(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 7


__ADS_3

Tidak terasa hari sudah berlalu dengan begitu cepat. Dan hari ini adalah hari kepulangan Melody, akhirnya wanita itu terbebas juga dari jerat rumah sakit. Padahal kan dirinya hanya sakit biasa saja. Kenapa harus menginap segala?


Tampak Melody tengah mengemaskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Di dalam ruangannya, hanya ada dirinya sendiri sedangkan Liona kini pergi ke luar ada urusan penting.


Saat sedang asik berkemas, tiba-tiba pintu ruangannya dibuka. Lalu tampaklah seorang pria mengenakan jas kebesarannya masuk sambil membawa dokumen yang berisi catatan kesehatan milik Melody. Ya, dialah Zafri. Mengingat hari ini adalah hari terakhir Melody berada di rumah sakit ini, Zafri akan melakukan pemeriksaan untuk terakhir kalinya dan sekaligus mengucapkan selamat tinggal kepada Melody.


"Pak Dokter, ada apa ke sini?" tanya Melody setelah membereskan barang-barangnya dan menutup rapat kopernya. Padahal hanya tiga hari Melody menginap di rumah sakit. Lalu kenapa perlengkapannya bisa dibilang untuk menginap selama sebulan?


Zafri hanga diam, ia melangkahkan kakinya berjalan mendekati Melody yang berdiri di ujung sofa. Pria itu langsung memukul kepala Melody menggunakan pulpen di tangannya hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


"Yaaakkkkkkk!!!" pekik Melody langsung menyentuh bagian kepalanya yang baru saja dipukul menggunakan pulpen oleh Zafri.


Sedangkan Zafri yang mendengar suara melengking Melody sontak menutup kedua telinganya menggunakan tangannya.


"Dasar dokter sinting!" amuk Melody dengan berani berteriak di hadapan Zafri.


"Ini balasanmu karena selama tiga hari ini kau selalu menyusahkanku." jelas Zafri dengan tenang sedangkan Melody sudah menunjukkan reaksi berapi-api.


"Itu sudah tugasmu menjadi seorang dokter." balas Melody berteriak lantang.


Zafri langsung membekap mulut Melody menggunakan satu tangannya. "Jangan berteriak. Kau dapat membuat pasien yang lainnya merasa tidak tenang." tekan pria itu.


"Aaaarrggghhhhh..." Zafri memekik saat Melody menggigit tangannya hingga menimbulkan bekas gigitan..


"Kau sudah gila!?" seru Zafri menahan sakit di telapak tangannya.


Dengan santainya Melody hanya tersenyum puas. "Itu balasanmu. Sudahlah, tidak baik kita bertengkar. Bukankah hari ini adalah hari terakhirku berada di sini? Seharusnya kau memperlakukanku baik, Dokter." ucap Melody pelan dengan nada bicaranya sangat lembut.


"Kau!" tepat saat itu pintu ruangan Melody langsung terbuka. Menampakkan seorang pria yang masuk disusul dengan Liona yang tampak panik.


"Gio!" sentak Melody terkejut akan kehadiran rekan kerja sekaligus atasannya. Ya, bisa dikatakan bahwa Gio adalah manager di perusahaan tempat ia bekerja.


"Maaf, Melo. Dia menerobos masuk dan mengancamku." sahut Liona dengan nafas terengah.


Melody langsung merubah ekspresi kagetnya.

__ADS_1


"Hai, Melody. Di sini kau rupanya. Aku mencarimu selama beberapa hari ini." ujar Gio langsung berjalan menuju Melody yang masih terdiam di dekat Zafri. Zafri hanya diam sama sambil mengamati interaksi keduanya.


Dengan beraninya Gio menyentuh tangan Melody yang langsung saja mendapat tepisan kasar disertai tawa renyah. "Haha, terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, Gio. Sekarang kau bisa pergi dari sini." ucap Melody.


"Tidak apa, Melody. Kau mau pulang bukan? Biarkan aku mengantarkanmu."


Melody langsung melirik Liona cepat. Ia menaikkan alisnya beberapa kali mengkode Liona agar membantunya dari kejaran Gio.


"Melody harus pulang bersamaku, Gio. Dia harus banyak beristirahat. Benar begitu bukan, Dokter Zafri?" untungnya Liona langsung peka terhadap kode Melody. Wanita itu langsung membawa nama Zafri ke dalam masalah mereka.


Zafri hanya diam, Melody pu langsung menyenggol lengannya pelan. "Ah ya. Benar apa yang dikatakan wanita itu. Melody, pasien saya harus banyak beristirahat." dan entah kenapa Zafri mau saja diperdaya oleh Melody.


"Saya hanya mengantarkannya, bukan untuk mengajaknya minum, Dokter. Itu tidak salah kan?" sahut Gio menatap tajam Zafri.


Zafri yang ditatap seperti itu pun tidak mau kalah. Pria itu pikir yang mempunyai tatapan mata tajam hanya dirinya saja. Haruskan Zafri memperkenalkan dirinya?


"Memang benar begitu. Tapi, pasien saya tidak boleh tertekan dibawah paksaan. Kalau dipaksa, maka, sakitnya akan kembali kambuh dan dia akan menggigit orang yang memaksanya hingga mati." entah datang dari mana ide tersebut hingga membuat Zafri berani berkata.


Sontak Melody membulatkan kedua matanya. Apa Zafri pikir dirinya adalah seorang zombie?


Melody langsung tertawa renyah. "Hahah haha, iya, Gio. Itu semuanya benar."


Namun, Gio hanya menganggukkan kepalanya saja. "Tidak apa-apa. Aku kebal terhadap gigitan." sahut Gio yang jawabannya di luar nalar. Maksudnya apa kebal terhadap gigitan? Apakah Gio sudah pernah digigit oleh harimau Sumatra?


Melody langsung berdecak dalam hati. Sifat Gio ini sangat pantang mundur sebelum mendapatkan bukti. Saat berpikir seperti itu, tiba-tiba ide di kepala Melody langsung muncul yang membuatnya tersenyum manis.


"Maaf, Gio. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untukku memberitahu yang sebenarnya."


"Apa?" tanya Gio penasaran.


"D-dokter Zafri adalah pacarku."


Mata Zafri langsung terbelalak kaget. Pacar? Kapan mereka berhubungan seperti itu. Ia melirik Melody dengan tatapan protesnya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah balasan senyum yang teramat manis. Tapi, Zafri tidak boleh luluh karena hal sekecil itu.


Sama halnya dengan Zafri. Liona dan Gio juga ikut terkejut. Terutama Liona yang notabene sebagai sahabatnya.

__ADS_1


"Aku sungguh tidak percaya, Melody. Karena yang aku tau, kamu tidak pernah dekat dengan pria mana pun. Apalagi modelan seperti ini." Gio memandang Zafri remeh. Membuat Zafri seketika naik darah.


"Aku butuh bukti yang cukup kuat untuk mempercayai perkataanmu itu." lanjut Gio lagi.


"Oke." balas Melody yang seperti menerima tantangan seru. Mungkin caranya kali ini bisa dianggap gila. Namun, Melody hanya bisa membuktikannya dengan itu.


Melody memutar tubuhnya 90 derajat hingga ia kini menghadap Zafri. Tangannya memegang kedua lengan Zafri yang berada di sisi tubuhnya lalu wanita itu langsung memutar tubuh Zafri hingga posisi keduanya saling berhadapan. Dahi Zafri sempat mengerut kala Melody memutar tubuhnya.


Dengan tiba-tiba Melody mengambil kedua tangan Zafri dan meletakkannya tepat di kedua sisi pinggangnya. Kemudian tangan wanita itu langsung melingkar di leher Zafri. Tidak membutuhkan usaha yang banyak karena tinggi badannya cukup seimbang dengan Zafri.


Cup


Melody langsung menarik leher Zafri mendekat ke arahnya lalu dengan tiba-tiba ia mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Zafri. Mata Zafri langsung melotot, yang ia lihat saat ini hanyalah mata yang terpejam. Lehernya ditarik cukup erat membuatnya tidak bisa bergerak.


Liona melototkan kedua matanya. Hampir saja ia jantungan melihat tingkah sahabatnya yang sangat berani. Respon Gio juga tidak kalah sama dengan Liona. Ia benar-benar dibuat terkejut dengan tingkah Melody yang mencium bibir Zafri tepat di hadapannya.


Kedua benda kenyal itu bertemu sempurna. Awalnya hanya bertemu, lama kelamaan terasa gerakan lembut dengan Melody yang mendominasi. Kedua mata Zafri yang awalnya melotot kini berubah menjadi teduh. Reflek tangannya mengeratkan pegangan tangannya di kedua sisi pinggang Melody.


Melody cukup dibuat terkejut dengan respon Zafri sekarang. Ia kira Zafri tidak akan membalas ciumannya. Nyatanya tidak! Buktinya sekarang Zafri sudah mulai mendominasi. Perlahan matanya tertutup rapat, digantikan dengan respon Melody yang mulai menegang. Sungguh! Ini di luar dugaannya.


Zafri mulai menggerakkan bibirnya perlahan. Ini adalah ciuman pertamanya yang diambil oleh wanita di hadapannya ini. Jangan salahkan Zafri kalau pria itu membalasnya. Ia tidak terima kalau ciuman pertamanya diambil begitu saja.


"Mmmhhhh..." lenguh Melody lirih saat ciuman Zafri kini kian menuntut. Bahkan lidah pria itu kini mencoba menerobos bibi Melody. Sebelah tangannya berpindah pada tengkuk leher Melody dan menekannya seiring dengan gerakan bibinya yang sensual.


Empat pasang mata yang kini menjadi saksi live itu terngaga dan mematung sempurna. Mereka tidak menyangka akan menyaksikannya secara live.


Melody menepuk pelan bahu Zafri saat ia merasakan pasokan oksigennya sudah mulai menipis. Mendapat kode dari wanita itu, bukannya melepaskannya, Zafri malah melu*mat habis bibir Melody lalu setelahnya melepaskannya begitu saja. Menyisakan perasaan aneh di dadanya kala Zafri melepaskan cumbuannya.


Nafas Melody langsung terengah-engah. Dadanya naik turun seiring dengannya yang merebut kembali pasok oksigen di paru-parunya. Setelah tersadar, Melody langsung menundukkan kepalanya. Ia mengangkat wajahnya kembali dan menatap dua orang dengan mulut ternganga.


"Apakah itu sudah cukup untuk membuktikannya? Kalau tidak? Apa aku harus melakukan hal yang lebih dari ini?" tanya Melody kepada Gio yang masih mematung.


Mendengar suara Melody, Gio segera tersadar. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali. Pria itu tidak menjawab, melainkan langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan tiga orang di dalamnya.


Selepas kepergian Gio. Melody kembali menatap Liona dan Zafri secara bergantian. Respon Liona sama seperti Gio tadi. Beda lagi dengan Zafri yang tengah menormalkan dadanya yang naik turun. Pria itu juga ikut melesat pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

__ADS_1


Melody melihat kepergian pria itu. Ada rasa aneh di dadanya saat setelah kejadian barusan. Melody menyentuh bibirnya gugup. Baru saja ia mencium seorang pria asing! Padahal ini adalah ciuman pertamanya. Melody mengakui itu bahwa ciuman Zafri tadi sangat menuntut dan sedikit panas. Bahkan Melody tidak pernah berpikiran kalau pria itu membalas ciumannya. Di pikirannya saat ini ialah Zafri akan mendorongnya cukup kasar. Namun, semua hal itu tidak terjadi. Malahan pria itu seperti hilang kendali.


__ADS_2