
Melody terbangun saat sayup-sayup merasakan ada sebuah telapak tangan dingin yang menempel di keningnya. Wanita itu perlahan membuka kedua matanya yang terasa sangat berat. Matanya menyipit karena cahaya luar yang begitu terang membuat matanya silau. Sekarang matanya sudah terbuka lebar, ia melirik ke samping di mana ada seorang pria memakai jas putih kebesaran tengah mengamatinya lekat.
"Pagi." sapa Zafri memberikan senyuman lebar.
Melody yang melihatnya hanya terdiam bingung. Maklum saja nyawanya belum terkumpul semua. Membuat separoh ingatannya sedikit lupa.
"Apakah tidurmu nyenyak?"
"Hmmm..." Melody hanya berdeham singkat lalu berusaha untuk mengubah posisinya. Namun, tubuhnya terlalu lemas untuk sekedar menopang tubuhnya.
Zafri refleks memegang erat kedua lengan wanita itu lalu mendorongnya lagi hingga Melody kembali terbaring di atas kasur. "Jangan banyak bergerak. Istirahatlah." wanita itu hanya mengatupkan bibirnya rapat.
"Oh ya, aku juga membawa sarapan untukmu." ujar pria itu lalu beralih ke sebuah troli makanan yang berada di sampingnya. Pria itu lekas mengambil mangkuk yang berisi bubur itu lalu membuka plastik yang membungkusnya yang berguna untuk menghindari virus dan bakteri.
"Apa yang terjadi?" tanya Melody disaat Zafri tengah fokus menyiapkan sarapannya.
Pria itu terdiam tidak menanggapi karena memang sekarang waktunya tidak tepat untuk menjelaskan.
"Jawab aku!" desak Melody begitu penasaran. Sungguh! Ia benar-benar lupa dengan kejadian semalam. Yang ia ingat hanyalan saat Andi membawanya ke sebuah bar dan... pria itu memasukkan obat perang*sang ke dalam minumannya. Seketika Melody menutup mulutnya rapat menggunakan satu tangannya.
Dan bahkan sedikit demi sedikit ingatan di kepala Melody kembali. Ia mengingat di mana malam itu suasananya sangat gelap. Bukan itu, tapi, Melody mengingat saat ia mencium panas bibir seorang pria. Dan setelahnya Melody langsung lupa apa yang terjadi selanjutnya. Ia hanya mengingat sebagian saja karena mungkin itu pengaruh obat.
Pandangan Melody langsung tertuju kepada Zafri yang tampak menunjukkan reaksi biasa saja.
"Kau mau tau?" bukannya menjawab, Zafri malah balik bertanya sambil memasang wajah menyebalkan.
"Aku serius!" balas Melody.
Mendengar itu membuat Zafri menghela nafasnya panjang. Pria itu langsung menaruh mangkuk bubur di tangannya di atas nakas.
"Kau sungguh mau tau apa yang terjadi semalam?" ulang Zafri dengan pertanyaannya.
Dengan yakin Melody menganggukkan kepalanya itu.
Zafri langsung bergerak mendekati Melody dan tampak mengikis jarak mereka. Melody yang sudah berpikiran macam-macam langsung saja memejamkan kedua bola matanya.
"Semalam... kita melewati malam yang sangat panas. Uhh ahh..." bisik Zafri sensual tepat di depan telinga Melody. Sontak wanita itu mengangkat kedua bahunya sedikit ke atas karena merasakan geli saat nafas hangat itu menyapu telinganya lalu turun ke bawah mengenai lehernya.
__ADS_1
"Apa!!!" sentak Melody terkejut. Bahkan bola matanya hampir saja keluar saking lebarnya melotot.
Zafri tersenyum, ia kembali menjauhkan tubuhnya dari Melody. Dengan santai Zafri berkata. "Tidak ada, sekarang cepatlah habiskan sarapanmu." ucap Zafri lalu kembali mengambil mangkuk buburnya dan tampak menyodorkan satu suapan sendok tepat di depan bibir Melody.
Melody masih mengatupkan bibirnya rapat disertai gelengan kepala. "Liona mana?" tanya wanita itu.
"Dia pulang. Satu malam penuh dia menjagamu." jawab Zafri membuat Melody membulatkan mulutnya mengerti.
"Aku mau pulang." gumam Melody membuat Zafri menarik nafas panjang. Ia menurunkan tangannya yang sebelumnya terangkat untuk menyuapi Melody.
"Kau kehilangan banyak cairan tubuh. Oleh karena itu badanmu jadi lemas. Benar bukan?" tebak Zafri.
Melody menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa kau juga mau pulang dan tinggal bersama pria itu?" tanya Zafri.
Melody langsung membulatkan kedua bola matanya memandang Zafri. "Hei! Aku tidak tinggal satu rumah dengannya." protes wanita itu.
"Sangat sensi. Bahkan aku hanya bertanya saja. Kenapa kau mengamuk tidak jelas?" Zafri tersenyum miring. Karena saat melihat Melody naik pitam rasanya itu sangat menyenangkan.
"Salahmu!" ketus Melody memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Aku tidak mau." seru Melody cepat.
Zafri hanya terkekeh pelan. "Kalau begitu makan sarapanmu. Lebih cepat pulih maka kau akan lebih cepat untuk pulang."
"Baiklah." final Melody mengalah. Dia pun langsung mengambil mangkuk dari tangan Zafri dan langsung memasukkan suapan demi suapan bubur itu.
"Tidak enak! Pahit!" adu Melody meringis pelan saat bubur itu masuk melewati tenggorokannya.
"Mau aku tambah gula 1 kilo?" ucap Zafri.
"Tidak usah." tolak Melody lalu kembali memakan bubur rumah sakit itu dengan terpaksa.
Setelah habis, Melody memberikan mangkuk yang sudah kosong itu kepada Zafri.
Zafri mengambil satu gelas air putih dari atas troli makanan bersamaan dengan obatnya.
__ADS_1
"Cepat minum. Aku ada pemeriksaan pagi ini." ucap Zafri meminta Melody agar cepat meminum obatnya.
Melihat obat berbentuk pil di tangan Zafri membuat Melody menggelengkan kepalanya berulang kali. Sungguh! Wanita itu teramat tidak suka dengan obat.
"Obat tidur saja suka menelannya, kenapa ini susah?" sindir Zafri tepat sekali. Buktinya Melody langsung menatapnya tajam.
"Itu berbeda." jawab Melody mendengus kesal.
"Ini sama. Sama-sama obat, dan bentuknya juga tidak kalah sama. Apanya yang berbeda?"
"Rasanya!"
"Benarkah? Sebelumnya obat tidur itu rasanya apa? Apakah rasa madu? Stroberi? Mangga? Apel?"
"Rasanya seperti terbang di atas awan." jawab Melody dengan asal. Senyum Zafri langsung menyungging.
Karena tidak mau memperpanjang waktu dan dirinya juga ada pemeriksaan. Pria itu langsung memasukkan satu butir obat ke dalam mulutnya disusul dengan meminum airnya. Awalnya Melody memandang bingung karena yang seharusnya menelan pil itu kan dirinya, bukan pria itu.
"Apa kau saki... hmpphhhh..." sebelum Melody menyelesaikan perkataannya, pria itu langsung menyambar bibirnya yang sempat terbuka, sangat memudahkan Zafri untuk melancarkan aksinya. Pria itu langsung memindahkan obat di dalam mulutnya ke dalam mulut Melody. Sedikit mendorong obat itu menggunakan ujung lidahnya lalu disusul dengan air hingga kini Melody terpaksa menelan obat itu karena Zafri tidak memberikan sedikit ruang.
Zafri menjauhkan wajahnya sambil menyeka sudut bibirnya yang basah. Melody hanya terdiam mematung bak patung manekin.
Satu obat sudah berhasil masuk. Lalu Zafri mengambil kembali obat yang terakhir yang harus Melody minum. Melihat keterdiaman Melody membuat Zafri tersenyum puas. Ia kembali memasukkan satu obat itu ke dalam mulutnya disusul dengan beberapa tegukan air.
Zafri kembali mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka hingga kini terkikis habis. Zafri kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir Melody yang setengah terbuka lantaran masih syok akibat perlakuannya. Pria itu mengunci bibir Melody kemudian ia membuka sedikit bibirnya untuk mempermudah pertukaran obat dari mulutnya. Saat dirasa obat itu sudah tertelan oleh Melody, Zafri tidak langsung menjauhkan wajahnya. Rasanya ia ingin bermain lebih lama di sana, mengeksplorasi lebih dalam lagi rasa di bibir Melody yang sudah menjadi candu baginya. Zafri ingin sekali menggigit-gigit kecil benda kenyal itu dan menyesapkan kuat. Seakan-akan tidak ada hari esok.
Pria itu akhirnya memberanikan diri untuk menyesap pelan bibir manis Melody. Wanita yang masih syok itu otomatis masih terdiam sambil merasakan pergerakan lembut di bibirnya. Pikiran dan tubuhnya sangat tidak singkron.
Zafri yang merasa kalau Melody sudah berhasil menguasi keterkejutannya pun tersenyum. Buktinya wanita itu perlahan menutup kedua matanya membuat Zafri kembali tersenyum puas. Seakan mendapat jackpot, pria itu langsung melahap habis bibir Melody. Mema*gutnya, menyesapnya, dan menggigit-gigit kecil lantaran gemas.
Melody yang sudah terbuai pun lebih berani, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Zafri dan sedikit menekan tengkuk pria itu untuk memperdalam ciumannya. Zafri yang merasakan itu juga ikut senang, tangannya berpindah dari lengan, leher, telinga, dan sekarang menyusup di belakang tengkuk Melody. Pria itu memegang lembut sesekali mengusapnya lalu disusul dengan sedikit menekan ke atas.
Suara-suara khas perpaduan pertemuan kedua bibir itu terdengar sangat jelas memenuhi ruangan itu. Keduanya terlena sesaat, tenggelam akan rasa yang begitu memabukkan. Seolah-olah mengejar rasa yang sempat tertinggal. Mereka lupa sedang berada di mana. Dan bahkan mereka juga lupa dengan lingkungan sekitar. Tidak memikirkan resiko apabila ada orang yang masuk ke dalam.
Tidak ada yang mau melepaskan. Seolah mereka sudah terikat sejak pertemuan dan pandangan pertama. Sangat sangat unik.
Zafri tidak bisa berhenti untuk menikmati rasa yang pernah ia rasakan. Semakin lama dan semakin lama ciuman itu membuat Zafri kehilangan fokusnya. Ia melahap habis bibir Melody dan mengeksplorasinya lebih, membawa wanita itu terbang bersamanya ke atas awan.
__ADS_1
Saat sedang asik berbagi rasa, tiba-tiba dua orang wanita masuk ke dalam ruangan itu. Mereka melihat terkejut dengan aksi pasangan tersebut.
"Apa yang kalian lakukan!!!"