(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 26


__ADS_3

Setelah acara makan-makan tadi, sekarang Zafri mengantarkan Melody pulang ke apartemennya.


"Pakai ini." Melody menyodorkan masker hitam kepada Zafri membuat pria itu menatapnya bingung.


"Aku tidak mau wajahmu terpampang di media sosial." tutur Melody.


"Owh, baiklah." Zafri yang sudah paham langsung mengambil masker itu dan memakainya. Keduanya berjalan beriringan menuju lift.


Begitu sampai di lantai kamar apartemen Melody, Zafri langsung melepas maskernya begitu juga dengan Melody.


Sekarang lorong apartemen di lantai tersebut tidak lagi gelap. Melainkan terang benderang karena waktu lalu Melody sudah memberitahu kepada pihak gedung itu agar memasang lampu di sepanjang koridor.


Tiba-tiba Zafri menghentikan langkahnya membuat Melody juga mengikutinya.


"Ada apa?" tanya wanita itu menatap wajah Zafri.


"Kenapa dia ada di sini?" Zafri menatap datar di depannya dimana ada seorang pria berdiri dengan santainya di depan pintu kamar Melody.


Melody langsung mengalihkan pandangannya dan benar saja ia juga melihat hal yang sama seperti Zafri.


"Aku tidak tau." lirih Melody lalu menarik ujung baju Zafri untuk membawanya jauh. Namun, Zafri malah menepis pelan tangan Melody.


"Lanjutkan." gumam Zafri membuat Melody mendelik bingung.


"Apa?"


Zafri tidak menjawab, melainkan menarik bahu Melody hingga tubuh mereka menempel. Ia melingkarkan tangannya di bahu Melody lalu menuntun wanita itu agar tetap berjalan.


"Ck! Kau lagi kau lagi. Tidak bosan-bosannya melihatku." seru seorang pria yang berdiri di depan kamar Melody saat mereka sudah berjalan mendekat.


"Harusnya aku yang mengatakan hal itu. Tidak bosan-bosannya kau mengejar Melody hanya untuk tujuan yang tidak jelas." balas Zafri pedas.


Andi tampak tersenyum berdecih menatap Zafri yang menurutnya sok-sokan akrab dengan Melody. Andi berjalan mendekat, lalu tanpa diduga pria itu menepis tangan Zafri yang melingkar di bahu Melody.


"Kau sama saja baji*ngannya denganku. Jangan sok menasehati." ujar Andi lalu menatap Melody menyeringai.


"Ck!" Zafri berdecak kesal. Ia menarik tangan Melody lalu menyingkirkan tubuh Andi yang menghadang pintu masuk kamar Melody.


"Masuklah." titah Zafri.


"Tapi--"


"Aku akan berjaga di luar. Kau tenang saja."

__ADS_1


Melody menatap bola mata Zafri untuk mencari jawaban atas perkataan pria itu barusan. Melody bisa melihat kesungguhan pria itu. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya menurut.


Klik


Pintu kamar apartemen Melody terbuka begitu ia menempelkan kartu akses masuk.


"Istirahatlah." ucap Zafri pelan dibalas anggukan oleh Melody yang kemudian langsung menutup pintu kamarnya.


Namun, saat membalikkan badannya, Zafri mendengar pintu kamar Melody kembali terbuka. Zafri kembali menatap Melody dengan tataan heran.


"Ada apa?" tanya Zafri bingung.


Melody tidak menjawab, melainkan melangkahkan kakinya mendekati Zafri hingga kini jarak mereka hanya tersisa beberapa centi saja. Mereka bahkan mengabaikan keberadaan Andi yang saat ini mungkin sudah mendidih darahnya.


Cup


Tiba-tiba Zafri merasakan sebuah benda kenyal yang menempel tepat di bibirnya. Mata Zafri membesar menatap Melody yang berani-beraninya mencuri ciumannya untuk yang ke-dua kalinya.


Tepat saat Melody menggerakkan bibirnya pelan, saat itu juga Zafri langsung memejamkan matanya perlahan. Ya walaupun gerakan Melody terkesan sangat kaku, tapi, Zafri sungguh dibuat terpana olehnya. Zafri tersenyum di sela-sela luma tan bibir Melody. Pria itu hanya diam saja tidak membalasnya karena ia ingin tau sampai dimana keberanian Melody.


Saat akan menjauhkan wajahnya, tiba-tiba Zafri menarik tengkuk Melody lalu menyesap bibir pink itu. Zafri mengigit bibir bawah Melody disusul dengan sesapan yang cukup kuat hingga membuat bibir Melody tertarik oleh Zafri.


Setelah itu, Zafri langsung melepaskan tautan bibir mereka. Zafri tersenyum melihat bibir Melody yang sedikit bengkak karena perbuatannya. Melody juga membalas Zafri dengan senyumannya. Tangan wanita itu terulur ke bibir Zafri lalu menyeka saliva mereka yang tertinggal di sudut bibir Zafri.


Sementara di luar, Zafri tampak terbengong menyaksikan kepergian Melody. Diam-diam Zafri menjilati bibirnya sekilas.


"Manis."


Zafri membalikkan badannya kemudian memandang Andi dengan tatapan sinis. Zafri berjalan mendekati pria itu dengan tangannya menyeka sudut bibirnya. Seolah-olah Zafri ingin pamer karena Melody menciumnya di depan Andi tanpa paksaan maupun pintaan dari Zafri.


"Aku yang pertama merasakan manis bibirnya."


Andi memandang Zafri dengan tatapan jiijiik. "Dan aku yang akan merasakan tubuhnya untuk pertama kali." sambung Andi tiba-tiba tersenyum menyeringai.


Zafri malah terkekeh pelan. Lalu, tawanya langsung berhenti berganti dengan ekspresi dingin. "Langkahi dulu mayatku."


"Dan ya, satu lagi. Aku harap kau berhenti mengejarnya, apalagi berbuat buruk kepadanya. Kau sudah merasakan sakitnya pukulanku bukan?"


"Aku pantau kau dari bawah. Jika dalam 5 menit kau tidak menjauh dari sini, maka, aku yang akan menarikmu secara paksa."


"Siaall!!!" umpat Andi menggeram sambil melihat kepergian Zafri dengan tatapan dendam dan amarah.


•••

__ADS_1


Sementara di kediaman Zafri, tampak orang rumahnya tengah mendapat kabar bahagia tentang kehamilan pertama adik bungsu Zafri, yaitu Aiyla. Ya, karena kehamilannya itu membuat Aiyla ingin sekali menginap di rumah kedua orang tua kandungnya. Alhasil Rakha memilih pasrah saja sambil mengambil cuti agar bisa menemani sang istri.


Wanita yang baru saja menyelesaikan wisudanya tahun lalu itu tampak menikmati elusan lembut di perutnya yang masih rata.


"Mas." panggil Aiyla dengan suara lembutnya.


"Iya, Sayang?" sahut Rakha yang tampak berbaring di paha istrinya sambil kepalanya ia benamkan di perut rata istrinya.


"Mau mangga." sontak Rakha menghentikan gerakan kepalanya yang mendusel-dusel di perut Aiyla.


Tiba-tiba Rakha bangkit dari baringnya, pria itu berpindah posisi. Ia duduk di samping istrinya sambil menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan perut Aiyla.


"Baby mau mangga?" tanya Rakha mengajak calon bayinya berbicara. Padahal usianya belum genap satu bulan.


"Iya, Aba. Mau mangga yang di depan rumah tetangga itu." balas Aiyla menirukan suara anak kecil.


Rakha langsung terkekeh mendengarnya.


"Ya udah, ayok kita petik mangganya. Tapi, izin dulu sama yang punya mangga ya, Sayang?" Rakha bangkit dari posisinya sambil mendaratkan satu kecupan di kening Aiyla.


Tiba-tiba Aiyla menarik ujung bajunya membuat Rakha menatapnya bingung.


"Ai mau Abang Zafri yang ambil." Rakha langsung melebarkan kedua bola matanya.


"Serius, Sayang? Tapi, Abah Zafri belum pulang." sahut Rakha cukup terkejut dibuatnya.


"Ya udah, telfon aja." rengek Aiyla menggoyangkan lengan suaminya.


Rakha langsung meraup wajahnya kasar. Bukan tidak mau menuruti perkataan sang istri. Namun, ia hanya takut menganggu abang iparnya. Apalagi hari sudah malam, Rakha pikir itu pasti sulit.


"Abaa..." rengek Aiyla dengan bola mata berkaca-kaca membuat Rakha tidak tega melihatnya.


Rakha memegang kedua sisi wajah Aiyla agar menatapnya. "Na'am, Sayang. Aba telfon Abang Zafri dulu." tutur Rakha lembut membuat senyum Aiyla langsung terbit.


"Yeayyy!! Makasih, Abaa..." wanita itu langsung menghadiahi seluruh wajahnya dengan kecupan basah yang membuat Rakha terkekeh geli.


.


.


.


ada yang suka cerita singkat Aiyla gak🤔

__ADS_1


__ADS_2