(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 27


__ADS_3

Zafri berdiri di kerumunan barisan para dokter yang tampak berbaris rapi sambil mendengarnya pengarahan langsung dari direktur rumah sakit itu tentang acara kegiatan mereka yang akan berkunjung ke sebuah desa yang cukup terpencil. Ya, Zafri adalah salah satu dari dokter yang akan melakukan kunjungan.


Sudah ditetapkan mereka akan berangkat besok pagi. Memang cukup mendadak karena desa tersebut baru saja terkena musibah yang mengakibatkan banyak sekali warga di sana terkena akibatnya.


Bukan hanya para dokter di rumah sakit tempat Zafri bekerja, namun, ada juga dokter-dokter lainnya dari rumah sakit lain.


Setelah dibubarkan, Zafri dan Bima tampak berjalan beriringan sembari mengobrol tentang hari keberangkatan mereka yang cukup mendadak. Besok? Bukankah itu sangat singkat untuk mempersiapkan segala sesuatu?


"Aku tidak yakin kalau aku bisa pergi bersamamu." ucap Bima dengan nada lirih.


"Ada sesuatu yang menganggumu?" tanya Zafri.


"Kemarin malam aku menabrak orang. Dan keluarganya memintaku untuk datang besok siang."


Zafri yang sudah tau pun hanya menganggukkan kepalanya. "Kau sudah meminta izin kepada direktur?"


"Belum, rencananya nanti sebelum jam kerja habis."


"Baiklah. Terserahmu." sahut Zafri.


"Nanti setelah urusanku selesai, aku akan menyusul rombongan." lanjut Bima.


"Bagus kalau begitu. Aku jadi tidak sendirian."


Obrolan singkat mereka terhenti karena Zafri harus melakukan pemeriksaan di bangsal rumah sakit.


Keesokan harinya tampak rombongan dokter yang akan menjadi relawan ke sebuah desa sudah masuk ke dalam bus yang akan membawa mereka. Bukan kali ini saja mereka melakukan kunjungan ke desa-desa terpencil, namun, sudah beberapa kali. Kali ini Zafri duduk di dekat jendela, di sampingnya duduk seorang pria yang menjadi rekan kerjanya.


Perjalanan mereka mungkin akan memakan waktu yang cukup panjang. Mereka tiba di tempat tujuan pada saat sore menjelang. Bertepatan dengan tanggal datangnya satu bus yang berasal dari rumah sakit lain.


Dokter-dokter di 2 rumah sakit berbeda dipersatukan untuk menjalin silaturahmi antar profesi. Anggap saja seperti itu.


Dari pihak Zafri terhitung sekitar 15 orang yang menjadi relawan. 6 dokter dan 9 perawat. Begitu juga dengan pihak rumah sakit lain yang ternyata membawa sekitar 15 orang dengan dokter berjumlah 7 orang dan perawat berjumlah 8 orang.


Kedatangan awal mereka seperti biasa akan melakukan perkenalan terlebih dahulu. Setelah melakukan perkenalan baru mereka akan dibawa ke asrama tempat tinggal mereka untuk seminggu ke depan. Atau mungkin lebih, tergantung dengan situasi di desa tersebut.


"Joni."


"Zafri." balas Zafri menjabat tangan pria tersebut.


"Reno."

__ADS_1


"Iya. Zafri." Zafri cukup tenang karena dokter relawan tersebut didominasi oleh laki-laki. Namun, Zafri melihat 2 orang wanita yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Rachel."


"Zafri." hanya sebentar Zafri berjabat tangan lalu setelahnya langsung dilepaskannya. Rasanya begitu tidak nyaman ketika berjabatan dengan wanita asing.


Begitu sudah berkenalan dengan Zafri, wanita tersebut langsung pergi. Meninggalkan satu orang wanita yang masih berdiri di dekat Zafri.


Zafri menatapnya canggung karena wanita tersebut terus menatapnya lekat.


"Saya Zafri." Zafri menyodorkan tangannya. Namun, tanggapan dari wanita tersebut justru berbeda. Zafri yang hanya ingin segera menyudahi sesi perkenalan itu langsung menyodorkan tangannya sebagai perkenalan. Di wilayah orang jelas ia tau bagaimana tata krama sopan santun ketika berkenalan.


"Mika." balas wanita itu membalas jabatan tangan Zafri. Zafri akui wanita itu cantik, namun, di matanya tampak seperti wanita pada umumnya. Tidak bisa membuat hatinya bergetar saat pandangan pertama. Berbeda dengan Melody. Lagi-lagi Zafri memikirkan Melody yang sudah seminggu ini mereka tidak pernah bertemu.


Saat akan menarik tangannya, justru wanita tersebut malah semakin mengeratkan genggamannya lalu disusul dengan elusan lembut jari jempolnya membuat Zafri refleks menarik kuat tangannya.


"Maaf, saya harus kembali ke rombongan." pamit Zafri langsung berjalan cepat.


Zafri berjalan cepat mencari sumber air untuk mencuci tangannya. Rasanya sungguh tidak rela begitu wanita asing mengelus tangannya dengan tidak sopan. Akan Zafri tandai wajahnya dan akan ia jauhi sebisa mungkin.


"Dr.Zafri? Anda mau kemana?" tanya laki-laki tua yang menyambut kedatangan mereka tadi.


"Maaf, Pak. Saya mencari air, ingin mencuci tangan." balas Zafri yang dapat didengar oleh semua orang karena kebetulan mereka berkumpul.


"Oh, tidak perlu repot, Pak. Bapak tinggal tunjukkan saja dimana letaknya." tolak Zafri halus.


"Baiklah. Nanti Dokter tinggal lurus saja lalu nanti ada jalan, belok kiri. Setelah belok kiri, Dokter lurus lagi, dan ada jalan kecil nanti belok kiri lagi. Nah di situ sudah ada toilet umum."


Zafri yang mendengarnya dibuat mematung. Mau cuci tangan saja sudah seperti mau melakukan perjalanan kemah.


"Baik, Pak. Terimakasih. Kalau begitu saja pamit."


"Iya, silahkan."


Tidak lama setelah kepergian Zafri, tampak seorang wanita berbisik kepada temannya.


"Hel, gue pamit ke toilet bentar ya? Kebelet ini." bisik Mika, wanita yang sempat berkenalan dengan Zafri tadi.


"Owh, oke. Memangnya lo tau?" tanya Rachel.


"Itu tadi udah dikasih tau. Nanti tinggal lo bilang aja ke yang lain kalo gue kebelet."

__ADS_1


"Oke." Rachel hanya menunjukkan jari jempolnya.


•••


Zafri bernafas lega setelah mengeluarkan sesuatu yang mendesak tadi. Ternyata selain ingin mencuci tangan, Zafri juga ingin buang air kecil. Pria itu lekas menarik resleting celananya ke atas hingga kembali tertutup.


Saat membuka pintu toilet yang terbuat dari kayu itu, betapa terkejutnya Zafri saat melihat sosok wanita yang berdiri mematung tepat di depan pintu. Zafri berusaha menetralkan rasa terkejutnya sebisa mungkin agar tidak terlihat oleh orang lain. Namun, ternyata wanita itu sudah lebih dulu melihat keterkejutannya.


Zafri langsung berdehem. Ia mencoba untuk berpikiran positif. "Silahkan." ucap Zafri sesegera mungkin menyingkir dari sana.


Namun, lengannya ditahan oleh wanita itu.


"Maaf. Dok. Dokter bisa tolong jaga di depan gak? Saya takut, ini sudah mau malam dan di sini juga sepi. Saya juga tidak ingat jalan pulang." ucap Mika menatap Zafri penuh harap.


Seketika Zafri diterpa rasa canggung. Jelas ia ingin menolak karena di situ hanya mereka berdua saja. Menunggu wanita di depan toilet? Jelas ia tidak mau. Tapi, Zafri mengingat lagi. Memang ia membenarkan perkataan wanita itu. Hari sudah lumayan sore dan Zafri juga sadar bahwa di sekitar mereka itu sepi. Daerahnya didominasi oleh hutan-hutan. Mungkin hanya terdapat sedikit populasi penduduk di sana.


"Tolong cepat." balas Zafri singkat.


"Terimakasih, Dokter." Zafri hanya diam saja tidak membalas.


Cukup lama Zafri berdiri di dekat toilet tersebut. Memang tadi Zafri sempat sedikit menjauh dari sana. Ia hanya takut saja.


Zafri tidak berpikiran negatif. Ia hanya berpikir mungkin saja wanita itu mengeluarkan kotoran alamnya sehingga membuatnya lama. Padahal hari sudah mau malam. Sayup-sayup Zafri juga mendengar suara lolongan serigala yang membuatnya bergidik ngeri.


"Maaf lama, Dokter. Tadi perut saya sakit." Zafri langsung melihat ke depan. Ia terkejut dan refleks memundurkan tubuhnya ke belakang karena jarak wanita itu sungguh dekat dengannya.


"Ayo kembali." Zafri langsung berjalan mendahului wanita tersebut.


"Arghhhhh... tolong!"


Baru beberapa melangkah, Zafri sudah mendengar teriakan dari arah belakang. Ia langsung berjalan cepat. Melihat Mika yang sudah tergeletak di atas tanah.


"Ada apa?" tanya Zafri datar. Ia langsung berjongkok memeriksa kaki Mika karena wanita itu terus memegang pergelangan kakinya. Zafri bukannya memberikan perhatian lebih, namun, ia hanya memberikan perhatian khusus sebagai dokter dan pasien. Jelas Zafri tidak tertarik dengan modelan Mika yang centil itu. Jauh dari kriteria wanita idamannya.


"Kaki saya terkilir, Dok. Arghhh! Sakit, Dokter. Sepertinya saya tidak bisa berjalan." ujar Mika diam-diam menatap wajah Zafri dengan senyuman aneh di bibirnya. Saat Zafri melihatnya, wanita itu dengan cepat merubah ekspresinya.


.


.


.

__ADS_1


double up 🥰insya Allah kita double up tiap hari🥰


__ADS_2