
Zafri mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju perusahaan milik sang Opa yang kini sudah berada di bawah kekuasaannya. Sangat jarang Zafri berada di kantor karena fokusnya hanya kepada profesinya sebagai dokter. Desas-desus yang mengatakan bahwa dirinya adalah pimpinan yang dingin, kejam, cuek, pun terdengar. Ya, itu karena dirinya yang jarang mengunjungi kantor.
Drttt drtttt drtttt
Suara panggilan serta getaran telfon di holder mobil membuat Zafri mengalihkan perhatiannya. Tangannya langsung bergerak membuka laci dashboard untuk mengambil headset bluetooth-nya dan memasangkannya ke telinganya lalu menyambungkan ke panggilan telfonnya.
"Hmmm..." gumam Zafri ketika panggilan telfonnya tersambung.
"..."
"Aku akan segera tiba." balas Zafri lalu mematikan sambungan telfonnya secara sepihak, membuat sekretaris sekaligus tangan kanannya menghela nafas di seberang sana.
Zafri langsung melepaskan headset bluetooth-nya dari kedua telinganya dan menyimpannya ke tempat asalnya.
Dalam hati, ingin sekali Zafri mengeluh lelah. Ia juga ingin merasakan kebahagiaan tersendiri walaupun sekarang ia sudah bahagia karena memiliki keluarga yang selalu mensupportnya. Namun, lelah pria itu bukan sekedar itu. Ia ingin seseorang yang selalu mendampinginya setiap saat. Apakah pria itu berharap memiliki seorang istri? Entahlah.
Saat sedang berkendara, Zafri dikejutkan dengan jalanan yang tiba-tiba macet. Mobilnya yang awalnya perjalanan pelan kini malah tidak bisa bergerak sedikit pun. Zafri bingung. Ada apa?
Sudah beberapa kali Zafri melirik jam di pergelangan tangannya karena ini sudah lebih dari 10 menit. Zafri hanya takut kalau perusahaan sedang membutuhkannya sekarang juga.
"Hufftt!!!" pria itu menghembuskan nafasnya kasar. Lagi-lagi ia terjebak macet untuk yang ke-dua kalinya.
Saking fokusnya ke arah depan, Zafri bahkan sampai tidak sadar kalau saat ini ada seseorang yang membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Pintu itu kembali tertutup dengan sangat pelan sehingga Zafri tidak menyadarinya.
Sudah setengah jam ia terjebak macet membuat telfonnya kembali berdering.
"Jalanan macet karena ada kecelakaan di depan. Jika memang meetingnya akan segera dimulai, kamu gantikan saya." titah Zafri kepada bawahannya. Lalu setelahnya Zafri langsung memutuskan sambungan telfonnya tanpa mau mendengar jawaban dari seberang sana.
Setelah menunggu lama, akhirnya macetnya tidak separah tadi. Zafri bisa membawa mobilnya dengan kelajuan pelan. Setelah melewati kawasan macet tersebut, pria itu bernafas lega.
"Hachiiiiii!!"
Sontak Zafri menginjak pedal remnya membuat mobilnya berhenti mendadak. Sungguh! Zafri dibuat terkejut dengan suara seorang perempuan bersin dari arah jok belakang.
Cittt
Bruk
"Aduh!"
"Kamu ngapain ada di mobil saya!!?" teriak Zafri marah ketika ia menoleh ke belakang dan melihat seseorang berpakaian tertutup. Bahkan wajah dan matanya tidak terlihat.
__ADS_1
Perempuan berambut panjang itu meraba kepalanya yang sempat terantuk ke belakang kursi di sebelah kursi Zafri yang kosong. Seketika ia bangkit dari bawah sana dan berpindah tempat, duduk di atas kursi jok belakang.
"Kamu maling!!!" tuduh Zafri langsung mendapat pelototan tajam dari balik kacamata hitam itu.
Sontak perempuan berambut panjang itu langsung membuka masker beserta kacamata hitamnya. Begitu semua perlindungan wajahnya di tutup, bola mata Zafri langsung melotot seakan keluar dari tempatnya.
"Kau!!!" teriak Zafri dengan dada naik turun. Nafasnya terdengar sangat kasar.
Sementara si pelaku dengan tidak ada rasa bersalahnya hanya menyengir. "Sorry, Zaf. Tadi aku dikejar para fans, apalagi tadi jalanan macet." ucap Melody meminta maaf. Ya, perempuan tersebut adalah Melody. Dia lah yang masuk secara diam-diam ke dalam mobil Zafri.
Awalnya wanita itu tidak tau sama sekali pemilik dari mobil yang ia masuki sekarang. Setelah di pertengahan jalan, wanita itu baru sadar bahwa pemilik mobil tersebut adalah Zafri. Karena berada di bawah membuatnya harus terpaksa mencium debu dan berakhir dengan bersin.
"Hufttt!!!" kali ini Zafri hanya bisa menghela nafas panjang. Kepalanya terasa pusing. Sudah terjebak macet, sekarang malah terjebak dengan wanita itu. Seandainya saja Zafri tidak sedang terburu-buru, maka sudah dipastikan ia akan memberi sedikit hukuman kepada Melody.
"Sudahlah. Aku tidak memiliki banyak waktu sekarang. Kau mau aku turunkan dimana?" tanya Zafri to the point.
Melody langsung cemberut mendengarnya. "Memangnya kau mau kemana? Aku ikut!" seru wanita itu semakin membuat Zafri pusing tujuh keliling.
"Aku ada pekerjaan penting. Lebih baik kau aku turunkan di depan." tolak Zafri.
"Sepenting apa? Aku janji tidak akan menganggu mu." Melody menunjukkan dua jarinya ke hadapan Zafri.
"Apa yang kau lakukan!?" sentak Zafri begitu heran dengan tingkah Melody.
"Aku ikut. Titik!" ucap Melody tidak ada penolakan. Bahkan ia sudah duduk anteng di samping Zafri, wanita itu juga bahkan sudah memasang sabuk pengamannya.
"Terserah." final Zafri lebih baik mengalah. Ia kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang lumayan padat oleh kendaraan.
Keduanya sama-sama terdiam, beda dengan Melody yang sudah beberapa kali tertangkap basah memandangi Zafri.
"Zaf." panggil Melody. Kali ini wanita itu bisa melihat wajah serius Zafri, tidak ada ekspresi jahil sedikitpun di wajahnya.
"Hmmm..." pria itu hanya berdehem tanpa mau bertanya apa.
"Aku lupa memberi kabar dengan Liona." ucap Melody yang tidak dilirik oleh Zafri sekalipun. Pria itu masih tetap fokus melihat ke depan saat berkendara.
"Aku tidak peduli." balas Zafri membuat Melody menekuk wajahnya masam. Ia lekas merogoh koceknya dan mengambil ponselnya. Melody tampak mengirimkan beberapa pesan kepada Liona terutama kabarnya yang kini hilang tanpa jejak.
Setelah mengirim pesan itu, Melody kembali mematikan ponselnya lalu melirik Zafri.
"Kau kenapa? Ada yang salah?" tanya Melody hanya mendapat balasan lirikan singkat.
__ADS_1
"Ish!" decak Melody kesal. Ia merubah posisinya, duduk dengan kedua tangan bersilang di dada dan pandangan lurus ke depan.
Sementara itu, Zafri tampak menahan senyumnya. Puas sekali sudah mengerjai Melody. Pikirnya.
Selang beberapa waktu akhirnya mereka sampai di depan sebuah gedung pencakar langit yang kini tampak lebih berkembang pesat.
Melody langsung melihatnya kagum. "Kau bekerja di sini?" tanya wanita itu hanya dibalas anggukan singkat oleh Zafri. Ingatkan pria itu bahwa saat ini ia berada di fase badmood.
"Aku baru pernah ke sini. Sebelumnya aku hanya mendengar gosip saja, ada yang mengatakan bahwa pimpinan mereka saat ini masih muda. Tapi sayang, dia jarang datang ke perusahaannya sendiri." Melody bukanlah wanita kolot, jelas ia tau seluk-beluk dunia modern.
Zafri yang merasa penasaran pandangan Melody terhadap dirinya langsung mengajukan beberapa pertanyaan. "Lalu? Apa yang kau ketahui tentang pimpinan perusahaan ini?" tanya pria itu sedikit tertarik.
Melody terdiam sejenak, tangannya mengelus-elus dagunya sambil memutar otaknya. "Aku hanya mendengar sebagian dari netizen. Dan menurut pandanganku itu--" wanita itu menjeda perkataannya membuat kekepoan Zafri meningkat drastis.
"Menurutmu?"
Zafri lumayan terkejut saat Melody meliriknya cepat. Diam-diam Zafri menelan ludahnya kasar.
"Akan ku beritahu. Tapi, ada syaratnya." sambung Melody setengah berbisik.
"Syarat?" tanya Zafri bingung.
"Iya. Kau jangan memberitahu pimpinan itu ya?" Zafri menganggukkan kepalanya.
Zafri mendekatkan wajahnya ke hadapan Melody saat wanita itu menggerakkan ujung jarinya meminta Zafri untuk mendekat.
Setelah mendekat, Zafri meneguk ludahnya kasar saat nafas hangat Melody menerpa telinganya. Sungguh! Itu adalah kelemahan Zafri. Mati-matian ia menahan sesuatu yang mendesak di bawah sana agar tidak bangun di saat yang tidak tepat. Entahlah, kenapa berada di dekat Melody itu rasanya mudah sekali tergoda.
"Menurutku, pimpinan itu adalah seorang gay." bisik Melody pelan membuat Zafri melotot lebar, bahkan bola mata Zafri hendak keluar dari tempatnya.
"Apa!!"
"Jangan berteriak di depanku." Melody menutupi telinganya saat suara Zafri masuk tanpa halangan ke gendang telinganya.
.
.
.
maaf, kita slow update ya baik di lapak ini maupun di lapak sana🙏🏼
__ADS_1