(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 30


__ADS_3

Liona menendang kasar pintu kamar tempat Melody dan Andi berada di dalamnya. Wanita itu juga sama kalutnya dengan Melody saat mendapat pesan bahwa dari Melody yang mengatakan dirinya bertemu dengan Andi yang tengah mabuk dan berujung dengan aksi kejar-kejaran.


Liona berlari cepat menuju keduanya, dimana Melody tampak memberontak saat Andi berusaha mencumbunya.


Bughh!!!


Liona menendang kasar tubuh Andi membuat pria itu meringis. Perlakuan Liona berhasil membuat Andi menjauh beberapa jarak. Liona langsung menarik Melody ke dalam pelukannya. Tangis Melody pecah di dalam pelukan Liona.


Namun, tidak sampai di situ, ternyata Andi kembali bangkit dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Liona yang melihat Andi kembali mendekati Melody langsung mendorong Melody. Karena posisi Liona menghadap Andi dan Melody yang membelakangi pria itu membuat Liona jelas melihat niat jahat dari Andi.


Brukhh


Andi berhasil menangkap salah satu dari mereka. Ternyata yang ditangkapnya adalah Liona, bukan Melody.


"Ternyata kau suka dengan yang kasar, Sayang..." bisik Andi tepat di telinga Liona. Pria itu kira wanita yang dia peluk sekarang adalah Melody.


"Lari, Melo!" ujar Liona menatap Melody yang tampak mendekat untuk menyelamatkannya.


"Tidak!" teriak Melody yang sudah dihiasi air mata di pipinya.


"Melo, pliss. Pergi dari sini. Aku akan mengatasinya." Liona berkata dengan nada bergetar.


"Tidak, Lio. Aku akan membawamu keluar bersamaku." tangis Melody pecah. Ia menjerit menangis sedih menatap Liona yang rela berkorban demi dirinya.


"Pergi sekarang atau aku tidak akan menganggapmu sebagai sahabatku. Aku juga tidak akan mau menemuimu lagi!" ancam Liona membuat Melody bimbang.


"Lari, Melo. Plis..."


Melody mengangguk pasrah. Dia berlari keluar dari kamar itu dengan keadaan berantakan.


Begitu keluar dari kamar itu, Melody tidak sengaja melihat segerombolan pria yang tampak mabuk dengan berjalan sempoyongan.


Mereka bertabrakan. Melody dengan cepat bangkit dan melarikan diri. Namun, sebelum itu terjadi, tangannya langsung dicekal.


"Lepasss!!"


"Hai, cantik. Bukankah dia cantik teman-teman? Wajahnya saja cantik, apalagi tubuhnya. Ohh ayolah, cantik. Mari bermain bersama kami."


Sekali lagi Melody terjebak dalam masalah. Setelah berhasil melepaskan diri, wanita itu langsung berlari keluar. Ternyata dirinya dikejar oleh beberapa pria membuat Melody kalang kabut dibuatnya. Belum lagi masalah Liona yang katanya mengatasi Andi sekarang. Melody menangis sejadi-jadinya. Baju lengan di sebelah kanannya sudah dirobek oleh beberapa pria tadi. Sebagian tubuhnya terekspos nyata membuat mata pria hidung belang langsung menatapnya lapar.


Melody berlari keluar dari area bar dengan keadaan mengenaskan. Rambutnya acak-acakan, lingkaran matanya hitam karena eyeliner dan maskaranya luntur akibat air matanya.


•••


Setelah acara makan malam dengan orang tuanya tadi, Zafri memutuskan untuk berkeliling kota untuk mencari angin malam. Sekedar menenangkan hatinya.


"Mau kemana malam-malam begini, Boy?" tanya Ceisya begitu mereka berpapasan di ujung tangga.


"Zafri pamit mau cari angin, Ma." jawab Zafri jujur.


"Baiklah. Jangan pulang larut, dan hati-hati."

__ADS_1


"Oke, Ma." Zafri mencium singkat pipi mamanya dan langsung pergi.


Zafri mengenakan mobilnya. Entah bisikan atau apa, dirinya malah membelokkan mobilnya di sebuah gedung bar. Bukan untuk mabuk-mabukan atau mencari wanita, Zafri hanya ingin merasakan ketenangan musik. Dia sudah beberapa kali ke tempat itu bersama dengan Bima. Kedatangan mereka hanyalah memesan minuman orange jus. Bukanlah alkohol atau bir. Maklum saja, keduanya adalah dokter.


Zafri berjalan menuju bar setelah memarkirkan mobilnya.


Tiba-tiba Zafri melihat seorang wanita berlari tidak tentu arah. Awalnya Zafri hanya biasa saja, namun, ia langsung melotot begitu tau dirinya menjadi sasaran wanita itu. Dan


Brughhh


Tubuh keduanya menabrak hingga membuat mereka terjatuh.


"Hei, Nona. Hati-hati kalau berlari." ucap Zafri kesal Pria itu bangkit lalu menepuk-nepuk bagian tubuhnya yang terkena debu.


Wanita itu mendongakkan kepalanya melihat Zafri. Zafri juga langsung menundukkan kepalanya.


"M-melo??" cicit pria itu penasaran. Ia langsung berjongkok untuk memeriksa apakah wanita itu Melody atau bukan. Setelah memastikan, ternyata itu benar-benar Melody.


Terdengar isakan tangis yang keluar dari balik bibir Melody. Zafri bingung sekaligus penasaran. Apakah efek dari tabrakan tadi membuat wanita itu kesakitan hingga membuatnya menangis?


"Z- zaf..."


Grep


Melody langsung menarik tengkuk leher Zafri dan memeluknya erat. Melody merasa hancur. Seolah topangan hidungnya roboh seketika.


"Ada apa, hei?" tanya Zafri bingung. Namun, ia masih menepuk pelan punggung Melody. Zafri merasakan tubuh Melody bergetar. Dan juga basah di baju bagian belakangnya.


•••


Andi menjauhkan wajahnya saat tangan Liona mendorong kasar.


Plak


Satu tamparan berhasil Liona layangkan di pipi pria itu. Anehnya, Andi tidak merasakan sakit. Malah tamparan Liona barusan membuatnya tersenyum.


"Kau benar-benar suka yang kasar, Melody sayangku?" ucap Andi masih dalam pengaruh alkohol.


"Aku bukan Melody! Aku Liona. Menjauh dariku, bajingannn!!"


"Hahah, aku suka kata-katamu untukku, Sayang. Kau hanya perlu diam dan nikmati. Biar aku yang bekerja."


Andi kembali menyerangnya brutaall. Membuat emosi Liona langsung meledak. Ternyata melawan pria mabuk itu sangat susah. Tenaganya malah tiga kali lebih kuat darinya. Liona bisa merasakan perubahan itu. Tenaganya semakin melemah.


"Aku sangat mencintaimu, Melody."


Cup


Andi mencium bibir Liona dengan bringas. Dia meluumaatt, menyesaapp, dan menyedot kuat bibir Liona. Sedangkan tangannya tidak tinggal diam. Dia menggerayangi tubuh Liona mulai dari pahanya lalu naik ke atas perut Liona dan berakhir sampai di depan dua gundukan yang menjadi kebanggaan setiap kaum adam.


Liona masih memberontak tidak terima tubuhnya di jamaah oleh pria brengseekkk itu. Namun, sekuat apa pun Liona melawan, tetap saja tenangnya kalah.


Liona pasrah. Dia sudah tak berdaya melawan tenaga Andi yang jauh lebih besar darinya.

__ADS_1


Akhirnya Liona bernafas lega saat Andi menjauhkan tubuhnya. Namun, itu hanya sesaat. Karena Liona pikir Andi akan berhenti. Namun...


"Aaakkkhhh..." Liona berteriak kencang saat merasakan tubuhnya terasa dibelah menjadi dua karena tiba-tiba sebuah benda besar, keras, dan terasa panjang menerobos daerah intimnya.


Refleks Liona mencengkram kuat bahu polos Andi. Liona juga tidak menyadari kalau tubuhnya sudah polos bak bayi baru lahir.


"A- Andi arghhhh..." Liona berteriak sekencang-kencangnya saat benda milik Andi masuk sempurna memenuhi area intimnya. Penyatuan mereka tidak dapat terelakkan lagi. Andi sudah berhasil mengambil sesuatu yang berharga di hidupnya.


Pria itu terdiam sambil memeluk tubuh polos Liona yang berada di bawah kungkungannya. Dia terdiam merasakan sebuah rasa yang berbeda di bawah sana. Terasa ada sesuatu yang hangat mengalir.


"Hikssss... sakittt...." rintih Liona menangis di dalam pelukan Andi.


Mendengar isakan tangis dari Liona membuat Andi tersadar, walaupun masih ada efek alkohol di tubuhnya membuat kepalanya pusing.


"L-liona?" ujar Andi terkejut. Setelah memastikan yang berada di bawahnya adalah Liona, Andi dibuat terkejutnya. Dia kira tadi adalah Melody. Bayang-bayang Melody yang berada di bawah kungkungannya membuat Andi terdiam sambil mengingat.


"B- brengsekkkk..." lirih Liona seperti kehilangan oksigennya karena di bawah sana terasa sangat penuh.


"M-elody mana?"


"Lebih baik aku yang hancur dari pada sahabatku sendiri." ucap Liona membuat hati Andi terasa terhantam baru besar.


Andi tersadar sepenuhnya. Dia bergerak berusaha untuk melepaskan penyatuan mereka. Namun, itu terlalu susah karena Andi merasakan sempit di bawah sana.


"Sshhhh..." tanpa sadar keduanya mendesis.


"S-sakitt..." cicit Liona tanpa sadar menggigit bahu Andi.


Nafas pria itu tersengal-sengal. Tanggung mengakhirinya karena rasanya sulit dia jelaskan. Andi meringis menahan perih di bahunya, namun, itu semua kalah dengan rasa yang Liona berikan di bawah sana.


Andi menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya panjang membuat nafasnya itu menghembus wajah Liona yang berada di bawahnya.


Pria itu masih terdiam sembari mengontrol tubuhnya agar tidak bertindak lebih. Namun, pikiran dan tubuhnya berlawanan sehingga membuat Andi menggerang.


"Arghhh, siaallll!!" pekik Andi kehabisan sabar kemudian langsung menghujam tubuh Liona, namun, dalam tempo pelan karena ketika dia akan melajukannya itu terasa sangat susah.


Liona merintih merasakan perih dan sesak di bawah sana. Dia tidak habis pikir dengan Andi yang malah berbuat nekat. Dia kira Andi akan melepas penyatuan mereka. Namun, perlakuan pria itu justru berbanding berbalik.


"Aaaaahhhh, A-andi..." racau Liona kehilangan kendali tubuhnya.


Lama-kelamaan tanpa sadar Liona mendesaaah panjang sambil menyebutkan nama pria itu. Mereka melupakan siapa dan dimana mereka berbuat hal nekat.


"Liona aahh ahhhh..."


"Shhsakit Anndii..." racau Liona kala pria itu bergerak liar membuat tubuhnya bergetar hebat.


Tidak ingin mendengar kecerewetan Liona, Andi langsung membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya. Andi melumaatt habis bibir Liona. Lidahnya menerobos masuk ke dalam rongga mulut Liona tanpa mau mengurangi intensitas gerakannya di bawah sana. Membuat Liona mendesaah di dalam lumaataann liar Andi.


.


.


.

__ADS_1


huhuhu maapkan😭gabisa ini gabisa 😭🤣 maap loh ya🤣🤣🤣


__ADS_2