(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 13


__ADS_3

Melody menghentikan langkah kakinya menaiki anak tangga. Ia merasa tenaganya sudah terkuras habis. Berbeda dengan Zafri yang tampak biasa saja, malahan tenaga pria itu masih kuat.


"Aku capek." keluh Melody meminta Zafri untuk ikut berhenti.


"Mereka masih mengejar." balas Zafri sembari menoleh ke belakang di mana Melody sudah ngos-ngosan.


"Kamu naik saja. Biar aku di sini. Lagi pula aku tidak takut kalau mereka menyerbu ku. Aku hanya khawatir mereka menyerbu kamu. Aku sudah biasa diserbu para fans, berbeda dengan kamu. Mungkin ini adalah kali pertamanya kamu menghadapi situasi ini. Aku hanya tidak ingin melibatkan orang-orang di sekitarku."


Zafri langsung menatap Melody yang juga menatapnya. Disaat genting pun wanita itu masih memikirkan kenyamanan orang di sekitarnya. Ternyata inilah kelebihan dari sisi baik Melody.


Pria itu langsung berjongkok di hadapan Melody dan menepuk punggungnya. "Naik!" titah Zafri.


"Tidak mau." tolak Melody menggelengkan kepalanya.


"Aku bilang naik!" Zafri menekankan kalimatnya membuat Melody menghembuskan nafasnya panjang. Ia pun menuruti perkataan Zafri yang memintanya untuk naik ke punggungnya.


Melody mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Zafri saat pria itu berdiri dan perlahan menaiki satu per satu anak tangga.


"Aku turun saja." pinta Melody hendak bergerak turun. Namun, Zafri langsung memberikan ulti dengan cara hendak melepaskan Melody begitu saja dari gendongannya. Perlakuan Zafri langsung membuat Melody kembali mengeratkan tangannya dan kakinya melingkar di pinggang Zafri.


"Kenapa tidak jadi turun?" sindir Zafri sambil melangkah naik.


Melody hanya mendengus kesal. Ia yang sedikit lelah langsung menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Zafri.


"Apa mereka sering mengejarmu?" tanya Zafri membuka obrolan.


Melody hanya berdehem dengan kedua matanya tertutup. "Kalau saat jam kerja, aku selalu dikawal. Tapi, untuk di jam-jam pribadi, aku harus menyesuaikan diriku sendiri." jawab Melody.


"Kenapa tidak menyewa bodyguard saja?" saran Zafri.


"Aku harus membayar mereka lebih. Hemmm... mungkin lebih baik begini. Aku juga lebih tau bagaimana perasaannya para fansku. Andai aku berada di posisi mereka, pasti aku ingin sekali menemui idolaku dan berfoto bersama."


"Tapi, itu akan sangat menganggu kenyamananmu."


"Aku tidak peduli. Itu lah resiko ku karena telah memilih berkecimpung di dunia yang bebas."


"Kau itu terlalu baik. Tidak semuanya para fans itu baik. Sebagian dari mereka adalah musuh yang ingin menjatuhkan kepopuleranmu sendiri." ujar Zafri mengakui kebaikan hati Melody.


"Tidak apa. Aku akan lebih berhati-hati."

__ADS_1


"Sudah sampai. Kelihatannya mereka sudah tidak mengejar lagi."


Melody bahkan tidak sadar kalau mereka sudah sampai di lantai 10. Bayangkan saja, sepanjang itu mereka terus mengobrol. Melody juga salut dengan kekuatan fisik Zafri. Dari lantai lima, pria itu menggendongnya dan berakhir di lantai sepuluh.


"Turunkan aku." pinta Melody sembari bergerak pelan.


Zafri kembali berjongkok dan menurunkan tubuh Melody pelan. Lalu pria itu kembali berdiri sambil menggerakkan lehernya ke samping.


"Di sana memang gelap?" tunjuk Zafri ke arah lorong-lorong di lantai 10.


"Iya. Di malam hari selalu gelap, hanya ada pencahayaan dari luar saja."


"Aku akan mengantarkan mu." Zafri mendorong bahu Melody pelan agar bergerak dari tempatnya.


"Kau mau mampir?" tawar Melody. Kali ini, ia benar-benar tulus menawarkan.


"Apakah kau menawarkan aku untuk--"


"Aku serius, Zafri!" potong Melody cepat sebelum Zafri kembali menggodanya. Bahkan tanpa sadar ia menyebut nama Zafri tanpa embel-embel dokter.


"Baiklah, baiklah." Zafri menahan senyumnya. Singkat saja dirinya sedikit tersentil karena pertama kalinya Melody memanggil namanya tanpa embel-embel. Hanya sederhana, membuat hati Zafri berbunga-bunga.


"Apa!?" tanya Melody sedikit ketus. Ia bahkan tidak melihat lawan bicaranya.


"Jangan ketus. Aku hanya ingin menawarkan kita untuk berteman." sontak Melody menghentikan langkah kakinya.


Merasa kalau Melody tertinggal di belakangnya, Zafri langsung mundur tiga langkah ke belakang. "Kau tidak mau?" tanya Zafri.


"Bukan. Aneh saja. Apa yang kau rencanakan di otakmu itu?" Melody memandang penuh intimidasi. Namun, dirinya tidak bisa melihat jelas wajah Zafri.


"Bagian mana yang aneh? Aku hanya ingin mengajak berteman saja. Kalau kau tidak mau juga tidak masalah. Aku bukan orang yang suka memaksa." pria itu langsung meninggalkan Melody yang masih berdiri di tempatnya.


"Hei, tunggu aku!" teriak Melody langsung mengejar Zafri.


Bruk


Karena tidak terlalu jelas, akhirnya Melody menabrak punggung Zafri yang keras membuatnya langsung mengeluh karena merasakan dahinya sedikit sakit.


"Kalau jalan itu lihat di depan, bukan lihat ke belakang." sindir Zafri.

__ADS_1


"Kau bahkan tau kalau sekarang gelap. Aku mana bisa melihat dengan jelas." Melody mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Makanya rajin makan wortel agar matamu sehat." balas Zafri tidak mau kalah.


"Dan ya, satu lagi. Jangan coba-coba mengerucutkan bibirmu itu. Aku tidak menjamin kalau itu akan aman." lanjut pria itu.


"Kau! Pria mesum. Aku penasaran sifatmu itu dari siapa. Mama dan Papamu juga tidak semesum itu."


"Kau belum mengenal Papaku. Dia adalah ahlinya. Jangan heran kalau sifatku seperti ini. Seharusnya kau beruntung."


"Aku? Beruntung? Bagian mana menurutmu yang beruntung? Aku malah merasakan hidupku sedikit rugi."


"Kenapa bisa?" tanya Zafri mencoba bertanya.


"Kau itu sangat mesum. Pertama, kau sudah mengambil ciuman pertamaku. Dan yang kedua, bahkan kau sudah menyentuhku. Haish, rasanya aku sungguh tidak terima sampai saat ini." Melody berdecak pelan lalu menghela nafasnya panjang.


"Wanita selalu menganggap dirinya korban. Padahal mereka adalah pelakunya. Apa kau tidak sadar, kau lah yang sudah mengambil ciuman pertamaku. Ingatlah? Siapa yang lebih dulu menarik leherku waktu itu?" sahut Zafri meminta Melody untuk mengingat kejadian waktu lalu.


"Lupakan. Sebaiknya kau pulang saja."


"Kau mengusirku? Padahal baru saja aku membantumu untuk sampai di lantai ini. Badanku terasa sakit semua, kau terlalu berat."


"Kau yang memaksa. Bukan kemauan ku."


"Terserah. Aku akan tetap mengantarkanmu sampai ke depan pintu." kekeuh Zafri tetap dengan pendiriannya.


"Tidak, tidak. Ini hampir sampai. Kau pulang saja. Lebih cepat lebih baik karena aku takut para fans ku akan datang lagi." tolak Melody menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan pulang." final Zafri lebih baik mengalah saja.


"Ya, itu lebih baik. Hati-hati di jalan." balas Melody lalu melangkah meningalkan Zafri yang berdiri di depan sebuah pintu kamar.


Zafri tidak langsung pergi, melainkan ia memastikan bahwa Melody sudah masuk ke dalam apartemennya. Pria itu membalikkan badannya dan bersiap-siap untuk pergi. Namun, sebuah teriakan suara tidak asing terdengar di telinganya. Zafri langsung panik saat tau suara teriakan itu.


"Aaaakkkkkhhhhhh!!!!!"


Zafri langsung berlari menerobos gelapnya lorong apartemen itu. Sungguh! Pria itu mengumpat karena layanan gedung apartemen itu yang sangat buruk. Bisa-bisanya lorong apartemen dibiarkan gelap.


"Hmmpppppp..."

__ADS_1


"Lepaskan wanita itu, brengsekkkk!!!" teriak Zafri langsung emosi saat melihat bayangan pria yang sedang menekan tubuh Melody ke dinding dan tampak mencoba menyentuhnya. Bahkan dapat Zafri lihat bayangan Melody yang tampak memberontak dengan cara berulang kali menggelengkan kepalanya ke samping.


__ADS_2