(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 31


__ADS_3

Sayup-sayup Melody membuka kedua matanya. Matanya menyipit karena pancaran cahaya dari luar. Sejenak wanita itu terdiam sambil mengingat peristiwa apa yang ia lewatkan tadi malam. Begitu sadar, Melody langsung terlonjak kaget. Membuat seorang pria yang baru masuk ke dalam kamarnya terkejut melihat Melody.


"Sudah bangun?" tanya Zafri mendekati Melody lalu duduk di pinggiran kasur.


"Liona." gumam wanita itu menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Terdengar isak tangis kecil dari Melody membuat Zafri menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Lioo..." tangisannya semakin kencang saat berada di dalam pelukannya Zafri. Melody mencengkram kuat baju yang dikenakan oleh Zafri.


Zafri tidak bisa berkata-kata. Karena semuanya sudah terlambat.


"Aku hanya punya Liona, Zaf." tangisnya terdengar pilu. Zafri mengeratkan pelukannya, menaruh dagunya di pucuk kepala Melody.


"Dia sudah seperti saudaraku. D-dia selalu melindungiku, dan sekarang... harusnya aku yang melindunginya, bukan malah meninggalkannya semalam."


"Aku sahabat yang tidak berguna, yang malah melemparkan sahabatku sendiri ke pria bajingann itu."


"A-aku aku t- tidak berguna, Zaf... hikssss..."


Zafri terdiam sambil mendengarkan ocehan wanita itu. Biarlah dia melepaskan semuanya, dan setelahnya Zafri akan menenangkannya.


"Tidak ada manusia yang tidak berguna hidung di dunia ini. Bukankah semalam dia yang memintamu untuk pergi?"


"Tapi, tidak seharusnya aku mengiyakan permintaannya. Aku jahat, Zaf."


"Pukul aku, pukul aku jika itu bisa membuat hatimu tenang. Ayo, lakukan!"


Melody yang diselimuti rasa emosi dan kalut langsung saja melayangkan pukulan ke lengan, bahu, dan dada pria itu.


Bugh


bughh


bughh


"Hiksss... aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Liona..."

__ADS_1


Lama-kelamaan pukulan Melody melemah. Dia sudah tidak lagi memukuli pria itu. Perlahan hatinya mulai tenang.


Zafri langsung menangkap tangan Melody dan menaruhnya tepat di depan dadanya.


"Ada aku. Ada aku di sini yang akan menjagamu. Mulai sekarang dan untuk seterusnya." ucap Zafri menatap kedua tangan mereka yang bertumpuan.


Melody langsung menatap Zafri dengan wajah sembabnya.


"Kenapa? Kenapa kau selalu menolongku?"


"Karena aku..." Zafri terdiam sesaat sambil menata hatinya. Apakah ada nama Melody di hatinya?


Melody masih menatap Zafri untuk meminta penjelasan. Karena apa? Melody penasaran dibuatnya. Apakah Zafri hanya menolongnya antar sesama manusia?


"Sebelum aku menjawab itu. Aku lah yang akan bertanya terlebih dahulu. Kenapa? Kenapa kau selalu datang kepadaku? Tidak ada kah seseorang yang harusnya kau datangi?"


Bergantian, sekarang Melody yang dibuat terdiam. Apa alasannya? Melody sadar selama ini dia selalu mendatangi Zafri. Itu dimulai sejak pertama pertama kali mereka bertemu. Seolah-olah Melody lah yang datang ke kehidupan Zafri dan menjungkirbalikkan kehidupan pria itu.


"Apakah aku butuh sebuah alasan?" tanya balik Melody.


"Dan kenapa aku selalu datang kepadamu?"


"Karena..." keduanya saling menatap. Mengunci netra mata masing-masing.


"Karena kau sudah berhasil menjerat hatiku, Dokter."


Deg


"A-apa m-aksud-nya...??"


"Aku bukan wanita yang suka mengulangi perkataanku."


Setelah berkata itu, Melody langsung bangkit meningalkan Zafri ke kamar mandi. Namun, sesaat ia tersadar. Ini bukanlah apartemennya. Lalu dimana ia sekarang? Melody tidak banyak berpikir, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Zafri yang masih mematung di tempatnya.


Pandangan Zafri seketika kosong. Dia melamun sambil mengartikan kalimat Melody tadi. Dia sudah berhasil menjerat hati wanita itu? Maksudnya apa? Dan apa lagi tadi, Melody memanggilnya Dokter? Padahal ini bukan jam kerja.

__ADS_1


Zafri segera tersadar. Dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi yang tampak tertutup. "Apakah maksudnya tadi--" Zafri menggantungkan kalimatnya dan langsung tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.


"Dasar nakal." Zafri berdecih singkat. Dia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamarnya.


Sedangkan wanita yang baru saja mengungkapkan hatinya sedang merona di depan cermin. Kepalanya menggeleng beberapa kali untuk menghilangkan bayang-bayang ingatannya tadi.


•••


Berbeda tempat. Liona berdiri mematung di depan seorang pria yang kini tampak dipenuhi rasa amarah sekaligus kecewa. Sakit, sesak, dan sedih menyatu padu setelah mendengar penjelasan dari wanita itu.


"Maaf, Bim. Aku mau kita mengakhiri hubungan ini. Kau pria baik, sedangkan aku? Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri." lelehan air mata Liona jatuh melewati pipinya. Hatinya sakit begitu mendapati dirinya terbangun dalam keadaan tubuh tanpa busana apapun. Apalagi ada pria yang begitu ia benci di sisinya.


"Aku tidak masalah. Cinta tidak memandang fisik. Cinta menerima setiap kekurangan yang ada di dalam diri pasangannya. Walaupun aku sedikit kecewa, tapi, cinta menutupi semuanya. Bukankah itu terjadi karena kecelakaan?"


Bima, pria yang baru beberapa hari menjalin hubungan dengan Liona, dia berusaha meraih tangan wanita itu. Namun, Liona langsung menarik tangannya sendiri.


"Aku jijikk, dan benci dengan diriku sendiri. Aku tak bisa menjaga diriku sendiri. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku, Bim."


"Aku mencintaimu, Liona. Tidak kah kamu percaya?"


"Aku percaya, dan aku juga mencintaimu. Tapi, mungkin takdir kita tidak bisa bersama."


"Kita bisa memperbaikinya. Kita tidak bertengkar, tapi, kenapa ini semua datang secara tiba-tiba?"


Tadi pagi Liona menghubunginya meminta mereka untuk bertemu karena ada hal yang ingin Liona katakan. Begitu sampai di tempat tujuan. Bima sudah dihancurkan oleh kenyataan. Kenyataan yang membuat hatinya memendam kekecewaan. Tapi, hatinya memenangkan rasa kecewanya. Dia mencintai Liona. Wanita yang ia kenal memiliki sifat galak, tegas, dan sedikit cuek. Pertama kali mereka bertemu saat di koridor rumah sakit, waktu Liona mengantarkan Melody untuk periksa.


"Aku tidak masalah kalau kenyataannya dirimu sudah dirusak oleh pria brengseekkk itu. Aku ada di sini. Aku menerima segala kekurangan, jujur aku juga memiliki banyak kekurangan. Kita bisa saling melengkapi. Tolong, jangan bersikap seperti ini." bujuk Bima.


"Ini lebih baik, Bim. Kamu dan aku tidak akan tersakiti dan merasa kecewa karena kenyataan yang begitu menyedihkan. Bukankah sekarang kamu mengenal wanita? Orang tuanya memintamu untuk menikahi putrinya bukan?"


"Aku menolak. Itu hanya sebuah kecelakaan, mereka malah meminta pertanggungjawaban yang begitu sulit untuk ku kabulkan." ujar Bima.


"Kita bisa berteman baik, Bim. Aku dan kamu, bisa berteman. Tapi, untuk perasaan. Lebih baik kita saling melupakan agar tidak ada salah satu di antara kita merasa kecewa."


"Aku kecewa, dan aku tau kamu juga kecewa. Aku tidak mau menyakitimu lebih dalam lagi dengan kenyataan yang sekarang." lanjut Melody.

__ADS_1


"Aku lebih tersakiti jika kamu memutuskan perpisahan begini. Tolong, Liona. Aku mencintaimu." Bima sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Kisah cintanya sungguh berbeda dengan Zafri, sahabatnya.


Liona memalingkan wajahnya ke samping. "Hubungan kita cukup sampai di sini. Maaf sudah menyakitimu. Lebih baik begini." lirih Liona lalu mengambil tasnya dari kursi di sebelahnya dan mulai meninggalkan area restoran. Meninggalkan Bima yang menatapnya penuh kesedihan. Sesingkat itu kah hubungan mereka? Bahkan belum berjalan selama 1 bulan.


__ADS_2