
Zafri berjalan lesu memasuki rumahnya. Hatinya masih terasa dongkol karena merasa dipermalukan oleh Andi tepat di depan umum. Belum lagi semua orang tampak membicarakannya yang tidak-tidak. Ditambah lagi Melody yang secara terang-terangan memintanya untuk pergi. Bahkan Zafri merasa wanita itu sangat berbeda dari biasanya.
Dengan langkah gontai Zafri berjalan menaiki anak tangga satu persatu. Dari pertengahan anak tangga, dapat ia dengar suara dua orang yang sedang mengobrol di depan sebuah pintu kamar yang tertutup rapat.
Tampak Ceisya, sang mama beberapa kali mengetuk pintu kamar milik putri bungsunya yaitu Aiyla dan juga seorang pria yang beberapa kali memanggil Aiyla dengan panggilan yang teramat romantis.
"Ma, Rakha." panggil Zafri membuat kedua orang itu langsung menoleh.
Setelah mendekati keduanya, Zafri memandang bingung. "Aiyla tidak keluar?" tanya Zafri. Sebenarnya pria itu sedikit terkejut dengan kedatangan Rakha yang ternyata lebih awal darinya. Dapat Zafri duga bahwa siang tadi setelah kejadian salah paham itu Rakha langsung menuju kediaman mereka.
Tampak Rakha menggelengkan kepalanya lesu. Pria yang hanya berjarak satu tahun lebih tua dari Zafri itu menghela nafas panjang.
"Lalu, Mama? Kenapa ikut-ikutan?" tanya Zafri memandang sang mama.
"Ya, Mama mau bantu Rakha dong. Adik kamu sepertinya masih marah dan salah paham." balas Ceisya. Awalnya wanita paruh baya itu juga sempat salah paham. Saat kedatangan Rakha tadi, Ceisya awalnya bersikap ketus. Seolah menyalurkan rasa kesalnya lantaran berita Rakha akan menikah lagi. Namun, rupanya itu semua salah paham dan Rakha pun sudah menjelaskan.
"Mama tidak kerja?" tanya Zafri lagi.
Ceisya menggelengkan kepalanya. "Kamu kan tau keadaan adik kamu sekarang. Masa mama mau meninggalkan sendirian di rumah?"
"Ya sudah, mumpung Rakha sudah datang. Lebih baik Mama masuk ke kamar sekarang. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, mungkin Rakha butuh privasi." saran Zafri benar adanya.
Ceisya terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pasrah.
"Mama ke kamar dulu. Kalau Aiyla belum juga membukakan pintu, kamu pakai saja kunci cadangan. Ada di laci meja." ucap Ceisya kepada menantunya.
"Iya, Ma." jawab Rakha menganggukkan kepalanya.
"Duluan, Ka." pamit Zafri kemudian masuk ke kamarnya.
"Oke, Mas." ya walaupun usianya lebih tua dari Zafri, Rakha masih tetap harus menghormati pria itu yang notabene adalah abang iparnya.
Zafri yang sudah berada di dalam kamarnya langsung menghela nafas panjang. Ia jadi kepikiran dengan hubungan adiknya itu. Zafri berpikir apakah nanti ia akan mengalami hal yang sama dengan pasangannya nanti? Seakan tersadar dari pikiran halunya, Zafri menggelengkan kepalanya. Pria itu pun bergegas memasuki kamar mandinya untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum ia kembali bekerja nanti karena Zafri mengambil jam sesi malam. Menggantikan waktu siangnya tadi yang terpakai.
Sementara di luar, Rakha masih tampak berusaha memanggil istrinya berulang kali yang sampai saat ini masih belum juga membukakan pintu kamarnya.
"Sayang..." panggil Rakha lembut sambil meletakkan telapak tangannya di daun pintu.
"Mas datang loh ini. Tidak mau menyambut?" tanya Rakha yang hanya mendengar sunyi dari balik pintu. Apakah Aiyla tertidur?
"Adek tidak mau mendengar cerita Mas selama kamu pergi dari rumah?"
Sunyi. Masih terdengar sunyi. Entah apa yang Aiyla lakukan di dalam sana sehingga membuat suasana sunyi.
"Mas minta maaf. Maaf karena sudah mengabaikan adek selama 5 hari ini. Maaf karena tidak terbuka sama adek. Mas cuma gak mau membuat adek merasakan sakit. Tapi, ternyata Mas salah. Justru Mas lah yang membuat adek sakit."
"Mas cuma gak mau menyeret-nyeret adek ke dalam masalah ini. Mas sudah bebas, dek. Mas gak perlu merasa bersalah lagi."
Rakha menarik nafasnya dalam karena dadanya terasa sesak. "Mas cinta sama kamu. Demi Allah, Mas tidak ada niat sedikitpun untuk menduakan kamu. Mas cuma mencintai kamu."
__ADS_1
"Tolong buka pintunya, Dek. Biarkan Mas menjelaskan semuanya." ujar Rakha semakin lesu.
"Sayang... ana uhibbuka fillah. Mas hanya mencintaimu karena Allah." lirih pria itu.
"Apa kamu membenci Mas?" tanya Rakha meskipun ia tau Aiyla tidak akan membalas perkataannya.
"Mas hitung sampai hitungan ke lima. Jika hitungan ke lima adek gak keluar, Mas akan pulang. Besok Mas datang ke sini lagi. Sama seperti hari ini, Mas membawakan adek alpukat karena Mas tau itu adalah buah kesukaan adek."
"Satu..." Rakha mulai menghitung maju.
Masih tidak ada sahutan dari dalam sana. Rakha masih sabar menunggu.
"Dua..."
"Tiga..."
"Empat..."
Sudah hitungan ke empat dan Aiyla belum juga membukakan pintu. Seketika Rakha menyesali dirinya. Sedikit rasa kecewa yang ia dapatkan, tapi, pria itu mengerti bahwa inilah resikonya karena tidak jujur dari awal kepada istrinya.
"Lima..." lirih Rakha. Setelah menunggu beberapa detik dari detik ke limanya dan Aiyla belum juga keluar. Rakha membalikkan badannya perlahan. Ia kecewa, kecewa kepada dirinya sendiri. Wajar saja Aiyla tidak mau menemuinya. Ini adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan.
Rakha melangkahkan kakinya bersiap untuk pergi meninggalkan kediaman mertuanya. Namun saat baru dua langsung berjalan, tiba-tiba ia mendengar sebuah pintu terbuka. Karena berpikir bahwa itu adalah Zafri, jadinya pria itu tidak membalikkan badannya untuk melihat siapakah itu.
Rakha pikir Zafri membuka pintu hanya untuk mengecek keadaan luar karena Rakha tidak mendengar suara pria itu. Rakha bersiap untuk melangkah maju.
Karena tidak mendapat reaksi apapun selain pelukan itu semakin erat, akhirnya Rakha sendiri lah yang membalikkan badannya. Sekarang ia sudah berhadapan dengan sang istri yang tampak menundukkan kepalanya ke bawah. Rakha tersenyum karena ia pikir istrinya tidak mau menemuinya lagi.
Rakha menggerakkan tangannya mengapit ujung dagu istrinya menggunakan jari jempol dan telunjuknya. Ia naikkan sedikit ujung dagu itu hingga wajah cantik yang selalu membawa ketenangan itu menatap dirinya.
Dapat Rakha lihat raut terkejut dari balik wajah Aiyla saat wanita itu menatapnya. Perlahan tapi ragu, Aiyla menyentuh wajah Rakha menggunakan kedua tangannya. ia mengusap-usap wajah Rakha yang tampak lebam di beberapa tempat.
"Dipukul siapa?" tanya wanita itu membuka suaranya.
Rakha menggelengkan kepalanya. "Hanya kecelakaan kecil." balas Rakha lalu menciumi kedua tangan Aiyla secara bergantian.
Sontak wanita itu langsung menarik tangannya dari wajah suaminya. "Aku tanya siapa?!!" paksa Aiyla agar Rakha memberitahunya.
Rakha menatap dalam bola mata teduh Aiyla. Sontak saja Aiyla langsung gugup karena dilihat lama oleh suaminya.
"Kalau Mas jawab, adek gak boleh marah. Setuju?" kata Rakha membuat perjanjian.
Karena penasaran akhirnya Aiyla menganggukkan kepalanya tipis.
Rakha mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya. "Abang Zafri." bisik Rakha lembut tepat di depan telinga istrinya. Raut wajah Aiyla langsung terkejut kala tau bahwa abangnya sendiri lah yang membuat wajah tampan milik suaminya itu lebam.
"Bang Zafri sayang sama adek. Buktinya dia rela datang ke Surabaya hanya demi adek." jelas Rakha sebelum istrinya itu mengamuk kepada abangnya sendiri.
"Sekarang Mas tanya. Adek masih marah?" tanpa ragu Aiyla menganggukkan kepalanya. Rakha yang melihatnya hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Mas harus melakukan apa biar adek gak marah lagi?" tanya Rakha mengulum senyum.
Aiyla menggigit bibir bawahnya dan menatap Rakha dengan ragu karena jelas saja keinginannya itu seperti bukan dirinya.
"Adek mau minta apa, hm?" tanya Rakha lembut dengan penuh kasih sayang. Pria itu membelai lembut kepala istrinya yang tertutupi jilbab segitiga berwana moca.
"Apa, hm?" ulang Rakha saat melihat keterdiaman istrinya. Rakha sangat tau ciri-ciri istrinya ketika ada sesuatu yang ingin ia minta. Jelas Rakha tau karena mereka tumbuh bersama sedari kecil. Dimulai masa kecil sampai wanita itu menimba ilmu di pesantren tempat keluarganya. Ditambah sifat Aiyla yang sangat manja kepada siapapun, bahkan kepada Rakha. Awalnya Rakha hanya menanggapi Aiyla itu adalah adiknya. Namun, setelah beberapa kejadian membuatnya sadar bahwa ia mencintai Aiyla.
Aiyla masih tampak mengigit bibir bawahnya. Rakha yang gemas langsung menciumi kedua pipi Aiyla secara bertubi-tubi. "Sayangnya Mas mau minta apa?" tanya Rakha gemas.
Tampak wanita itu memilin jilbabnya sembari menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian ia memberanikan diri menatap wajah tampan suaminya.
"Ai pengen..." cicit Aiyla pelan nyaris tidak terdengar.
"Apa?" tanya Rakha tidak mendengar suara istrinya.
"Ai pengen." ulang Aiyla yang sekarang sudah terdengar oleh Rakha. Awalnya pria itu tidak mengerti, namun, setelah melihat gelagat aneh istrinya itu membuatnya tersenyum salah tingkah.
"Mas gak dengar, Sayang. Coba ulang?" goda Rakha berbohong.
"Pengen..." seketika wanita itu menarik-narik ujung baju koko milik suaminya. Tingkah gemas Aiyla membuat Rakha tidak tahan untuk mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi istrinya. Apalagi saat melihat tatapan polos itu, membuat Rakha semakin tidak tahan.
"Pengen apa, Sayang?" goda Rakha langsung membuat Aiyla cemberut.
"Ai pengen, Mas..." ucap Aiyla kembali bertingkah manja. Bahkan ia melupakan rasa amarahnya. Entahlah, saat berhadapan dengan suaminya langsung, seketika rasa marahnya itu hilang berganti dengan ingin bermanja-manja.
"Sudah mau magrib loh, Sayang. Gak enak sama Mama dan Bang Zafri." seru Rakha memberi pengertian.
Mendengar penolakan dari suaminya membuat kedua bola mata Aiyla langsung berkaca-kaca. Rakha yang melihatnya jelas gelagapan.
"Eh! Eh! Cup cup cup. Jangan nangis sayangnya Mas. Sekarang sudah mau magrib. Kita tunda nanti malam aja ya?" bujuk Rakha.
Masih dengan bola mata bergelinang air mata, Aiyla berkata. "Mas udah gak mau sama Ai lagi!" Rakha langsung tersentak kaget. Kenapa istrinya bisa berubah dalam sekejap? Ini bukanlah Aiyla yang biasanya.
"B-bukan gitu, Sayang. Mas cuma gak enak sama Mama. Masa baru datang udah buat keributan." ujar Rakha.
Air mata Aiyla langsung menetes deras, terdengar isakan kecik yang keluar dari bibirnya. Masih berada di depan pintu kamar, Rakha mencoba menenangkan istrinya dengan cara memberi pelukan. Namun, justru Aiyla menolaknya mentah-mentah, buktinya wanita itu langsung mendorongnya mundur ke belakang.
"Mas jahat." lirih Aiyla lalu membalikkan badannya membelakangi suaminya. Wanita itu melangkah maju bersiap untuk kembali masuk ke kamarnya dan mungkin saja akan mengunci kamarnya dari dalam sana.
Rakha yang tidak tau kesalahan apa lagi yang ia buat hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jelas pria itu dibuat bingung dengan pola tingkah istrinya yang bisa di bilang aneh.
Saat tau istrinya kembali marah, Rakha langsung bertindak cepat sebelum ia kembali didiamkan. Pria itu langsung mengangkat tubuh kecil Aiyla masuk ke dalam gendongannya. Tampak wanita itu memberontak kecil dengan cara memukuli dada bidang suaminya.
Rakha membawanya masuk ke dalam lalu tidak lupa mengunci pintunya. Pria itu berjalan menuju kasur kemudian menjatuhkan pelan tubuh istrinya hingga membuat Aiyla tergeletak pasrah di atas kasur.
Rakha langsung membuka satu persatu kancing baju kokonya. Setelah terlepas, ia langsung melemparkannya asal. Saat itu juga Rakha langsung naik ke atas tubuh istrinya dan menindihnya.
"Kita bermain cepat, Sayang..." bisik pria itu sensual lalu membungkam bibir istrinya sebelum wanita itu membuka suaranya.
__ADS_1