
Brakkk!!!
Zafri membuka kasar pintu ruangan tersebut hingga menimbulkan suara yang cukup keras yang membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terlonjak kaget.
Netra mata Zafri berkeliaran dan netranya berhenti pada Rakha yang duduk di samping penghulu. Karena marah, Zafri langsung berjalan cepat menuju Rakha. Zafri langsung menarik kasar kerah kemeja Rakha dan mencengkramnya kuat. Matanya menatap Rakha nyalang.
Bughhh
Zafri tidak main-main langsung saja mendaratkan satu pukulan ke wajah adik ipar sekaligus sahabatnya. Semua orang yang berada di ruangan tersebut langsung menjerit dan tampak ketakutan saat melihat pria asing yang masuk ke ruangan itu tanpa mengucap salam.
Bughhh
Satu pukulan lagi mendarat di perut Rakha. Pria yang menjadi adik iparnya itu hanya terdiam tidak membalas pukulan Zafri.
"Kau!" Zafri mencengkram kasar kerah kemeja Rakha dan menariknya ke atas. "Aku tidak akan membiarkanmu menemui adikku lagi!" kecam Zafri sangat marah.
Brukk
Rakha terjatuh ke atas lantai karena dorongan keras dari Zafri. Semua orang yang melihatnya langsung bergerak mencoba untuk melerai pertengkaran dia pria itu. Namun, mereka berhenti ketika Zafri kembali berucap.
"Ini urusanku dengannya. Jangan ada yang ikut campur." tekan Zafri tanpa mengalihkan pandangannya dari Rakha.
Mereka yang mendengarnya sontak mundur karena takut mendengar suara Zafri yang menyeramkan.
"Cihh!!!" Zafri berdecih lalu memalingkan wajahnya ke samping. Kemudian ia menatap Rakha yang tampak tidak berdaya di atas lantai keramik.
"Aku sudah menyerahkan tugasku untuk menjaga Aiyla kepadamu. Tapi, rupanya kau tidak mendengarkan ucapanku. Kau sendiri yang menyakiti hatinya. Kau tau, sedari kecil, aku tidak pernah membiarkannya meneteskan air mata. Aku menjaganya bagikan sebuah permata. Dan dengan lancangnya kau membuatnya menangis. Bisa saja aku memisahkan kalian berdua jika aku mau. Tapi, aku masih berbaik hati untuk memberikanmu kesempatan kedua. Tapi, sekarang, aku rasa kesempatan itu tidak akan pernah ada lagi."
"Jika kau sudah tidak lagi mencintai adikku, katakan! Aku yang akan menjemputnya sendiri."
Hati Zafri bagaikan tertusuk seribu pedang tajam yang menancap di hatinya. Sekarang kedua matanya bahkan sudah mengembun. Pertama kalinya Zafri hampir menangis.
Rakha berusaha bangkit karena menahan nyeri di wajah dan perutnya. Zafri salah paham kepadanya. "T-tunggu. Kamu salah paham. Sungguh! Aku masih sangat mencintai Aiyla, istriku. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya begitu saja. Aku mendapatkannya dengan susah payah, bagaimana bisa aku melepaskannya begitu saja?" lirih Rakha gemetar.
"Aku rasa, ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa kau sudah tidak lagi menginginkan adikku. Kau tenang saja, aku sendiri yang akan mengurus surat perceraian kalian. Kau tau, aku, bahkan keluargaku tidak pernah suka dengan namanya orang ke-tiga."
"Maksudnya apa orang ke-tiga?" tanya Rakha heran.
__ADS_1
"Cih! Pura-pura bodoh atau memang bodoh?! Aku tidak rela jika adikku dipoligami!"
Sekarang Rakha mengerti. Rupanya satu keluarga itu salah paham kepadanya. "Aku tidak akan pernah mempoligami. Sekarang, apa yang kamu lihat hingga semarah ini?"
Zafri mengedarkan pandangannya. Sesaat ia tersadar, kalau dirinya salah paham kepada Rakha. Ya Zafri salah paham. Ternyata yang mengucapkan ijab qabul bukanlah Rakha, melainkan seorang pria yang duduk di samping mempelai wanita. Zafri pikir, pernikahan itu adalah pernikahan darurat. Dapat ia lihat, pasangan itu melaksanakan ijab qabul di ruangan rumah sakit. Dan di atas ranjang rumah sakit, terdapat seorang laki-laki yang terbaring lemah dengan berbagai alat yang melekat di tubuhnya.
"Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakiti Aiyla. Aku akui aku salah karena sudah menyembunyikan masalah ini darinya. Aku hanya tidak ingin melibatkan Aiyla. Ini adalah masalahku. Sebesar apapun masalahnya, aku tidak akan meninggalkan Aiyla." tutur Rakha menjelaskan.
"Dan maaf, karena empat hari ini aku sama sekali tidak menemuinya. Aku benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkannya karena aku tau, kalau aku melibatkannya, pasti itu akan membuat hatinya lebih sakit. Sekarang, masalahnya sudah selesai."
"Maaf." hanya satu kata yang bisa Zafri ucapkan. Salahkan Rakha yang sama sekali tidak terbuka dengannya hingga membuat keluarganya salah paham.
Rakha berjalan mendekatinya dan menepuk pelan bahu Zafri. "Di sini aku yang salah. Aku akan memperbaiki semuanya."
Zafri menganggukkan kepalanya kecil.
•••
Sekarang Zafri sudah bisa bernafas lega. Masalah sang adik kini sudah terpecahkan. Zafri sangat beruntung Aiyla mendapatkan laki-laki yang tepat. Buktinya saja, ketika Rakha diterpa masalah yang besar. Pria itu sama sekali tidak berniat untuk mempoligami. Sedikit saja yang Zafri sayangkan, Rakha terlalu tertutup hingga masalah sebesar itu pun ia hadapi sendiri. Menurut pandangan Zafri, seharusnya Rakha bisa membicarakan masalahnya bersama Aiyla. Agar Aiyla tidak salah paham.
Yang Zafri pikirkan saat ini hanyalah satu. Masalah hatinya yang tidak kunjung tenang. Hampir satu minggu ini Zafri tidak pernah bertemu lagi dengan Melody. Apa kabar wanita itu? Apakah dia sehat. Dan... apakah wanita itu bahagia dengan pilihannya? Seharusnya Zafri tidak segalau ini karena ia sadar kalau dirinya bukanlah siapa-siapa.
Jok belakang mobil Zafri yang awalnya kosong kini sudah terisi banyak sekali barang, entah ini makanan ataupun pakaian. Ya, kalau bukan kerjaan sang mama siapa lagi coba, yang memintanya untuk membawakan oleh-oleh sebanyak itu.
Zafri membelokkan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang terletak di kotanya. Ya, pria itu sudah sampai di kotanya setelah berkendara cukup panjang.
Zafri berjalan memasuki kawasan toko perhiasan. Tujuannya hanya satu, yaitu membelikan hadiah untuk sang mama dan adiknya. Zafri memilih untuk memberikan jam tangan kepada mamanya dan kalung untuk sang adik. Setelah melakukan transaksi dan barang sudah diterima, Zafri segera beranjak untuk kembali ke mobilnya. Namun, tiba-tiba suasana toko yang awalnya cukup sepi kini malah berubah menjadi riuh.
Awalnya Zafri tidak perduli. Namun, ada suatu hal yang menarik perhatiannya yang membuat kakinya melangkah ke arah segerombolan orang itu. Dengan tangan yang menenteng dua paperbag kecil, Zafri berjalan menerobos masuk ke kumpulan orang-orang tersebut.
"Permisi." ucap Zafri setiap kali saat ia menerobos.
Telinga Zafri langsung menajam saat mendengar desas-desus orang-orang yang berbicara di sekelilingnya.
"Wahh, itu bukannya Melody ya? Yang penyanyi papan atas itu tuh."
"Iya, benar. Eh, tapi, pria di sampingnya itu siapa?"
__ADS_1
"Aku dengar itu adalah kekasihnya. Sebentar lagi mereka akan bertunangan dan menikah."
"Jadi, mereka ke sini untuk memilih cincin tunangan?"
"Mungkin iya. Dan ya, di sampingnya itu juga ibunya. Aku dengar juga ibunya adalah seorang pemain sinetron."
"Pantas. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ibunya cantik dan anaknya juga cantik. Apalagi kekasihnya itu, sangat tampan."
"Hustt! Jangan keras-keras."
"Haha, oke oke. Lebih baik kita pergi dari sini dari pada nanti tertangkap."
"Ayo."
Zafri mematung di tempatnya melihat seorang wanita yang sangat ia kenali tengah mengobrol asik bersama seorang pria. Belum lagi ia harus mendengar desas-desus itu yang membuat telinga Zafri memanas. Apakah ia cemburu?
Tiba-tiba Zafri dikejutkan oleh seorang pria yang langsung menyapanya di tengah kerumunan. Seketika suasana sunyi.
"Oh ini dia pria yang sok jagoan. Haha, bagaimana? Apakah kau senang karena dia..." pria itu menunjuk Melody. "Lebih memilihku dari pada dirimu." lanjutnya lagi.
Zafri masih terdiam cukup lama karena ia bingung. Namun, sesaat Zafri langsung tersadar kalau pria di hadapannya ini adalah pria yang ia hajar malam lalu.
"Kenapa kau hanya diam? Tidak berani? Sudah kuduga." tangan Zafri terasa gatal ingin sekali memberikan sebuah bokeman kepada pria itu. Apalagi mengingat bahwa pria itu sangatlah terobsesi dengan Melody.
"Aku akan memberikanmu sedikit hadiah nanti. Hadiah untuk malam itu." pria itu mendekati Zafri dan berbisik tepat di depan telinga Zafri.
"Aku tunggu." balas Zafri merasa tertantang.
"Prok... prok... prok... dengar semuanya."
Semua atensi orang-orang kini tertuju pada pria itu dan Zafri, termasuk juga dengan Melody dan ibunya yang tadinya sedang memilih perhiasan kini langsung melirik ke arah kerumunan.
Deg
Jantung Melody berdetak cepat saat netranya tidak sengaja bertemu dengan netra mata Zafri. Ternyata pria itu sedari awal melihatnya sekalipun ada yang mengajaknya berbicara.
"Kalian tau aku bukan? Aku adalah seorang aktor terkenal. Siapa yang tidak mengenalku?"
__ADS_1
"Hei, lihatlah. Ibu tidak salah pilih bukan? Andi selalu tampil berwibawa." bisik Ana, ibunya Melody.
Melody yang mendengarnya hanya melirik sinis ke arah Andi, pria pilihan ibunya yang malam itu hampir melecehkannya.