
Sesuai perkataannya tadi pagi, kini Zafri dan Melody sudah berada di restoran di dalam ruangan privat. Menu makan siang mereka pun sudah tertata dengan rapi di atas meja.
Zafri menyeka sudut mulutnya menggunakan tisu saat ia sudah mengakhiri makan siangnya. Begitu juga dengan Melody.
"Aku punya pertanyaan untukmu." lontar Zafri kepada Melody.
"Apa?" tanya Melody menatap Zafri yang duduk di hadapannya.
"Pria semalam. Maksudku, apakah kau mengenalnya?"
Melody mengatupkan rapat mulutnya. Jujur, sekarang ia bingung mau menceritakan mulai dari mana. Karena ceritanya, sangat panjang. Mungkin saat Melody bercerita, Zafri tidak akan paham.
"Apakah sungguh itu... calon suamimu?" tanya Zafri.
Melody hanya diam tidak mengangguk maupun menggeleng. Namun, sesaat kemudian ia mengangguk ragu. "Tapi, aku tidak menerimanya." sambung wanita itu dengan cepat.
Zafri lesu, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ternyata apa yang dikatakan oleh pria itu adalah benar. Pria asing yang ia buat babak belur adalah calon suami Melody.
"Awalnya aku dijodohkan. Itu sudah sangat lama." lanjut Melody membuat Zafri mendongakkan kepalanya melihat wajah Melody. Berharap wanita itu segera menjelaskan.
"Hubunganku dan ibuku bisa dibilang tidak baik-baik saja. Entah di sini aku yang egois ataukah dia. Intinya aku tidak menyukai dirinya yang terlalu memaksakan kehendaknya."
"Dari kecil aku sangat suka bernyanyi. Bahkan dulu saat masa sekolah, aku sering mengikuti perlombaan menyanyi di sekolah. Aku sering mengikuti kelas seni vokal tanpa sepengetahuan ibuku. Itu tidak berjalan lama sampai saat SMA dulu ibuku mengetahui semuanya. Dia sangat marah besar. Aku bahkan sempat berhenti mengikuti kelas seni vokal karenanya. Semua aktivitasku dibatasi. Mulai dari berangkat sekolah hingga pulang sekolah aku harus dijaga oleh orang-orang suruhannya."
"Setelah lulus sekolah, semua aktivitasku benar-benar dibatasi. Bahkan aku tidak diperbolehkan untuk keluar rumah selama satu tahun. Aku hanya berdiam diri mengurung diriku sendiri di dalam kamar. Aku mencoba menyibukkan diriku dengan mengarang sebuah lagu. Awalnya aku bahagia karena selama aku di rumah, aku bisa berekspresi dengan hoby ku. Tapi, suatu waktu ibuku masuk ke kamarku saat aku sedang mengarang sebuah lagu yang aku tulis di selembar kertas. Dia datang dan cepat mengambil kertasku dan merobeknya."
"Aku marah. Sejak saat itu hubunganku dan ibuku semakin rumit. Sampai suatu hari aku benar-benar muak dengannya. Dia membawa seorang pria yang dikenalkannya sebagai calon suamiku. Awalnya aku mencoba untuk berdamai dengannya. Tapi, sifat pria yang dikenalkannya kepadaku itu membuatku tidak betah."
"Malam harinya aku mencoba untuk membuka obrolan dengan ibuku. Aku mencoba untuk mencairkan hatinya dan meminta izin kepadanya untuk membiarkan aku masuk ke dunia hiburan. Tapi, jawabanya di luar dugaanku. Dia marah dan bahkan ingin mempercepat pernikahanku."
"Aku sudah benar-benar muak dengan sifatnya. Saat malam hari, aku keluar untuk melarikan diri. Berharap ibuku tidak pernah mencariku. Aku bingung. Aku berjalan tidak tentu arah. Bahkan aku tidak membawa uang sepeserpun. Hingga aku bertemu dengan Liona. Dia adalah orang pertama yang mau menolongku dan memberikanku tempat tinggal."
__ADS_1
Melody menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya pelan. "Sejak saat itu kami berjuang bersama. Bertahun-tahun lamanya agar untuk sampai di titik sekarang. Dan aku tidak menyesali keputusanku dulu." ucap Melody akhirnya mengakhiri ceritanya.
Zafri bahkan sampai dibuat terlena. Pria itu salut dengan Melody, tentang kehidupannya dan perjuangannya. Betapa beruntungnya Zafri karena memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangi dan selalu mengerti dirinya.
"Jujur, aku mengakui segalanya tentang dirimu itu hebat. Untuk masalah itu, aku tidak mau menanggapi karena aku takut kalau aku berada di posisimu itu aku tidak yakin akan bisa sampai di titik sekarang."
Melody terkekeh pelan. "Jangan mendramatis. Jalani saja kehidupan yang sekarang. Jangan pernah melihat ke belakang karena itu pasti akan sangat menyakitkan karena sama saja dengan kita yang membuka luka lama."
Zafri mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku punya pertanyaan lagi untukmu. Jangan tersinggung."
"Tergantung." balas Melody.
"Kau bertengkar dengan ibuku. Lalu, ayahmu? Apakah dia tidak melarang ataupun melerai?" tanya Zafri hati-hati.
"Orang tuaku sudah bercerai sejak aku duduk di bangku sekolah dasar." jawab Melody santai.
Zafri terdiam cukup lama karena ia sangat prihatin dengan masa lalu Melody yang bisa dibilang suram. Wanita itu berjuang sendirian dan melawan semua masalah yang ia hadapi.
Melody menganggukkan kepalanya. "Ya. Dari dulu dia selalu terobsesi denganku sejak pertama kali bertemu. Lebih tepatnya dia terobsesi dengan tubuhku. Semalam, adalah pertemuanku dengannya setelah sekian lama kami tidak bertemu. Mungkin aku harus lebih hati-hati karena dia sudah tau tempat tinggalku sekarang."
Zafri langsung tercekat. Melody sekarang dalam bahaya karena pria itu kembali datang untuk mendapatkannya kembali.
"Kau akan tinggal di mana?"
"Emmm... mungkin aku bisa menginap di apartemen Liona selama beberapa ke depan. Setelah situasi aman, aku akan kembali pulang."
"Jangan!" ujar Zafri cepat.
"Kenapa?" tanya Melody mengangkat sebelah alisnya.
Zafri gelagapan. "M-maksudku lebih baik kau pindah tempat tinggal agar pria itu tidak bisa menemukanmu lagi."
__ADS_1
"Percuma saja. Dia memiliki banyak mata-mata. Selama dia ada di sini, mungkin hidupku akan selalu diawasi. Dan sebaiknya kita jangan bertemu lagi." ujar Melody terpaksa memutuskan hal itu. Karena jujur, masalah tersebut bukan hanya berdampak kepada dirinya saja. Namun, mungkin saja masalah itu berdampak ke kehidupan Zafri. Melody hanya tidak mau menyeret-nyeret orang lain masuk ke kehidupannya yang tidak biasa.
"A-apa!?" sentak Zafri terkejut, bola matanya sedikit melebar.
Melody menatap pria itu dengan tatapan aneh. "Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Aku harap kau bisa mengerti itu. Terima kasih untuk semua waktumu dan segala kebaikanmu. Dan terima kasih karena sudah mau berkenalan denganku. Anggap saja kita tidak pernah bertemu."
"Aku tidak--" nafas Zafri tercekat. Sesingkat itukah pertemuan mereka? Padahal Zafri ingin sekali mengukir kenangan yang lebih banyak lagi. Namun, Zafri sadar siapa dirinya. Ia hanyalah pria biasa.
"Kau harus bisa, Zafri. Terima kasih untuk waktunya. Aku akan langsung pamit. Kau jaga kesehatan, bye." Melody cepat mengambil tasnya dan langsung beranjak dari sana.
Zafri hanya terbengong tidak percaya melihat kepergian Melody. Hatinya terasa kosong. Zafri tidak tau itu.
•••
"Sayang, are you okay?" Ceisya menghampirinya sambil membawakan secangkir kopi dan meletakkannya di atas meja kerja Zafri. Akhir-akhir ini putranya itu suka sekali melamun dengan pikiran kosongnya. Satu dua hari Ceisya masih membiarkan. Namun, ini sudah masuk hari ke-6 di mana Zafri selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar dari pada mengobrol bersama di ruang keluarga.
"Hmmm... i'm okay, Mam." jawab Zafri tersadar.
"Mama pikir kamu sedang berbohong. Kamu tau bukan, boy? Kalau Mama dan Papa itu tidak menyukai yang namanya kebohongan. Cukup adikmu saja yang sudah berbohong, kamu jangan." ujar Ceisya mengelus lembut bahu Zafri.
"Bagaimana kabar Aiyla? Sudah tiga hari dia bermalam di sini." tanya Zafri mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ceisya menarik nafasnya dalam dan menghembuskan panjang. "Mama sebenarnya cukup bingung dengan kalian berdua. Yang satunya lagi bermasalah dengan suaminya dan yang satunya lagi entahlah." sindir Ceisya.
Zafri langsung menangkap tangan sang mama yang masih bertengger di bahunya. "Akan Zafri ceritakan. Mama jangan marah. Sekarang, kita ke kamar Aiyla dulu. Zafri tidak mau adik kesayangan Zafri jadi mewek gara-gara Rakha."
"Bagus. Besok siang kamu temui Rakha di kediamannya. Segera minta penjelasan tentang berita itu. Mama tidak rela kalau anak bungsu mama dipoligami."
"Besok?" monolog Zafri. "Besok Zafri harus ke kantor, Ma. Sudah terlalu lama Zafri mengerahkan pekerjaan itu kepada Dion. Kasian, dia masih muda. Mungkin juga mau mencari calon istri." ucap Zafri.
"Jangan pikirkan. Besok kamu harus temui Rakha. Soal kantor, kamu jangan terlalu khawatir. Nanti Mama akan bicarakan hal itu dengan Dion. Kamu paham, boy?"
__ADS_1
"Yahhh... oke, Ma." jawab Zafri pasrah.