
Kehidupan Zafri seperti dijungkir balik oleh seorang wanita penyanyi papan atas yang baru saja ia ketahui identitasnya. Berciuman di dalam ruangan pasien sangatlah tidak terpikirkan olehnya. Bayang-bayang itu terus muncul di kepalanya yang membuat konsentrasinya pecah. Bahkan Zafri sering ditegur karena tingkahnya yang lalai.
Pagi itu, tampak Zafri menghabiskan waktunya di kolam renang. Entah sudah berapa kali putaran ia mengelilingi korang renang yang berbentuk persegi panjang itu. Sampai-sampai sang mama datang sambil membawa cemilan.
"Boy, ayo naik. Kamu sudah terlalu lama di dalam sana, takutnya nanti masuk angin." tegur Ceisya melangkah menuju gazebo dan duduk di sana sambil menikmati cemilan buatannya.
Lekas pria itu berenang ke tepi. Lalu ia langsung naik ke atas, mengambil handuk yang tersimpan di sandaran kursi memanjang yang biasa digunakan sebagai tempat bersantai. Zafri mengeringkan tubuh dan rambutnya menggunakan handuk itu. Kakinya melangkah menuju tempat sang mama yang duduk di gazebo.
"Papa mana?" tanya Zafri sambil menyomot kue kering dari tangan mamanya.
Ceisya langsung memukul punggung tangan putranya pelan karena kebiasaan Zafri yang selalu mengambil makanan dari tangannya. "Papamu ada di dalam, lagi mandi. Hari ini mama dan papa mau mengunjungi adikmu.' sahut Ceisya.
Zafri hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Responnya selalu singkat. Yang membuat Ceisya ingin sekali memukul kepala putranya menggunakan spatula kesayangannya.
"Kamu tidak ikut?" tanya Ceisya.
"Tidak." jawab Zafri. "Hari ini aku ada janji."
"Tumben." gumam Ceisya seakan bingung dengan sifat putranya itu. Biasanya kalau tanggal merah atau hari libur, Zafri lebih memilih berada di rumah atau tempat fitness.
"Salahkan saja Naya. Dia merengek memintaku untuk menemaninya pergi ke konser." Zafri mencibikkan bibirnya merasa kesal dengan adik sepupunya.
"Turuti saja, Boy. Lagi pula dia kan jarang keluar bersamamu."
"Ya ya ya ya, mama sama saja dengan Om Rizki." sahut Zafri merasa jengah. Ya, Naya adalah adik sepupunya. Anak dari adik bungsu mamanya yang bernama Rizki. Setelah beberapa tahun Ceisya menikah, akhirnya adik bungsunga menyusul. Dia menikah dengan seorang wanita yang dulunya adalah adik kelasnya sewaktu SMA, namanya Camelia. Keduanya dikaruniai anak perempuan yang kini usianya sebaya dengan usia Aiyla, hanya saya satu tahun lebih tua dari Aiyla.
"Sekalian ajak juga Nayla dan Dylan jalan-jalan keluar." usul Ceisya mengingat dua keponakannya itu yaitu adik Naya.
Dengan cepat Zafri menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. "Terlalu ramai untuk diajak jalan. Biarkan Naya sendiri saja yang aku bawa." tolak Zafri mentah-mentah. Bukan hanya itu, alasan Zafri menolah adalah karena ia tidak mau berurusan banyak dengan Dylan, adik sepupunya yang terlalu aktif dan sedikit nakal. Sedangkan Nayla yang terlalu cerewet membuat kepala Zafri serasa pecah kalau dihadapkan dengan mereka semua.
"Baiklah, baiklah. Terserah kamu saja, Boy. Jam berapa kalian akan berangkat?" tanya Ceisya lebih baik mengalah saja dari pada nanti mereka berdebat semakin panjang.
__ADS_1
Zafri yang saat itu sedang menggosok rambutnya menggunakan handuk langsung terhenti. "Mungkin satu jam-an lagi." kira pria itu.
"Tunggu apa lagi? Bersiap-siaplah sekarang! Nanti kalian akan terlambat." ujar Ceisya yang membuat Zafri menghembuskan nafasnya berat. Dengan berat ia bangkit dari duduknya. Sebenarnya Zafri sangat malas untuk bepergian di tempat yang ramai, apalagi tempatnya di penuhi oleh teriakan. Namun, apalah daya. Zafri sudah berjanji dengan adik sepupunya.
•••
"Nay, apa masih lama?" tanya Zafri berteriak kepada Naya yang berada di sebelahnya. Suara bising dari banyaknya orang membuat Zafri tidak bisa banyak mengobrol dengan Naya karena suaranya bersahutan dengan yang lainnya. Sudah lebih dari 15 menit mereka menunggu, namun, belum juga menampakkan bahwa sang penyanyi akan segera naik ke atas panggung.
Naya langsung mengangkat tangannya dan melihat jam di pergelangan tangan. Benar, sudah lebih dari 15 menit mereka berdiri. "Naya juga tidak tau, Bang. Katanya sih jam segini konsernya, tapi, kok belum dimulai?"
Bukan hanya mereka saja yang heran, namun, penonton lainnya juga ikut dibuat bertanya-tanya. Kemana penyanyi favorit mereka belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal, mereka sudah menanti-nanti itu. Berkhayal setelah acara konser selesai nanti mereka akan mendapat kesempatan untuk berfoto bersama.
"Pulang ya, Nay? Lebih baik istirahat di rumah." saran Zafri yang sudah tampak kebosanan. Hanya melihat ke atas panggung yang masih kosong dengan lampu yang menyala.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seorang laki-laki yang menaiki atas panggung yang mereka tau bahwa status laki-laki itu adalah sebagai MC panggung.
"Nah! Itu dia, Bang. Jangan pulang, sebentar lagi dimulai." pekik Naya senang.
Naya yang mendengarnya langsung tergelak sempurna. Ada-ada saja kakak sepupunya ini. "Bukan, itu MC-nya. Abang belum pernah nonton konser ya?" tebak Naya.
"Abang tidak ada waktu untuk itu semua." balas Zafri cuek.
Naya memilih diam untuk tidak terlalu mengambil perkataan Zafri.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya. Maaf untuk keterlambatan ini karena ada sedikit kendala, jadi, konsernya sedikit terlambat. Baiklah, mari segera kita mulai konser panggung meriah kita. Mari kita sambut penyanyi favorit kita. MELODYYYY!!!" teriak MC dari atas panggung setelah mengucapkan permohonan maafnya atas keterlambatan konsernya.
Zafri yang mendengar nama tidak asing di telinganya langsung mematung. Ia tampak lebih memperhatikan di atas panggung, menunggu sang penyanyi menunjukkan wajahnya. Dalam hati, Zafri sudah berharap kalau nama tersebut bukanlah orang yang sama yang ada di dalam pikirannya saat ini. Tiba-tiba pikirannya melayang pada kejadian dua beberapa hari yang lalu dimana ciuman pertamanya diambil begitu saja.
Zafri merasakan kalau oksigen di sekitarnya itu mulai menipis saat melihat sosok wanita cantik yang perlahan menaiki atas panggung dengan berjalan begitu anggun. Sorak tepuk tangan langsung bergemuruh memenuhi ruang tertutup itu. Tatapan Zafri tidak pernah lepas dari atas panggung. Sungguh! Ia tidak menyangka kalau akan menonton konser wanita yang sudah merebut ciumannya untuk yang pertama kalinya.
Zafri yang penasaran langsung melirik ke arah Naya yang kini tampak lebih bersemangat sambil tangan yang ia genggam di depan dadanya. Apakah Naya juga salah satu orang yang mengidolakan penyanyi yang bernama Melody itu? Mengingatnya saja sudah membuat Zafri pening. Kalau benar adanya fakta itu, Naya sungguh wanita yang tidak waras karena sudah mengidolakan wanita seperti itu yang Zafri cap sebagai wanita gilaa.
__ADS_1
Pria itu membatin cukup lama sampai ia tidak menyadari kalau musik lagu sudah dimainkan. Diam-diam Zafri memuji suara wanita itu yang begitu merdu. Suaranya seakan-akan mengalihkan dunia Zafri.
Cukup lama mereka berada di ruangan tertutup itu, hingga konser pun selesai. Sebagian fans yang sangat ingin meminta foto bersama pun langsung berlari berbondong-bondong menemui penyanyi favorit mereka.
Setelah Melody turun dari atas panggung, para fansnya langsung berlarian menuju wanita itu dan tampak mengunjukkan kamera ponselnya. Para pengawal yang menjaga keamanan berlangsungnya panggung langsung memasang badan. Namun, mereka langsung diusir oleh Melody sendiri. Katanya biarlah para fansnya ingin meminta foto bersama, bukan ingin melukainya.
Sekitar 10 menit sudah wanita itu melayani para fansnya, akhirnya mereka pergi dengan senyum yang memuaskan.
Saat akan melihat idolanya pergi, Naya langsung menarik paksa tangan Zafri ketika pria itu baru saja kembali dari toilet tadi. Ya, setelah acara konser selesai, Zafri langsung meminta izin kepada Naya untuk pergi ke toilet. Dan Naya yang menyetujui langsung mengatakan akan menunggu di dalam saja. Tidak lupa Naya berpesan kepada Zafri agar tidak lama berada di toilet.
"Nay, mau kemana? Bukannya kita mau pulang?" Zafri mengernyitkan dahinya bingung. Ia yang tidak tau apa-apa pasrah saja saat Naya menarik tangannya paksa.
"KAK, TUNGGU!!" teriak Naya saat melihat Melody yang baru saja akan meninggalkan ruangan konser.
Reflek Melody berbalik saat mendengar suara teriakan cempreng khas wanita. Dahinya mengerut saya melihat dua orang berbeda gender tengah berlarian ke arahnya. Yang ia lihat hanya wajah sang wanita, sedangkan wajah sang pria tampak menunduk melihat ke bawah.
Naya langsung melepaskan tangan kakaknya saat mereka sudah tiba di hadapan Melody. Nafasnya terengah karena berlarian dan berteriak bersamaan.
"K-kakak hahhhhh... a-aku mengidolakanmu. Bisakahhh k-kita berfoto bersama? Hahhhhhhh..." Naya menghembuskan nafasnya panjang kemudian menarik nafasnya dalam untuk menormalkan deru nafasnya.
"Owh, oke. Baiklah." jawab Melody yang hanya melihat Naya, tanpa ia sadari bahwa ada pria yang dulunya menjadi dokter yang merawatnya di rumah sakit.
Naya langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Melody. Melody dengan tanggap langsung menerima ponsel itu.
Melody sudah berpindah di samping Naya ya g otomatis pria di belakangnya reflek mundur ke belakang. Dalam hatinya, Zafri mengumpat karena wanita itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
Saat akan mengarahkan kamera ponselnya, tiba-tiba Naya memprotes. "Kak, aku ingin berfoto bertiga. Bolehkah? Tapi, semua anggota tubuh kita harus terlihat." pinta Naya meminta izin terlebih dahulu. Jujur, hatinya sekarang ingin menjerir senang karena akhirnya mendapat kesempatan untuk berfoto bersama idolanya.
"Boleh, boleh. Eh ya, bertiga?" ulang Melody bingung.
Naya menganggukkan kepalanya lalu menoleh ke arah belakang di mana Zafri berdiri dengan wajah datarnya. "Satu orangnya ada di belakangmu, Kak." ujar Naya memberitahu.
__ADS_1
Langsung saja Melody menoleh ke arah belakang. Satu detik, ekspresinya masih sama seperti tadi. Namun, detik ke lima tiba-tiba ia membulatkan kedua bola matanya saat melihat sosok pria di belakangnya. Pria itu menatapnya datar dengan kedua bola mata tajam. Diam-diam Melody menggigit bibir bawahnya. Ingatannya kembali berputar saat ia mencium paksa pria itu dengan panas. Darah wanita itu langsung berdesir hebat. Dia jadi membayangkan respon apa kah yang akan pria itu tunjukkan kepadanya. Apakah pria itu akan marah kepadanya dan melakukan kekerasan kepadanya? Ah, itu tidak mungkin. Mengingat bahwa pria itu adalah salah satu spesies langka, alias dingin. Melody tebak kalau pria itu berasal dari negeri es karena sifatnya yang selalu dingin dan datar, belum lagi kilatan matanya yang sungguh tajam seakan-akan ingin memakan Melody hidup-hidup.