(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 22


__ADS_3

"Kalian benar-benar bikin Mama malu. Mau ditaruh di mana muka Mama. Ini di rumah sakit, Zaf. Kamu juga, Sayang. Kenapa mau-mau aja diperlakukan seperti itu oleh Zafri. Untung yang masuk itu Mama, bukan staff rumah sakit." omel Ceisya kepada dua orang anak muda yang saat ini duduk berlutut di kakinya dengan kepala menunduk ke bawah. Mereka seperti pasangan yang kepergok melakukan hal tidak senonoh, eh lebih tepatnya memang seperti itu.


Melody mendongakkan kepalanya, melihat wajah Ceisya dari bawah sana karena wanita paruh baya itu duduk di atas sofa sedangkan mereka duduk di bawah. "Melody tidak salah, Ma. Yang salah itu Zafri." bela Melody lalu menyalahkan pria yang duduk bersimpuh di sampingnya.


Sontak Zafri menatap Melody protes. "Asal kau tau, kau juga sangat menikmatinya. Kenapa di sini hanya aku yang salah?" ucap Zafri tidak terima menjadi kambing hitamnya.


"Syutt! Kalian itu, tidak malu apa dengan Liona." tegur Ceisya membuat wanita muda yang duduk di sampingnya itu melengos menatap sembarang arah. Liona sudah jengah melihat pasangan itu yang entahlah benar atau tidak mereka menjalin hubungan.


Zafri langsung tersenyum sinis menatap Liona. "Dia juga tidak kalah sama. Malah lebih parah, dia berciuman dengan Bima di koridor rumah sakit waktu lalu." sindir Zafri halus.


Sontak bola mata Liona melotot ke arahnya. "Mana ada!" sangkal sahabat dari Melody itu.


"Tentu ada. Bima memberitahu ku semuanya. Dan apa kalian tidak sadar ada CCTV yang memantau semua aksi kalian itu?" tampak Liona gelagapan menatap Zafri.


"Lio, kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Melody membuat Liona langsung meneguk ludahnya kasar. Matilah dia karena sahabatnya kini sudah tau.


"Itu sebuah ketidaksengajaan. Mana mungkin aku mau berciuman dengan pria asing?" bela Liona.


"Kalian itu sama-sama munaafiik. Bilang saja rasanya enak."


Plak


Ceisya memukul kepala putranya cukup keras. "Kenapa bahasa kalian itu tidak sopan sekali. Masih ada Mama di sini, ingat itu!" kecam Ceisya menatap tajam wajah sang putra. Baru kali ini ia melihat putranya berkata kotor saat bersama wanita di sampingnya. Pikiran Ceisya langsung tertuju pada suaminya, ya, itu semua ada turunan sifat Zafran yang membuat otak Zafri geser.


"Zafri hanya berkata jujur, Ma. Apa yang salah?" keluh pria itu meraba kepalanya sehabia dipukul oleh mamanya sendiri.


"Kau dengan Papamu itu sama saja. Bisa tidak kalian itu sedikit saja lebih waras."


"Tidak bisa, Ma." jawab Zafri spontan membuat Ceisya menggeram kesal.


Ceisya menggelengkan kepalanya pelan. "Lupakan itu. Sekarang Mama hanya ingin meminta penjelasan dari kalian."


"Apa yang perlu dijelaskan?" tanya Zafri menatap wajah sang mama.

__ADS_1


Plak


Sekali lagi Ceisya memukul kepala sang putra hingga membuat Zafri meringis begitu juga dengan Melody yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.


"Dasar pintar! Mama ingin penjelasan dari kalian berdua tentang apa yang kalian lakukan tadi. Tidak kah kalian berpikir itu terlalu jauh hanya untuk hubungan sepasang kekasih?"


Zafri langsung melirik Melody sengit, mengkode wanita itu agar membujuk sang mama. Melody yang mengerti langsung menggerakkan tangannya menyentuh kedua lutut Ceisya yang terbungkus celana panjang.


"Ini semua bukan apa yang ada di pikiran Mama saat ini. Melody-dan Zafri itu tidak memiliki hubungan apa pun. Mungkin hanya sebatas hubungan dokter dan pasien saja." jelas Melody berkata jujur.


Ceisya ikut memegang tangan Melody sehingga tangan mereka bertumpukan. "Tidak ada hubungan dokter dan pasien seperti itu sampai-sampai melakukan hal yang tidak biasa. Mama pikir umur kalian sudah cukup untuk menjalin hubungan yang lebih serius lagi. Apa kalian saling mencintai?" tanya Ceisya lembut. Menatap putranya dan Melody secara bergantian.


"Tidak, Ma." jawab Melody.


"Zafri?" sahut Ceisya menatap sang putra.


Zafri terdiam cukup lama. Jujur, hatinya bimbang. Disaat ia berjauhan dengan Melody rasanya ada sebuah rasa yang sulit ia jelaskan. Ia ingin bertemu dengan wanita itu, ingin sekali mengikis rindu. Tapi, disaat mereka berdekatan, rasanya Zafri suka sekali menggoda wanita itu.


Bukannya menjawab, Zafri malah melirik Liona. Seolah-olah risih jika mengatakan isi hatinya dan itu didengar oleh orang asing. Liona yang mengerti langsung berpamitan beralasan ada pekerjaan yang harus ia kerjakan. Dan Ceisya pun menyetujuinya.


Ceisya menganggukkan kepalanya mendengar penuturan sang putra. Kini ia melihat Melody yang terdiam saat setelah Zafri berkata.


"Kamu dengar itu, Sayang? Mama tidak memaksa kalian untuk menjalin hubungan. Tapi, Mama sangat memaksa kalian untuk segera menikah."


"APA!!!"


"M-me-ni-kah..."


"Mama sudah tidak lagi muda. Mama mau menyaksikan acara pernikahan anak sulung Mama ini. Adik kamu saja sudah menikah, kenapa Abangnya belum?" Ceisya mengelus pelan rahang tegas Zafri.


Zafri langsung menangkap tangan yang mama yang mengelus rahangnya. "Nanti saatnya akan tiba, Ma. Sekarang Zafri belum menemukan wanita yang pas untuk dijadikan istri sekaligus teman untuk mama bicara."


"Kapan, boy? Mama sudah tua, mungkin setelah kamu menikah nanti, Mama akan langsung pensiun. Begitu juga dengan Papamu."

__ADS_1


"Secepatnya." jawab Zafri tersenyum.


"Oke, Mama tunggu. Mama harap itu seperti Melody yang akan menjadi pendamping kamu."


Melody terdiam menatap wajah Ceisya yang berubah sendu.


"Mama kembali dulu. Jangan terlalu dipikirkan." ucap Ceisya lalu menepuk pelan bahu putranya.


"Mama pergi dulu, Sayang. Kamu cepat sembuh ya, jaga kesehatan." Ceisya mengelus kepala Melody pelan lalu setelahnya bangkit dari duduknya kemudian keluar dari ruang rawat inap Melody.


Setelah kepergian Ceisya, baik Zafri maupun Melody masih terdiam di tempat. Bahkan posisi keduanya tidak berpindah sama sekali.


Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Zafri tersadar dan segera berdiri sambil menepuk-nepuk pelan celananya yang terkena sedikit debu.


"Aku ada pemeriksaan. Nanti sore kau sudah boleh pulang." kata Zafri seraya merapikan jas kebesarannya.


"Pulang?" tanya Melody mendongakkan kepalanya. Entah kenapa ada rasa tidak rela jika dirinya harus pulang secepat itu.


"Ya. Kau tidak mau pulang?" Melody terdiam.


"Aku pergi." pria itu langsung melangkah menjauhi Melody.


Melihat satu per satu orang di ruangan Melody pergi membuat alis dan kening Liona mengerut. Apalagi wajah mereka menunjuk ekspresi yang berbeda-beda. Wanita seumuran dengan Melody itu langsung berlari masuk ke ruangan sahabatnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Liona panik setelah mendekati Melody yang masih bersimpuh di atas lantai keramik.


"Entahlah. Aku tidak tau." jawab Melody dengan tatapan kosong. Sesaat ia baru tersadar setelau mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Langsung saja Melody memberikan tatapan tajam ke arah Liona.


"Kau menyembunyikan hal sepenting itu?!"


Deg


Jantung Liona berdetak cepat saat Melody kembali mengingat hal tadi. Liona sudah bersiap-siap untuk berlari dari amukan Melody, namun, ternyata gerakannya kalah telak oleh Melody yang kini sudah menarik kerah bajunya ke atas.

__ADS_1


"Kau mendapat hukuman yang sangat berat setelahnya, Lio!" bisik Melody membuat seluruh bulu kuduk Liona merinding seketika.


__ADS_2