(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 33


__ADS_3

Zafri melepaskan tautan mereka saat tau Melody sudah kehilangan pasokan oksigennya. Dia menatap Melody penuh damba. Menatap mata indah itu dengan penuh kelembutan. Membuainya lembut.


Setelah mengatur nafasnya, Zafri berjongkok di hadapan Melody. Tidak banyak drama ia langsung mengeluarkan sebuah kotak bludru merah berbentuk hati. Pria itu membukanya, otomatis cahaya dari dalam kotak itu memancar memperlihatkan cincin yang sangat indah. Melody tebak cincin itu adalah cincin berlian karena melihat dari segi bentuk dan warnanya Melody tau.


"Aku bukan pria romantis yang akan menyuguhkan sebuah kejutan indah. Aku bukan pria baik yang selalu memperlakukan wanita dengan hangat. Tapi, denganmu aku akan belajar untuk menjadi pria romantis dan pria yang hangat."


"Aku tau pertemuan pertama kita itu bisa dikatakan sangat aneh. Namun, sejak saat itu hatiku langsung luluh karenamu. Hidupku dibuat jungkir balik karena setiap aku mengingatnya, hatiku selalu bergetar."


Zafri terdiam sejenak sambil mengambil nafas dalam. Kepala tertunduk melihat ujung sepatunya sendiri.


Seketika Zafri mengangkat kepalanya, menatap wanita itu dari bawah sana.


"Melody, hiduplah bahagia bersamaku untuk seumur hidupmu."


"Kita akan menua bersama."


"Maukah kamu?" tanya Zafri. Jujur hatinya sudah tidak karuan karena tindakannya itu bisa dikatakan sangat cepat. Mereka masih belum mengenal secara mendalam. Namun, Zafri sudah yakin itu.


Melody terdiam, menatap wajah Zafri yang dipenuhi butiran-butiran kecil keringat seperti biji jagung. Jujur, ia tidak menyangka kalau Zafri akan secepat ini.


"Jika aku menolak?" tanya Melody.


"Tepat di usiaku yang ke-28 tahun, aku akan langsung menikah dengan wanita pilihan orang tuaku tanpa penolakan." jawab Zafri. Jujur, pria itu sudah menyangka kalau dirinya akan segera menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Seandainya Melody menolak? Zafri harus bagaimana? Apakah dia harus mengejar ataukah pasrah karena ungkapan janjinya dengan orang tuanya?


"Baiklah, aku mau." jawab Melody tidak jelas membuat Zafri bingung dan bertanya-tanya.


Dirinya masih mematung di tempat. Berusaha mencerna ucapan Melody. Iya dia tau kalau Melody sudah menjawab mau. Tapi, di sini ada dua pertanyaan. Mau menerima lamarannya ataukah menerima bahwa dirinya harus menikah dengan wanita lain?


"Apa lagi yang kau tunggu?" ucapan Melody langsung menyadarkan Zafri.


"Haa?" beo pria itu.


Melody berdecak kesal. Ia menyodorkan tangan kanannya ke hadapan pria itu, berharap Zafri segera peka.


"Ah iya!" jelas saja Zafri langsung tersentak kaget melihatnya. Karena terkejut, pria itu langsung mengambil cincin yang melekat di kotak bludru merah itu.


Tangannya langsung menggapai jari jemari Melody. Zafri menyematkan cincin itu ke jari manis Melody. Senyumnya mengembang. Menyadari satu fakta bahwa Melody sudah menerimanya. Dan Zafri akan langsung mengumumkan itu kepada orang tuanya. Jujur, dia sudah tak sabar lagi untuk menunggu hari itu.

__ADS_1


Zafri masih menatap cincin yang tersemat di jari manis Melody. Perlahan ia mendekatkan bibirnya dan mengecupi lama punggung tangan Melody dan di jari jemari bagian cincin yang tersemat itu.


Zafri mendongak, menatap Melody penuh haru. Matanya jelas berkaca-kaca karena merasa sangat bersyukur.


"Beri aku sebuah ciuman." pinta Zafri tanpa malu membuat Melody malah tersenyum malu.


Melody menundukkan tubuhnya dan mensejajarkan wajah mereka. Perlahan wanita itu mendekat dan langsung mengecup singkat bibir pria itu kemudian langsung melepaskannya.


Zafri tersenyum menatapnya. Pria itu lekas berdiri dan langsung menarik tubuh Melody masuk ke dalam pelukannya. Zafri menghirup aroma tubuh Melody dalam-dalam. Seakan takut kehilangan aroma khas Melody.


Mereka terlena dengan perasaan masing-masing sampai tidak menyadari bahwa ada seseorang yang kini diam-diam mengambil potret mereka dari sejak awal.


•••


"Zafri!"


"Zafri... Zaf-ri..." Bima memelankan suaranya begitu mendapat tatapan tajam dari Zafri ketika ia masuk ke dalam ruangan sahabatnya.


"Ada apa? Ini rumah sakit, bukan hutan!" ketus Zafri kesal.


"Hehe..." sahabatnya yang baru saja patah hati itu hanya menyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Ini, cepat lihat!"


Zafri langsung merebut ponsel dari tangan Bima. Seketika bola matanya membesar melihat apa yang ada di layar ponsel Bima.


"Tidak sampai 24 jam beritanya sudah tersebar. Foto-foto wajahmu terpampang di internet. Mereka menyebar fitnah bahwa kau merebut Melody dari tangan Andi."


Zafri meremas kuat ponsel milik Bima.


"Eh! Eh! Ini ponselku satu-satunya. Jangan dihancurkan." Bima merebut paksa ponselnya dari genggaman tangan Zafri.


"Ini berita buruk. Mungkin sekarang para wartawan sudah menyerbu ke rumah sakit, dan belum lagi Melody. Mungkin saja--" Bima menggantungkan kalimatnya.


"Kau tau siapa pelakunya?" dengan cepat Bima menggelengkan kepalanya karena ia juga baru tau berita itu dari salah satu perawat yang bekerja di bagian resepsionis.


"Siall!! Berani-beraninya dia bermain denganku." umpat Zafri menggerang marah.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu terbuka. Menampakkan seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh kekhawatiran. Wanita itu langsung berjalan cepat mendekati Zafri dan mengelus wajah tegas pria itu.


"Kau tidak apa-apa, Boy?" yup, ternyata wanita itu adalah Ceisya. Beritanya sudah tersebar di seluruh gedung rumah sakit. Tentang berita Zafri yang merebut Melody dari tangan Andi. Karena yang publik tau, Andi adalah calon suami dari Melody.


"Zafri oke, Ma. Mama tidak perlu khawatir." ucap Zafri menenangkan sang mama yang tampak panik.


Plak


Ceisya malah memukul lengan putranya membuat Zafri meringis kesakitan. Sementara Bima yang masih berada di ruangan itu hanya menutup mulutnya rapat.


"Lagian kenapa kamu menyembunyikannya dari Mama? Apa kamu tidak lagi menganggap kehadiran Mama?" Zafri langsung kalang kabut. Ia memegang sebelah tangan Ceisya dan menggenggamnya.


"Tidak, Ma. Hanya saja Zafri belum sempat memberitahu karena mencari waktu yang tepat. Lagi pula itu baru semalam, Ma. Baru semalam Zafri mengatakannya."


Perlahan Ceisya tampak lebih tenang dari pada tadi. Ia percaya dengan perkataan putranya itu.


"Lalu? Masalah ini bagaimana? Mama khawatir takut kamu dan Melody kenapa-kenapa, Boy. Kamu tau kan bagaimana dunia luar itu. Sangat kejam."


"Mama tidak perlu panik. Zafri akan segera mengatasinya." ucap pria itu.


"Baiklah. Mama percaya kamu, Boy. Hati-hati, Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu."


Zafri tersenyum menatap sang mama. "Mama tenang. Sekarang Mama kembali ke ruangan Mama. Zafri akan menyelesaikan masalah ini sekarang."


"Oke, Sayang. Mama pamit."


Zafri mengangguk.


Selepas kepergian sang mama, Zafri tampak memijit pelipisnya.


"Apa yang akan kau lakukan, Zaf?" tanya Bima.


"Aku akan mendatangi Andi."


"Aku ikut!" sela Bima cepat.


"Jangan. Aku takut kau lepas kendali mengingat persoalan Liona." larang Zafri.

__ADS_1


Bima hanya menghela nafas kasar. Jujur, ia masih belum terima dan sangat ingin menghajar pria yang bernama Andi itu.


__ADS_2