
Helaan napas Zafri terdengar berat saat baru saja keluar dari ruangan Dokter Ilham. Bukannya menolak atau merasa keberatan. Tidak! Zafri sama sekali tidak keberatan saat Dokter Ilham meminta dirinya untuk menggantikan menangani pasiennya tadi. Hanya saja Zafri merasa tidak nyaman karena sedari awal pasien itu sudah berada di bawah penanganan Dokter Ilham.
Tiba-tiba seorang perawat berlari menghampiri Zafri. Raut wajahnya terlihat panik, bibirnya sedikit pucat.
"Dokter, pasien Dokter Ilham mengamuk di ruangannya," seru perawat yang sempat membantu Zafri menangani pasiennya tadi.
Mendengar pernyataan itu, Zafri mengumpat dalam hati. Dia berlari diikuti oleh perawat tersebut di belakangnya. Tidak asing lagi jika orang lain melihat dokter berlarian diikuti oleh perawat. Tujuannya hanya satu, yaitu memeriksa pasiennya yang entah dalam keadaan gawat darurat atau tidak.
"Apa yang dilakukannya?" tanya Zafri begitu tiba di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Napasnya menderu efek berlari dari lantai 3 lalu turun ke lantai 2. Beruntung tadi mereka menggunakan lift, bukan tangga darurat.
"Nona itu meminta untuk pulang. Tadi sudah saya larang karena kondisinya belum fit. Tapi, beliau nekat kabur."
"Baiklah. Kamu silahkan pergi, biar ini menjadi urusan saya."
"Baik, Dok. Permisi ...."
Zafri menatap pintu ruangan dengan tatapan malas. Dia menarik napas dalam sebelum membuka pintu itu yang terkunci dari luar. Hal yang pertama Zafri lakukan adalah menyembulkan sedikit kepalanya baru setelah itu tubuhnya masuk ke dalam.
Sepi. Zafri tidak melihat keberadaan pasiennya di atas ranjang. Namun, dia bisa melihat kepala seseorang yang bersembunyi di balik ranjang. Dengan langkah pelan namun pasti, Abizar mendekati wanita yang sedang meringkuk di lantai keramik.
Pria itu hanya bisa menghela napas panjang saat melihat noda darah yang berceceran di lantai dan ada juga di ranjang. Tangannya terulur ke bawah untuk menyentuh pucuk kepala wanita itu.
"Bodooh!!" gumam Zafri sembari menjentikkan jarinya di kening wanita tersebut.
"Sakit, Dok!" pekiknya merasakan sakit saat Zafri berulah.
"Menyusahkan sekali. Bisa berdiri tidak?" tanya Zafri spontan dibalas gelengan kepala oleh wanita yang berada di bawahnya.
Ck! Zafri berdecak sebal. Pria itu berjongkok. Dia menyelipkan tangan kirinya di tengkuk wanita itu dan tangan kanan di pahanya. Dibaringkannya tubuh ramping itu ke atas kasur lalu bertindak cepat memasangkan jarum infusnya.
"Duhh ... saya gak mau dipakaikan infus, Dok. Toh yang luka itu di kaki. Lagi pula saya sudah sehat walafiat," cibir sang wanita mencoba menarik tangannya.
"Jangan membantah atau infus ini saya pasang di hidungmu!" ancam Zafri diselipi nada bercanda di ujung kalimatnya. Suara Zafri yang dingin serta tatapan matanya yang tajam membuat sang wanita menutup bibirnya rapat. Namun, di dalam hatinya tidak pernah berhenti mengoceh.
Setelah memasangkan kembali infusnya, Zafri beralih menatap kaki pasiennya. Noda merah terlihat merembes di luar perbannya. Tangan Zafri terulur, lalu dengan ide jahilnya dia menekan telapak kaki itu tepat di bagian lukanya. Sontak sang wanita menjerit kesakitan mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari dokternya sendiri.
"Sakit, Dok! Jangan dipencet. Dokter mau saya cepat mati?" rintihnya menarik kakinya agar menjauh dari jangkauan tangan Zafri.
Pria itu malah terkekeh pelan. "Saya pikir itu tidak sakit karena kamu bilang sudah sehat walafiat," sindirnya tajam.
Wanita itu melototkan kedua matanya karena tidak terima dengan sindiran dari pria di hadapannya saat ini.
"Siapa namamu?" tanya Zafri.
Bibir wanita itu terkatup rapat membentuk harus horizontal sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan Zafri. "Melody."
__ADS_1
"Melody? Nama yang indah. Seperti melodi lagu yang tenang, tapi tidak menggambarkan kepribadian orangnya." Lagi dan lagi Zafri menyindir wanita itu.
"Maksud Dokter apa?!!"
"Tidak ada. Sini kaki kamu, saya akan mengganti perbannya." Zafri pergelangan kaki Melody membawanya mendekat. Pria itu mengeceknya teliti.
"Masih sakit?" Melody hanya mengangguk. "Saya keluar sebentar untuk mengambil peralatannya. Ingat! Jangan berbuat yang aneh-aneh sebelum saya kembali," peringat pria itu mengacungkan jari telunjuknya.
Selepas kepergian Zafri, diam-diam Melody meraba telapak kakinya yang terbalut perban. Wanita itu meringis pelan merasakan rasa yang bercampur aduk hanya di dalam satu rasa, yaitu sakit. Benar, tidak lama setelah itu pintu ruangannya kembali terbuka menampakkan Zafri membawa sebuah wadah stainless di tangannya.
"Harus banget pakai infus, ya, Dok?" tanya Melody di sela-sela aktivitas Zafri yang membuka perban di kakinya.
"Harusnya tidak jika kamu tidak pingsan tadi," sahut Zafri.
Wajah Melody memerah lantaran malu mengingat kejadian tadi di mana dia hampir pingsan ketika Zafri sudah selesai mengobati lukanya. "Saya gak pingsan, Dok," sangkal Melody.
"Iyakan saya," imbuh pria itu ingin sekali menertawakan wanita itu, namun tidak bisa.
"Kapan saja bisa pulang, Dok?" lagi lagi pertanyaan itu yang Zafri dengar membuatnya merasa jengan.
"Sampai kamu sembuh. Saya mau memastikan lukanya apakah infeksi atau tidak mengingat tadi kamu sempat membawanya berolahraga."
Maksud dari kata "berolahraga" yang Zafri maksud ialah Melody yang mencoba kabur berakhir dengan menginjakkan telapak kakinya yang belum sembuh dari lukanya. Mengingat luka itu cukup dalam membuat Zafri khawatir takut lukanya infeksi.
Melody hanya terdiam. Di sela kesibukan Zafri yang sedang menggantikan perbannya itu membuat Melody mencoba mengambil kesempatan untuk menatap wajah pria itu. Ya, dia baru sadar jika Zafri memiliki paras yang tampan. Hello, sejak tadi dari mana saja dia hingga tidak menyadari kadar ketampanan Zafri? Mungkin setelah ini Melody harus periksa ke dokter mata.
Melody tersentak karena perbuatannya ketahuan oleh Zafri. Menatap pria itu diam-diam. Tapi, ada yang salah dengan kalimat pria itu. "Dokter, gay??" tanya Melody asal yang langsung membuat Zafri menghentikan gerakannya sedang melilitkan perban baru.
Pria itu mendelikkan sebelah matanya memandang Melody tidak suka. "Saya hanya bilang tidak tertarik denganmu, bukan berarti saya mengatakan gay!"
Sang pelaku malah terkikik geli saat menyadari ekspresi wajah Zafri yang menekuk kesal.
"Dokter," panggil Melody.
"Ada apa?" Zafri cuek lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Saya lapar, Dok," celetuk Melody membuat Zafri langsung menganga, namun secepat mungkin dia merubah ekspresinya.
"Setelah ini, perawat akan--" Perkataan Zafri terpotong saat Melody menyerobot.
"Saya gak mau makanan rumah sakit, Dok. Gak enak!! Saya mau makanan di luar," potong Melody.
Zafri yang kebetulan baru selesai melilitkan perban di kaki Melody pun hanya bisa menghela napas berat. Pria itu memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut saat berhadapan dengan sang wanita. Baru kali ini Zafri dibuat pusing oleh pasiennya.
"Di sini tidak menyediakan makanan restoran. Kalaupun ada, pasti semua pasien akan meminta makanan restoran dari pada memakan bubur dari rumah sakit," jelas Zafri.
__ADS_1
"Terus bagaimana? Saya lapar, Dok ... saya gak mau makan makanan rumah sakit. Rasanya hambar enggak ada rasa."
"Telfon keluarga atau temanmu agar mereka mau membelikan kamu makanan dari luar."
Melody melipat bibir bawahnya. Cemberut, dia menatap Zafri memelas. Sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah, yang tadinya masam kini tersenyum manis. Zafri yang melihat itu hanya bisa menahan napas.
"Dokter aja, gimana??" pinta Melody. Kelopak matanya berkedip berulang kali, tatapan memelas dia tunjukkan agar Zafri luluh dan mau memenuhi permintaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dokter Zafri, dari mana?"
"Dari seberang, Dok. Ada keperluan sedikit. Kalau begitu saya permisi."
"Silahkan."
Zafri tampak menenteng sebuah kantong kresek berukuran lumayan besar di tangan kanannya dan satu paperbag di tangan kirinya. Jarang sekali pria itu berkeliaran saat jam kerja. Kalau bukan memenuhi rengekan pasiennya, mungkin Zafri tidak akan pernah mau keluar dari gedung rumah tangga sakit hanya untuk pergi ke makan dan tempat belanja. Ini kali pertamanya Zafri melakukan hal seperti itu, keluar dari gedung rumah sakit saat jam kerja.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan Melody, banyak pekerja rumah sakit yang menyapanya. Ya, bukan hal asing lagi bagi Zafri karena dirinya cukup populer di sana. Selain karena ketampanannya, Zafri juga dipuji karena kinerjanya yang luar biasa.
"Dokter!" sebuah teriakan terdengar dari belakang tubuh Zafri. Pria itu spontan menghentikan langkahnya lalu berbalik, menatap pria yang seprofesi dengannya.
"Apa yang kau bawa?" Bima menyipitkan kedua matanya menatap Zafri aneh.
"Tidak ke mana-mana. Ada apa?"
"Hanya menyapa. Itu ... apa?" tanya Bima penasaran. Tatapannya tertuju pada kedua tangan Zafri yang penuh dengan barang-barang.
"Bukan hal penting. Sudah, aku pergi dulu." Tanpa menunggu tanggapan dari Bima, Zafri pergi meninggalkannya.
"Ck! Aneh sekali dia," decak Bima pelan.
Kembali lagi kepada Zafri yang kini sudah berada di depan pintu ruang rawat inap Melody. Dengan pelan pria itu membuka pintunya. Ruangan itu cukup luas, begitu membuka pintu sudah disuguhkan ranjang pasien berukuran cukup besar. Di ruangan itu juga terdapat dua sofa dengan satu meja di dekatnya.
"Dia tidur?" gumam Zafri begitu mendekati ranjang. Menatap tubuh ramping yang berbaring cantik di atas sana. Napasnya terdengar beraturan menandakan bahwa sang empu sudah masuk di dalam mimpinya.
Zafri meletakkan dua barang dari genggaman tangannya di atas meja lalu kembali mendekati ranjang. Zafri terdiam dengan mata tertuju pada wajah cantik itu.
Deg
Deg
Deg
Tiba-tiba saja jantung Zafri berdetak cepat saat menatap wanita itu lekat. Aksesoris yang melekat di wajahnya terlihat mungil dengan bibir merah merekah. Entah kenapa tatapan Zafri kini turun, tertuju pada tubuh ramping dengan beberapa bagian tubuh yang tampak menonjol. Segera dia tepis pikiran kotornya. Tangannya meraih selimut tebal lalu mengenakannya di tubuh wanita tersebut.
__ADS_1
Sebelum benar-benar beranjak pergi, Zafri sempat menatap wajah itu lagi. Tanpa sadar tangannya mengusap kepala sang wanita sebelum akhirnya Zafri pun pergi.
Bersambung...