
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya Zafri sampai di depan sebuah apartemen yang tampak tertutup rapat. Dikejar para wartawan dan haters membuat Zafri kewalahan karena sebelumnya ia belum pernah mendapat pengalaman tentang itu. Sekarang identitasnya sudah tersebar di mana-mana. Tentang dirinya yang merebut Melody dari tangan Andi. Zafri tidak tau siapa yang menyebarkan berita bohong itu. Ditambah dengan banyak foto-foto mereka saat semalam berada di pantai. Zafri berjanji, jika dia menemukan pelakunya, maka, orang tersebut akan habis di tangannya.
Pelaku awal terarah kepada Andi karena yang Zafri tau pria itu sangat tidak suka dengannya. Dan lagi, Andi juga sangat terobsesi dengan Melody. Jadi, Zafri pikir pelakunya adalah Andi. Andi melakukan itu pasti untuk merusak nama baiknya dan mempermalukannya di muka umum.
Dorrr dorr dorrr
Zafri menggedor kasar pintu apartemen Andi. Untuk alamat Andi, Zafri tau dari Raymond karena ia sempat menyuruh asistennya itu untuk mencari tau tentang Andi.
Tidak lama pintu apartemen itu terbuka. Menampakkan seorang pria dengan pakaian santainya. Begitu melihat Zafri di hadapannya, pria itu tersenyum getir.
"Ada angin apa Tuan tiba-tiba datang ke sini?" tanya Andi lalu menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Tidak usah basa-basi. Pasti kau kan yang membuat berita bohong itu?" todong Zafri dengan ekspresi marahnya.
"Berita apa? Apa yang kau bicarakan?" balas Andi pura-pura tidak tau.
Dada Zafri sudah naik turun menahan emosi. Ia langsung menyodorkan ponselnya ke hadapan Andi.
"Woww! Bravoo..."
"Tanpa aku turun tangan pun sudah ada yang ingin menghancurkanmu."
"Maksudnya?"
"Kau itu bodoh atau bagaimana. Kalau aku ingin menghancurkanmu, aku akan turun tangan sendiri tanpa membawa-bawa nama baik Melody. Kau pikir aku yang membuat berita itu kan?"
"Lalu kalau bukan kau siapa lagi!"
"Mana ku tau. Itu urusanmu. Sudahlah, jangan mencari masalah denganku. Sana sana!" usir Andi.
Brakkk
Pintu itu ditutup kasar oleh Andi. Sementara Zafri langsung terjanjat kaget mendengarnya.
•••
Setelah menemui Andi, Zafri langsung bergerak cepat menemui Melody yang katanya saat ini tengah bersembunyi di apartemen milik Liona. Begitu sampai di apartemen Liona, Zafri langsung dipersilahkan masuk.
"Kami berdua tidak jadi pergi keluar karena wartawan ada dimana-mana." tutur Liona sambil mendudukkan dirinya di sofa single. Sementara Zafri ia persilahkan duduk di samping Melody.
"Barusan aku pergi menemui Andi."
"Apa?!" sentak Melody terkejut.
__ADS_1
Zafri memandang wajah teduh Melody. "Dia mengatakan bukan dirinya yang membuat berita itu."
"Lalu, kalau bukan dia siapa lagi?!" sahut Liona.
"Aku tidak tau. Apa mungkin ada orang lain yang melakukan itu?" lirih Zafri.
"Tapi, siapa?" monolog mereka. Mengingat-ingat siapa yang tidak menyukai kedekatan keduanya.
"Arghh... aku pusing memikirkannya." pekik Liona seraya mengacak rambutnya.
"Kita harus segera melakukan konferensi pers sebelum kondisi semakin memanas." ujar Zafri mengusulkan sarannya.
"Konferensi pers?" tanya Melody memicingkan matanya.
"Apa kau tidak setuju?" tanya Zafri memandang wanitanya.
"Bukan begitu maksudku." jawab Melody menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin mengumumkan kepada dunia bahwa kau hanya milikku. Aku tidak pernah merebutmu dari tangan siapapun termasuk Andi sekalipun."
Liona yang berada di situasi rumit pun segera melipir, wanita itu bergegas masuk ke kamarnya tanpa berpamitan kepada sepasang kekasih itu.
"Aku bukan tidak setuju. Tapi, apa itu tidak berbahaya?" ucap Melody berusaha menepis pikiran buruk pria itu.
"Bagiku semuanya tentangmu itu tidak berbahaya." gumam pria itu pelan. Ditatapnya netra mata Melody, seakan-akan mengunci netra mata wanita itu agar tidak bergerak kesana kemari.
"Gombal." ujar Melody menahan senyumnya.
"Itu fakta, Sayang."
"Haa? Apa?" Melody langsung memasang telinganya tajam-tajam. Takut apa yang ia dengar itu salah.
"Sayang..." suara Zafri jelas mendayu di telinga Melody karena pria itu mendekatkan wajahnya tepat di depan telinganya. Melody langsung bergidik geli merasakan hembusan hangat nafas Zafri di lehernya.
"Kau tidak lupa kan kalau semalam kau sudah resmi menjadi milikku?" bisik Zafri sensual.
"Aku belum menjadi milikmu sepenuhnya." balas Melody. Ia mendorong wajah Zafri menggunakan telapak tangannya. Membuat wajah pria itu terjungkal ke belakang.
"Baiklah. Malam ini, aku akan membawamu ke rumah."
"Mau ngapain?"
"Menjadikanmu milikku seutuhnya." Zafri mendekat. Mengulurkan tangannya ke sebelah rahang Melody dan mengelusnya. Melody terdiam, merasakan lembutnya usapan tangan kasar Zafri di pipinya. Lama keduanya terdiam sebelum akhirnya Zafri perlahan mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
Perlahan ujung hidup mereka saling bertemu. Zafri langsung memiringkan wajahnya. Nafas hangatnya menyapu wajah Melody. Pria itu terhenti, menyisakan jarak minim diantara keduanya. Matanya menyusuri kedua bola mata indah milik Melody. Lalu turun ke bawah dan terhenti di bibir Melody yang tampak merah merekah.
"Kau sungguh tak sabaran, Tuan." lirih Melody menatap wajah Zafri dalam jarak yang sangat dekat.
Rupanya Zafri masih betah menatap bibir wanita itu yang bergerak-gerak saat Melody berbicara. "Tentu saja. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu." ia semakin mendekat. Membuat pertemuan bibir mereka hampir terjadi. Namun, ternyata Zafri tidak ingin melakukannya. Ia hanya ingin bermain-main.
Melody juga tidak mau kalah. Tangannya menarik bagian depan jas Zafri ke arahnya. Mereka masih betah di dalam posisi itu tanpa mau merubah sama sekali. Hanya terdiam saling menatap tanpa adanya satu pun obrolan.
"Ku kira kau akan tahan, Tuan." ucap Melody memecahkan keheningan. Matanya langsung melirik sekilas ke bawah.
"Ekhemmm..." Zafri berdehem singkat. Ia langsung mengendurkan simpulan dasi di lehernya.
•••
Malamnya Zafri benar-benar menepati perkataannya tadi siang. Ia membawa Melody ke hadapan kedua orang tuanya. Saat ini mereka tengah berada di meja makan sambil menyantap makan malam masakan Ceisya.
"Kalian!" Ceisya melirik suami dan anaknya bergantian. "Pergilah dulu ke ruang tengah. Mama dan Melody akan menyusul nanti." titah wanita paruh baya itu kepada keduanya.
"Ayo, boy!" Zafran langsung mengajak sang putra. Zafri pun hanya mengangguk menurut. Sebelumnya ia sempat melirik Melody yang saat itu juga meliriknya.
Zafri langsung mengedipkan sebelah matanya ke arah wanita itu lalu langsung pergi begitu saja. Menyisakan Melody yang dibuat tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah kekasihnya.
"Anak itu!" cibik Ceisya terdengar oleh Melody.
Melody langsung menoleh ke arah calon mertuanya.
"Ayo, Sayang. Bantu Mama cuci piring."
Deg
Jantung Melody seketika berdetak cepat.
"Ma." panggil Melody.
Seakan tau arti panggilan dari Melody, Ceisya langsung menjawab. "Mama akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu menemani Mama mengobrol."
Melody langsung bernafas lega mendengarnya.
.
.
.
__ADS_1
nih up perdana 🤭 pelan-pelan aja ya😅