
Kedua wanita yang seusia itu tampak berpelukan dengan diiringi isak tangis. Zafri menatapnya haru.
"M-maaf, Lio." ucap Melody sambil memeluk tubuh Liona erat.
Liona langsung melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua sisi wajah Melody menghadapnya. "Lupakan. Tidak ada yang salah di sini, ini semua sudah takdir."
"T-tapi, Bima...??"
"Aku sudah memutuskan hubungan kami pagi tadi. Walaupun dia terus membujuk ku. Aku hanya tidak ingin menyakiti hatinya dengan kenyataan ini. Biarlah dia bahagia dengan wanita yang lebih baik dari pada aku."
"Aku tau ini pasti berat. Maafkan aku karena meninggalkanmu semalam. Dan Andi..." Melody menggantungkan kalimatnya.
"Tidak apa. Semalam dia mabuk dan tadi pagi aku pergi sebelum dia bangun. Aku rasa dia tidak mungkin ingat."
"Bima tulus, Lio. Dia sangat mencintaimu."
"Aku tau itu. Ini bukan permasalahan ketulusannya. Aku tidak ingin menjadi wanita yang egois." ucap Liona. Lalu wanita itu menatap Zafri yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Tolong beri pengertian kepada Bima." pinta Liona berharap. Zafri hanya menganggukkan kepalanya saja. Setidaknya nanti dia akan berusaha untuk memberi penjelasan kepada sahabatnya. Zafri tidak bisa membayangkan jika suatu hari dia merasakan posisi Bima yang sekarang.
"Lalu, setelahnya kau akan bersikap bagaimana?" tanya Melody.
"Aku akan membiasakan diri dan menjauhi mereka." mereka maksud Liona adalah Bima dan Andi. Kedua pria yang terjebak dalam kehidupannya. Dimana satu di antara mereka adalah pria yang Liona cintai. Sedangkan satunya lagu adalah pria yang sudah merenggut kehormatannya. Lalu, Liona harus bersikap bagaimana? Liona hanya berharap Andi tidak ingat dengan kejadian semalam.
•••
Setelah dari apartemen Liona, Melody dan Zafri langsung memutuskan pulang. Mereka membiarkan Liona sendiri untuk memberi waktu kepada wanita itu agar menenangkan hatinya.
Sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama terdiam bak orang tidak saling kenal. Melody tampak menyibukkan dirinya dengan ponsel di tangannya. Entahlah, wanita itu hanya menscroll asal saja.
"Kita akan kemana?" tanya Zafri memecah keheningan.
Melody langsung terkejut mendengarnya. Ia langsung mematikan ponselnya.
"Sebaiknya kita kemana?" Melody malah bertanya balik.
"Ke hotel." jawab Zafri asal membuat mulut Melody ternganga.
"Aku serius!" ujar Melody sebal.
"Aku juga serius." Zafri memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan yang sepi. Pria itu lekas menatap Melody membuat wanita itu gugup.
"Kapan kau menyukaiku?" tanya Zafri gamblang.
"Haaa? A-aku... k- kapan a- ku bilang be-gitu..." ucap Melody terbata-bata.
"Pagi tadi." jawab Zafri mengubah posisi tubuhnya menyamping mengahadap Melody.
"T- tidak." kilah Melody membuat Zafri menatapnya dengan senyuman misteriusnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Zafri mendekat sehingga jarak mereka hanya tersisa berapa centi saja. Nafas kasar Zafri menerpa wajah Melody. "Haruskah aku membuatmu mengatakan yang sejujurnya?" kata pria itu lalu membelai lembut wajah Melody.
"S- sudahlah. Lupakan saja." wanita itu memalingkan wajahnya ke samping. Membuka peluang Zafri untuk mengecupi leher Melody yang terekspos nyata di hadapannya.
"Tapi, aku tidak!" bisik Zafri membuat tubuh Melody meremang.
Melody langsung mendorong kasar wajah Zafri yang kini kian mendekat. "Antar aku pulang!" seru wanita itu.
Zafri menjauh pasrah dengan senyum yang mengembang di bibirnya. "Oke. Nanti malam berdandan dengan rapi. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Lihat saja nanti."
•••
Dalam hatinya, Melody bertanya-tanya, ada apa dan kenapa Zafri membawanya keluar. Apalagi pria itu menyuruhnya untuk berdandan rapi. Melody rasa selama ini ia selalu berdandan dan berpakaian rapi. Lalu, maksud dari Zafri apa?
"Sebenarnya kita akan kemana?" tanya Melody.
"Ke suatu tempat." balas Zafri singkat.
"Iya tau ke suatu tempat. Tapi, tempatnya dimana? Misalnya ke cafe, restoran, atau mall?"
"Nanti kau akan tau." Melody langsung mendengus kesal. Lantaran sebal, wanita itu memilih memandangi pemandangan malam di luar.
"Ayo!" Zafri menyodorkan tangannya ke arah Melody. Pria itu sudah keluar terlebih dahulu dan dengan cepat mengitari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Melody.
"Mau ngapain ke sini?" tanya Melody sangat cerewet.
"Sudah. Diam saja dasar cerewet." wanita itu langsung mengumpat dalam hatinya. Seakan tau isi hati Melody, Zafri langsung mengecup singkat bibir mungil itu.
Cup
"Hei!" protes Melody melototkan kedua bola matanya.
"Diam!" titah Zafri tanpa bantahan.
"Dasar pemaksa!" cibir Melody pelan.
Zafri langsung membawa Melody ke bibir pantai. Angin malam yang begitu dingin langsung menerpa tubuh Melody. Apalagi saat ini ia mengenakan dress lengan pendek.
Tiba-tiba Melody merasakan kehangatan yang menyelimuti tubuhnya. Ternyata itu adalah Zafri yang memakaikan jas ke tubuhnya.
"Di sini dingin."
"Sudah tau dingin. Kenapa masih mengajakku ke sini!" ketus Melody.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Itu adalah hal yang paling aku suka sedari kecil. Tunggu di sini." Zafri pergi meninggalkan Melody sendirian.
__ADS_1
Namun, tidak lama kemudian pria itu kembali lagi dengan membawa dua buah batang kembang api di tangannya.
"Ini." Zafri menyodorkan satu kembang api kepada Melody.
Meskipun bingung, wanita itu menerimanya.
Zafri mengeluarkan sebuah korek api dari saku jasnya. "Dulu saat aku masih kecil, orang tuaku selalu membawaku ke tepian pantai. Apalagi malam hari, meskipun cuacanya dingin, tapi, itu memberikan efek kesenangan tersendiri. Saat aku bertanya kenapa mereka suka sekali membawaku ke pantai. Katanya di pantai ini lah banyak sekali kenangan mereka."
"Saat kecil, aku selalu ditemani menyalakan kembang api. Awalnya ibuku tidak menyetujui karena itu sangat berbahaya untuk anak seusiaku. Tapi, berkat papa akhirnya ibuku menyetujui. Papa selalu mengajarkan ku tentang keberanian. Karena sebagai seorang laki-laki haruslah berani dan kuat agar nanti bisa melindungi orang-orang yang kita sayang."
Zafri berjalan sedikit menjauhi Melody dan langsung meletakkan kembang api tersebut ke atas pasir pantai. Kemudian mengarahkan korek api yang sudah ia hidupkan ke sumbu kembang api tersebut.
Setelah menyalakan sumbunya, Zafri lekas kembali mendekati Melody. Berdiri tepat di samping wanita itu yang tampak melihat sumbu kembang api yang perlahan terbakar hingga tali sumbunya habis. Lalu kembang api tersebut langsung meluncur ke udara dengan ketinggian yang lumayan. Begitu sampai di udara, kembang apinya langsung meledak. Menampakkan percikan api di udara dengan warna yang berbeda-beda.
Melody menatapnya terperangah. Baru kali ini ia melihat bagaimana awalnya kembang api akan meluncur dan meledak di udara.
"I-ini... sangat indah." lirih Melody terdengar di telinga Zafri karena sedari awal pria itu bukan memperhatikan kembang api. Melainkan melihat wajah Melody yang tampak berseri-seri.
"Sangat indah." ucap Zafri pelan sembari memandang Melody yang tersenyum dengan kepala mendongak ke atas.
Lebih dari 5 menit kembang api itu terus meledak. Menimbulkan percikan-percikan api yang sangat indah di udara. Tidak lama, percikan-percikan itu menghilang. Melody menatapnya penuh kecewa.
"Kita masih ada satu bukan? Mau mencoba menyalakan?" tawar Zafri. Melody melihat kembang api yang masih berada di genggaman tangannya. Sesaat ia mengangguk.
"Ayo, ke sini!" Zafri menariknya menjauhi tempat mereka.
"Letakkan di sini." Melody menurut, meletakkan kembang api itu ke tas pasir pantai dan sedikit menancapkannya.
Melody menatap ragu Zafri ketika pria itu memberikannya sebuah korek api. Melody takut. Ia masih belum berani menyalakan itu sendiri.
Melihat keterdiaman Melody membuat Zafri mengerti. Ia langsung mengubah posisinya. Bergeser lebih mendekati Melody dan langsung memegang kedua tangan Melody sehingga posisinya seperti memeluk tubuh Melody dari samping. Tangan kanan memegang korek api di tangan Melody dan tangan kirinya yang menutupi ujung sumbu kembang api agar angin tidak membuat api korek padam.
Sesaat tubuh Melody membeku. Bukannya fokus kepada kembang api, Melody malah fokus kepada tangan Zafri yang menggenggam tangannya.
Bahkan wanita itu tidak sadar kalau dirinya sudah ditarik menjauh dari area kembang api. Mereka kembali ke tempat semula. Berdiri sambil menunggu kembang api itu meluncur ke udara dan meledak di sana.
Saat kembang apinya sudah meletus di udara, Zafri dan Melody tampak saling pandang. Seakan-akan berkomunikasi lewat tatapan mata mereka yang teduh. Mereka tersenyum. Mengunci netra mata masing-masing.
Mereka bukan hanya menikmati percikan-percikan api di udara, melainkan percikan-percikan yang menyala di dadanya.
Masih sama-sama terdiam. Perlahan tangan Zafri terangkat menyingkap rambut Melody yang menutupi wajah wanita itu karena terkena hembusan angin kuat.
Tangannya berhenti di sela-sela telinga Melody, lalu turun ke bawah memegang sebelah rahangnya.
"Tempat ini adalah tempat kenangan orang tuaku. Dan aku juga akan menciptakan kenangan tersendiri untukku--"
"Bersamamu..."
Zafri langsung menarik tengkuk Melody dan melabuhkan ciuman manisnya.
__ADS_1