
Melihat Aiyla yang menangis tersedu-sedu membuat hati Zafri seakan tercabik-cabik. Kakak mana yang tidak sedih ketika melihat sang adik menangis pilu. Saat hari pertama sang adik kembali ke kediaman mereka, awalnya Zafri ikut senang. Namun, ketika baru mengetahui berita itu membuatnya ikut khawatir. Aiyla adalah adik satu-satunya. Adik kesayangannya yang dulu selalu ia manjakan. Kini Zafri harus merelakan ketika seorang pria datang untuk menjadikan adiknya sebagai seorang istri.
Setelah berpamitan kepada sang mama dan adiknya, Zafri segera pergi untuk untuk menemui Rakha, sahabat sekaligus adik iparnya. Di rumahnya hanya ada mamanya dan adiknya. Karena sang papa yang sedang bertugas, Zafri tidak bisa berdiskusi dengan papanya mengenai sang adik. Andai kata Zafran tau kalau anak bungsunya pulang dalam keadaan hati yang kacau, pasti pria itu marah besar dan mendatangi Rakha yanga notabene sebagai suami dari anak bungsunya.
Zafri memarkirkan mobilnya tepat di halaman depan sebuah pondok pesantren. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan penjaga pondok pesantren itu, akhirnya Zafri sudah diperbolehkan masuk. Lagi pula kedatangannya bukan lah hal yang asing lagi bagi orang-orang di pondok pesantren itu. Mereka mengetahui kalau Zafri itu adalah kakak laki-laki dari istri anak pemilik pesantren itu.
"Assalamu'alaikum." Zafri mengetuk pintu sebuah rumah yang terletak di belakang pondok pesantren itu. Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Zafri sampai juga ke tempat tujuannya.
Tidak lama terdengar sahutan suara perempuan dari dalam. Lalu kemudian pintu yang tertutup rapat itu pun terbuka.
"Wa'alaikumsalam. Eh, nak Zafri. Silahkan masuk!" seru seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian tertutup.
"Iya, Ummi." jawab Zafri berjalan mengikuti wanita itu yang membawanya masuk ke dalam.
"Duduk di sini sebentar ya? Biar Ummi panggilkan Abi."
Zafri hanya mengangguk patuh. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu. Masih sama. Pikirnya.
Saat masih terbengong, tiba-tiba Zafri disadarkan oleh kedatangan seorang pria paruh baya yang baru saja masuk melalui pintu utama. Pria itu langsung mendatangi Zafri. Dengan sigap Zafri bangkit dari duduknya dan menyalami punggung tangan pria itu.
"Sudah lama?" tanya pria paruh baya itu lalu duduk tepat di sofa berhadapan dengan Zafri.
"Tidak juga." jawab Zafri.
"Mama dan Papa kamu tidak ikut?"
Zafri menggelengkan kepalanya. "Maaf, Abi. Mungkin kedatangan Zafri ke sini hanya sebentar. Zafri ingin bertemu dengan Rakha." ujar Zafri to the point.
Pria paruh baya itu langsung terkekeh. "Kamu persis seperti Papamu dulu. Tapi, sayangnya Rakha belum pulang dari kemarin malam. Katanya ada urusan penting. Oh ya, soal Aiyla. Abi minta maaf, Abi bingung dengan permasalahan rumah tangga anak Abi yang satu ini."
__ADS_1
Zafri menundukkan kepalanya sejenak. "Abi tidak perlu minta maaf. Soal Aiyla, Abi tidak perlu khawatir. Aiyla aman di rumah. Maaf, Abi. Zafri masih kecewa dengan Rakha. Sahabat Zafri sekaligus adik ipar Zafri, kenapa bisa melakukan hal seperti itu. Zafri tidak tega melihat adik Zafri menderita, Bi. Ini sudah hari ke-empat. Kenapa tidak ada sama sekalipun itikad baik Rakha untuk menjemput Aiyla di rumah. Apa Rakha sudah tidak mencintai adik Zafri lagi? Kalau iya, tolong kembalikan Aiyla secara baik-baik. Zafri hanya tidak ingin adik kesayangan Zafri hancur berantakan. Sedari kecil, Aiyla tidak pernah sehancur ini, baik Zafri dan Mama Papa sangat menjaga hati Aiyla." tutur Zafri panjang lebar.
Perkataan Zafri tersebut membuat pria paruh baya itu menghembuskan nafasnya panjang. "Abi minta maaf, nak. Abi memang tau permasalahan mereka, tetapi, Abi tidak tau dengan pemikiran Rakha tentang bagaimana dia mengatasi masalah itu." jelas Azril.
"Zafri tidak ingin bicara panjang lebar Bi. Maaf Zafri lancang. Tolong sampaikan kepada Rakha kalau Zafri akan kembali lagi ke sini besok pagi."
"Kamu mau pulang?" tanya Azril.
"Tidak, Abi. Zafri akan mencari penginapan di sekitar sini."
"Kenapa tidak menginap di sini saja? Kamu tidak perlu bolak-balik lagi." usul Azril.
"Lebih baik Zafri mencari penginapan saja. Kebetulan Zafri juga ada acara di dekat sini." jawab Zafri.
"Baiklah kalau itu kamu kamu. Abi tidak akan memaksa."
"Kalau begitu Zafri pamit ya, Bi?"
"Iya, Ummi. Maaf, mungkin lain kali Zafri bisa ke sini lagi." jawab Zafri.
"Ini, minumannya di minum dulu. Tadinya Ummi mau mengajak kamu makan malam di sini. Tapi, ya sudah lah tidak apa. Mungkin lain kali saja." ucap Amira lalu menurunkan nampan itu di atas meja lalu meletakkan gelasnya di hadapan Zafri. Mau tidak mau Zafri pun meminum minuman yang sudah Amira buatkan untuknya. Tidak sopan kan kalau ditolak lagi.
•••
Tidak terasa malam sudah terlewati. Kini Zafri sudah bersiap-siap untuk kembali lagi ke kediaman Rakha. Berharap adik iparnya itu berada di rumah. Tapi, saat mendatangi kediaman Rakha, ternyata pria itu tidak berada di rumah.
"Maaf, nak. Rakha baru saja keluar pagi-pagi. Katanya ada urusan penting." ujar Amira tidak enak hati kepada Zafri.
"Kalau boleh tau, Rakha pergi ke mana ya, Ummi? Atau mungkin saja tadi Rakha ada menyebutkan suatu tempat?" tanya Zafri tidak kehabisan akalnya.
__ADS_1
Amira tampak terdiam sejenak sebelum akhirnya buka suara. "Kalau tidak salah, Rakha mengatakan akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk temannya yang lagi sakit. Tapi, Ummi tidak tau persis di mana rumah sakitnya."
"Ummi boleh telfon Rakha?" pinta Zafri sangat berharap. Entahlah, kenapa hatinya seakan risau. Zafri ingin sekali cepat menemui Rakha dan meminta penjelasan.
"Boleh. Sebentar ya, Ummi ambil telfon dulu di kamar." Zafri menganggukkan kepalanya.
Tidak lama kemudian Amira kembali sambil membawa ponsel di genggaman tangannya. Wanita paruh baya itu langsung menelfon nomor Rakha sesuai permintaan Zafri.
Ketika panggilannya tersambung, Zafri tampak diam sambil mendengar suara Rakha yang begitu jelas karena kebetulan Amira menyalakan loud speaker.
Setelah tau di mana keberadaan Rakha, Zafri langsung bergerak cepat. Ia langsung mengucapkan salam pamitan kepada Amira dan langsung melenggang begitu saja.
Entahlah, kenapa firasat Zafri menjadi tidak enak. Pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dalam kurun waktu 30 menitan, akhirnya Zafri sampai di rumah sakit tempat Rakha berada sekarang.
Zafri tampak mengobrol dengan seorang resepsionis perempuan. Karena tidak tau Rakha menjenguk siapa, Zafri terpaksa harus memberitahu lewat ciri-ciri Rakha.
"Maaf, Mas. Ciri-ciri orang seperti itu banyak." ujar resepsionis rumah sakit itu membuat Zafri mengeluh pelan.
Sebuah ide langsung muncul di kepalanya. Zafri segera mengambil ponselnya dan membuka galerinya. "Kalau ini, Mbak tau?" tanya Zafri sambil menunjukkan foto pernikahan Rakha dan Aiyla-adiknya.
Resepsionis itu langsung membulatkan mulutnya. "Baru saja lewat, Mas."
"Ruangan berapa, Mbak?" tanya Zafri mendesak. "Dia adik ipar saya." lanjut Zafri cepat karena melihat gelagat aneh resepsionis tersebut. Mungkin takut kalau Zafri akan berbuat jahat.
"Ruang VVIP nomor 12 di lantai 3, Mas."
"Oke, terimakasih, Mbak." jawab Zafri lalu bergerak cepat menuju lantai 3.
Setelah berlari dengan penuh perjuangan, akhirnya Zafri sampai juga di depan ruangan tersebut. Seketika mata Zafri memanas saat samar-samar mendengar suara yang dianggapnya sakral.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Adelia Davira Elvina binti Raisman Aziz dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Brakkkk!!!