
Tampak dari kegelapan itu, Zafri dibakar oleh api yang sangat panas. Matanya langsung memenas serta detak jantungnya yang berdetak sangat kencang. Seakan-akan ada rasa tidak rela dan tidak terima saat melihat wanita itu hampir dile*cehkan oleh pria yang tidak ia kenali.
Mendengar ada pria lain yang menegurnya, pria itu langsung melepaskan Melody. Sontak Melody langsung luruh ke bawah dengan memeluk tubuhnya sendiri. Melihat itu membuat Zafri memejamkan matanya berusaha untuk menahan kobaran emosi.
"Hei, lihatlah! Ada pahlawan kesiangan kita yang datang. Prok... prok... prok... " pria itu bertepuk tangan di hadapan Zafri dan tampak mengelilingi Zafri.
"Kau datang di waktu yang salah, bung. Kenapa? Kau juga mau mencicipi tubuh wanita itu? Ups, sorry. Mungkin kau bisa melakukannya setelah aku."
"Siall!! Tutup mulutmu itu." geram Zafri menggertakkan giginya serta mengepalkan kuat tangannya.
"Hahahahaha... kau bercanda denganku? Kau tidak tau siapa aku? Baiklah, akan aku beritahu. Aku adalah calon suaminya asal kau tau." Zafri membulatkan matanya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Melody yang tampak menggelengkan kepalanya berulang kali.
Zafri tersenyum sinis. "Baru calon. Aku adalah tunangannya."
Mungkin kalau tempatnya terdapat penerangan yang cukup, mungkin saja terlihat ekspresi terkejut dari Melody.
Pria asing itu pun ikut tersentak. Dia menoleh ke arah Melody yang tampak terduduk di lantai dan bersandar di dinding.
"Kau, wanita murahan! Beraninya kau mengkhianati aku dan ibumu. Kau harus mendapatkan hukuman yang setimpal." pria itu bergerak cepat ke arah Melody dan bersiap untuk menjambak rambut panjang Melody. Namun, sebelum itu terjadi, Zafri langsung menendang kasar tubuh pria itu hingga terpental dan menabrak dinding pembatas ujung lorong apartemen itu karena mengingat kamar Melody terletak di ujung.
Brakkkk
"Shhttt... sial!" maki pria langsung menatap tajam ke arah Zafri. Pria itu bangkit sambil memegang bagian tubuhnya yang terasa nyeri akibat tendangan kuat dari Zafri.
Merasa tidak terima, pria itu langsung berlari menyerang Zafri. Dengan tanggap Zafri mengelak ke samping hingga pria itu hanya meninju udara.
"Terima ini!"
*Bughhh
Bughhhh
Brukkkk*
"Ini balasanmu karena sudah menyentuh wanitaku!"
Bughhh
"Ini balasanmu karena sudah berkata kasar kepada wanitaku."
Bugghh
"Ini balasanmu untuk semua perlakuan kasarmu yang tidak aku ketahui."
*Brukkk
Bughhh
Bughhh*
"Kau, pria baji*ngan seharusnya musnah di dunia."
Bughhhh
Melody memejamkan matanya erat mendengar suara-suara pertengkaran dia pria itu. Bahkan Melody tidak sanggup untuk melerai karena sepertinya itu sangat berbahaya. Dan juga sepertinya Zafri dikuasai oleh emosi, kalau ia melerai. Mungkin saja Melody akan terkena imbasnya. Yang bisa ia lakukan hanya berdo'a berharap Zafri baik-baik saja.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Zafri, entah kenapa hatinya banyak sekali diterbangi kupu-kupu.
"Kalau aku lihat ada secuil luka di tubuhnya. Akan ku cari kau sampai ke lubang semut sekalipun."
Brakkk
"Sekali lagi aku melihatmu menyakiti wanitaku. Siap-siap kau akan mendekam di penjara, dan aku tidak segan untuk membuatmu mendekam di tanah kuburan."
Brakk
__ADS_1
Zafri menghempaskan kuat pria itu ke lantai. Dada Zafri tampak naik turun, nafasnya ngos-ngosan. Kalau saja tidak mengingat pesan Papanya, mana mungkin Zafri akan melepaskan pria itu.
"Kamu boleh marah dan menghajar siapapun yang sudah menghina dan menyakitimu. Papa hanya berpesan, jangan sampai mereka mati di tanganmu. Biarlah Tuhan yang akan membalasnya."
Ya, seperti itu lah kata-kata yang selalu Zafri ingat. Ia seorang dokter, bukan berarti tidak bisa bela diri. Bahkan dulu Zafri pemegang sabuk hitam di berbagai bidang bela diri seperti taekwondo, silat, dan karate.
Merasa dirinya sudah kalah telak, pria itu langsung melarikan diri sambil mengumpati Zafri. Beruntungnya nama dan wajah Zafri tidak dia ketahui. Namun, untuk suara mungkin masih bisa dikenali.
Setelah memastikan pria asing itu lari, Zafri langsung tersadar. Ia menyeka sudut bibirnya yang tidak sengaja terkena pukulan pria asing itu. Beruntungnya Zafri tidak terluka parah karena memang selain dalam hal pisau bedah, Zafri juga ahli dalam seni bela diri.
Setelah memastikan dirinya sedikit bersih dari darah, Zafri cepat berjalan menuju Melody yang tampak berjongkok dengan posisi kepalanya menunduk.
"Tidak apa-apa. Pria itu sudah pergi." Zafri menyentuh pelan kepala Melody. Merasakan sentuhan lembut di kepalanya, Melody langsung mendongakkan kepalanya. Tampak matanya bengkak karena menangis.
Melody tidak menjawab. Bibirnya terkatup rapat. Tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Zafri di cahaya yang minim. Setelah berhasil menyentuh rahang Zafri, Melody mengelusnya pelan.
Merasakan belaian lembut di wajahnya, Zafri langsung memegang tangan Melody yang masih bertengger di sisi wajahnya.
Tanpa sadar Zafri membawa tangan Melody untuk ia kecup.
Cup
"Ayo masuk." ucap Zafri pelan.
Perlakuan manis Zafri justru membuat Melody terbengong. Melihat itu Zafri mengedarkan pandangannya dan tidak sengaja melihat kartu akses masuk Melody terjatuh di depan pintu. Pria itu bangkit untuk mengambilnya sekaligus membuka pintu kamar Melody.
Melody kira Zafri akan pergi meninggalkannya. Namun, ternyata pria itu kembali lagi. Melody merasakan tubuhnya langsung melayang di udara saat Zafri menggendongnya lalu membawanya masuk. Pria itu langsung menutup pintunya rapat, tidak lupa menguncinya dari dalam karena takut pria asing itu akan kembali lagi. Atau mungkin orang jahat yang lain.
Begitu masuk, Zafri langsung berjalan membawa Melody ke kamarnya. Suasananya masih gelap karena pria itu tidak bisa untuk menghidupkan lampu karena posisinya masih menggendong Melody.
Zafri membuka pintu kamar Melody dengan pelan. Setelah terbuka, ia kembali menutupnya. Pria itu juga membaringkan perlahan tubuh Melody ke atas kasur.
"Mau ke mana?" Melody mencegat tangan Zafri ketika pria itu beranjak dari tempatnya.
Zafri membalikkan badannya, bergerak lebih mendekati Melody. Tubuhnya sedikit menunduk, tangannya langsung mengusap pucuk kepala Melody.
Mendengar itu, Melody langsung melepaskan cekalan tangannya. Wanita itu bahkan senyum-senyum sendiri setelah kepergian Zafri.
Tidak lama kemudian Zafri kembali sambil membawa satu gelas air hangat berukuran sedang. Pria itu memberikan gelasnya kepada Melody.
Setelah meneguknya beberapa kali tegukan, Melody kembali memberikan gelasnya.
Zafri mengambil duduk di sisi kasur tempat Melody berbaring.
"Apa dia menyakitimu?" tanya Zafri tanpa harus menyebutkan siapa karena Melody sudah tau itu.
Melody menundukkan kepalanya. Hal itu membuat Zafri langsung bergerak menyentuh dagu Melody dan mengangkatnya sedikit ke atas hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah Melody dari terangnya lampu kamar.
"T-tidak." jawab wanita itu.
"Apa dia menyentuhmu?" tanya Zafri mencoba untuk menutup hatinya yang tiba-tiba terasa sesak saat Melody kembali menundukkan kepalanya. Bahkan wanita itu berulang kali menghindari kontak mata dengannya.
"Katakan! Di bagian mana?" Melody masih terdiam. Jujur, baru kali ini ia tampak tidak berdaya di hadapan Zafri.
"Zhafira Keysa Melody." panggil Zafri menyebutkan nama lengkap Melody.
"Di sini?" tanya Zafri sambil menggerakkan jarinya menyentuh dahi Melody.
Melody menggeleng.
"Di sini?" tanya Zafri sambil menyentuh pelan kedua mata Melody.
Melody menggeleng.
"Di sini?" Zafri menyentuh ujung hidung Melody.
__ADS_1
Sekali lagi Melody menggelengkan kepalanya.
"Di sini?" tanya Zafri lalu menyentuh pelan bibir Melody yang terkatup rapat.
Melody masih menggeleng. Zafri menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya, hanya dirinya lah yang boleh menyentuh benda itu.
Jari Zafri turun ke dagunya dan berhenti di sana. Pria itu mengangkat sedikit dagu Melody dan matanya meneliti lebih ke bawah.
"Di sini?" tanya Zafri menahan kobaran api di dadanya.
Melody terdiam cukup lama akhirnya menganggukkan kepalanya.
Zafri memejamkan matanya menahan sesak. Sungguh! Ia tidak rela tubuh Melody di jamaah oleh pria lain apalagi itu sampai menimbulkan bekas yang mungkin saja bekasnya akan hilang dalam beberapa hari ke depan. Zafri tidak mempermasalahkan bekas itu, namun, yang menjadi masalahnya adalah hati Melody. Mungkin wanita itu juga sama sepertinya. Sama-sama tidak terima dan tidak rela.
Tangan dan jari-jari Zafri turun ke bawah menyentuh leher Melody dan membelainya lembut. Jarinya juga ikut turun menyentuh kerah baju blouse Melody dan menarik pelan tali yang terpasang di sana hingga kini terlepas menyisakan banyak kancing kemeja yang berjejeran ke bawah.
Tangannya beralih memegang sebelah sisi wajah Melody dan mendongakkan kepala wanita itu. Zafri mendekatkan bibirnya ke depan telinga Melody.
"Walau bekasnya masih tertinggal. Izinkan aku untuk menghapus rasanya yang tertinggal." bisik Zafri lembut yang seketika membuat tubuh Melody meremang.
Saat itu juga Zafri langsung mendaratkan kecupan-kecupan kecil di telinga Melody. Membuat Melody menggedikkan bahunya ke atas karena merasa geli.
Setelah puas di telinga, Zafri beralih pada leher Melody. Sebelum itu, ia terlebih dahulu melihatnya intens. Zafri merasakan gejolak api di dadanya saat melihat bekas jamaah pria lain membekas di leher Melody. Zafri mendekatkan bibirnya dan perlahan mengecup lama di bagian itu. Beruntungnya hanya terdapat satu bekas.
Zafri melepaskan bibirnya dari leher Melody. Ia memandangi cukup lama wajah terpejam Melody. Entahlah apa yang wanita itu pikirkan kini kini satu tetes air mata keluar dari sudut matanya.
Zafri langsung meraih wajah Melody menghadapnya. Pria itu mendaratkan satu kecupan hangat di dahi Melody. "It's okay. Aku sudah menghilangkan rasanya. Apa masih sakit?" tanya pria itu dibalas gelengan kecil oleh Melody.
"Katakan! Apa yang membuatmu menangis." pinta Zafri.
Namun, yang dilakukan Melody justru membuat dirinya bingung. Wanita itu mendorongnya hingga terjatuh ke atas kasur. Dan bahkan tidak segan Melody naik ke atas tubuhnya dan duduk di sana. Melody menurunkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan Zafri.
Melody langsung menyambar bibir Zafri yang semualanya akan memprotes, namun, Melody terlalu cepat darinya.
"Tungguummpp..." Zafri mendorong sedikit kuat tubuh Melody hingga ciumannya terlepas.
"Ada apa? Ini bukanlah dirimu. Katakan." pinta Zafri berharap gadis itu memberikan jawabannya. Ia menatap raut berbeda dari wajah Melody. Seakan ada sebuah rasa yang terpendam.
Bahkan tangan Zafri sudah memegang kedua sisi pinggang Melody dan bersiap untuk menurunkan gadis itu dari atas tubuhnya. Yang dilakukan Melody malah membuat Zafri mengerang pelan karena wanita itu menolak dengan cara menekankan tubuhnya ke atas tubuh Zafri. Namun, yang bisa dilakukan Zafri hanyalah menarik nafas panjang.
Zafri hanya bisa melihat wajah Melody dari bawah sana. Keterdiaman mereka membuat Zafri sedikit tenang karena Melody sudah bisa mengendalikan dirinya agar tidak terlalu banyak bergerak.
"Mel, ayo turun. Aku harus segera pulang. Ini sudah larut." bujuk Zafri kepada Melody yang masih tampak ngeyel. Buktinya wanita itu malah menggelengkan kepalanya.
"Temani aku untuk satu malam ini. Aku takut." lirih Melody langsung menjatuhkan kepalanya di dada bidang pria itu.
"Dia tidak akan bisa datang ke sini lagi. Aku jamin itu."
"Tidak, kau harus menemaniku." rengek Melody membujuk Zafri.
"Melo, aku ini pria dewasa. Jelas tidak boleh bermalam di rumah seorang wanita." jelas Zafri.
"Apa kau sudah punya kekasih?" entah kenapa pertanyaan itu keluar dari balik bibir Melody.
"Tidak. Masalahnya bukan ini. Aku adalah pria dewasa. Aku hanya takut tidak bisa mengontrol diri."
"Aku tidak masalah." jawab Melody membuat sepasang bola mata itu menatapnya terkejut.
"Melody!" tegur Zafri.
"Aku tidak masalah tentang itu semua."
"Kau yakin?" selidik Zafri.
Melody menganggukkan kepalanya. "Iy--" namun, sebelum wanita itu selesai berkata, tiba-tiba tubuhnya langsung dibalikkan hingga dirinya kini ia berada dibawah.
__ADS_1
"Aaahhhhhhhhh, Zafriiiiihhh..."