(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 10


__ADS_3

Seharian bekerja membuat tubuh Melody sedikit letih. Sudah berapa banyak tempat yang ia singgahi hanya untuk sebuah konser. Wanita itu sadar bahwa di sini statusnya sebagai penyanyi yang harus menerima setiap konsekuensi atas pekerjaannya. Panggung demi panggung ia datangi demi menambah saldo rekeningnya. Sebenarnya wanita itu tidak perlu bekerja lebih karena sekalipun ia tidak bekerja, uang akan mengalir di rekeningnya.


"Bye, Lio. Selamat beristirahat." Melody melambaikan tangannya ke arah mobil yang kini perlahan menjauhi kawasan apartemen.


Wanita itu menghembuskan nafasnya panjang sebelum akhirnya beranjak dari lantai dasar. Ia berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya menuju apartemennya yang terletak di lantai 10.


Ting


Pintu lift terbuka saat ia sudah berada di lantai 10. Wanita itu berjalan pelan menyusuri lorong yang begitu sepi karena di lantai 10 itu hanya ada ditempati sekitar kurang lebih 10 penghuni. Melody salah satunya.


Kamar apartemennya itu terletak paling ujung, jadi, membutuhkan sedikit tenaga untuk berjalan ke sana.


Suara sepasang heelsnya itu terdengar memenuhi lorong lantai tersebut. Suasananya yang sedikit gelap membuat Melody tidak bisa melihat lebih jelas. Saat akan sampai di pintu apartemennya, Melody mengernyitkan dahinya saat melihat bayangan hitam yang berdiri tepat di depan pintu apartemen tetangganya.


Jantungnya semakin berdebar, ia hanya takut kalau bayangan tersebut adalah seorang pembunuh bayaran mungkin? Atau malah penculik, atau mungkin wartawan. Tapi, tidak mungkin wartawan datang ke apartemennya di larut malam begini.


"Hello." seru Melody mencoba berkomunikasi dengan bayangan yang ia lihat. Mungkin saja itu manusia, kalau orang tersebut tidak menjawab, Melody yakin itu adalah sebuah hantu. Iya, hantu apartemennya di lantai itu.


Benar saja, orang tersebut tidak menyahut. Melody pun mencoba sekali lagi. Kalau untuk yang kedua kalinya tidak menjawab, wanita itu akan memilih berlari cepat masuk ke dalam apartemennya.


"What are you doing there?"


"Apa kau tuli."


"Sudahlah. Mungkin memang itu hantu yang bergentayangan. Salah siapa, kau pulang jam setengah dua belas malam, Melody!" batin wanita itu mulai bergidik ngeri.


Karena merasa bahwa itu adalah hantu, Melody langsung berjalan cepat menuju pintu kamarnya. Ia tidak melihat jalanan dengan jelas karena fokusnya kini hanya pada tasnya. Melody sedang mencari kartu akses masuknya.


Beruntungnya kartu aksesnya dapat ia temukan dengan cepat. Melody bergegas untuk membuka pintu kamarnya menggunakan kartu akses itu.


Namun, saat akan menempelkan kartunya ke platform magnet yang terletak di sebelah pintu, tiba-tiba tangannya ditarik. Melody bahkan tidak sempat melawan. Tubuhnya langsung didorong ke dinding di samping pintu apartemen.


"S-siapa?" tanya Melody berusaha bersikap tenang. Namun, yang dirasakannya malah berdebar. Nafasnya mulai tidak teratur karena ia terlalu takut. Tapi, Melody pikir kalau orang tersebut tidak membawa senjata tajam. Lalu, apakah mungkin dia mau mencoba merampoknya?


Namun, yang ia rasakan hanyalah sebuah nafas kasar yang perlahan menerpa wajahnya. Melody memejamkan matanya takut.


"Aku sudah menunggumu lama..." suara berat itu membuat Melody meremang. Itu adalah suara seorang pria.


"S-sia-pa k-au?" tanya Melody terbata.


"Aku? Coba kau ingat. Aku adalah seorang pria. Kau sudah mencuri ciuman pertamaku."

__ADS_1


Deg


Pikiran Melody langsung tertuju pada pria itu. Melody ingat! Dia adalah seorang dokter. Zafri!


"B-bagai-mana bisa?"


"Dan kedatanganku sekarang adalah untuk membalas perlakuanmu. Kau tau, mati dibalas dengan mati, tangisan akan dibalas dengan tangisan. Dan yang kau lakukan adalah menciumku. Balasannya ciuman dibalas juga dengan ciuman. Kau mengerti?"


Sungguh! Zafri bagaikan air di ketenangan. Sepulang kerja tadi, pria itu langsung menuju apartemen milik Melody. Tujuannya hanya satu, Zafri akan membawanya ke kediamannya. Pria itu mendapatkan alamat Zafri dari Bima. Dan beruntung sahabatnya itu selalu bisa diandalkan. Tidak sia-sia Zafri memiliki sahabat seperti Bima.


Sekali lagi jantung Melody dibuat berdetak kencang. Maksudnya apa? Mati dibalas dengan mati Tangisan dibalas dengan tangis. Dan ciuman akan dibalas dengan ciuman? Apakah konsep seperti itu ada? Ya, mungkin ada!


Suara Zafri seakan sebuah pedang yang menghancurkan pertahanannya. Tidak pernah sekalipun Melody dibuat pasrah seperti ini.


"A-apa mak-sudmu?" tanya Melody yang masih belum mengerti. Jangankan mengerti, otaknya kini malah konslet.


Zafri tersenyum miring. Pria itu mendekatkan bibirnya tepat di depan telinga Melody. "Ciuman dibalas dengan ciuman."


Bulu kuduk Melody langsung merinding mendengarnya. Pria yang ia kenal sebagai pria datar, dingin, dan tidak berekspresi itu ternyata memiliki tingkat kemesuman yang tinggi.


Mulut Melody sudah terbuka bersiap-siap untuk memprotes. Namun, belum sempat suaranya keluar tiba-tiba pria itu sudah mendaratkan bibirnya membuat Melody langsung bungkam.


Namun, pikiran dan tubuhnya itu sangat berlawanan. Pikirannya menolak, beda dengan tubuhnya yang langsung menyambut hangat. Melody benci situasi ini, di mana pertama kalinya ia tidak bisa mengambil alih kontrol tubuhnya.


Zafri tersenyum tipis saat wanita itu sudah mulai tenang dan tidak memberontak lagi. Bahkan Melody tidak ragu lagi untuk membalas ciumannya. Tangannya juga refleks melingkar di leher Zafri.


Zafri menggigit bibir bawah Melody. Sontak wanita itu langsung membuka mulutnya. Lidah Zafri menerobos masuk dengan tidak sopannya. Mengabsen setiap inci rongga mulut Melody dengan panas.


Suara-suara khas adegan tidak senonoh itu mulai terdengar. Zafri semakin bertambah semangat saat Melody mulai mengeluarkan suara merdunya yang membuat pria itu bertindak lebih.


Zafri melepaskan pagu*tannya saat merasa kalau Melody sudah kehabisan pasokan oksigennya. Nafas keduanya terengah. Melody mendongakkan kepalanya, yang bisa ia lihat hanyalah bayangan wajah Zafri dari cahaya yang minim.


"Munafik! Kau bilang tidak bernaf*su melihat tubuhku. Buktinya sekarang apa?" kecam Melody memprotes. Ia masih mengingat perkataan pria itu yang mengatakan tidak bernaf*su melihat tubuhnya.


Zafri masih terdiam sambil mengontrol nafasnya. Sungguh! Ini di luar kendalinya. Pertama kalinya Zafri merasakan perasaan yang berbeda saat berdekatan dengan Melody. Seakan-akan ada boom yang akan meledak.


Entah sejak kapan kartu akses yang Melody pegang kini berpindah tangan. Zafri langsung meletakkan kartu akses itu di platform magnet sehingga pintu apartemen milik Melody langsung terbuka.


Klik


"Aku menarik semua ucapanku itu." bisik Zafri dengan nada berat. Dan pertama kalinya Zafri berkata akan menarik ucapannya kembali, sekalipun dengan kedua orang tuanya itu tidak pernah!

__ADS_1


Zafri langsung menarik Melody masuk ke dalam apartemen wanita itu. Ia langsung mendorong Melody ke belakang pintu kala pintunya sudah tertutup. Suasananya masih gelap membuatnya tidak bisa melihat jelas. Hanya terdengar deru nafas mereka saja yang saling bersahutan. Zafri mengedarkan pandangan ke arah dinding di mana di sana terdapat saklar lampu. Zafri langsung memencetnya dan ruangan yang gelap itu berubah terang benderang. Zafri kembali mengalihkan pandangannya ke arah Melody yang tampak memejamkan matanya.


Cup


Pria itu kembali mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Melody. Tangannya memegang kepala Melody agar tidak terkena tekanan lebih di pintu. Zafri kembali mema*gut bibir merah Melody pelan. Pria itu menggerakkan bibirnya. Dengan nakal ia menggigit pelan bibir Melody hingga wanita itu membukanya. Zafri tidak ingin kehilangan kesempatan, lidahnya langsung menerobos masuk.


"Mmmhhhhh..." Melody melenguuhhh pelan saat luma*tan Zafri semakin menuntut. Kamar yang awalnya dingin itu kini berubah panas saat Zafri lebih menekan tubuhnya ke dinding.


Wanita itu meremas lembut rambut hitam tebal Zafri. Tiba-tiba Zafri mengangkat tubuhnya masuk ke dalam gendongannya. Refleks Melody mengeratkan tangannya yang melingkar di leher pria itu.


Zafri berjalan pelan menuju sofa yang berada di depan pintu sebuah ruangan yang ia yakin itu adalah kamar Melody. Zafri menurunkan tubuh Melody ke atas sofa panjang. Ia menyandarkan punggung Melody ke sandaran sofa dan mengatur posisinya agar wanita itu merasa nyaman. Zafri juga langsung duduk di sisinya dan setengah menindih tubuh Melody.


Tangannya yang kekar itu membelai lembut wajah cantik Melody. Dari rambut perlahan turun ke wajahnya. Zafri membelai lembut pelipis Melody, lalu turun ke bawah menyentuh bulu matanya yang hitam tebal dan lentik. Tangannya kembali turun menyentuh bibir merah Melody yang tampak dipolesi sedikit lipstik.


"I-ini salah." lirih Melody mencoba mengatur detak jantungnya.


"Aku tau." jawab Zafri yang masih mengagumi kecantikan wajah Melody.


"Kita tidak memiliki hubungan." lanjut wanita itu lagi mencoba menepis tubuhnya yang malah berbanding balik dengan logikanya.


"Aku ke sini untuk membicarakan itu. Mereka, maksudku orang tuaku memintaku untuk membawamu ke hadapan mereka."


"Untuk?" tanya Melody bingung.


Zafri menggeleng pelan. "Aku tidak tau. Mereka salah paham gara-gara foto itu." Melody memutar ingatannya kembali.


"Hanya sebuah foto? Bukankah itu kita bertiga?" hati Zafri terasa digelitiki saat Melody menyebut kata "kita"


Zafri mengidikkan bahunya bingung. Ia juga tidak paham dengan konsep pikiran kedua orang tuanya.


"Itu bukan urusanku." sahut Melody yang memang ada benarnya. Ia sama sekali tidak tau permasalahan pria itu dan kenapa dirinya bisa diseret-seret masuk ke kehidupan Zafri.


Cup


Zafri mendaratkan bibirnya tepat di kening Melody. "Sebentar lagi itu akan menjadi urusanmu." Zafri kembali menjauhkan wajahnya.


Melody tidak bisa memungkiri kalau perlakuan lembut dari Zafri itu kini dapat menggetarkan hatinya.


"Aku tidak ingin." sahut Melody.


"Maka aku akan membuatmu menginginkan itu." balas Zafri langsung mengukung tubuh Melody di bawahnya.

__ADS_1


__ADS_2