_2