
Sekarang anggota keluarga sudah berkumpul. Baik Melody, Zafri, dan kedua orang tuanya. Mereka duduk saling berhadapan dengan Zafri dan Melody duduk berdampingan, begitu juga dengan Ceisya dan Zafran.
"Ma, Pa. Zafri akan mengadakan konferensi pers untuk menutup habis masalah itu." ujar Zafri kepada kedua orang tuanya.
"Sebelumnya Papa kurang mengerti masalah apa yang kalian hadapi." balas Zafran yang memang tidak tau menahu. Bahkan tentang Zafri yang sudah melamar Melody secara pribadi pun belum ia ketahui.
"Zafri minta maaf karena belum memberitahu Mama dan Papa. Kemarin malam, Zafri sudah melamar Melody. Tapi, itu masih secara pribadi." jelas Zafri. Melody menundukkan kepalanya karena ia juga merasa bersalah karena sudah merahasiakan ini kepada kedua orang tua Zafri.
Terdengar helaan nafas berat dari Zafran. "Papa tidak meminta hal yang macam-macam kepadamu, boy. Papa hanya minta, cukup jadi diri kamu sendiri tanpa harus mendengar perkataan orang lain. Papa rasa kamu sudah paham kalau Papa tidak mempermasalahkan itu semua. Tapi, untuk selanjutnya, Papa harap kamu bisa lebih terbuka lagi baik kepada Mamamu atau Papa."
Zafran melirik sang istri dan mengelus punggung tangannya lembut.
"Mama juga tidak marah untuk masalah ini. Mama bahagia karena melihat putra Mama sudah menemukan wanita yang tepat. Dari kecil, Mama tidak pernah menuntut kemauan Mama. Tapi, kali ini Mama berharap kamu segera meresmikan hubungan kalian. Seperti apa yang kamu katakan tadi, Mama setuju kalau kalian mengadakan konferensi pers. Dan untuk masalah siapa yang sudah membuat berita itu, serahkan saja kepada Papamu. Papa akan mencari siapa pelakunya."
"Terima kasih, Ma, Pa. Zafri sangat bersyukur memiliki orang tua seperti Mama dan Papa." ucap Zafri terharu.
"Of course. Mama sudah tua, Papamu juga. Mungkin mulai sekarang kami harus mendiskusikan untuk membuka bisnis baru setelah kamu menikahi Melody."
Zafri langsung menangkap tangan Melody dalam genggamannya. Ia merasakan tangan wanita itu dingin dan sedikit pucat. Zafri sempat meliriknya khawatir karena sedari tadi wanita itu terus terdiam.
"Are you okay, honey?" Zafri berbisik pelan takut terdengar oleh orang tuanya. Namun, sang papa yang memiliki pendengaran tajam tentu mendengar itu. Namun, sang papa berpura-pura bersikap seolah-olah tidak tau. Ia menahan senyum geli karena melihat tingkah yang tidak biasa dari putranya sendiri. Biasanya Zafri selalu bersikap datar dan dingin. Namun, kali ini justru berbanding terbalik.
"Sayang, mungkin Zafri perlu waktu berduaan. Ayo kita kembali ke kamar." ujar Zafran langsung menarik pelan tangan istrinya. Meskipun umur tidak lagi muda, namun, Zafran masih saja bertingkah romantis kepada istrinya. Hari demi hari cinta dan kasih sayangnya semakin bertambah.
"Eummm... baiklah. Ayo kita ke kamar." balas Ceisya menurut saja saat melihat kedipan mata dari suaminya.
"Mama dan Papa akan ke kamar terlebih dahulu. Kalian mengobrol lah di sini dengan tenang. Kami tidak akan menganggu, oke?" ujar Ceisya.
Zafri hanya menganggukkan kepalanya sementara Melody tersenyum kaku.
__ADS_1
"Mereka sudah pergi." ucap Zafri pelan sembari menatap Melody dalam.
"Zafri." panggil Melody. Ia mengubah posisinya menjadi duduk miring.
"Syutttt..." Zafri menaruh jari telunjuknya di atas bibir Melody. "Don't call me Zafri, honey." lanjutnya terdengar menggelikan di telinga Melody. Wanita itu meringis geli.
"Pak?" ucap Melody.
Zafri menggeleng pelan.
"Apa kau yakin memilihku untuk menjadi pasangan hidupmu?" tanya Melody karena itulah yang ingin ia pertanyakan.
"Dan apa kau yakin menerimaku untuk menjadi pelindung hidupmu?" tanya Zafri balik.
"Tentu. Tak ada yang perlu aku khawatirkan saat kau ada di sisiku." jawab Melody.
"Jawabanku juga sama. Aku sangat sangat yakin memilihmu sebagai pelengkap hidupku."
"Dan apa gunanya pasangan jika tidak bisa mengajari dan membimbing? Aku bukan mencari babu yang hanya aku pekerjaan khusus untuk pekerjaan rumah. Tapi, aku mencari seorang istri yang akan mendampingiku seumur hidupku. Melengkapi segala kekuranganku dan melewati sulitnya hidup bersama-sama."
"Apa itu semua sudah bisa membuatmu yakin akan hidup bersamaku selamanya?" tanya Zafri berhasil mengobrak-abrik hati dan pikiran Melody.
"Tapi, kita baru saja mengenal. Kita masih orang asing yang dipertemukan dalam sebuah ikatan." kilah Melody.
"Berapa lama lagi aku harus mengenalmu? Jika aku harus mengenalmu lebih dalam lagi, itu akan sangat membuang waktuku. Lebih baik kita saling mengenal dalam versi yang berbeda."
Melody tidak dapat lagi menyangkal semua perkataan Zafri. Dirinya sudah kalah telak. Mungkin memang pria itu ditakdirkan untuk hidup bersamanya selamanya. Mengisi kekosongan hatinya yang telah lama padam.
•••
__ADS_1
Konferensi pers akan dilaksanakan pagi itu juga. Hanya membutuhkan beberapa wartawan yang siap merekam dan mencerca banyak pertanyaan. Dan beberapa mengundang awak media.
Ruang kosong yang menjadi tempat dilaksanakannya konferensi pers itu sudah penuh oleh banyak wartawan dan awak media. Di samping itu, Zafri dan Melody juga mengundang Andi dan Liona untuk menguatkan bahwa berita itu bohong. Kemarin malam, selepas Zafri mengantarkan Melody, dirinya langsung mendatangi Andi dan meminta agar pria itu bersedia memberikan informasi fakta.
Suara jempretan gambar wartawan terdengar saling bersahutan kala sang tuan rumah yang mengadakan acara sudah hadir ke tempatnya.
"Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada wartawan dan awak media yang sudah hadir. Maksud dan tujuan saya membuat konferensi pers ini adalah sebagai bantahan atas tuduhan kasus yang sekarang lagi banyak diperbincangkan masyarakat. Seperti yang sudah kalian ketahui bahwa di berita itu mengatakan bahwa saya, Reinart Zafri Chairil telah merebut atau mengambil apa yang bukan milik saya."
*Cekrek
Cekrek*
Suara jepretan itu jelas terdengar diselingi kilatan cahaya kamera. Sangat jelas dan diketahui banyak orang karena saat ini konferensi pers itu live di channel televisi. Zafri sangat berani mengambil tindakan tersebut. Ia justru mendapat banyak dukungan dari seluruh anggota keluarganya. Mungkin di rumah sana, keluarganya sedang menyaksikan dirinya secara langsung melalui laman internet ataupun channel televisi.
"Semua berita dan tuduhan itu saya bantah. Saya tidak pernah merebut siapapun dari tangan siapapun. Dan saya tegaskan sekali lagi, bagi yang membuat berita ini akan saya tuntut lewat jalur hukum."
"Apakah yang Anda maksud itu adalah Melody? Penyanyi papan atas yang akhir-akhir ini naik daun?" tanya juru bicara yang bertugas menyampaikan pertanyaan dari wartawan atau awak media.
"Ya." jawab Zafri singkat.
"Apakah alasan anda membuat acara konferensi pers ini?"
"Alasan saya cukup mudah. Saya hanya ingin mengatakan kepada dunia bahwa wanita di samping saya ini adalah wanita yang saya cintai. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang berani menyakitinya apalagi mengambilnya dari tangan saya. Kami akan segera menggelar acara pernikahan." pria itu memandang penuh cinta ke arah Melody yang berada di sampingnya. Ia mengeratkan genggaman tangannya begitu tau tangan Melody mendingin.
"Apakah benar anda mendekati Melody hanya untuk popularitas dan dikenal oleh publik semata?"
Zafri terdiam. "Saya tidak berniat untuk terkenal dan dikenal." jawab Zafri sukses membuat awak media bungkam dibuatnya.
.
__ADS_1
.
.